Hari itu tiba
Malam itu, setelah diberitahu kabar bahwa Khaisar akan segera menyerahkan diri ke polisi Kala terus berdiam di rumah. Ia tak berkeinginan untuk ke sana karena menurutnya bukan urusannya. Itu memang sudah kewajibannya untuk ke sana. Tapi sebenarnya, di dalam pikirannya ia terus berpikir. Apa yang akan terjadi setelah Khaisar menyerahkan diri? Apakah dengan itu Leora akan kembali? atau apakah dengan hal itu terjadi persahabatan mereka akan kembali seperti dulu? Tidak. Tidak akan ada yang berubah setelah apa yang sudah terjadi. Terkadang terbesit dipikirannya hal seperti itu—bahwa semuanya akan sia-sia sebab tak akan ada yang berubah. Untuk apa Khaisar di penjara? Hanya untuk sebagai pertanggungjawaban?
Tapi Kala harus tetap punya jawaban akan pertanyaan-pertanyaan itu, yang jawabannya hanya akan setuju atau tidak. Saat itu dipikirannya hanya ada satu. Bukti. Hanya bukti yang bisa menjadi jawaban akhir dari setuju atau tidaknya.
Di kamarnya, Kala terus berjalan ke sana ke sini mencari sesuatu. Mencari sesuatu yang bisa menjadi bukti. Dan terpikirkanlah oleh pikirannya foto—saat Leora jatuh ia sempat memotret agar sewaktu-waktu keluarganya ingin menuntut ada bukti. Karena saat kejadian itu sama sekali tidak ada campur tangan polisi. Semuanya tertutup sebab keluarga berpikir takut membuat karir Kala hancur jika ia terlibat akan kecelakaan ini. Ia terus mencari di mana letak foto itu, tapi sekeras apa pun ia mencari tetap tidak ketemu. Sudah tiga tahun daya ingat Kala berkurang drastis. Yang ia temukan justru foto-fotonya saat bersama Pakde Supra, dan saat itu juga ia baru teringat bahwa foto itu pernah ia berikan pada Pakde Supra karena jika foto itu terus ia pegang hidupnya tidak akan tenang terus mengingat masa kelam dan selalu dikelilingi rasa bersalah.
Kala bergegas pergi menuju rumah Pakde Supra yang cukup berjarak dari rumahnya. Sesampainya di sana, ia melihat Pakde Supra sedang merapikan buku-buku di toko. Ia langsung temui Pakde dan memanggilnya, “Pakde …”
Pakde yang mendengar itu terkejut langsung memutar balikkan badannya dan melihat tubuh Kala. “Eh, Nak, kebetulan kemari, tadinya Pakde mau kasih ini ke kamu besok aja karna udah malem. Ini, surat dari Ibumu.” Meski Ibunya sudah meninggalkannya sejak melahirkannya, tapi surat-surat itu tak pernah meninggalkannya. Surat itu setiap bulan Pakde berikan pada Kala guna Kala tak melupakan Ibunya. Surat itu ditulis Ibunya sejak masih mengandung Kala, begitulah Ibunya yang bagai bidadari itu. Bahkan isi surat itu hanya berisi betapa cintanya Ibunya pada Kala juga beribu kalimat pujian yang diberikan Ibunya untuk Ayahnya. Padahal ia jelas tahu bahwa Ayahnya tak pantas mendapatkan pujian itu tapi Ibunya tetap memberikan pujian itu dengan sepenuh hati.
Surat-surat itu Ibu Kala berikan pada Pakde Supra disaat-saat sebelum ia melahirkan Kala sebab pecah ketuban. Ibunya beri tahu pada Pakde Supra mengenai keberadaan surat-surat itu dan menyuruhnya memberikannya pada Kala. Hal itu ia lakukan sebab dirinya takkan pernah tahu kapan hari terakhir napasnya berhembus. Bisa saja hari itu.
Dan biasanya, setelah Kala diberi surat itu ia akan banyak bertanya lagi mengenai Ibunya tapi malam itu ia hanya mengucap terima kasih dan menerima surat itu lalu memberitahukan maksud kedatangannya malam itu.
“Pakde, ini saya terima, ya. Terima kasih. Tapi, kedatangan saya ke sini, saya ingin bertanya apa Pakde masih menyimpan foto yang saya berikan tiga tahun lalu? Foto yang kalau tidak salah saya berikan saat kaki saya dalam kondisi patah?”
“Saya ingin pinta foto itu kembali. Saya butuh itu.”
