Hancur
Khaisar terdiam. Setelah membaca pesan grup dari Kala ia menengok ke belakang, terdapat Kala juga dua manusia yang bagaikan bodyguardnya itu; Chandra dan Septa.
Menyadari keberadaan Kala di belakangnya, ia sapa Kala. “Kal …” Yang disapa hanya berlalu bagai tak ada makhluk di hadapannya itu.
Khaisar melihat punggung Kala yang semakin menjauh dan terkejut ada yang menepuk pelan bahunya.
“Jauh-jauh lo dari Kala.” Setelah berucap seperti itu Septa berlalu. Diganti dengan keberadaan Chandra di hadapannya.
“Jangan macem-macem lo. Kalo sampe di dalem lo macem-macem, nih, abis lo.” Chandra menunjukkan kepalan tangannya itu kepada Khaisar, mencoba menakut-nakutinya.
“Tenang, Bro. Tanpa lo ituin gue, gue udah abis duluan.”
Kalimat itu keluar dari mulut Khaisar tanpa permisi. Seperti dari ucapan itu gak ada kehidupan lagi setelahnya. Melihat ke dalam kafe, sudah banyak teman-temannya yang sudah menunggu sedari lama. Ia masuk dengan terus menarik lalu membuang napasnya pelan.
“Widih, Center ke-2 dateng. Silakan duduk, Center ke-2.” Bhakti menghentikan kesunyian dalam kafe dengan menyambut kedatangan Kala. Ia lalu menarik kursi sedikit saat Kala muncul di tempat berkumpul Meja Bundar untuk Kala duduk.
Tak lama setelah itu, Khaisar datang. Semua mata tertuju padanya. Bhakti kembali menyambut. “Widih, ini lagi Center utama dateng. Silakan duduk, Center utama.” Kegiatan menarik kursi itu kembali terulang.
Semuanya sudah duduk, semuanya sudah lengkap, tapi tidak ada satu pun yang mau memulai pembicaraan. Sampai akhirnya Kala bersuara. “Lalu apalagi yang harus dibicarakan?”
Mendengar pertanyaan Kala, semua mata tertuju pada Khaisar. Seolah menyuruh Khaisar untuk memulai bicara apa yang terjadi sebenarnya, antaranya, Kala, dan juga Leora.
“Oke, semuanya, sebelumnya gue mau minta maaf karena udah ngecewain kalian. Udah ngebuat kalian ngerasa dibohongi karena nggak tau masalah ini. Gue bingung harus mulai dari mana, tapi Kal, ucapan maaf ini gue teruntukan pertama untuk lo. Gue tau maaf gue ini nggak akan bisa balikin semuanya kaya dulu, tapi gue harap lo maafin gue meskipun kayanya nggak bakal dimaafin.” Khaisar tersenyum pahit.
“Gue—” Baru satu kata Khaisar keluarkan dari mulutnya. Se Meja Bundar dikagetkan dengan kehadiran Jihane di sana—di depan kafe sedang menuju ke tempat mereka berkumpul. Sambil terus menggoyangkan tangannya itu.
“Hey! Kok kalian bisa ada di sini? lengkap lagi, ada apa ini?” Jihane mengarahkan pandangannya ke satu per satu orang yang duduk dengan formasi bundar itu. Ia melihat keneradaan Kala, ia mendekat lalu disapanya Kala. “Hai, Kak!”
“Jihane Aruna, sedang apa?”
“Oh, ini gue emang lagi janjian sama temen di sini. Mau ngopi aja.”
“Oh, kirain janjian sekampung.” Septa bersuara meledek Jihane.
“Diem lo!”
“Heh! lo ngapain di sini, sih? Ganggu aja lagi serius juga!” Protes Chandra sambil berdiri.
“Lah, terserah gue, Orgil!” Jihane kembali teringat dengan Chandra yang tiba-tiba mengiriminya pesan lalu berucap terimakasih padanya. Perlu digaris bawahi, padanya. Sebab itu mulai hari ini Chandra ia panggil Orgil dengan ketidakjelasannya yang berucap itu tak terduga.
Jihane melihat keberadaan Khaisar yang duduk berhadapan dengan Mas Umin. “Eh, Gembel! Itu muka ngapa kusut banget? Lo kena bayarin mereka semua makan, ya?”
Khaisar tak menghiraukan ucapan Jihane, dengan serius ia bertanya, “Lo mau tetep di sini, atau pindah? Kalo mau di sini, lo duduk, diem.”
“Eh, eh, ada apaan sih ini? Pada serius-serius banget.” Tak diucapan langsung maupun dalam hati Jihane bertanya-tanya.
