Makan bersama

“Udah selesai ...” Jihane merapikan garpu dan sendoknya setelah kegiatan makannya selesai. Kala yang sudah lebih dulu selesai makan hanya memperhatikan tiap gerakan yang Jihane lakukan.

“Ya sudah, ayo pulang.”

“Eh bentar, tadi gue udah nge chat Septa.”

“Ada apa?”

“Ituuu ... gue nyuruh dia buat minta maaf ke lo.” Kala yang mendengar itu kebingungan.

“Maaf untuk apa?”

“Ya ituuu ... dia ampe buat lo mohon-mohon ke kepala sekolahnya demi dia tetep bisa sekolah.”

“Itu memang sudah seharusnya, Jihane Aruna. Sudah seharusnya saya seperti itu sebagai orang tuanya.” Menanggapi obrolan dari Jihane, Kala berdiri menyiapkan diri untuk keluar dari rumah makan tempat mereka makan ini. Jihane yang melihat itu juga ikut berdiri bergegas mengikuti Kala.

“Lo segitunya ya sama Septa, kaya beneran orang tuanya.”

“Saya memang orang tuanya.” Kala menatap Jihane sambil berjalan keluar.

“Hadah, yaudah dah gue mah kalah mulu sama Septa.”

Langkah mereka berdua yang berjalan menuju keluar rumah makan terhenti saat ada seseorang yang berdiri dihadapan mereka.

“Om Habibie?” tanya Jihane memastikan.

“Eh, halo Jihane, sedang apa di sini? Habis makan, ya?” Habibie menyadari keberadaan Jihane.

“Iya, Om. Oh ya, Om udah kenal kan ya sama cowo di samping Jihane?”

“Sudah, sudah, siang Megantara ...” Habibie menyapa Kala, dibalas anggukan oleh Kala.

“Megantara?” Tiba-tiba saja Jihane mengeluarkan pertanyaan.

“Oh, itu, Om memang sudah izin sama Kala untuk panggil dia Megantara saja ...” Habibie tersenyum pada Kala saat berbicara.

“Oh gituuu ... Yaudah, Om, Jihane sama Kak Kala duluan ya, Om?” Mendengar itu Habibie langsung terpikirkan sesuatu, ia ingin mengajak Kala makan bersama.

“Sebentar. Megantara ... Kalau ada waktu luang boleh saya ajak kamu makan bersama?” Ajakan Habibie tentu dibalas anggukan setuju dari Kala.

“Boleh, Pak. Nanti atur waktunya saja.”

“Saat hari anak nanti, bisa?” Pertanyaan itu membuat Kala sedikit bingung, kenapa harus waktu itu? jangka waktu yang jika dihitung dari sekarang masih cukup lama.

“Saya usahakan nanti, terima kasih ajakannya, Pak.”

“Iya, sama-sama. Hati-hati ya, Jihane dan Megantara.”

Jihane yang sedari tadi hanya memerhatikan pembicaraan mereka tersenyum dan berjalan lebih dulu daripada Kala. Sampai di pintu depan rumah makan Kala berhenti, pusingnya tiba-tiba saja muncul.

“Kak ... lo emang udah sedeket itu ya sama Om Habibie?” Menyadari pertanyaannya tak kunjung ada jawaban ia menengok ke belakang untuk memastikan Kala ada di belakang. Melihat Kala masih saja berada di depan pintu rumah makan sedangkan dirinya sudah cukup jauh ia berlari khawatir.

“Kak? Kenapa? Kepalanya sakit lagi?” Jihane menurunkan badannya menyamakan posisi jongkok dengan Kala.

“Tidak, hanya pusing saja.”

“Yaudah, duduk dulu aja.”

“Tidak, tidak apa. Sudah hilang pusingnya.”

“Beneran? Yaudah ayo pegangan tangan, kalo kepalanya pusing lagi pegang tangan gue yang erat aja nanti jalannya kita berhenti.” Jihane mengulurkan tangannya untuk Kala, menunggu uluran tangannya yang tak kunjung dibalas Jihane inisiatif untuk menggenggam tangan Kala lebih dulu.

“Dah ayo, aman.” Kala tersenyum melihat tangannya yang lebih dulu Jihane genggam. Mereka berjalan menuju rumah Kala dengan jalan kaki sambil diisi dengan obrolan-obrolan kecil dan canda tawa.


foto