Orang yang paling dibenci hadir

foto

Kala berjalan dengan santai menuju rumah Pakde Supra, tepat berada di depan toko buku yang persis di samping rumahnya Kala masuki tempat itu. Melihat ke sekeliling sebab sudah cukup lama ia tak mampir ke sini. Memasuki tempat khusus Pakde dengan perlahan Kala mendengar obrolan seseorang yang ia yakini itu suara Pakde Supra.

“Aku sudah bilang sekarang bukan waktu yang tepat!” Amarah terdengar dari balik pintu tempat Kala sekarang berdiri memberikan kupingnya untuk mendengarkan obrolan itu.

“Tapi sampai kapan, Mas? Sampai kapan aku harus menunggu kehadiran anakku dihadapanku?!” Suara lelaki membalas dengan nada tinggi ditambah dengan suara lirih.

“Sampai dia siap, Pram ... Sampai dia bisa menerima kehadiranmu ...” Suara lirih Pakde Supra terdengar jelas, Kala yang mendengar dari balik pintu terkejut saat Pakde menyebutkan nama “Pram”. Bohong jika ia lupa siapa nama itu.

“Dia pasti bisa menerimaku, Mas. Aku akan jelaskan semua yang terjadi.”

“Penjelasanmu sejelas apapun itu tidak akan bisa menyembuhkan luka yang kamu berikan padanya dan Ibunya dahulu, Pram!” Kesabaran Pakde Supra habis, ia melempar buku yang sedari tadi ia genggam agar amarahnya tak memuncak.

“Sadar! Apa yang kamu lakukan padanya dulu! Kala tidak akan pernah bisa memaafkanmu!”

Deg!

Bukan main jantungnya terkejut. Benar pikirannya bahwa orang yang sedang beradu dengan Pakde Supra adalah orang yang paling dibencinya. Ayahnya sendiri. Dengan amarah yang bergejolak dan tidak bisa ditahan lagi Kala membuka pintu itu. Pakde Supra dan laki-laki itu hanya bisa terdiam melihat siapa yang berada di depan pintu itu.

“Berengsek.” Hanya sepatah kata itu yang keluar dari mulut Kala sebelum akhirnya detik kemudian ia meninggalkan tempat itu. Meyakinkan dirinya yang terkejut hebat sebab “Pram” yang ia benci itu adalah “Habibie” yang selama ini ia hormati.

Sedangkan di dalam ruangan itu kesunyian tercipta. Keduanya masih sama-sama terkejut. Terlebih lagi dengan Habibie yang masih kebingungan dengan pikiran buruknya saat ini.

“Dia anakku?”

“Tolong jawab!”

“Mas Ibra!” Laki-laki yang ia teriaki itu hanya diam. Iya, Pakde Supra. Laki-laki yang selama ini dikenal dengan nama Supra memiliki nama asli yaitu Ibrahim. Nama Supra ia buat hanya demi Kala, nama itu terdengar lucu untuk membuat Kala tertawa meski nyatanya Kala tak pernah menertawakannya. Nama itu ia buat agar Kala bisa nyaman dengannya dengan kelucuannya.

“Iya, dia anakmu.”

“Megantara ...?” Setitik air bening jatuh dari pelupuk mata Habibie. Ia tidak bisa memikirkan bagaimana sebentar lagi anaknya itu akan membencinya. Bukan sebentar lagi, tapi saat ini juga anaknya pasti sudah membencinya.

“Kenapa tidak bisa sedari dulu, Mas?”

“Kenapa baru bilang sekarang saat saya memaksa?! Kenapa tidak dari dulu sebelum saya mengenalnya lebih jauh?!”

“Mas ...” Badan Habibie lemas, ia jatuhnya badannya berlutut menangisi apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Bukan hanya kamu yang akan dia benci, aku juga ...”

“Sudah kubilang lebih baik kamu tidak tahu siapa anakmu jika tidak ingin ini terjadi ...” Ibrahim berkata sambil melihat sekelilingnya membayangkan saat dulu Kala masih kecil sering berkeliaran di sini. Ia tak akan siap dengan ini semua.

“Sekarang urusi dirimu sendiri, Pram. Aku sudah tahu bahwa kamu ingin menikah.”

Mendengar itu Pram bangun, lalu menatap tajam mata Ibrahim dan pergi begitu saja meninggalkan Ibrahim sendirian.


Kala beristiharat di halte bus, ia sedang menunggu bus segera datang dan membawanya pulang. Menahan tangis yang susah payah ia tahan agar tak keluar sekarang. Diluar ia terlihat tak ada kesedihan hanya ada kebencian pada lelaki itu, tapi jujur dari dalam hatinya ia sangat sakit seperti ditusuk belati. Bagaimana bisa orang yang ia percaya tidak akan pernah menyakitinya justru adalah orang yang pernah menyakiti Ibunya sebelumnya. Orang yang meninggalkan Ibunya bahkan saat Ibunya mengandung dirinya.

Kala menaiki bus yang baru saja datang, ia duduk dipinggir dekat jendela. Pikirannya sudah tidak bisa fokus lagi setelah kejadian itu. Ia masih tidak menyangka bahwa waktu mengetahui siapa ayahnya secepat ini. Bukan hanya memikirkan Pak Habibie lah yang menyakiti Ibunya, ia juga memikirkan Jihane dimana Ibunya akan menikah dengan Pak Habibie. Ayahnya. Ia tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana nasib hubungannya dengan Jihane selanjutnya apalagi dengan Pak Habibie dan Ibu Jihane yang segera melangsungkan pernikahan. Betapa malangnya dirinya dan jahatnya Ayahnya yang muncul disaat seperti ini. Kenapa pula dia harus hadir setelah apa yang dia lakukan dulu.