Buku dan Gelanggang Es
Di bus menuju tempat yang ingin Kala kunjungi bersama Jihane, untuk pertama kalinya mereka berdua duduk berdampingan. Biasanya, Kala berada di kursi belakang bus dan Jihane di depannya. Alasan mengapa Kala selalu di belakang, karena menurutnya harusnya bus melakukan sistem duduk perempuan dengan perempuan dan laki-laki dengan laki-laki yang duduk berdampingan. Perempuan berada di bagian depan bus dan laki-laki berada di belakang untuk menghindari kejahatan seksual yang biasa terjadi di bus saat justru perempuan dan laki-laki duduk berdampingan. Makanya, Kala dan Jihane tidak duduk bersama dan Kala biarkan Jihane duduk bersama perempuan.
Kali ini mereka duduk berdampingan, rasanya cukup canggung. Dan kecanggungan itu terhenti saat Jihane mengeluarkan sesuatu dari tasnya. “Tadaaa … Ini, revisi cerita gue.” Jihane memberika buku yang di dalamnya terdapat isi cerita yang ia buat dan sudah direvisi sesuai permintaan Kala.
Kala yang melihat buku itu cukup kaget mengingat pembicaraan mereka tempo lalu.“Lho, bukannya saya sudah bilang kemarin untuk lupakan ceritamu?” Kala menerima buku pemberian Jihane lalu ia buka perlahan dan lihat isinya.
“Iya, sih, cuma waktu itu, tuh, gue cuma kaya kesel aja karena ngomongin itu waktunya lagi nggak pas bukannya pengen revisi gue ini nggak perlu dikasih ke lo. Ya kali udah susah-susah gue tulis ulang terus nggak dikasih ke lo. Buang-buang tenaga gue.” Jihane menatap Kala sambil menjelaskan dengan serius. Yang dilihat justru tatapannya terpaku pada buku di depannya.
Kala menutup buku itu, Jihane yang melihat itu sambil sedikit menyipitkan matanya akibat sinar matahari pagi itu bertanya, “Kok cepet banget bacanya? Jelek—“ Belum sempat ia lanjutkan, dirinya terkejut dengan apa yang Kala lakukan. Kala menutupi wajah Jihane dari sinar matahari dengan buku itu.
“Mau tukar posisi?” Kala bertanya.
“H-hah? Nggak, gausah. Gapapa, kok, ini.” Sejak tadi dirinya terpaku, tapi setelah Kala bertanya semakin terpaku. Apa yang dilakukan Kala jelas membuat Jihane sedikit terbawa perasaan.
“Syukur kalau begitu. Cerita dan penulisannya lebih rapi. Buku ini nanti saya pegang, ya? Ingin saya bacakan untuk Shakilla jika ingin tidur.”
“E-eh iya. Boleh, semoga Shakilla nggak mimpi buruk setelah baca itu.”
“Tidak akan.” Jihane tersenyum mendengar itu. dirinya sudah tak kuat.
***
Sampai di tempat tujuan, Jihane melihat ke sekitar menelusuri sekitar memperkirakan tempat apa yang sedang ada di depan matanya ini.
“Ini Skating Club. Tempat dimana biasanya saya berlatih.” Jihane yang mendengar itu cukup kaget. Ia baru ingat bahwa yang berada di sampingnya ini adalah seorang atlet figure skating.
“Oh iya, gue baru inget. Wah, gede juga ya tempat latihannya.” Melihat sekitar rasanya ada yang mengganjal bagi Jihane. “Tapi, kok, sepi banget, ya, Kak? Apa latihannya kalau pagi belum dimulai?”
“Club ini sudah lama tidak dipakai. Coachnya sudah tidak ada. Dan hari ini, saya ingin coba latihan lagi. Sudah lama tidak latihan dan main skating.” Sambil tersenyum Kala menjelaskan.
“Udah lama? Bukannya kalau atlet latihannya tuh setiap hari, ya? Kalo udah lama, udah berapa lama nggak latihan?”
“Tiga tahun mungkin.” Kala sedikit mengangkat bahunya.
“HAH!!?? SERIUS??” Jihane terkejut, bagaimana bisa seorang atlet tiga tahun tidak berlatih. Apa tidak lupa cara bermainnya?
“Meski sudah tiga tahun tidak bermain tapi saya masih ingat, kok.” Kala terkikik melihat wajah Jihane yang berubah menjadi serius setelah ia bilang tiga tahun.
“Ayo masuk!” ajak Kala.
Selama memasuki club, fokus Jihane berpindah-pindah. Hingga saat ia lihat ice rink— tempat dimana kita bermain skating, wajahnya berubah muram, Kala yang melihat itu khawatir dan bertanya.
“Ada apa? Kamu tidak suka tempat ini?”
“Nggak, suka, kok. Cuma kalo inget tempat ini jadi inget dulu waktu ada Kakak aja.”
“Mau coba main?”
“E-eh, nggak, ah. Gue nggak bisa.” Jihane menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Tidak apa, saya ajarkan. Ayo!” Kala memegang tangan Jihane.
“Nggak, nggak bisa, takut jatoh, ah.”
“Tidak akan, saya jaga.” Kala yang tadi memegang Jihane berubah menjadi menariknya agar ikut ke ruang ganti. “Kita ke ruang ganti.”
Jihane yang melihat itu langsung melepaskan pegangan tangannya pada Kala cukup keras. “Gue bilang gue nggak mau, ya, nggak mau dong. Gue nggak suka dipaksa.” Setelah berkata begitu, ia langsung keluar dari club.
“Jihane Aruna …”Kala terkejut. Ia tak menyangka bahwa ajakannya itu membuat Jihane sebegitu marahnya hingga keluar club. Kala langsung mengikutinya untuk keluar. Di luar ia lihat Jihane terdiam.
“Kamu kenapa? Tidak apa? Maaf kalau tadi saya terkesan memaksa.” Kala melihat wajah Jihane khawatir, Jihane menangis.
“Gue pengen pulang.” Dengan terisak ia bersuara. Kala yang pada awalnya bingung langsung segera mengajaknya untuk pulang.
