Dibantu Berjalan

Image

Jihane mengirim pesan email pada laki-laki pemegang buku miliknya itu, mereka merencanakan bertemu di taman rumah sakit.

Berjalan ke taman rumah sakit, Jihane dibantu oleh suster Ranti yang mendorong kursi rodanya. Suster Ranti jugalah yang membantunya untuk bangun dari kursi roda dan berpindah ke kursi taman rumah sakit.

Suster Ranti sudah membantunya sejak hari pertama Jihane masuk ke rumah sakit, Suster Ranti juga yang membantunya dalam segala hal yang ia butuhkan. Padahal, Jihane berkata pada Ibunya—Sonia bahwa ia bisa melakukan semuanya sendiri. Faktanya, Suster Ranti lah yang membantunya.

Setelah duduk dengan nyaman di kursi taman, Jihane segera merapihkan pakaian yang ia pakai, mencium wangi pakaiannya lalu menyemprotkan parfume kesukaannya itu, hingga menguncir rapi rambutnya. Persis seperti remaja yang sedang kasmaran.

Terhitung sudah tiga puluh menit yang lalu ketika Jihane mengirimkan laki-laki itu email, tapi sampai sekarang laki-laki itu tak kunjung datang.

Jam sebelas siang berubah menjadi jam dua belas siang, laki-laki itu pun masih belum datang. Jihane sudah menunggunya dari jam sepuluh pagi tadi hingga jam makan siangnya pun laki-laki itu belum datang juga. Jihane sampai tidak mau makan sebelum bertemu laki-laki itu. Setidaknya ia harus tau kenapa laki-laki itu telat datang bahkan berjam-jam.

Jam lima sore, laki-laki itu pun belum terlihat batang hidungnya, “Kemana, sih, tuh cowo.”

Jihane menengok kesana- kemari mencari keberadaan laki-laki itu dan memastikan apakah laki-laki itu sudah datang atau belum.

Laki-laki itu, dilihatnya laki-laki berbaju kotak-kotak biru dengan tas selempang disampingnya sedang berlari menuju tempat Jihane duduk. “Jihane Aruna, maaf saya telat,” katanya dengan deru nafas yang cepat.

“Lo habis dari mana? Lama banget? Berjam-jam lo gue tungguin,” tanya Jihane dengan sedikit amarah.

“Tadi saat di bus macet sekali, saya turun dan jalan sampai rumah sakit ini.” , “Maaf,” katanya merasa bersalah.

Laki-laki itu langsung mengeluarkan buku dari tas yang selalu ia bawa itu lalu memberikannya pada Jihane. Jihane tak mengambil buku itu, Jihane justru menarik tangan laki-laki itu dan menyuruhnya untuk duduk disampingnya, “Duduk, capek banget lo.”

Laki-laki itu terkejut dengan tarikan tangan Jihane, ia langsung bergegas untuk duduk dan menghindari pegangan tangan Jihane. “Ini bukunya, silahkan dicheck dulu, khawatir saya salah lagi.”

“Lo nggak baca email dari gue sebelum berangkat?” tanya Jihane sembari mengecek isi buku yang digenggamnya.

“Saya sudah bilang, email itu bukan punya saya. Nggak mungkin saya bawa handphone kerabat saya itu hanya untuk mengecek email darimu, Jihane Aruna,”

“Juga, saya sebenarnya tidak punya gadget, sudah terlampau tiga tahun saya tidak memegang handphone.”

Jihane yang mendengar itu pun cukup terkejut, bagaimana bisa manusia hidup tanpa gadget selama tiga tahun?

“Pantes ya waktu gue email lo yang bales beda. Beda typingnya maksudnya,”

Setelah pembicaraan itu, tidak ada suara yang keluar baik dari Jihane maupun laki-laki itu. Canggung tiba-tiba menghampiri mereka berdua.

“Oh ya, gue pengen nanya ini dari kemarin tapi lupa terus, nama lo siapa?” Gengsi rasanya saat Jihane harus memulai obrolan lebih dahulu untuk mencairkan suasana.

“SandyaKala, panggil Kala saja cukup.” Laki-laki itu berpikir cukup lama hingga akhirnya menjawab pertanyaan Jihane.

“Jihane Aruna … ” Ah, akhirnya laki-laki itu mau bersuara.

“Maaf jika saya lancang, saat pertemuan pertama kita, kamu bilang bahwa kamu masih muda dan tidak mau dipanggil dengan sebutan ‘Mbak’,”

“Iya, kenapa emangnya? Lo nggak setuju?”

“Bukan, bukan begitu. Maaf, tapi saat saya menemukan buku kamu, saya terpaksa harus buka halaman pertama. Dan disana tertera dengan jelas namamu, emailmu, juga tanggal lahirmu. Disitu tertulis ‘01 Januari 1993’, sedangkan saya lahir ‘11 November 1992’. Saya lebih tua dari kamu.”

“Trus? Lo mau dipanggil apa emangnya? Om? Kak? Mas? Atau Bro? Bro kayanya lebih bagus, ya?” ledek Jihane.

“Terserah kamu, tapi setidaknya ada sebutan untuk saya sebagai orang yang lebih tua dari kamu dan juga menghormati.”

“Oke, Bro Kala.”

Langit mulai gelap, matahari mulai turun, pertanda bahwa malam akan segera datang. “Udah malem, pulang, gih,” kata Jihane menyuruh Kala pulang.

“Ah iya, yasudah saya antar sampai ruang rawat kamu, boleh?” Jihane terkejut mendengar tawaran dari Kala. Ia tanpa berpikir panjang langsung menyetujui tawaran itu.

“Boleh!”

“Tidak usah pakai kursi roda, ya? Sekalian belajar jalan pelan-pelan?”

Jihane mengangguk. “Pegang tangan saya saja. Pelan-pelan, tenang, saya nggak akan ajak kamu lari.”

Kala dan Jihane sampai di depan ruang rawat Jihane, disitu mereka bertemu dengan Suster Ranti.

Kala menunduk, tanda menghormati. Suster Ranti langsung mengambil Jihane dan mengantarnya ke kasurnya.

“Jihane Aruna, saya pamit, ya?”

Jihane yang baru saja tiduran langsung cepat bangun, “Tunggu!!!”

Kala menengok ke arah Jihane dengan bingung lalu masuk ke ruang rawat Jihane dan menghampiri Jihane. Sebelumnya ia sudah berbalik untuk keluar dari pintu.

“Ini, ambil, itu udah gue setting semuanya. Dari kartunya, no telpnya, wa nya sampe nomor wa gue.”

“Ambilll, jangan ditolak. Nggak ada penolakan. Untuk sementara aja, kalo lo udah beli lo balikin gapapa.” kata Jihane panjang lebar sembari memutar badan Kala untuk segera pergi. Jihane takut sekali kalau ditolak maka dari itu ia menyuruh Kala untuk segera pergi.

“Dah, pergi, hush, hush” Suaranya seperti mengusir kucing.

Jihane tersenyum lega saat Kala sudah pergi. Ia melihat jelas raut wajah bingung Kala. Lucu. Hihi.

©️ lyterasee