Pagi Bersama

Image

“Mas, udah selesai, nih. Tinggal dipakein bedan, dah cantik, deh.” Itu suara Bu Ijah, seorang asisten rumah tangga yang Kala pekerjakan hanya untuk membantunya membersihkan badan Shakilla. Bukan, bukan karena Kala enggan membantu tetapi rasanya ia tak pantas dan tak seharusnya melakukan itu, mengingat bahwa ia hanyalah Ayah angjat Shakilla. Maka itu sebabnya kehadiran Bu Ijah di rumahnya ini.

Kala yang sedang membersihkan tempat Shakilla mengistirahatkan dirinya terhenti saat terdengar suara Bu Ijah memanggil. Bu Ijah sudah Kala anggap Ibunya sendiri, sebab itu yang membuat Kala tak memanggil tak pernah memanggil Bu Ijah dengan sebutan pembantu atau lain sebagainya. Kala merasa melihat Ibunya– Sarah saat melihat wajah Bu Ijah, sangat terbayangkan bahwa Ibunya berada di depan matanya.

Kala menghampiri Bu Ijah yang memanggilnya di dekat kamar mandi. “Sudah cantik meski tak pakai bedak, Bu Ijah.” Kala mengelus kepala Shakilla lembut.

“Oh ya, Bu Ijah, kalau ingin pulang nanti bareng saya dan Shakilla saja. Saya dan Shakilla juga sebentar lagi akan keluar.” Tugas Bu Ijah di rumah Kala hanya itu, membantu Shakilla mandi lalu pulang. Biasanya ia akan kembali lagi ke rumah Kala sore hari.

Shakilla yang mendengar kata keluar terlihat bingung, langsung ia berlari kecil ke arah meja belajarnya lalu mengambil secarik kertas berserta penanya. Shakilla menulis sesuatu di atas secarik kertas itu.

Mau kemana?

Setelah menulis segera Shakilla berikan kertas itu pada Kala. Kala membaca isi dari secarik kertas itu, ia melihat jelas tulisan Shakilla yang semakin hari semakin bagus. Bagus. Ia membaca isi surat sambil mengambil sekotak kecil bedak untuk Shakilla.

Sambil memakaikan bedak pada wajah Shakilla Kala menjawab, “Kita akan jalan-jalan keluar, Killa. Cari sarapan untukmu, jangan khawatir, ya. Ada ayah.” Kala memastikan tak ada ketakutan yang hadir. Terlahir sebagai anak istimewa dengan tak bisa berbicara rupanya membuat mental Shakilla memburuk, apalagi setelah mendengar kata-kata dari orang-orang yang ia dengar.

Kala sempat menyekolahkan Shakilla dan berujung keluar sebab ia melihat Shakilla justru terlihat murung setelah bersekolah. Ia bawa Shakilla ke dokter, ternyata mentalnya terganggu. Sungguh malang, itu salah Kala. Maka dari itu, ia tak mau segala ketakutan hadir kembali pada sosok makhluk istimewa kesayangannya ini. Enam tahun bersama tak dibiarkan ada kekecewaan kembali hadir.

“Sudah cantik berlebihan ini ….” Sarkas Kala berusaha membuat suasana hati Shakilla membaik.

Kala merapikan tas miliknya lalu menggenggam tangan Shakilla. “Tidak boleh lepas, ya?” Kala mengangkat tangannya yang tergenggam dengan tangan Shakilla. Terlihat senyum milik Shakilla terukir, sepertinya suasana hati Shakilla mulai membaik. Ternyata usahanya untuk mencairkan suasana mulai berhasil.

Kala, Shakilla dan Bu Ijah berjalan keluar rumah menuju arah tujuan masing-masing. Kala dan Shakilla menuju halte untuk naik bus lalu berhenti di pemberhetian halte untuk bertemu Jihane Aruna.

Hampir sampai di halte, Kala melihat dari kaca Jihane sedang berjalan menuju halte sama dengannya. Jalannya Jihane dan juga jalannya bus bersamaan, Kala terus melihat dari kaca Jihane yang sedang berjalan.

Sampai di halte, Kala menggendong Shakilla lalu membawanya keluar bus. Turun dari bus, Kala mengedarkan pandangannya mencari Jihane sebab banyak penumpang yang berlalu-lalang turun dan naik bus.

Ternyata, tak jauh dari tempatnya berdiri dilihatnya Jihane yang berdiri dengan senyum sumringahnya sedang mengangkat tangannya melambai ke arah Kala. “KAKK!!!”

Kala tersenyum kecil melihat tingkah Jihane, ia langsung menurunkan Shakilla dari gendongannya dan menggantinya dengan berpegangan tangan berjalan menuju Jihane.

Sampai dihadapan Jihane, “Duduk dulu saja,” Kala menyuruh Jihane untuk beristirahat lebih dulu sebab dirinya tadi melihat Jihane berjalan kaki menuju halte.

Jihane heran dengan ucapan Kala, kenapa harus duduk dulu padahal dia tidak capek. “Halte nggak jauh dari rumah temen gue btw mon maap, nih …,”

“Eh, Kak, ini Shakilla? Hai ….” Jihane melambaikan tangannya pada Shakilla, dilihatnya Shakilla kebingungan dan terus menggenggam tangan Kala.

Kala yang melihat itu langsung menyamakan badannya dengan Shakilla, melepas genggaman tangannya pelan lalu berucap, “Shakilla … ini Bunda ….”

Kala terpaksa harus melakukan ini, sebab hanya itu satu-satunya cara untuk meredakan ketakutan pada diri Shakilla. Ibu, sudah lama Shakilla menanyakan dimana Ibunya dan menantikan kedatangannya. Hari ini, Kala sudah memulai kembali sandiwaranya akan hal Ibu Shakilla. Shakilla hanya tahu bahwa Kala ayahnya, tapi tidak dengan siapa Ibunya.

