Kalau mati, mati bersama

Setelah mengetahui pesan yang diberikan Kala padanya, Chandra segera menuju rumah Kala menggunakan mobilnya. Menjemput Kala beserta Killa yang saat itu sedang tertidur pulas. Chadra awalnya meminta Kala untuk langsung menceritakan semuanya saja di rumahnya malam itu, tapi melihat raut wajah datar Kala akhirnya ia mengurungkan keinginannya.

Membawa Kala dan Killa menuju rumah sakit adalah salah satu jalan, sekaligus memastikan keadaan Kala apalagi dengan keadaannya saat ini. Di perjalan menuju rumah sakit, Kala hanya berdiam tanpa bersuara sedikitpun di dalam mobil, sambil melihat ke arah jalan lewat jendela lalu mengelus lembut tubuh Killa guna menjaganya tetap tertidur pulas di pangkuannya itu.

“Kal ...”

“Saya akan ceritakan sesampai di sana ...” Kala enggan berbincang saat ini, dirinya masih sama shocknya dengan Chandra bahkan lebih. Bagaimana tidak? Orang yang selama ini berada di dekatnya ntah berpura-pura atau memang tidak mengenalinya adalah Ayahnya. Seorang figur yang saat ia kecil dahulu sangat dibutuhkan nyatanya tak pernah hadir. Dan sekarang ia hadir seolah mencari anaknya yang tlah lama hilang.

Kalau saja pembicaraan Pakde Supra dan orang itu ia tidak sengaja menguping, ia tidak akan mengetahui kebenaran dari kenyataan yang sednag ia hadapi. Sesampainya di rumah sakit, Killa ditaruh di sebuah ruangan khusus milik Chandra yang menjabat sebagai Dokter di rumah sakit itu. Lalu Kala dan Chandra mulai menuju ruang tamu yang biasa Chandra pakai untuk menjamu tamu-tamu pentingnya di rumah sakit itu. Duduk di sofa cukup lama tanpa suara akhirnya Chandra memberanikan diri untuk memulai.

“Langsung ceritain aja, Kal ...”

Dalam obrolannya dengan Kala malam itu, Chandra hanya bisa menutup mulutnya sebab sangat terkejut dengan apa yang Kala ceritakan. Ditambah lagi dengan Kala yang mengatakan bahwa ia akan memberikan pernyataan pensiunnya sebagai atlet figure skater. Bukan tanpa sebab hal itu ia pilih, dengan segala masalah yang ia hadapi rasanya rasa gembira berseluncur tak ia rasakan lagi. Sakit yang ia rasakan sekarang ini juga menjadi alasan terbesar.

“Beneran mau gitu, Kal? Ini bukan keputusan mudah pasti buat lo ...” Chandra bertanya dengan serius.

“Saat ini yang hanya bisa saya lakukan adalah menjalani pengobatan. Saya ingin jauh dari semua orang. Saya tidak ingin tahu akan masalah apapun selain masalah kesehatan saya, sakit kepala yang saya rasakan semakin lama semakin parah sakitnya, Chandra.”

“Terus? Jihane? Bokap lo? Meja Bundar? Shakilla? Gimana?” Banyak sekali tanggungannya. Diam yang sedari tadi ia lakukan adalah untuk memikirkan bagaimana mereka-mereka yang Chandra sebutkan tadi.

“Shakilla akan saya carikan dokter pengganti secepatnya, yang pasti bukan Berengsek itu. Lalu meja bundar, saya rasa mereka tidak perlu tahu ini semua, itu hanya akan menambah pikiran mereka, saya tidak ingin jadi beban. Untuk Berengsek itu, saya tidak peduli. Apapun yang mereka lakukan saya akan bersikap bodo amat. Saya juga tidak akan menganggap dia sebagai Ayah saya. Tidak sudi.”

“Jihane? Lo belum ngasih tau gue bakal gimana sama Jihane.” Kala yang tadinya menunduk terpejam tatapannya kembali menghadap Chandra dengan tarikan napas panjangnya lalu ia buang dengan perlahan.

“Perihal Jihane Aruna ...” Lama jeda yang Kala beri dalam ucapannya kali ini, ia masih memikirkan ucapannya setelahnya. “saya akan memutuskan hubungan saya dengannya.”

“Kal?” Chandra terkejut dengan ucapan Kala barusan.

