Bertemu lepas rindu

Setelah kurang lebih sebulan Kala menjalani pengobatan di Amerika, akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Alasan terbesarnya untuk kembali adalah ia ingin menjalani hidup normal seperti biasanya. Telah melewati sekian banyaknya pengobatan dan mendengar dokternya mengatakan bahwa tindakan operasi sudah tidak bisa dilakukan hanya itu satu-satunya jalan. Berhenti dan kembali.

Bukan, ia bukan lagi putus asa dan kecewa. Ia hanya menyadari bahwa tubuhnya semakin melemah. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menghabiskan sisa waktu bersama orang yang disayangi. Dan tepat hari ini, ia kembali ke Indonesia dengan kondisi tubuhnya yang semakin mengurus efek dari serangkaian pengobatan yang ia jalani sebulan belakangan.

Kala dan Chandra beristirahat sebentar di bandara selepas sampai di Indonesia dan menunggu Jihane yang akan datang di ruang tunggu yang disediakan bandara. Dalam istirahatnya itu, Kala sempatkan untuk mengirim pesan ke Jihane. Memberitahukan padanya bahwa ia ingin bertemu, ada yang ingin ia bicarakan.

Jihane yang sedang berada di kamar ditemani Luna berteriak histeris ketika mendapati pesan dari Kala hingga membuat Luna yang sedang memainkan laptopnya terkejut.

“Jihaneee … Kenapa?” Luna yang tadinya sedang berbaring di kasur akhirnya bangun untuk bertanya apa yang telah terjadi.

“Kak Kala …”

“Kala? Kenapa dia?”

“Kak Kala …”

“Iya kenapaaa …” Luna sudah habis kesabaran menunggu jawaban dari pertanyaannya yang tak kunjung dijawab. Hingga akhirnya ia memukul bantal yang ada di sampingnya ke arah Jihane.

“KAK KALA UDAH BALIKKKK!!! YEYY!!! AH LUNAAAA” Jihane yang akhirnya mengeluarkan suara meringis kesakitan sebab ada bantal yang mengenai tubuhnya.

“Eh serius?”

“Serius, makanya apa-apa tuh sabar. Gue juga lagi ngatur jantung buat bilang ini.” Jihane berkata sambil merapikan kembali bantal yang sempat mengenainya itu.

Sorry sorry lagian lo gue tanyain jawabannya ‘Kak Kala’ ‘Kak Kala’ mulu. Eh—”

Luna yang melihat Jihane bangun dari kasur dan berjalan ke arah lemari bajunya terkejut. “Eh, mau kemana?”

“Mau ketemu Kak Kala.”

“Lho, udah janjian?”

“Udahlah. Gue cocokan pake baju apa ya untuk merayakan kembalinya Kak Kala ke Indo?” Satu persatu pakaian yang ada di lemarinya ia keluarkan.

“Itu aja.” Pilihan Luna jatuh pada salah satu pakaian yang jarang sekali Jihane pakai. Dress.

“Ish, masa pake ini.” Jihane mencocokan dress itu pada tubuhnya.

“Cocok, dress itu jarang banget lo pake. Katanya mau ngerayain kembalinya Kala, ya pake baju yang lain lah jangan itu-itu mulu biar Kala tuh terkesima.”

“Eh tapi tapi, bukannya lo waktu itu sempet nggak chat-chatan lagi ya sama Kala sebelum dia ke Amerika? Kok bisa tiba-tiba ketemuan gini?”

“Bisalah. Kala nggak bisa lama-lama jauh dari gue. Takdirnya dia itu ya sama gue. Dia mau pergi ke mana pun juga baliknya ke gue.” Jihane menjawab sambil berjalan menuju ke kamar mandi untuk berganti pakaiannya dengan dress yang tadi sudah Luna pilihkan.

“Iya deh yang takdir mah beda …” Suara Luna cukup mengeras akibat Jihane yang sudah lebih dulu berjalan ke kamar mandi.

Setelah keluar dari kamar mandi, selama sejam Jihane berdiri dihadapan cermin. Kalau cermin bisa berbicara, mungkin ia sudah bosan karena Jihane selalu bertanya apakah baju ini cocok atau tidak untuk dirinya.

“Udah sana pergi. Lama banget ganti baju gituan doang.”

“Beneran cocok?”

