115

Image

Kala sedang berada di rumah sakit. Seperti biasa, ia harus melakukan check up mingguan didampingi Chandra sebagai dokternya. Minggu kemarin Kala sempat melewatkan jadwal check upnya, mengakibatkan laki-laki yang berada di depan Kala ini terlihat kesal.

Kala berdiri di belakang Chandra mengikuti setiap arahan yang diberikannya pada Kala. “Tiduran!” suruh Chandra sembari mengambil stetoskop yang mengelilingi lehernya itu.

Kala merasakan jelas keanehan Chandra, ia tak tahu apa yang membuat Chandra terlihat tidak seperti biasanya. Kala memberanikan dirinya untuk bertanya, “Saya ada salah?”

“Lo masih nanya ada salah apa nggak? speechless.” Chandra menepukkan tangannya, bagaimana bisa Kala lupa kesalahannya. Padahal, saat ini ia sedang berada di rumah sakit, seharusnya ia tahu apa salahnya.

“Lo nggak tau salah lo apa?” Chandra menatap Kala sembari menaruh stetoskopnya ke atas nakas.

“Lo ngelewatin check up, SandyaKala Megantara.” Amarah Chandra memuncak, ia bukan tipe pemarah seperti ini, tapi jika itu menyangkut pasiennya ia tak segan memarahi. Demi kesehatan pasien itu sendiri, juga tanggungjawabnya sebagai dokter.

“Minggu lalu?” Kala bertanya serius.

“Chandra, kamu tau saya pelupa. Dan kamu juga jangan sampai ikut lupa, penyebab saya bisa menjadi seperti ini.”

“Kalau saja bukan karena kekhawatiran kamu terhadap saya, saya tidak akan pernah menginjakkan kaki saya ke tempat ini.”

Setelah mendengar ucapan Kala, seketika ruangan sunyi. Chandra baru ingat bahwa pelupa bukan kemauan Kala. Pelupa merupakan efek dari alasan mengapa Kala berada di tempat ini sekarang. Chandra menjadi tak enak hati pada Kala, padahal ia dokternya tapi ia malah lupa terhadap pasien sekaligus temannya itu.

“Gue minta maaf.”

“Saya minta maaf.”

Keduanya disaat bersamaanya sama-sama meminta maaf atas kesalahan yang mereka lakukan. Mendengar itu dari kedua telinga mereka membuat keduanya menatap satu sama lain, menghadirkan gelak tawa. Mengingat betapa seriusnya situasi barusan.

“Lanjutkan, Chandra,” suruh Kala sembari mengambil stetoskop milik Chandra di atas nakas.

Chandra mulai membawa diafragma stetoskop ke bagian kiri atas dada Kala guna mengecek detak jantungnya. “Tadi malem lo ada muntah? Pusing? Atau … kejang?”

“Sakit kepala, seperti biasa.”

“Minggu depan jangan ngelewatin check up lagi ya, Kal. Pemeriksaan minggu depan mungkin bakal lebih dari biasanya.” Kekhawatiran tampak jelas di wajah Chandra. Siapa, sih, teman yang tak khawatir melihat keadaan temannya yang seperti ini. Ditambah, dirinya sendirilah dokternya.

“Nggak janji, ya. Kalau tuhan merestui.” Mendengar itu Chandra langsung menepuk pelan bahu Kala, ia tak suka ucapan seperti itu.

“Selagi gue dokternya, tuhan pasti ngerestuin. Liat aja.” Kepercayaan diri Chandra sudah tertanam sejak ia masih dalam kandungan, tak heran jika ia seperti itu.

Kala tersenyum mendengar itu, sembari melihat-lihat ruangan ia baru ingat radionya sejak tadi belum dinyalakan. “Boleh saya nyalakan radio?”

Kala tak pernah melewatkan rutinitasnya mendengarkan Titipkata Radio, radio yang berisikan pesan-pesan dari banyak orang yang dibacakan penyiar. Hanya itu, hanya itu isi dari Titipkata. Tapi, Kala sangat suka mendengarnya. Mendengarkan setiap pesan dari banyak orang, ada yang menyatakan cinta, ada yang menceritakan hidupnya, ada yang meluapkan kekesalahannya. Semuanya ada diradio itu.

Kala biasa menitipkan pesan yang berisikan curahan hatinya setiap apa yang ia rasakan. Jika ia senang ia akan berpesan, ‘Saya berterimakasih sudah hadirkan hari ini’. Begitulah isinya, atau jika ia bersedih, ia akan berpesan ‘Tolong hapus hari ini bersamaan dengan penyakit saya’. Kala mengirim pesan itu tidak dengan namanya, jika yang lain menggunakan nama mereka, kala menggunakan kode nomor ‘115’. Hanya Chandra dan Anne yang mengetahui itu. Jadi ketika mereka mendengar radio, mereka tahu bahwa pesan itu dari Kala.

Kala juga biasanya menitipkan pesan yang ditujukan entah untuk Chandra atau Anne. Jika untuk Anne ia akan menggunakan kode nomor ‘525’, kalau untuk Chandra ia akan gunakan kode nomor ‘911’, perlu diberitahukan bahwa ‘911’ itu berartikan Chandra sangat dibutuhkan oleh Kala. Hanya saja Kala orang yang gengsinya cukup tinggi ia tak pernah memberitahukan hal itu pada Chandra, tapi Chandra paham justru kelewat senang.

Kala terbangun dari tidurnya dan mulai duduk guna menyetel radio kesayangannya itu yang berada di sampingnya di atas nakas. Mulai terdengar suara penyiar radio sedang membacakan pesan-pesan dari orang-orang. Hingga di satu pesan yang terdengar oleh Kala membuatnya terdiam.

Kali ini gue dapet pesan, nih. Kayanya, sih, dari penggemar si 115 langganan kita, nih. Gue bacain ya.” Kala datar, sedangkan Chandra sudah terlewat kaget mendengar itu.

To 115, gue cuma pengen tanya, kenapa nama pengirimnya 115? Wah … kalo itu, sih, gue nggak tau, yaa. Coba, deh, 115 langganan kita … bisa kali jawab, nih …” Suara penyiar radio terdengar sangat jelas, Kala tak bergeming. Chandra yang mendengar itu langsung menatap Kala khawatir. Kala sangat sensitif jika ditanyakan hal itu, ia takkan pernah menjawabnya. Pernah sekali ia menanyakan hal itu, seketika langsung disembur ucapan pedas dari Kala.

Setelah mendengar itu keduanya diam, Kala berpikir siapa yang mengirim itu. Sudah bisa dipastikan bukan Chandra, karena Chandra juga ikut kaget. Anne? Tapi tak mungkin, Anne bukan orang yang selancang itu.

“Siapa yang kasih tau nomor ini?” Kala menatap Chandra, terlihat jelas amarahnya. Tapi Kala hanya diam, ia tak pernah berniat untuk menyalurkan amarahnya. Bukan tipenya.

“Gue … gue nggak tau. Gue nggak ngasih tau ke siapa-siapa, suer … ” Chandra mengangkat tangannya sembari membentuk jarinya menunjukan angka dua, tanda bahwa ia serius meyakinkan Kala bukan ia orang yang memberitahu soal ini.

Kala beranjak berdiri dari duduknya, berjalan keluar tanpa pamit sedikitpun pada Chandra, padahal, pemeriksaannya belum selesai. Chandra tahu, Kala sedang marah.

“Masalah lagi aja … ” Chandra menghembuskan napas pasrah.

©️ lyterasee