Malam Hari Sebelum 1 Januari

Malam itu, Jihane yang sedang dalam perasaan kalut dan emosi, berpikir untuk bunuh diri. Di jembatan tempat pemberhentiannya setelah luntang-lantang berjalan tanpa arah, ia berdiri dan menaiki sandaran jembatan. Niatnya sudah bulat bahwa ia akan bunuh diri.
“Selamat malam. Iya, Pak, saya ingin melaporkan bahwa terdapat wanita muda yang berniat untuk bunuh diri. Tolong segera bawa ambulans kesini, ya, Pak. Baik, terima—” Suara laki-laki terdengar ditelinga Jihane sedang menelepon ambulans, ia tahu bahwa arah pembicaraannya adalah dirinya. Langsung saja ia turun dari atas sandaran jembatan dan menarik telepon genggam yang laki-laki itu pegang.
“Lo ngapain telepon ambulans?! Lo pikir gue udah mati ditelepon ambulans? Oh, atau lo nyumpahin gue mati?!” Jihane langsung berbicara tanpa henti, emosinya semakin meninggi saat tahu laki-laki yang ada di depannya tidak berbicara apa-apa.
“Lo bisu? Ngomong dong! Tadi aja berani telepon gitu.”
“Saya hanya mengantisipasi.” Akhirnya, laki-laki itu mulai bersuara meski singkat.
“Antisipasi? Lo bilang antisipasi?!”
Laki-laki yang ada di depan Jihane tiba-tiba saja membalikan badan dan mulai pergi menjauh darinya.
“NGGAK JELAS LO!” teriak Jihane keras.
“Eh, eh, jangan-jangan dia penjahat?” curiga Jihane.
Malam itu, Jihane yang masih melihat tubuh laki-laki yang semakin menjauh itu dengan bingung serta takut. Ia takut jika laki-laki itu benar penjahat. Pergi, lalu tiba-tiba datang dan membunuhnya. Niat bunuh dirinya kacau karena itu sudah didahului terbunuh.
“Hati-hati, sudah malam.” Suara iru terdengar seperti teriakan. Jihane yakini bahwa itu adalah suara laki-laki yang baru saja berbicara dengannya.
Selepas dari itu, petasan-petasan menyambut tahun baru mulai berisik. Jihane melihat keatas langit, sangat cantik.
“Tahun baru, nasib baru.”
©️ lyterasee