Mengembalikan Buku

Image

Jihane menunggu di ruang rawatnya dengan perasaan khawatir serta takut. Takut jika Luna dan kekasihnya—Khaisar bertemu dengan laki-laki yang ingin ia temui hari ini dalam waktu bersamaan.

Jika mereka bertemu disaat yang bersamaan, sudah bisa dipastikan bahwa Luna akan mengisenginya dengan kata-kata seperti “cie-cie” atau bahkan mewawancarainya “Lo beneran deket sama cowo, Ji?” Dan sebagainya.

Tiga puluh menit Jihane menunggu, terdengar suara bell berbunyi pertanda ada orang lain di depan ruang rawatnya. Jihane segera bangun dari tidurnya, “Aw… sakit…” Ah, Jihane lupa bahwa kakinya saat ini cedera akibat kecelakaan malam itu.

“Tidak perlu bangun, Mbak. Saya hanya ingin mengembalikan buku milik Mbak.” Terdengar suara laki-laki dari balik pintu kamarnya itu. Jihane yakini pasti laki-laki itu.

“Masuk aja.”

“Permisi, maaf, Mbak. Ini bukunya,” Laki-laki itu memberikan tote bag berisikan buku milik Jihane, “Maaf, bukunya sedikit kotor. Saya sudah coba bersihkan tapi kotorannya tidak bisa hilang.”

Pasti kotorannya tidak bisa hilang, karena kotoran itu adalah darah Jihane yang bercucuran ketika kecelakaan.

Jihane menatap serius laki-laki di hadapannya itu. Pikirannya kabur, ia tak lagi memikirkan akan hal buku itu melainkan ingin menyakini siapa sebenarnya laki-laki di hadapannya ini.

Benar dokter atau bukan?

“Lo dokter?” tanya Jihane tiba-tiba.

Laki-laki di hadapannya itu terkejut, Jihane bertanya setelah dengan gerakan cepat mengambil tote bag berisikan buku miliknya itu tanpa memeriksa dalamnya.

“Oh… karena nama pengirim email saya yang saya kirim ‘kan ya? Saya bukan dokter, saya hanya pinjam handphone kerabat saya yang kebetulan dokter.”

“Oh, kirain.”

“Ya sudah, Mbak. Sepertinya sudah selesai, ya, masalah buku, Mbak. Saya pamit, ya, Mbak.” Laki-laki itu mulai membalikan badannya dan melangkah hendak berjalan keluar.

“Tunggu—” Langkah laki-laki itu berhenti saat Jihane sepertinya memanggilnya untuk tinggal.

“Gue cuma mau kasih tau aja, jangan panggil gue “Aruna”. Emang, sih, nama gue “Aruna”, tapi nama panjang gue “Jihane Aruna”. Orang orang biasanya panggil Jihane, bukan Aruna.” Jihane memberitahukan masalahnya saat laki-laki itu, yang belum ia tahu namanya memanggilnya dengan panggilan “Aruna”.

“Jihane, pake “E” atau nggak?”

“Hah? Oh iya, pake, pake “E”,” Jihane terkejut saat laki-laki itu menanyakan hal itu. Sebab, jarang orang yang memperhatikan hal sepele seperti itu. Tapi Jihane adalah orang yang sensitif akan hal itu. Baru saja ia ingin bilang soal itu, tapi ternyata sudah didahului.

“Oh iya, satu lagi, jangan pake “Mbak”. Gue masuk muda.”

“Oke, Jihane Aruna. Lekas sembuh, ya.”

Jihane tak bisa berkata-kata lagi, laki-laki itu memanggilnya sekaligus nama panjangnya.

©️ lyterasee