Ajakan Bersama
Tibalah mereka di akuarium raksasa. Jihane yang saat itu terus menunjukan wajah cenberutnya tak henti-henti mengoceh dalam hati. Ia pikir “jalan-jalan” bersama Kala itu ya hanya berdua, ternyata ada satu anak kicik yang mengikuti mereka sampai ke sini. Septa.
“Kenapa sih lo? Cemberut banget.” Sambil melihat akuarium-akurium raksasa itu ia bertanya.
“Ya lo! Ngapain coba ngikut-ngikut?!”
“Ya emangnya kenapa? Gue anaknya Kala, lagipula Kala nya juga nggak apa-apa tuh gue ikut.”
“Tau ah! Males! Pulang aja!” Jihane membalik badan hendak pulang.
“Mau ke mana?”
Mendengar Kala yang mulai bersuara, niatnya untuk pulang sirna. Ia kembali mengingat bahwa Kala mengajaknya pergi, garis bawahi bahwa Kala yang mengajaknya. Ia tak mungkin melewatkan kesempatan itu apalagi dengan dirinya yang sebentar lagi akan sulit untuk bepergian karena minggu besok ia sudah mulai bekerja.
“Nggak ke mana-mana. Ini cuma ngeliatin sekeliling aja bagus banget ya.” Ia putar balikkan lagi badannya dan menghadap Kala.
Kala tersenyum lalu mengajak Jihane berkeliling. Sebelum itu ia pegang pundak Septa menghentikan aksinya yang terus memotret akuarium-akuarium itu.
“Bersenang-senang ya, saya dan Jihane keliling dahulu.” Hanya dengan anggukan Septa membalas ucapan Kala, dan dirinya malah dibuat amarah dengan Jihane yang menjulurkan lidah sambil bilang, “Norak!”
Kala dan Jihane sudah tidak ada, Septa kembali memotret. Cahaya biru di sana sangat rugi bilang tak diabadikan. Ia senang sekali, meski ia punya banyak waktu untuk hanya ke sana tapi pergi bersama orang lain ia tidak punya bahkan tidak ada pernah. Semenjak Kala hadir di hidupnya rasanya sebagian rasa yang hilang kembali hidup, Kala menghidupkan rasa kasih sayang orang tua untuknya setelah sekian lama Ibunya pergi dan Ayahnya tak meperdulikannya.
“Bahagia, Kal. Makasih udah anggap gue anak lo.” Ia membicara sendiri.
Di tempat lain, Kala dan Jihane melihat ikan-ikan raksasa di sana, salah satunya hiu. Kala sangat senang ketika Jihane begitu excitednya melihat hiu yang mendekat. Dengan tingkahnya yang terus loncat-loncat ketika hiu muncul membuat Kala tertawa hingga Jihane menyadari dirinya yang terlalu aktif dan akhirnya keduanya tertawa bersama.
“Sumpah, sorry kalo keliatan lebay tapi gue seneng banget!!!” Senyum yang memperlihatkan gigi-gigi Jihane tak sekalipun pudar.
“Eh itu hiunya ke sini lagi!!!” Jihane menunjuk salah satu hiu yang mendekat ke arahnya dan Kala. Kala lalu menunjuk hiu itu juga. Pandangannya terus menghadap Jihane.
“Kalau berkenan, mau menikah dengan saya?”
Kalimat itu keluar tanpa aba-aba. Dengan tiba-tiba Kala bertanya, bukan sekedar pertanyaan biasa itu membuat Jihane membeku sebentar. Dengan bingung dan groginya ia bertanya, “H-hah? Maksudnya?”
Bukan, bukan karena ia tak mengerti, hanya saja ia tak menyangka bahwa kalimat sakral itu akan terucap diluar dugaannya. Selama mereka berhubungan, selalu Jihane yang memperlihatkan cintanya pada Kala tapi nyatanya saat ini ia tahu bahwa secintanya ia pada Kala tetap Kala yang lebih mencintainya.
“Maaf jika terlalu terburu-buru, saya hanya tidak mau terlalu lama membawa kamu ke hubungan yang tidak tahu arahnya akan dibawa ke mana.”
“Nggak, ini nggak keburu-buru, cuma gue mau kerja???”
“Lalu?”
“Lo nggak apa-apa kalau gue kerja?”
“Siapa yang melarang? Mengajakmu menikah itu tandanya saya bukan hanya mencintaimu, tapi mencintai juga semua yang kamu sukai.” Kala menatap Jihane dalam.
“Kamu suka bekerja, saya akan terima itu asal tetap jaga kesehatan. Lakukan apa yang kamu sukai.”
“Maaf, saya hanya bisa bicara seperti in-” Belum sempat ia lanjutkan ucapannya, Kala terkejut dengan Jihane yang perlahan menyatukan jari-jari tangannya ke jari-jari tangan Kala. Keduanya dalam genggaman masing-masing.
“Gue tau lo nggak tau mau ngelakuin apa. Kalo lagi di situasi kaya gini itu dipegang tangannya.”
Kala tersenyum mendengar itu lalu ia balas genggaman tangan Jihane erat.
“Nanti saat masuk kerja, saya antar ya?”
“Boleh, naek bus lagi?”
“Kalau kamu tidak mau tidak apa, saya bisa bawa motor.”
“Tadi tuh ada yang bilang kalo mencintai seseorang berarti juga cinta sama apa yang disukai, siapa ya yang bilang?” Pura-pura tidak tahu Jihane meledek ucapan Kala sebelumnya. Kala tersipu malu mendengarnya.
“Udah nggak apa-apa naek bus, gue kan cuma nanya.”
Dari kejauhan Septa melihat Kala dan Jihane berpegangan tangan, “Abis ngapain aja lo berdua?”
Jihane yang kaget dengan kehadiran Septa langsung melepaskan genggaman tangannya dengan Kala, Kala yang melihat itu kembali menarik tangan Jihane dan memegangnya erat.
“Katanya, kalau lagi di situasi seperti ini itu digenggam tangannya.”
Wajah Jihane benar bener memerah, ia memukul pelan bahu Kala. Septa yang melihat itu tersenyum geli.
“Udah tua mah gausah pacaran, kaga jelas.”
“Akan segera menikah.” Tanpa ragu Kala menjawab dan membuat mata Septa melebar.
“Serius?”
“Sangat. Nanti, saat saya sudah menikah dengan Jihane Aruna, tolong panggil dia Ibu ya?”
“Ogah.” Septa langsung berjalan meninggalkan mereka berdua. Jalannya terhenti lalu membalikkan badannya. “Yaudah iya, tapi nanti kan? Sekarang pulang dah yok.”
“Iya nya itu beneran dipanggil Ibu?” Jihane bertanya pada Kala menahan tawa. “Sepertinya.” Keduanya tertawa lebar.
