Hari bahagia, kita.
“Jangan dibuang itu.” Kala memungut dan mengumpulkan satu persatu kertas-kertas yang terjatuh akibat Jihane. Wanita itu memegang kertas berisikan tulisan buatannya sendiri seperti jijik. Membuka tiap kertas tanpa gairah hingga mengakibatkan kertas-kertas itu jatuh dan berserakan di bawah.
“Ih! Gue nggak buang. Jatoh jatoh, nggak gue buang.” Jihane berusaha meyakinkan Kala bahwa kertas-kertas itu tak berniatan ia buang. Ia mengambil kembali kertas-kertas yang tadi jatuh itu dari tangan Kala. Kala sudah fotocopy ulang isi dari buku yang Jihane tulis dengan beberapa kertas agar memudahkan pengoreksiannya jika terdapat banyak kesalahan penulisan.
Buku itu menjadi awal pertemuan antara Kala dan Jihane. Buku yang sempat terjatuh saat Jihane kecelakaan, lalu ada ditangan Kala tapi saat hendak dikembalikan lagi ke pemiliknya bukunya justru salah. Mengetahui setelah dikembalikan justru buku itu ditemukan oleh teman kerja Umin berada di tong sampah membuat Kala sedikit merasa kecewa. Sebab ada usaha sebelum ia sampai ke rumah sakit tempa Jihane sempat dirawat hanya karena ingin mengembalikan buku itu.
Sekarang ini, Kala dan Jihane berencana untuk merevisi buku itu. Mendengar alasan bahwa buku itu dibuang sebab banyak kesalahan kepenulisan juga katanya 'jelek'. Kala ingin membantu memperbaiki isi buku itu, meski tak akan sebagus buku-buku milik Tere Liye setidaknya buku yang kata Jihane 'jelek' itu menjadi sedikit lebih baik.
“Lo kenapa pengen banget revisi nih cerita, sih? Kurang kerjaan tau nggak?!” Jihane mengoceh sambil duduk di salah satu kursi Cafe Meja Bundar. Saat ini mereka sedang berada di Cafe Meja Bundar dengan teman-teman Kala lainnya juga.
“Cerita yang kamu tulis ini sudah cukup bagus. Karena kamu bilang buku ini ada kurangnya, alangkah lebih baiknya diperbaiki bukan dibuang.” Nada bicara Kala sedikit menyindir membuat Jihane membentuk wajah masam.
“Mau pesan apa? Agar fokus saat nanti pengoreksiannya, kamu makan dulu.” Kala tahu, jika saat proses revisi dimulai bersamaan dengan makanan datang maka fokus Jihane pasti akan ke makanan, bukan ke bukunya. Bagi Jihane, makanan adalah nomor satu dalam hidupnya.
“Gue mau nasi goreng, mie goreng, chicken katsu, burger, kebab-” Ucapan Jihane dipotong.
“Jihane Aruna.” Kala menggelengkan kepalanya. Selalu ada saja kelakuan yang membuatnya geleng kepala dari Jihane. “Hehehe.”
“Pesan makanan yang memang akan kamu habiskan.” Kala mulai mengambil kertas-kertas itu, lalu membacanya.
“Ih, beneran. Makanan itu pasti gue abisin. Serius, deh! Percaya sama gue.” Jihane membentuk jari tangannya menunjukkan angka dua. Tanda bahwa ia benar-benar serius.