Pakde Supra dengan seksama mendengarkan runtutan kalimat yang Kala ucapkan lalu ia melihat ke sekelilingnya. “Oh, yang itu ya …? Sebentar, ya, Pakde cari dulu.” Pakde pergi meninggalkan Kala menuju rumahnya yang berada di samping toko bukunya.
“Iya, yang itu.” Mereka berdua sama sekali tak berniat menjelaskan lebih rinci apa foto itu.
———
Setelah cukup lama berada di ayunan taman, Khaisar dan Jihane berjalan menuju ke kantor polisi. sesampainya di sana, betapa terkejutnya mereka berdua melihat Kala sudah terduduk di kursi berhadapan dengan polisi. Kala yang menyadari itu lalu berdiri dan bergegas pergi bahkan tak menyapa Jihane.
“Kak Kala …” Jihane menyaksikan tubuh Kala yang semakin tak terlihat.
“Saudara Khaisar Al-Gibran, Anda kami tangkap.” Dua orang polisi berada di depan Khaisar dan Jihane. dan memborgol tangan Khaisar. Tambah terkejut dengan kehadiran dua orang itu Jihane bertanya, “Lho? Lho Pak? Kok langsung ditangkap? Kita aja belum ngasih tau mau ngapain ke sini.” Dirinya mencoba melepas borgol yang mengikat kedua tangan Khaisar.
“Ji, udah. Mending lo pulang. Makasih, ya, udah nemenin gue ke sini.” Setelah berbicara kepada Jihane, Khaisar di bawa ke dalam bersama dua orang polisi itu. Meski dirinya semakin jauh dari Jihane pandangannya masih terus ke Jihane. Khaisar masih menunggu ucapan yang akan keluar dari mulut Jihane.
“Gue yakin lo nggak salah, Gembel! Gue janji bakal nyari bukti. Tolong kuat di sana!” ucap Jihane cukup berteriak. “Titip Luna!” Khaisar menjawab.
Jihane melihat punggung Khaisar tak lagi terlihat setelah membelok dan masuk ke dalam ruangan. Ia tahu pasti Khaisar akan di interogasi. Dirinya masih tak habis pikir apa yang baru saja Kala lakukan. “Kak …”
Keluar dari kantor polisi Jihane kembali dikagetkan dengan hadirnya beberapa teman Kala dan Khaisar. Di sana ada Bhakti, Talay, Umin, Sulthan, dan Sena.
“Pacar Kala, Khaisar mana?” Bhakti mulai bersuara bertanya.
“Iya, Khaisar mana? gue mau ngomong dulu bentaran.” Talay menyambung.
“Udah, udah, nggak usah nanya-nanya gue lagi. Khaisar udah di dalem udah ditangkep.”
Teman-teman yang berada di sana terkejut, tak menyangka bahwa penangkapannya akan secepat ini prosesnya.
“Kok cepet banget, sih? kita-kita belom ngomong perpisahan, lho?” tanya Talay bingung yang langsung dihantam pukulan oleh Bhakti.
“Pertanyaan tolol, Alay!”
“Udah, gue mau pulang, ya. Kalian juga mending pulang. Nggak bakal bisa ketemu juga. Tadi ada Kak Kala juga ke sini.”
“KALA?!” Semuanya terkejut.
“Kala ke sini?” Mas Umin dengan serius bertanya pada Jihane. “Padahal tadi dia bilang nggak akan ke sini.” Jihane yang mendengar itu kembali terkejut.
“Nggak akan ke sini? Buktinya aja dia di sini bahkan sebelum gue sama Khaisar sampe ke sini.”
“Hah? Sebelom lo sama Khaisar di sini Kala udah di sini? Gila!” Bhakti tak habis pikir kagetnya.
Melihat keterkejutan teman-teman yang lain. Sena mulai bersuara bertanya pada teman-teman. “Kala, tuh, kenapa sih? beneran nggak bisa ditebak, tuh, anak.”
“Mungkin dia sakit.”
“Ngaco! Udah besok balik lagi aja ke sini ngejenguk Khaisar. Kasian, dah, gue.” Saran Sulthan pada teman-temannya.
“Lo juga, Jihane. Ayo pulang bareng kita aja udah malem. Harusnya kita yang bilang gini tadi bukan lo.”
“Iya, dah, tapi gue beneran nggak ngerti bener kata Sena, Kak Kala beneran nggak bisa ditebak. Dia bahkan nggak negor gue tadi.” Wajah Jihane cemberut.
“Udah apa! Ayo masuk! Ngapain cerita di sini mending di mobil.”
———
