Ayah (pura-pura)

image

Septa sudah menunggu Kala cukup lama, menunggu di ruang Kepala Sekolah yang membuat kepalanya ingin meledak akibat ocehan-ocehan yang ia dapat dari gurunya itu.

“Permisi … ” Suara itu, Septa mengenal siapa pemilik suara itu. Ia langsung menoleh ke arah pintu dan dilihatnya Kala yang berpakaian rapi meski tetap membawa tas selempang yang sudah seperti belahan jiwanya itu. Septa bersyukur Kala tak datang lebih lama lagi.

“Pak, ini kenalin. Bokap saya, Bapak nggak pernah ketemu ‘kan?” Septa memperkenalkan Kala pada guru yang menjabat sebagai Kepala Sekolah di sekolahnya ini. Kala yang mendengar ucapan Septa yang kurang sopan langsung memukulnya pelan.

Bapak Kepala Sekolah meneliti dengan seksama wajah laki-laki yang Septa sebut ayahnya itu. “Pak Kala? Bapak ayah dari Septa?”

Kala kikuk, ia harus menjelaskan apa pada Kepala Sekolah Septa ini terkait hal ini. “Hm … Iya, Pak, saya ayah dari Septa Sagara.”

“Lho, kemarin bukannya baru pengen ngedaftarin anaknya sekolah disini, ya?”

“Iya, Pak, kemarin memang saya mendaftarkan anak kedua saya kesini. Dan, Septa ini anak pertama saya.” Kala berusaha sebisa mungkin untuk memperlihatkan keseriusannya pada Bapak Kepala Sekolah agar tak curiga apa-apa mengenai dirinya yang pura-pura menjadi Ayah dari Septa.

“Iya, Pak. Bapak baru kenal ‘kan? Kenalan dulu aturan mah.”

“Saya udah kenal, jaraknya umurnya cukup dekat, ya, Pak sama Septa.” Kepala Sekolah berbicara seperti tak berbuat dosa. Septa yang mendengar hal itu mencoba menahan amarahnya.

“Mohon maaf, Bapak. Bukan ranah Bapak untuk membicarakan hal itu.” Kala menjawab dengan nadanya yang lembut, tiada kemarahan sama sekali darinya karena ia tahu, pasti akan terjadi kesalahpahaman akan hal ini.

Kepala Sekolah tak peduli, ia hanya bingung saja dengan kekeluargaan Septa yang sedari dulu tidak pernah terlihat jelas. “Langsung saja, ya. Bapak, mohon maaf, kamu sudah mendiskusikan dan semua guru menyetujui bahwa Septa Sagara, diputuskan mendapat skors dari sekolah selama seminggu akibat ulahnya yang tawuran dengan sekolah lain.”

Septa yang mendengar hal itu tak terima, menurutnya tawuran hanyalah hal lumrah yang dilakukan anak sekolahan. “Nggak bisa dong, Pak. Kok begitu? Saya kan tawuran juga buat bela sekolah.”

Kepala Sekolah seperti sudah lelah menghadapi Septa, tanpa aba-aba ia keluar dari ruangannya itu. “Lah? Yang Kepala Sekolah siapa?” Septa dan Kala saling bertatapan.

Selesai pertemuan dengan Kepala Sekolah, Kala dan Septa berjalan melewati lorong demi lorong menuju luar sekolah. Kala menitipkan pesan pada Septa untuk tidak melakukan hal sepeti tawuran lagi. Masalahnya akan fatal jika ia mengulanginya lagi.

“Jangan ulangi lagi, ya.”

Bendungan bulir mata baru saja tumpah; berasal dari wanita yang duduk di atas kursi kayu di bagian paling ujung cafe. Menangisi akan kecerobohan yang ia lakukan tidak lama tadi. Kala—laki-laki yang baru saja datang itu meneguk salivanya kebingungan melihat wanita di depannya menangis. Ia langsung duduk di atas kursi kayu berhadapan dengan wanita itu. “Ada apa, Anne? Kenapa menangis?”

Anne menyadari akan hadirnya Kala tergesa-gesa mengambil tissue yang tergeletak di atas meja dihadapannya untuk menghapus bendungan bulir matanya. Merapikan duduknya, lalu menyambut kehadiran Kala. “Eh, Kala … Gapapa, gapapa…”

“Ceritakan saja, katanya ada yang ini diceritakan. Kamu butuh bantuan apa, Anne?” tanya Kala setelah melihat Anne sudah tak menangis lagi. Dirinya pun masih saja merasa bingung dengan apa yang terjadi, wanita di depannya ini belum juga menceritakan apa yang terjadi serta apa bantuan yang ia inginkan dari Kala.

