Aman

Setelah mendapat pesan yang begitu banyak dari Jihane, Kala segera turun dari busnya. Bus dengan arah yang sama dengan Jihane. Kala tidak akan pernah bisa meninggalkan Jihane pulang sendirian, meski Jihane menolak untuk diantarnya pulang Kala tetap berinisiatif untuk mengikuti bus dimana Jihane taiki untuk pulang dan ia ikuti dengan busnya di belakang.

Di busnya Kala duduk dengan terus memandang handphonenya, ia bahkan menyuruh Jihane untuk terus mengiriminya banyak pesan agar ia tahu apa yang terjadi. Jihane pun tipe orang yang akan mengirim banyak pesan apa yang sedang dia lakukan di mana saja.

Sambil membalas pesan-pesan dari Jihane ia tersenyum, mungkin orang lain yang ada di bus akan menganggapnya seperti orang gila karena ia tersenyum pada benda. Senyumannya itu bukan tanpa arti, ia tersenyum sebab foto yang Jihane kirim. Foto yang menunjukkan bahwa album di galery Jihane dipenuhi dengan foto-fotonya yang Jihane pinta lewat Khaisar. Senyumnya terhenti ketika mengingat Khaisar, ia letakkan handphonenya itu di samping tempat ia duduk.

Kala terus memikirkan Khaisar, bagaimana ia di sana? Bagaimana makannya di sana? Bagaimana tidurnya di sana? Semua itu ia pikirkan. Semakin memikirkan itu membuat hatinya campur aduk, disatu sisi ia kasihan dengan Khaisar tapi disisi lain memang itu yang harus Khaisar dapatkan setelah apa yang dia lakukan. Ah, sudahlah memikirkan Khaisar hanya akan membuatnya pusing.

Benar saja, kepala Kala tiba-tiba terasa sangat sakit. Ia kehilangan pandangan jernihnya, semua yang ia pandangan menjadi buram. Ia tarik rambutnya berharap sakitnya hilang dengan itu tapi sakitnya justru makin-makin. Ia meringis tanpa suara, ia tahan sakitnya agar orang lain tidak tahu.

Handphone Kala yang berada di sampingnya itu berbunyi, ia masih bisa melihat bahwa ada yang menelpon di hp itu, ia berusaha untuk membaca siapa yang menelponnya. Dan ia berhasil membaca bahwa telpon itu dari Jihane. Ia tak mengangkatnya, ia takut jika dengan mengangkatnya Jihane akan menyadari bahwa dirinya sedang menahan sakit.

Wajahnya semakin pucat, sampai saat itu ia paksa matanya terpenjam berharap tertidur dan sakit kepalanya hilang tapi gagal, sakit kepalanya tak hilang juga. Menahan rasa sakit cukup lama akhirnya sakitnya hilang, dengan masih sedikit nyeri di kepalanya ia rasa, Kala tetap memaksakan dirinya untuk menyalakan hpnya dan melihat pesan-pesan dari Jihane, dua puluh pesan belum dibaca dengan pesan-pesan ketakutan yang Jihane kirim membuat pandangan Kala menuju ke depan. Bus Jihane sudah tak ada di pandangannya, di depan bus Kala kosong, tidak ada kendaraan lain.

Kala menuju ke depan dan berbicara kepada supir untuk sedikit lebih cepat membawakan busnya. Dan bus Jihane langsung terlihat berada di depannya. Kala turun.

Disisi lain, Jihane yang sedang ketakutan badannya gemetar hebat. Laki-laki yang terus berusaha mendekatinya tak pernah menyerah, laki-laki itu berusaha menggerakkan kakinya dengan menyenggol kaki Jihane seperti menggodanya. Jihane tidak tahu harus berbuat apa, pikirannya buntu karena ketakutan yang ia rasa sekarang. Pandangannya terus ia arahkan ke tempat lain memberi kode berharap orang lain akan sadar dengan apa yang laki-laki bejat itu lakukan padanya di sampingnya.

Jihane teriak kencang. “AKH!” Ia teriak kencang dengan memejamkan mata saat ada yang menarik tangannya.

“Ini saya, ayo segera turun.”

Saat itu juga rasanya lega, ia berhasil keluar dari neraka itu. Dengan masih berpegangan tangan dengan Kala Jihane menurunkan badannya jongkok, ia keluarkan segala tangis yang sedari tadi ia tahan karena ketakutan. Kala yang menggenggam tangan Jihane juga mau tak mau ikut berjongkok, awalnya ia ingin lepaskan genggaman itu setelah Jihane berjongkok, tapi kata-kata yang Jihane keluarkan membuatnya ia tetap menggenggam Jihane dan bahkan lebih erat.

“Tetet pegangan tangan kaya gini, rasanya gue aman.”

“Maaf, maaf karena izinkan kamu untuk pulang sendiri.”

Berdiam dengan jongkok sampai Jihane tenang, mereka akhirnya pulang menuju rumah Jihane berjalan kaki. Dengan Kala yang terus bersuara. “Kamu aman … Kamu aman … Kamu aman …” Kalimat itu terus Kala ulangi agar Jihane tenang sambil mengelus tangannya lembut.

Sampai di depan rumah Jihane, Kala menahan tangannya Jihane saat Jihane hendak masuk tanpa berbicara apapun sejak tadi, ia tahu pasti Jihane Arunanya masih ketakutan. “Jihane Aruna, boleh saya antarkan kamu sampai dalam? Khawatir ada apa-apa nanti.”

Bertanyaan yang Kala lontarkan sama sekali tak membuahkan jawaban hanya anggukan yang Kala artikan sebagai “Iya”.

Kala dan Jihane yang masih berpegangan tangan memasuki rumah, Kala terus memperhatikan sekeliling. Matanya menuju ke satu kamar di ujung dan berpikir bahwa itu kamar dari Mamah Jihane. “Ibumu sudah tidur?” Kala bertanya hanya untuk merilekskan Jihane yang terus diam sedari tadi.

Saat hendak menaiki tangga menuju ke lantai atas, Kala bingung sebab Jihane berhenti tanpa suara. Ia enggan untuk bertanya lagi sebab sudah berulang kali ia bertanya pada Jihane, sampai akhirnya ia berinisiatif untuk keduanya menggendong Jihane ke lantai atas.

“Jihane Aruna, maaf,” kata Kala melepas genggaman tangannya dengan Jihane dan digantikan dengan ia mulai menggendong Jihane menuju kamarnya.

Sesampainya di lantai atas ia cukup bingung di mana kamar Jihane sebab ada dua pintu di ujung sana. Jihane yang sedang digendong mulai bersuara.“Di sana, pintu coklat.”

Kala yang mendengar itu mengangguk paham dan menurunkan Jihane dari gendongannya saat sampai di depan kamar. “Langsung istirahat, saya pamit.”

Kala langsung menuju tangga hendak turun tapi langkahnya terhenti saat Jihane memanggilnya, ia langsung membalikkan badannya menghadap Jihane dari kejauhan. “Kak, tetap buat gue aman.”