“Saya bingung harus bagaimana, Chandra. Pada akhirnya hubungan saya dan Jihane Aruna yang harus dikorbankan.”

“Ibu Jihane Aruna dan Si Berengsek itu akan segera menikah.”

“Gila! Mereka ini nggak punya hati atau nggak punya otak sih? Bisa-bisanya. Jahat banget.” Chandra kembali dikejutkan dengan ucapan Kala.

“Lo nggak boleh terlalu baik, Kal! Orang yang udah bikin lo sakit itu harus dibales sakit juga, jangan dibales baik. Lawan, Kal ...”

“Kalau saya lawan, bagaimana dengan Ibu Jihane Aruna? Semuanya saya pikirkan untuk kebaikan keluarga Jihane Aruna. Kalau saya lawan, semuanya bisa saja hancur.”

Ditengah-tengah obrolan serius mereka, bunyi telepon berdering dari gadget Kala. Melihat dari siapa penelepon itu membuat Kala berpikir untuk tidak menjawabnya.

“Dari siapa, Kal?”

“Jihane Aruna.”

Diam. Baik Chandra dan Kala fokus dengan pikirannya masing-masing. Kala memikirkan akan ia jawab atau tidak telepon itu dalam keadaan seperti ini dan Chandra dengan pikirannya tentang nasib Kala selanjutnya. Terlalu malang.

“Angkat, Kal. Kalau bukan sekarang kapan lagi? Kita nggak pernah tau gimana keadaan lo dan Jihane Aruna besok. Bilang ke dia tentang semuanya. Tentang bokap lo dan Ibunya. Bilang.” Kala yang mendengar ucapan Chandra itu langsung membawa teleponnya yang masih berdering menuju keluar ruangan.

“Kak ... ” Suara lirih itu terdengar dari luar sana, dada Kala terasa sesak mendengar suara itu. Ia tidak sanggup untuk mengatakan yang sebenarnya tentang mereka.

“Kayanya beneran selesai di sini ... Capek banget ...”

“Gue lagi di jembatan, Kak ...”

Mendengar ucapan Jihane barusan Kala terkejut. Ia langsung berlari sekencang mungkin menuju jembatan yang Jihane maksud. Jembatan di mana ia pertama kali bertemu Jihane dan melihatnya ingin bunuh diri. Khawatir makin Kala rasa setelah mendengar Jihane mengucapkan terima kasih, “Makasih, Kak ... Makasih udah bantuin gue dulu di sini.”

“TUNGGU! TUNGGU DI SANA! JANGAN LAKUKAN APAPUN! PAHAM? JIHANE ARUNA? MASIH DI SANA?”

Kala berlari kencang melewati jalan yang sedang ramai dengan pengendara mobil dan mobil. Menghiraukan suara klakson dari pengendara sebab Kala berlari melewati jalan pengendara itu.

“Jihane Aruna?” Kali ini nadanya pelan. Ia berharap tidak ada kejadian yang saat ini tertempel dipikirannya. Bunuh diri. Ia takut sekali Jihane Arunanya akan melakukan hal itu untuk yang kedua kalinya. Meski ia tidak tahu apa yang sedang Jihane alami tapi ia paham bahwa dari awal pertemuannya sampai sekarang pun Jihane Aruna tidak pernah baik-baik saja.

“Dengar suara saya, Jihane Aruna?” Kala masih memastikan bahwa telepon itu masih berada ditelinga Jihane.

“Denger ...”

“Tahan dulu ... Jangan lakukan apapun, ya?”

Kala masih juga berlari menuju jembatan yang jaraknya cukup jauh dari rumah sakit. Dihadang dengan kemacetan yang malam itu menghalangi Kala berlari ia tetap berusaha untuk cepat menuju jembatan. Saat dirinya melihat jalanan sudah mereda dari kemacetan ia berlari menyeberang jala Kala tertabrak mobil yang tiba-tiba saja muncul dan terpental begitu juga dengan gadgetnya. Kepalanya penuh darah akibat terpental dan malam itu ia dikerubuni dengan orang-orang yang menyaksikan adegan itu. Menghiraukan itu semua dirinya masih mencoba untuk meraih gadgetnya yang tak sanggup ia raih dengan jaraknya yang cukup jauh. Sambil menahan rasa sakit dari kepalanya Kala berhasil meraih gadgetnya dan mencoba sekuat tenaga untuk berdiri mengatur keseimbangannya karena pusing yang tiba-tiba hadir saat ia berdiri.

