Figure skating
Setelah membalas pesan Jihane, Kala bergegas ke rumah Pakdhe Supra. Berjalan kaki menuju halte dari rumah Jihane dengan ditemani airpod yang selalu menempel ditelinga juga tak lupa dengan radio tapenya. Akhir-akhir ini Kala sering sekali mendengarkan lagu-lagu dari Bruno Mars, padahal Kala jarang mendengarkan lagu. Hari-harinya biasa saja, hanya mendengar titip radio. Tapi semenjak Kala tahu Jihane menyukai Bruno Mars ia mulai mencoba untuk mendengarkan lagu lainnya dari Bruno Mars. Agar, jika Jihane menyuruhnya bernyanyi lagi ia sudah tahu lagu beserta liriknya karena sudah ia hapal.
Bus Transjakarta berhenti tepat di depan halte. Melihat itu Kala langsung bergegas menaiki bus, ia duduk di bagian paling belakang bus itu. Kala selalu menanamkan prinsip wanita paling utama. Ia akan membiarkan para wanita duduk di bagian depan atau tengah, biarkan ia dibelakang. Lagi pula, menurutnya laki-laki memang lebih baik di belakang untuk mencegah adanya kejadian yang tak diinginkan bila duduk bercampur dengan wanita. Kita tidak pernah tahu seberapa nafsu seseorang pada saat itu.
Kala duduk dengan nyaman dikursinya, ia lalu memejamkan matanya pelan lalu menganyun bersama lagu yang ia dengarkan. Ia mencoba merasakan feeling dari lagu yang ia dengar. Oh ya, dari lagu-lagu Bruno Mars yang ia dengar, yang berulang kali ia dengar ialah yang berjudul Just The Way You Are. Menurutnya lagu itu sangat bagus pun dengan musik videonya. Klasik.
Kurang lebih tiga puluh menit perjalanan, akhirnya Kala sampai pada halte pemberhentian. Dari sana ia berjalan menuju gang rumah Pakdhe Supra. Melewati lorong-lorong kecil yang hanya bisa dilewati pejalan kaki dan pesepeda, tidak bisa mobil atau motor. Sesampainya di depan rumah Pakdhe Supra ia melihat sekeliling rumah milik Kakek itu dari depan, di samping rumahnya terdapat toko buku yang tidak terlalu besar. Kala sering membaca buku disana. Rindu sekali rasanya membaca buku kembali disana.
Kala masuk ke dalam toko buku milik Pakdhe Supra, selain menjadi pengirim surat dan koran ia juga sebagai penjaga toko buku miliknya sendiri. Toko bukunya memang tak besar, tapi buku-buku yang Kala baca terdapat disini semuanya. Komplit. Dilihatnya Pakdhe Supra yang sedang menyeruput segelas kopi yang ada di sampingnya ditemani koran yang ia baca dengan kacamata baca.
Kala berjalan menuju ke arah Pakdhe Supra, menyapa Pakdhe Supra dengan ramah. Namun, jalannya terhenti saat ia ditabrak oleh seseorang. Isi dalam tas yang Kala pegang berhamburan kemana-mana. Langsung ia memungut barang-barangnya dengan gerakan cepat, di dalam tasnya terdapat mainan anak milik Shakilla, foto Ibunya, kartu nama dan juga sticky notes yang selalu ia bawa. Kala mengutamakan mengambil mainan Shakilla dan foto Ibunya. Bapak yang menabrak itu ikut menurunkan badannya dan membantu Kala. Bapak itu baru mengambil kartu nama milik Kala, dan hendak mengambil foto Ibunya tapi Kala menghentikannya. “Saya bisa sendiri.”
Singkat sekali pernyataan Kala, ia tak suka jika barang-barang miliknya terutama foto Ibunya dipegang orang lain. Apalagi itu laki-laki. Bahkan sepertinya umur Bapak yang menabraknya ini sama dengan Ayahnya. Ia sangat tak menyukai itu.
“Oh, maaf, ya, saya tidak sengaja. Salah saya tidak hati hati.” Jawab Bapak itu.
Tatapan Kala dan Bapak itu bertemu, memberikan keheningan untuk keduanya. Wajah Bapak itu tampak sedang berusaha mengingat sesuatu. “Lho? Ini SandyaKala Megantara yang atlet figure skating itu, kan?” Tanya Bapak itu sambil menunjuk ke arah Kala. Ia menyadari bahwa Kala adalah seorang atlet olahraga seluncur es.
Kala tak langsung menjawab, sungkan sekali ia untuk menjawab pertanyaan mengenai hal itu. “I-iya.” Jawab Kala ragu-ragu.
“Anda tahu dari mana saya atlet?” Tanya Kala penasaran sekali.
“Saya fans kamu, lho. Saya selalu nonton saat kamu tampil. Keren sekali.” Bapak itu memberikan dua jari jempol kanan kirinya dengan jari lainnya yang dilipat, pertanda bahwa Kala benar-benar keren.
Kala mulai terasa nyaman berbicara dengan Bapak itu. Dengan malu-malu menggelengkan kepala ia menolak pernyataan itu. “Tidak, tapi terimakasih … ”
Bapak itu tersenyum. “Oh ya, bukannya terakhir kali kamu berada di New York, ya? Kenapa tiba-tiba berada di Jakarta? Kok tidak ada berita yang muncul tentang kepulangan kamu, ya? Padahal saya samgat menunggu sebab ingin berfoto.” Pertanyaan Bapak itu banyak sekali. Sudah dipastikan benar jika Bapak itu ialah penggemar Kala. Ia bahkan tahu dimana Kala berada terakhir kali.
Kala tak menjawab lagi, ia justru memberikan pertanyaan pada Bapak dihadapannya ini. “Kenapa suka saya?”
Bapak itu lantas tertawa mendengar pertanyaan Kala. “Yaampun, gemas sekali. Sebenarnya saya dulu ingin sekali jadi atlet seperti kamu, tapi orang tua saya tidak setuju. Mereka ingin saya jadi dokter. Saya sudah coba melupakan keinginan saya ini, tapi saat lihat kamu di tv dengan penampilan kamu yang memukau membuat saya bersemangat lagi. Saya kagum dengan kamu, diusia muda kamu sudah bisa mengharumkan nama bangsa. Saya sebagai orang tua rasanya bangga. Mungkin semua orang yang menyaksikan kamu tampil bisa saja langsung jatuh cinta saat melihat kamu tampil. Keren sekali.”
Kala menatap serius Bapak itu, mendengarkannya dengan seksama. Ia kembali terbawa ke memori dahulu saat ia semangat berjuang untuk bisa menjadi atlet seperti sekarang. Semangatnya dipatahkan saat tahu ia berjuang tanpa dukungan kedua orang tua. Ia meyakinkan dirinya bisa meski banyak rintangan. Dan inilah Kala. Namun, mimpinya kembali dipatahkan untuk yang kesekian kalinya akibat penyakitnya.
Rasa sakit patah tulangnya saat berlatih skating tak ada rasa bandingannya dibandingkan saat semangatnya dipatahkan sebab penyakitnya.
©️ lyterasee