Anne akhirnya mau berbicara, ia akan menceritakan apa yang ia alami barusan. “Kal, tadi aku ‘kan di Meja Bundar, lagi istirahat. Aku buka handphone aku mau ngecheck foto yang paginya kamu minta aku fotoin kamu sama Killa,” Kala menatap Anne serius, menantikan lanjutan dari cerita wanita di hadapannya itu. “Nah, aku nggak tau kalo ada Khaisar dibelakangku, Kal. Sumpah, deh, aku bener-bener nggak sadar kalo dia ngeliat aku pas lagi ngecheck foto itu.”

Anne sebisa mungkin berbicara sejujurnya, ia tak mau ada kebohongan pada Kala karena Kala sudah mempercayainya lebih dari sepuluh tahun sejak mereka berteman dekat sedari kecil. “Lalu? Memangnya kenapa kalau kamu ngecheck foto itu? Apa ada larangan?”

Anne menyeruput dahulu minuman di depannya sebelum melanjutkan ceritanya. “Bukan itu masalahnya, Kal. Setelah itu Khaisar ngechat aku dan nanya rumah kamu dimana, aku nggak kasih tau karena itu permintaan kamu. Tapi, Kal, Khaisar jni maksa sampai sampai dia ngancam bakal bilang ke Pak Sulthan buat pecat aku.” Anne memegang rambutnya frustasi, memikirkan bagaimana jika benar ia akan dipecat dari pekerjaannya dan ia tak tahu harus mencari kerja dimana lagi.

“Aku bener-bener takut banget, Kal. Kamu bisa, ya, bantu aku … Cuma kamu kayanya yang bisa bujuk Khaisar untuk nggak bilang ke Pak Sulthan.” Kala tertawa mendengar ucapan Anne, yang langsung dibalas dengan pukulan kesal dari Anne. “Ih, kamu, kok, malah ketawa, sih, Kal … Aku serius, lho. Nggak ada bercandaan.”

“Anne, itu bukan masalah besar, Khaisar hanya nakut-nakutin kamu agar benar-benar kamu kasih tahu alamat rumah saya.”

“Sekarang, begini saja, deh. Kalau kamu memang takut, saya minta nomor Khaisar. Nanti saya hubungi dia untum berhenti ancam kamu.”

Wajah Anne memerah, ia malu. Masalahnya ternyata tak sebesar dan segenting pikirannya, ia bahkan sudah menangis. Masalah itu hanya akal-akalan Khaisar yang pintar sekali berakting. “Yasudah, kalau sudah selesai saya pulang, ya. Shakilla sudah menunggu sepertinya.”

Kala bangun dari duduknya di atas kursi kayu. Menengok kanan-kiri cafe seperti mencari sesuatu. Anne ikut bangun dan merapikan pakaiannya. Keduanya keluar cafe bersama. “Aku pulang, ya, Kal. Makasih hehe.” Anne berbicara itu pada Kala tanpa memperhatikan jalan. Hingga Kala menghentikan langkahnya karena sedikit lagi ia bergerak, ia akan terjatuh dari tangga cafe yang memang cukup tinggi.

“Hati-hati, Anne. Matanya ke depan.” Kala memberikan tangannya untuk Anne pegang juka benar-benar akan terjatuh. Anne sadar, ia langsung turun dari tangga perlahan.

“Eh, iya, Kal. Aduh … Maaf jadi nggak fokus. Makasih sekali lagi. Aku duluan, ya.” Tubuhnya semakin tak terlihat oleh netra Kala, setelah Anne pergi baru ia pergi dari tempatnya saat ini.

Kala berjalan menuju halte yang tak jauh dari cafe tempat pertemuannya tadi dengan Anne. “Ayo naik!” Suara laki-laki terdengar oleh indra pendengaran Kala. Itu suara Septa, rupanya pemuda itu tak langsung pergi setelah mengantarnya ke cafe sekitar tiga puluh menit yang lalu.

“Kamu tidak pulang?” tanya Kala pada Septa yang berdiri di depannya dengan motor ninjanya.

“Tadi gue abis ketemu temen, terus liat lo. Sekalian aja, udah ayo cepet!” bohong Septa. Gengsinya sudah meluas melebihi luasnya lautan, ia tidak akan mau terlihat sebagai orang yang lebih dominan perhatian.

Kala mulai menduduki jok motor ninja milik Septa yang cukup tinggi itu. Membawanya pergi dari halte dekat cafe menuju rumahnya. Sejujurnya, Septa penasaran dengan tempat tinggal Kala. Barangkali ia bisa menetap sementara disana jika sudah mengetahui dimana lokasinya, mengingat hubungannya dengan Papahnya cukup buruk.

“Septa, terimakasih, ya.”

©️ lyterasee