“Udah, Ji, dengerin aja.” Bhakti menyuruh Jihane duduk.
Tidak cukup jika hanya disuruh duduk, ia lalu bertanya pada Kala. Nihil, Kala sama sekali tidak bersuara. Tidak biasa Kala seperti ini pikirnya.
“Dengerin. Gue hanya masalah ini nyebar cuma sampe lo aja, Ji. Lo yang terakhir.” Jihane yang dibilang seperti itu hanya mengangguk-anggukan kepala saja. Ia masih penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
“Gue, Khaisar. Gue ngaku kalo gue yang ngedorong Leora dari rooftop gedung tua tiga tahun lalu. Dan gue siap untuk bertanggung jawab akan apa yang gue lakuin.” Semuanya terkejut, semua mata membuka matanya lebar-lebar tak terkecuali Kala. Justru dirinyalah orang yang paling terkejut dengan pengakuan Khaisar. Tak pernah disangka bahwa Khaisar dengan sendirinya mengakui perbuatannya padahal Kala berharap itu semua tidak benar. Itu semua hanya prasangka Kala. Tapi hari itu, Khaisar mengakui dengan sadar.
“Khai?” Mas Umin mencoba memastikan kebenaran ucapan yang keluar dari mulut Khaisar.
Chandra berdiri dan memukul keras meja di hadapannya. “Heh, Berengsek! Lo tuh gimana, sih? Kemarenan lo bilang sendiri di grup kalo bukan lo yang ngelakuin bahkan pake embel-embel pembelaan. Dan sekarang lo bilang kalo itu beneran lo yang ngelakuin. Labil lo! Yang bener! Ini bukan masalah main-main!”
“Kalau memang benar Anda yang melakukan. Harusnya Anda tahu apa yang harus Anda lakukan tiga tahun lalu, Anjing!” Kala kecewa. Jelas. Tiga tahun berlalu dan ia masih berharap bahwa kejadian itu tidak benar-benar Khaisar yang melakukan. Ia masih memegang kepercayaan bahwa Khaisar tidak akan pernah berani melakukan hal itu dan hari ini kepercayaannya runtuh.
Bukan lagi Berengsek nama yang cocok untuknya, tapi Mati! Ikut Mati adalah nama yang sangat cocok untuknya saat ini. Tiga tahun berlalu ia baru mengakui itu sekarang. Dengan alih-alih pembelaan dahulu demi rasa kasihan.
“Heh, harusnya lo nyadar apa yang lo lakuin tiga tahun lalu, Bangsat!”
“Lo nggak tahu berefek apa masalah ini ke Kala. Dia cedera kaki pas latihan! Dan itu karena lo! Karena masalah yang lo buat tanpa mikir dan ngorbanin nyawa orang, Bangsat! Ah!” Chandra tidak bisa lagi mengontrol emosinya. Ia memikirkan bagaimana perasaan Kala saat ini. Tiga tahun lalu cederanya bahkan sampai hari ini pun belum pulih total, Skating yang ia tinggalkan dan sakitnya yang tidak tahu akan muncul keajaiban kesembuhan atau tidak, semua ini karena Khaisar. Semua masalah dari Khaisar.
Dari lubuk hatinya yang terdalam, Khaisar terkejut dengan fakta bahwa tiga tahun lalu Kala cedera akibatnya. Benih murni turun dari mata Khaisar. Air mata yang tak lagi kuat ia tahan akhirnya keluar. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada Kala tiga tahun lalu, dan saat ini ia tahu kebenaran dari kesulitan yang Kala rasakan.
“Dia gue telpon berkali-kali nggak diangkat, berita tentang cedera kakinya muncul di berita. Pasti lo nggak tau kan soal ini? Pasti. Gue yakin itu. Gue ke rumahnya, ngeliat dia di kursi roda lagi ngelempar hpnya, Bangsat!”
“Dia menderita sedangkan lo nggak tau lagi kaya gimana saat itu!”
Semua pengunjung yang berada di kafe memilih pergi dari kafe melihat apa yang terjadi. Kala hanya terdiam, begitupun dengan teman-teman yang lain. Mereka pun sama terkejutnya dengan Kala apalagi ditambah dengan fakta-fakta yang dibeberkan Chandra. Bahkan Jihane sekali pun bungkam, enggan untuk mengeluarkan suara. Suasana saat itu sangat panas dengan keseriusan dan kemarahan yang berapi-api terus datang dari Chandra.
