Hujan

Image

Kala terbangun dari pingsannya sebab sakit kepalanya kambuh setengah jam yang lalu dan terbaring di sebuah bangsal. Saat sadar Kala melihat sekelilingnya, memperhatikan tempat ia terbaring saat ini. Rumah sakit, tempat itu menjadi tempat yang seolah paling ia takuti.

Kala mendengar rintik hujan turun di luar sana. Mendengar rintik hujan, pikirannya langsung terbawa pada sosok wanita si tak penyuka hujan. Kala ingat betul, sosok wanita yang bernama lengkap Jihane Aruna itu sangat tak menyukai hujan bahkan bisa saja tubuhnya gemetaran ketika mendengar suara hujan.

Menyadari hal itu, Kala langsung mengecek gadgetnya. Gadgetnya tidak ada di sampingnya, ia mencari dimana letak gadget miliknya. Rupanya gadgetnya berada di atas nakas yang jaraknya cukup jauh dari tempatnya terbaring lemah.

Dengan sekuat tenaga Kala bangun dari tidurnya, melepas tali infus yang bak mengikat dirinya. Cukup sakit, tapi ia harus lakukan demi bisa meraih gadgetnya. Setelah terlepas tali infus itu, Kala melangkah sedikit demi sedikit menuju nakas yang berada cukup jauh itu.

Kala mendapatkan gadgetnya, segera ia buka dan mengecek aplikasi pengirim pesan. Kiranya akan ada pesan muncul dari Jihane Aruna. Benar, enam pesan tak terbaca terkirim untuknya. dari jihane cantikkk tertulis jelas di lockscreen gadgetnya. Jihane pasti sedang ketakutan sekarang, pikirnya.

Kala tak melihat keberadaan Chandra sedari tadi di ruangan ini. Dengan cerdasnya, Kala beraksi membuat cara agar Chandra takkan ke ruangannya. Sebab, jika Chandra ke ruangan ini dan melihat tidak ada keberadaan Kala maka Chandra bisa marah besar.

Kala berjalan keluar rumah sakit mengendap-endap, khawatir jika dirinya justru berpapasan dengan chandra. Sampai di luar area rumah sakit, Kala berlari kencang sekuat tenaganya menuju halte tempatnya dengan Jihane berjanji untuk bertemu.

Di halte, ditemani hujan Jihane terlihat sangat ketakutan. Mengharapkan kehadiran Kala secepatnya menemuinya di tempat ini. Jihane tak bisa pergi dari halte, sebab jika ia menerobos hujan justru ketakutannya semakin parah, ia tak bisa mendengar suara hujan lebih jelas, bisa-bisa tubuhnya yang sekarang sedang gemetaran semakin bertambah gemetar. Pun jika ia bisa menaiki bus tapi tak sedikitpun bus terlihat melewati halte sedari tadi ia menunggu Kala datang.

Jihane menundukkan kepalanya, memejamkan matanya berharap hujan segera reda dan berharap Kala segera datang. Jihane ingin sekali menangis tapi tak bisa, ia bukan tipe perasa yang dengan mudahnya mengeluarkan air mata. Hingga laki-laki menarik lengannya saat ia menundukkan kepala lalu menarik tubuhnya ke dalam pelukan laki-laki itu membuat Jihane terkejut.

“Maaf, maaf saya datang terlambat. Maaf, saya buat kamu takut …”lirih laki-laki itu, suara itu jelas Jihane mengenalnya. Kala, dengan nada lirih terus merapalkan kata maaf yang ditujukan padanya.

“Kak … gue takut …” Saat Jihane tahu itu suara Kala ia langsung menjawabnya. Mendengar itu, rasanya sangat menyayat hati Kala. Ia tak bisa melindungi wanita yang berada dalam pelukannya saat ini.

Kala mulai melepaskan pelukannya pada Jihane. Menggantikannya dengan memberikan Jihane sebuah airpod miliknya yang ia ambil dari dalam postman bagnya. “Pakai ini …”

Airpod itu Kala berikan guna menyumbat suara-suara hujan lalu digantikannya dengan suara dari lagu-lagu didalamnya. Ia tahu jelas ketakutakan Jihane.

Kala lalu mengambil payung yang ada didalam postman bagnya lagi, lalu membukakan payung itu dan memberikan bagian payung sepenuhnya untuk Jihane.

“Lo nggak pake payung?” tanya Jihane setelah memasang airpod yang Kala berikan untuknya. Lagu-lagu jadul mulai terdengar didalam telinganya, selera Kala benar-benar kuno. Tapi, lagu yang sedang berputar di dalam telinganya ini sangat menenangkannya.

“Saya suka hujan.” Perbedaan terlihat jelas. Jihane tak menyukai hujan, sedangkan Kala si penyuka hujan. Jihane mendengar itu mengangguk seolah paham, tapi pikirnya itu hanya alasan melihat Kala sudah terlanjut basah kuyup.

Kala dan Jihane, keduanya berlari kecil menerobos derasnya hujan. Dengan Kala yang basah kuyup tanpa payung lalu Jihane yang seluruh badannya terhindar dari hujan. Senyum merekah jelas dari kedua bibir mereka. Jihane tak lagi takut dan khawatir dengan suara hujan sebab suara-suara hujan sudah tersumbat dan digantikan dengan lagu-lagu jadul selera Kala yang ia dengar.

©️ lyterasee