Apa yang terjadi sebenarnya

⚠️ mention of death & blood ⚠️

Setelah hampir lima menit Kala menunggu pesanan makanan yang ia pesan untuk Jihane akhirnya jadi. Segera ia bawa makanan itu menuju taman tempat Jihane menunggu melewati gang yang sepi. Di gang itu, ia lihat keberadaan Khaisar di depannya. Tak hiraukan kemunculan Khaisar yang mendekati dirinya, Kala lanjut berjalan.

Khaisar yang melihat itu dengan susah payah menyamakan jalannya dengan Kala. Ia mulai membuka suara. “Kal, gue mau ngomong sebentar.”

“Saya sibuk.” Jalan Kala dipercepat agar Khaisar tidak lagi mengikutinya, tapi bukan Khaisar namanya jika tidak melakukan apa yang dia mau apapun rintangannya.

“Sebentar aja, ngomong serius.” Sambil membawa sebuah kertas yang sedari tadi ia pegang sambil terus berusaha menyamakan jalannya dengan Kala.

“Sudah saya bilang, saya sibuk.” Akhirnya Kala berhenti sejenak dari jalannya untuk berbicara seperti itu.

Khaisar terdiam. Hingga Kala jalan kembali ia masih terdiam. Khaisar memandang Kala yang jaraknya semakin menjauh lalu ia berteriak sambil mengangkat kertas yang ia pegang.

“GUE BAKAL NYERAHIN DIRI, KAL!”

Kala yang mendengar teriakan Khaisar sontak jalannya terhenti. Ia balikkan badannya kembali menghadap Khaisar yang jauh jaraknya dengannya. Kala lalu berjalan menuju hadapan Khaisar. Semakin dekat jaraknya dengan Khaisar ia taruh makanan yang ia pegang untuk Jihane itu di tanah lalu dengan gerakan cepat ia pukul pipi Khaisar. “Berengsek!”

“Sudah saya peringatkan sedari dulu untuk tidak bicarakan hal ini!” Nadanya lantang tanda bahwa dirinya sedang kalut.

Yang dipukul tubuhnya terjatuh, lalu bangkit kembali sambil memegang pipinya yang terasa sakit dan semakin memegang erat kertas yang ia pegang.

“Kenapa marah? Ini, kan, yang lo mau? Kalau emang Kata lo gue salah kenapa nggak dari dulu lo lapor polisi, Kal? Kenapa harus pake diemin gue, benci gue, dan anggap diri gue ini nggak ada?”

“Kalau bukan karena keinginan orang tua Leora, sudah dari awal saya laporkan kamu ke polisi!”

“Yaudah, sekarang nggak usah nurutin keinginan orang tua Leora. Kita ke kantor polisi sekarang. Gue udah bawa surat penyerahan diri ini.”

Mendengar kalimat yang keluar dari mulu Khaisar barusan membuat emosi Kala meninggi.

“Untuk apa? Untuk apa lakukan ini? Berharap semuanya akan kembali seperti dulu? Jangan harap, Berengsek!” Kala kembali menghantam wajah Khaisar. Khaisar yang terbaring ditanah dipegang kerah bajunya oleh Kala dengan kencang.

“Berhenti lakukan ini, Berengsek!”

“Gimana gue mau berhenti? Mau berbusa-busa gue ngomong yang sebenernya ke lo, lo nggak akan paham, lo nggak akan percaya!”

“Bukan gue, bukan gue yang dorong Leora sampe jatoh ke bawah. Saat itu gue lagi mabok, Kal. Gue baru sadar gue lagi apa sebenernya ya pas Leora jatoh. Lo dengan gampangnya langsung pukul gue abis-abisan.”

Memang, tiga tahun lalu tepat hari Kamis tanggal dua belas Leora jatuh dari rooftop. Rooftop yang berada di gedung tua yang jadi tempat berkumpul Kala, Khaisar dan Leora. Tiga bersahabat yang hubungannya sudah terjalin sebelum Kala dan Khaisar mengenal Meja Bundar.

Sore itu, Khaisar yang sedang pusing akibat pertengkaran orang tuanya memilih untuk pergi ke sebuah Club ditemani teman yang ia kenal dari media sosial. Setelah keluar dari sana, ia dapat pesan dari grup dari Leora untuk bertemu di rooftop biasa. Dalam kondisi setengah sadar Khaisar baca pesan itu dan langsung menuju ke sana dengan bantuan taksi.

Di tempat berbeda, setelah membaca pesan dari Leora, Kala memesan beberapa makanan untuk dibawa ke sana. Setelah memesan ia langsung menuju kesana. Tepat di depan gedung tua itu ia mengarahkan pandangannya ke atas. Melihat bahwa di rooftop itu terdapat Leora yang sedang duduk di tembok pembatas dan hanya kepala Khaisar muncul.