Kala sampai kapan pun tidak akan pernah bisa menyuarakan amarahnya, maka dari itu Chandra wakilkan itu. Sejak ia lahir, ia enggan untuk marah, senang, bahkan sedih. Tidak mengenal rasa, itulah yang ia rasakan. Ia selalu datar, hingga Jihane Aruna datang ke hidupnya.
Bahkan saat kehadiran Shakilla muncul. Kala temukan Killa di depan Skating Club—tempat biasa ia berlatih skating. Dengan tanpa rasa apapun ia hanya mengambil dan merawat Killa. Rasa itu hadir secara perlahan, ia bahkan tidak memperdulikan siapa orang tua Killa. Jihane Aruna datang ke kehidupannya, semuanya berubah. Ia jadi punya keinginan untuk bangkit dan tetap hidup. Memperjuangkan apa yang harus diperjuangkan. Siapa Ayahnya, Siapa orang tua Shakilla, dan apa alasannya hidup.
“Gue tau gue goblok, tolol, bego, berengsek, dan yang lainnya. Tapi inilah gue, gue pelakunya. Gue bakal bertanggung jawab dan dapetin hukuman yang seharusnya gue dapetin dari tiga tahun lalu.” Tidak ada cara lain, inilah yang harus Khaisar lakukan demi Kala. Demi penderitaan yang Kala rasakan selama ini.
“Gue pembunuh Leora. Orang yang gue sayangi tiga tahun lalu itu.”
Saking seriusnya suasana saat itu, mereka semua tidak menyadari keberadaan Luna yang mendengar semua itu. Hingga akhirnya Jihane terkejut menyadari Luna berada di belakang Khaisar. “Luna … ” sambil membuka suara Jihane berdiri.
Semuanya perhatian tertuju pada suara yang keluar dari mulut Jihane lalu mengikuti arah matanya tertuju. Begitu pun dengan Khaisar. Ia menengok ke belakang melihat siapa yang berada tepat di belakangnya.
“L-lun … ” Dengan terbata-bata ia bersuara.
Luna sudah sedari tadi mengeluarkan air matanya yang terus mengucur dengan deras dengan isak tangis yang ia tahan sekuat tenaga agar tidak ada yang menyadari keberadaannya. Sesungguhnya sakit yang sungguh sakit adalah sakit yang berasal dari tangisan tertahan. Tangisan yang menimbulkan sesak luar biasa di dada.
Luna mencoba menghapus air mata yang sedari tadi mengalir, lalu matanya menatap dalam mata Khaisar. “K-kita p-putus.” Kalimat itu susah payah ia keluarkan. Melawan isak tangis yang menghalangi ucapannya untuk keluar.
Tidak ada yang mengira bahwa hari ini akan terjadi. Terjadi peperangan besar di batin Khaisar, ia bahkan tidak mengira bahwa Luna akan tahu masalah ini secepat yang ia kira. Padahal, ia sudah menyiapkan hari yang tepat untuk memberitahunya yaitu tepat hari dimana ia akan ditahan.
“L-lun … A-aku bisa jelasin. A-aku kira kamu nggak akan tahu secepet ini. Aku udah nyiapin waktu yang tepat untuk ngasih tau kamu tapi bukan hari ini. Aku belum siap untuk ngasih tau kamu hari ini … Aku sayang banget sama kamu, Lun … ” Khaisar menggenggam tangan Luna, tapi ditepis dengan cepat oleh Luna genggaman itu. Genggaman hangat itu … tidak akan pernah bisa Khaisar sentuh … lagi ….
“Aku sayang banget sama kamu … tapi bukan hari ini hari yang telat untuk sayang aku nggak punya arti lagi buat kamu … ”
“Kita udah selesai … Aku harap aku nggak pernah ketemu kamu lagi … Ya … Aku harap …”
“Ji, gue pulang.” Luna memutar badannya lalu berjalan menuju pintu keluar kafe. Dalam perjalanan itu ia berharap Khaisar akan menahannya. Menahannya untuk pergi. Tapi tidak, justru Jihane yang berlari mengikuti arahnya pergi.
“Lo gimana sih, Gembel. Bukannya dikejar.”
Khaisar jelas tidak akan mengejar. Rasanya tidak pantas Luna mendapatkan dirinya, tapi hal itu bukan berarti cintanya untuk Luna sudah hilang, tapi bertambah. Kehilangan selalu membuat kecintaan semakin bertambah. Menyadari bahwa yang hilang justru yang paling dibutuhkan.
Hari itu semuanya hancur. Cintanya, bahagianya, dan hidupnya. Semua pegangan itu bagaikan runtuh disaat bersamaan. Ia tidak punya lagi pegangan hidup. Ia mati.
———
