Genggaman tangan
Sebelum masuk ke dalam ruang rawat Jihane, Kala mendapati pesan dari Chandra. Melihat apa yang Chandra kirimkan membuatnya mengurungkan niatnya untuk masuk ke ruangan Jihane. Ntahlah, ia hanya merasa posisi ini sangat sulit untuknya. Pernikahan Ayahnya dan Mamah Jihane memang tidak jadi, tapi rasanya hubungan antara Jihane dan dirinya sudah terlanjur hancur.
Berdiam cukup lama hanya melihat Jihane dari kaca di luar ruangan membuatnya merasa kasihan pada Jihane. Apalagi setelah berita yang baru saja terjadi. Akhirnya Kala tetap masuk ke dalam ruang rawat Jihane. Perlahan ia berjalan menuju ranjang Jihane terbaring. Berdiri di samping ranjang dan hanya memandangi Jihane tanpa melakukan apapun.
“Saya harus bagaimana, Jihane Aruna?”
“Tetap pergi atau tetap di sini?”
Pertanyaan itu ia lontarkan pada Jihane yang saat itu masih memejamkan matanya. Melihat Jihane yang tetap pada posisinya tertidur, tubuh Kala melemas dan mulai jatuh ke lantai. Lelah sekali rasanya melewati tiap duri-duri yang ia rasakan di dunia ini.
Di lantai ia terduduk. Cukup lama posisinya seperti itu. Sampai pada saat ia ingin menggenggam tangan Jihane yang lemas, tinggal jarak sedikit lagi tangannya benar-benar menggenggam tangan Jihane tapi kembali ia urungkan. Menurutnya bukan sekarang saatnya memikirkan soal hubungan mereka, memikirkan bagaimana kelanjutan cinta mereka, tapi saat ini harusnya ia memikirkan harus menjawab apa saat Jihane siuman nanti dan menanyakan perihal Ibunya.
Sejam Kala menunggu Jihane yang masih tertidur dengan posisi terduduk di lantai akhirnya ia bangun beranjak pergi dari tempat itu. Tapi saat hendak melangkah keluar tangannya ditahan.
“Tolong tetap di sini, gue butuh lo.” Kalimat itu keluar dari mulut Jihane. Setelah Kala menoleh ke belakang melihat keadaan Jihane, Jihane masih tertidur. Mungkin ia mengingau saking lelahnya. Perlahan Kala lepaskan genggaman tangan Jihane pada dirinya dan keluar dari ruang rawat.
Saat di luar, Kala tidak langsung pergi dari rumah sakit. Ia tetap berdiri di balik kaca memerhatikan Jihane yang masih tertidur. Sebenarnya ia tidak ingin meninggalkan Jihane, tapi sepertinya kepergiannya lebih baik pikir Kala.
“Saya pergi, Jihane Aruna.”

— usahredup