Malam Itu

Image

Malam itu, Jihane sedang dalam masalah dan memutuskan pergi dari rumah lalu menuju cafe. Jihane pergi dari rumahnya bukan tanpa sebab, ulah ayahnya yang temperamen juga berbahaya menjadi alasan besar mengapa Jihane pergi dari rumah.

Setelah Jihane selesai menghibur diri dari masalahnya, Jihane menuju keluar cafe. Kala menunggu di luar cafe meja bundar milik temannya—Sulthan, ia akan segera pergi dari tempat itu dan menuju rumah Kala. Jihane akan menginap semalam di rumah Kala.

Di dalam sana, Khaisar melihat Kala. Ingin sekali rasanya memanggil tapi ia tahu diri, Kala pasti tak mau bertemu dengannya maka dari itu Kala selama menunggu Jihane berada di luar cafe. “Kal, maaf….”

Kala melirik ke dalam cafe, ia melihat Jihane yang hendak menuju ke arahnya. Cafe segera tutup, di luar mereka menunggu bus datang menjemput mereka.

Iya, bus. Kala selama ini bepergian menggunakan bus, ia tak pernah menggunakan kendaraan lain selain angkutan umum itu.

Sembari menunggu, Kala melihat raut wajah Jihane yang berubah tak seperti saat di dalam cafe.

“Jihane Aruna, tidak apa-apa?” tanya Kala memastikan apakah keadaannya baik-baik saja atau tidak. Seharusnya memang Kala tidak perlu menanyakan hal itu, tapi ia rasa ia harus menanyakan itu, apalagi setelah tawaran Kala untuk menginap di rumah Kala sementara.

“Jihane Aruna, kalu ragu dan tidak nyaman saya carikan tempat aman lainnya untuk kamu.” Sedari tadi mata Kala tak lengah sedikit pun untuk tak menatap Jihane dalam.

Wanita di depannya ini sangat kuat, dia bahkan tetap bisa memancarkan suasana ceria meski faktanya hatinya sedang tak ceria. Jihane lihai sekali menutupi kesedihannya, tapi Kala rasa tidak dengan sekarang.

Jihane orang yang tak mudah mengeluarkan air mata, ia bukan orang perasa. Tapi ntahlah, dihadapan Kala ia selalu terlihat rapuh, selalu mudah menangis seperti di toilet cafe tadi.

“Menangislah … menangislah jika memang ingin menangis, Jihane Aruna.” Kala berkata sembari menengok kanan-kirinya menunggu bus datang.

“Siapa yang mau nangis,” elak Jihane. Selalu seperti itu, selalu berusaha tak terjadi apa-apa.

Berhenti kegiatannya menunggu bus, Kala yang tadinya di samping Jihane bergerak memajukan langkahnya lalu berpindah menjadi berhadapan dengan wajah Jihane, menutupi badan Jihane.

“Lo ngapain, sih? Ngalingin tau.” tanya Jihane bingung juga terkejut dengan apa yang Kala lakukan.

“Menangislah … tidak ada siapapun disini selain saya dan kamu. Tidak perlu malu.” Kala mulai membentangkan tangannya seolah apa yang dia lakukan bisa menutupu wajah Jihane jika Jihane benar-benar akan menangis.

“Tapi lo ada di depan mata gue, lagian gue nggak gampang nangis orangnya, apa yang mau ditangisin. Lo nggak perlu lakuin ini.” Jihane mencoba menurunkan tangan Kala.

Mendengar apa yang Jihane ucapkan, Kala seketika mengubah posisinya. Tadinya ia berhadap-hadapan dengan Jihane, sekarang berubah menjadi membelakangi Jihane.

“Ayo … jangan ada yang ditahan, saya nggak akan lihat.” Jihane tersentuh, ia sudah berusaha untuk tidak menangis sedari tadi. Tapi, saat berada bersama Kala ia selalu bisa mengeluarkan air matanya dengan mudah.

Bulir-bulir bening mulai turun dari mata Jihane dan membasahi pipinya. Semakin lama isak tangis mulai terdengar.

Kala terkejut, Jihane benar-benar menangis sesuai dengan apa yang ia suruh. Mendengar isak tangis Jihane, ingin rasanya Kala memutarbalikan badannya lalu memastikan keadaan Jihane, tapi niatnya urung saat ingat bahwa Jihane malu jika tangisnya dilihat.

Kala semakin terkejut saat kepala Jihane jatuh di punggung belakangnya dan tangannya memeluk Kala dari belakang sembari menangis kencang. Kala menurunkan tangannya, ia tak lagi membentangkan tangannya melainkan sekujur tubuhnya kaku.

“Capek …” kata itu tak mencerminkan seorang Jihane Aruna yang dikenal ceria dan yang Kala lihat saat lagu Bruno Mars kesukaannya di putar di dalam cafe tadi.

Kala tetap dalam posisinya dipeluk Jihane tanpa bergerak sedikitpun, mungkin saat ini punggungnya sangat dibutuhkan Jihane untuk mencurahkan tangisnya.

Terlihat dari jauh cahaya mobil bus yang sudah ditunggu-tunggu sedari tadi oleh Kala, berjalan menuju Kala dan Jihane lalu berhenti pas di depan mereka. Jihane yang menyadari itu langsung melepas pelukannya pada Kala.

Kala mulai membalikkan badannya menghadap Jihane seraya berkata, “Silahkan naik duluan …” Kala mempersilahkan Jihane untuk naik lebih dulu darinya.

Jihane mulai naik ke dalam bus dan mencari tempat duduk yang sekiranya nyaman, Jihane memilih bangku bagian tengah bus lalu duduk dipaling pojok dekat jendela.

Jihane menengok ke belakang sembari mencari Kala, sebab di bus ini hanya ada mereka berdua apalagi di tengah malam seperti ini Jihane mulai takut.

Kala mulai terlihat naik ke dalam bus, rupanya ia tak langsung menaiki bus karena membantu nenek yang juga ingin naik bus. Kala membantu menaiki nenek ke dalam bus juga membantunya duduk di bagian seberang tempat duduk Jihane.

Jihane ingin menyuruh Kala duduk disampingnya. “Sini, kak, du-” Belum sempat bicaranya selesai, Kala justru melengos jalan menuju bangku bagian paling belakang bus dan duduk disana.

©️ lyterasee