Meski dalam keadaan kepalanya yang bocor dan menghasilkan darah banyak keluar ia tetap berlari menuju jembatan yang tak jauh dari kejadian tabrakannya. Ia tidak sanggup lagi untuk berbicara selain hanya bisa sekuat tenaganya berlari ke jembatan.

Sesampainya di jembatan ia melihat Jihane berdiri di pegangan jembatan itu. Berdiri menghadap lurus ke arah sungai yang menjulang lebar di sana.

“Stop! Stop! Stop! Jangan lakukan apapun.” Kala berteriak cukup keras pada Jihane. Ia lega Jihane masih berdiri dengan posisinya di sana. Jihane yang melihat kehadiran Kala secara tiba-tiba terkejut.

“Kak ... Lo ngapain di sini?” Jihane menengok ke arah Kala yang berada di sampingnya sedang berjalan menujunya perlahan juga.

“Tenang ... Tenang ... Jangan lakukan apapun.”

“Ada apa sih, Kak?”

“Itu lo kenapa?” Jihane yang khawatir juga berjalan mendekat ke arah Kala. Mereka sama-sama mendekatkan diri yang pada akhirnya jarak antara mereka hanya lima jengkal.

“H-hah? Ada apa?” Kala yang bingung dengan ucapan Jihane meraba wajahnya hingga memegang sarah di kepalanya.

“Tidak apa. Kamu tidak apa?”

“Kak ... Lo abis ngapain ini sampe berdarah? Berantem? Ayo diobatin dulu.” Kala semakin bingung. Yang harusnya dikhawatirkan adalah Jihane Aruna sebab berada di jembatan keramat tapi kenapa malah justru perhatian itu tertuju pada Kala.

“Kamu tidak apa?”

“Ish! Aturan gue yang nanya, lo gapapa? Tapi ini mah lo bukannya gapapa tapi nggak baik-baik aja.” Jihane menarik Kala untuk duduk di kursi yang ada di sekitar jembatan lalu duduk dan memegang pelan kepala Kala.

“Sakit, ya? Abis ngapain sih?”

“Kalau mau mati, mati bersama.” Jihane yang mendengar ucapan Kala barusan sangat amat terkejut. Kala yang saat itu memerhatikan raut wajah Jihane pun semakin tidak habis pikir lagi.

“Ngapain mati? Ngeledek, ya? Mentang-mentang dulu gue pengen bundir di sini.” Ia memukul pelan bahu Kala.

“Memangnya sekarang tidak?”

“Hah? Ya nggak lah. Ngapain ... Orang udah ada yang nyemangatin gue hidup kok ... Jadi buat apa bundir.”

“Gue tuh ke sini cuma pengen refresh otak aja. Soalnya bokap tadi pagi abis ngechat gue dan keselnya ampe sekarang belum reda. Kepala tuh rasanya berisik banget.” Jihane berbicara sambil menghadap jalanan melihat pengendara berlalu-lalang.

Kala yang melihat itu mendekatkan dirinya pada Jihane. Jihane yang dadanya saat itu berdegup kencang memejamkan matanya. “Hush! Sekarang udah cukup tenang mereka.” Kala meniup jidat Jihane.

“H-hah?”

“Kepalanya berisik 'kan? Sekarang sudah saya suruh tenang.” Mendengar balasan dari Kala membuat Jihane memukul-mukul kepalanya keras.

“Ish! Ish! Ish! Gue geer! Gue geer!” Melihat kepala Jihane yang terus menerus dipukul oleh Jihane sendiri, Kala akhirnya memegang tangan Jihane menahan agar tidak ada pukulan lagi.

“Jangan dipukul, tapi diusap ...” ucap Kala dengan suara pelan.

Malam itu, Kala mengurungkan niatnya untuk memutuskan hubungan dengan Jihane. Kesalahpahaman yang terjadi malam ini terlalu dramatis, tapi itu membuat Kala tersadar. Ia tak seharusnya melepaskan wanita gemas yang malam itu perhatian tidak pernah terlepas dari pandangannya.

Kala tersadar bahwa melepaskan wanita itu bukanlah cara menyelesaikan masalah itu. Tapi, ia masih tidak tahu harus kapan menceritakan masalah ini dengan serius pada wanita itu. Jalani saja dulu.


jembatan