“COCOK JIII!!!”

“Oke, gue jalan ya. Doain pas ketemu gue diajak nikah.” Jihane membuka pintu kamarnya lalu pergi keluar. Luna yang mendengar ucapan Jihane tersebut hanya bisa menggelengkan kepala. Ada-ada aja.

Setelah tubuh Jihane benar-benar sudah tidak terlihat di kamar. Luna berjalan menuju balkon. Ia bisa melihat Jihane yang ingin masuk ke dalam mobilnya.

“Jangan mimpi …” teriak Luna dari atas balkon yang segera Jihane balas.

“Iri.”

———

Kala yang sudah cukup lama menunggu kedatangan Jihane di bandara mendapat ocehan dari Chandra. Kala memang sudah janji temu dengan Jihane di bandara.

“Lama banget si dia. Ngapain aja itu bocah?”

“Tunggu sebentar lagi, pasti datang.”

“Jangan lama-lama, Kal. Sakit ini punggung gue bawa barang banyak banget berat, gue mau istirahat.”

Kala yang mendengar itu pun yang tadinya melirik ke seluruh penjuru bandara mencari keberadaan Jihane akhirnya berjalan ke arah Chandra.

“Biar saya yang bawa.” Kala mengadahkan tangannya untuk diberi barang-barang yang sedang Chandra bawa.

“Eh, nggak apaan sih.” Chandra terkejut melihat itu dan langsung menolak tawaran Kala.

“Tidak apa, punggungmu pasti sudah sakit.”

“Gapapa.” Chandra semakin menjauhkan barang-barang yang ia bawa itu dari hadapan Kala agar tidak semakin memaksa ingin bergantian membawa barang-barang.

“Katamu kalau sakit jangan dibiarkan tapi diobati. Kalau punggungmu sakit karena terlalu banyak membawa barang, obatnya berhenti membawa barang.” Skakmat. Chandra tidak bisa berkutik.

“Eh, gapapa udah ini udah nggak sakit. Gue udah segar bugar.” Chandra bangun dari duduknya dan melepas barang bawaan yang ia pegang lalu mengangkat kedua tangannya memamerkan otot-ototnya ke hadapan Kala.

“Tuh—”

“KAK KALAAA!!!” Belum selesai Chandra berbicara, atensi Kala sudah berganti ke arah suara yang menggelegar memanggil namanya dan maju selangkah saat melihat Jihane yang jauh di sana mengenakan dress yang terlihat sangat cocok untuknya.

Jihane yang cukup berjarak dengan Kala saat itu tetap bisa melihat Kala. Badannya terlihat lebih kurus dan kepalanya yang hanya tersisa sedikit rambut.

“Jihane Aruna.” Kala memanggil nama Jihane lalu melangkah lebih dekat ke arah Jihane.

Wajah Jihane amat sangat senang melihat Kala. Bahkan rentetan gigi-giginya itu terlihat kering sebab senyumnya sama sekali tak lekas pudar. Jihane kemudian berlari ke arah Kala dan memeluknya.

“Gimana kabar lo?” Dalam pelukan itu, Jihane bertanya. Seketika bulir air matanya jatuh begitu saja.

“Tidak apa.” Kala membalas pelukan Jihane erat.

Setelah cukup lama mereka berpelukan erat. Kala mulai melepaskan pelukan itu. Tangannya bergerak menghapus bulir air mata yang terlihat mengambang di mata Jihane.

“Jangan menangis. Saya tidak apa.” Berhasil Kala menghapus air mata Jihane, ia mengangguk paham.

“Jihane Aruna, saya minta maaf. Maaf sudah buatmu khawatir.”

“Maaf, saya sempat menjauh darimu. Saya sadar, saya tidak perlu jauh-jauh ke Amerika, sebab kamu obat saya.” Mendengar itu langsung saja tangis Jihane semakin deras, ia bahkan sampai tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun akibat sesak tangisnya yang tidak mau berhenti.

“Sudah, jangan menangis.” Kala kembali memberikan pelukan agar Jihane tenang.

“Sangat cocok mengenakan dress ini. Indah.” Jihane yang saat itu berada dipelukan Kala sontak tertawa senang mendengarnya.

Dan dalam pelukan itu juga Kala berkata, “Saya tidak akan pergi lagi. Tidak akan.”