Kala lalu mengangkat beberapa makanan yang ia bawa itu. “Ini! Tung–”

Belum sempat Kala lanjutkan apa yang ia katakan, dirinya terpaku melihat apa yang baru saja terjadi. Leora jatuh dari rooftop itu. Makanan yang ia bawa jatuh dan Kala langsung menuju dimana Leora terbaring lemah dengan berlumuran darah.

“Ra …” Ia elus lembut wajah Leora sambil ia hilangkan darah-darah yang ada di wajahnya itu.

“Tunggu, Ra … Saya ke atas dulu, kamu kuat. Pasti kuat.” Katanya meyakinkan dirinya sendiri sebab ia tahu mustahil Leora masih hidup setelah jatuh dari rooftop itu.

Kala melihat ke atas, dari bawah ia bisa melihat Khaisar. Langsung ia berlari menaiki tangga demi tangga sampai ke rooftop. Sesampainya di sana ia langsung berlari menuju Kala dan menghantam habis Khaisar. Ia tendang perut Khaisar. “BANGSAT!”

“K-kal, bukan gue, gue nggak ngapa-ngapain, Kal. Gue nggak ngedorong Leora. Gue nggak ngapa-ngapain Leora, Kal. Percaya sama gue!” Dengan terisak Khaisar berbicara.

“BACOT! KAMU HARUS DAPAT HUKUMAN SETIMPAL, ANJING!”

Emosinya tak tertahan lagi, setelah habis memukuli Khaisar dengan puas Kala langsung menuju ke bawah kembali dan mengendong Leora membawanya ke rumah sakit dengan jarak yang tak dekat. Sambil berlari air mata Kala terus mengucur keluar.

“Tahan, Ra … Kamu kuat, sebentar lagi kita sampai, Ra …”

Sesampainya Kala di rumah sakit dan Leora berhasil sedang ditangani oleh Dokter. Kala dengan matanya yang kosong duduk di kursi dekat ruangan Leora ditangani. Gemetar ia mengambil gadgetnya di kantong lalu mencari kontak Ibu Leora. Ketemu kontak itu ia langsung menelponnya.

“B-bu … Maafkan Kala, bisa Ibu ke rumah sakit sekarang?”

Sudah hampir satu jam Leora berada di dalam ruangan tapi Dokter tak kunjung keluar. Hingga kedatangan orang tua Leora membuyarkan pikiran-pikiran buruk Kala.

“A-ada apa Kala? Leora kenapa? Anak Ibu kenapa, Nak? …”

Kala ingin menjelaskan apa yang terjadi, belum sempat ia membuka mulutnya keluar Dokter dari ruangan dan membuat Kala tidak jadi menceritakan apa yang terjadi.

Semua diperintahkan Dokter untuk masuk ke dalam ruangan, dilihatnya dari depan pintu, Leora dengan tubuhnya yang sudah ditutup kain putih. Pikiran buruk Kala terjadi. Kala melihat dengan histerisnya Ibu Leora menangisi putrinya. Anak satu-satunya.

Kala mendekat ke tempat dimana Leora terbaring, ia buka kain itu dan mencium kening Leora dengan air matanya yang tak kunjung berhenti juga gemetar hebat yang tak kunjung hilang.

“Ini semua karena Khai, Bu … Pak … Khai yang saat itu bersama Leora di rooftop. Saya bisa laporkan Khai ke kantor polisi sekarang. Maafkan saya, Bu … Pak … Saya … Saya gagal menjaga Leora …”

“Nak … Gapapa … Nggak usah … Kami ikhlas dengan kepergian Leora … Cepat kamu pergi dari sini … Sebelum ada orang lain yang melihat keberadaan kamu … Kamu ini Atlet … Harus jaga nama baik negara …”

Mendengar ucapan Bapak Leora, Kala semakin terisak tangis. Ia mengangguk lalu segera memakai topinya.

“Saya akan kunjungi Leora setiap hari, Pak …”

“Jadi Atlet yang membanggakan ya, Nak …” Kala kembali mengangguk dan segera keluar dari ruangan.

Begitulah keretakan persahabatan antara Kala dan Khaisar terjadi. Keduanya masih dalam pemikirannya masing-masing.

“Kita sama-sama tau, Kal. Lo, gue, kita sama-sama suka sama Leora dulu. Nggak mungkin gue ngelakuin hal sejahat itu ke Leora, Kal. Gue cinta dia saat itu.” Khaisar bersuara dengan masih dipegang kerahnya dengan Kala.

“Tapi, kalau lo sampai sekarang nggak percaya juga gapapa. Gue udah ikhlas, Kal. Gue emang pantes dapetin ini semua karena menurut lo karena gue semuanya bisa terjadi.”

“Kak … stop …” lirih suara Jihane melihat apa yang terjadi dengan Kala dan Khaisar.

Di ujung sana, ada Talay juga yang melihat adegan baku hantam mereka sejak awal dan tetap diam. Dengan menahan tangisnya sekuat tenaga agar tak terdengar. Talay si perasa.

©️thequtubuqu.