Jihane yang mendengar hal itu cukup terkejut, tapi ia berusaha untuk mengikuti sandiwara Kala. “Eh, iya, Shakilla gimana? sehat sayang?” Jawaban Jihane seperti sudah terlatih sebagai Ibu, membuat Kala yang cukup terkejut dengan inisiatifnya mengikuti sandiwara tersenyum kecil.

“Sini sayang, sama Bunda ….” Jihane membentangkan tangannya mengajak Shakilla berpelukan, tapi ia tak ingin berharap lebih sebab terlihat jelas ketakutan di wajah Shakilla. Jihane mulai menurunkan tangannya.

Shakilla masih melihat Jihane terus-menerus tanpa membalas ajakan pelukan Jihane, Kala yang melihat itu pun tetap tak bisa memaksa Shakilla karena ia tak ingin ada paksaan. Tapi tak disangka justru Shakilla berlari ke arah Jihane dan memeluknya erat.

Erat, erat sekali balasan pelukan dari Shakilla yang Jihane dapat. Ditemani dengan senyum sumringah yang terukir indah pada wajah Shakilla, Shakilla melihat ke arah Jihane. Ia sama sekali tak melepaskan pelukan itu.

Jihane yang cukup bingung berusaha melepas pelukan Shakilla perlahan. Melihat itu Shakilla juga mulai melepaskan pelukannya pada Jihane tapi ia justru berganti menggenggam tangan Jihane erat.

“Hehehe ….” Wajah pasrah Kala lihat jelas, menghadirkan tawanya.

“Shakilla rindu Ibunya. Ayo, kita mau kemana?” tanya Kala.

“Hm, kemana, ya. Kemana aja, deh, yang penting sarapan dari pada keburu abis.” Jihane masih dengan posisinya yang menggenggam tangan Shakilla.

“Mau makan apa?” Kala mengedarkan pandangannya mencari tempat makan yang terlihat oleh netranya.

“Bubur aja, tuh, deket.” Tunjuk Jihane pada tukang bubur yang tempatnya dekat dengan rumah sakit dimana Chandra bekerja.

Kala, Jihane, dan juga makhluk kecil yang terus mengikat dirinya pada tangan Jihane berjalan menuju tukang bubur yang tak jauh dari halte.

Sampai di tempat tukang bubur berjualan, Kala bertanya pada Jihane, “Pakai semua?”

Jihane cukup terkejut dan sedikit tak sampai otak dengan pertanyaan Kala. “Apanya? Eh, oh, toppingnya? pake … semua aja, deh.”

Menunggu Kala yang memesan bubur, Jihane dan Shakilla duduk di kursi. Tempatnya sarapan saat ini hanya tempat makan sederhana, tapi rasanya sangat berharga bagi Jihane. Sebab, momen ini adalah momen-momen langka yang tak banyak keluarga lain rasakan. Jihane teringat keluarganya. Mamah, Papah, dan … Kakak. Terasa sekali suasananya.

“Shakilla, seneng?” Shakilla tak menjawab pertanyaan Jihane, ia hanya menjawab dengan anggukan semangat. Jihane melihat Shakilla yang mulai mau melepaskan genggamannya pada Jihane lalu mengambil kembali tangan Jihane dan meletakkannya di atas telapak tangan Shakilla.

Jihane melihat Shakilla yang seperti menulis huruf demi huruf di telapak tangannya, membuat Jihane sedikit berpikir keras untuk menyusunnya menjadi sebuah kalimat sebab Shakilla menulis tidak dengan pena atau pensil. Hanya bermodal pikiran dan khayalan.

“C, a …, Aduh jangan cepet-cepet, dong.”

Kala yang selesai memesan bubur membawa tiga mangkuk bubur, ia langsung menaruh satu per satu mangkuk ke meja dan duduk di samping Jihane.

“Cantik.”

Hancur, hancur semua ingatan Jihane mengenai rangkaian kata atau kalimat yang dibuat Shakilla sebab ucapan Kala. Betapa kaget dirinya mendengar ucapan Kala itu. “Hah?! ih, apaan, sih, lo. Bikin buysr pikiran gue soal tulisan Shakilla aja.”

Jihane cukup kesal dan salah tingkah, ia malu mendengar ucapan Kala barusan. Kala yang melihat jelas itu tertawa kecil.

“Cantik, itu yang Shakilla tulis di tangan kamu.” Jihane, jangan kepedean. Kala hanya memberitahukan pada Jihane bahwa kata itu yang ditulis Shakilla pada telapak tangannya.

“OH. OH. OHHHH.” Cukup keras Jihane menjawab, itu ia lakukan berusaha menutupi wajahnya yang malu karena terlalu kepedean.

Langsung Jihane mengambil buburnya dan memakannya cepat, ia bahkan tak memperhatikan buburnya dahulu sebab ia tim bubuk tak diaduk. Tapi saat makannya cepat ini buburnya sudah teraduk dan dengan cepat menyisakan setengah bubur.

Sibuk makan Jihane akhirnya tersadar bahwa bubur Kala masih utuh di meja. Jihane langsung menoleh ke arah Kala, dilihatnya Kala sedang menyuapi sedikit demi sedikit bubur pada Shakilla. Jihane memegang tangan Kala, menghentikan aktivitas Kala menyuapi Kala dan menoleh ke arah Jihane. “Biar gue aja, lo makan dulu, ih, masih penuh itu bubur.” Jihane mengambil sendok yang Kala ambil dan mengantikannya menyuapi Shakilla.

Sambil menyuapi Shakilla, Jihane mengutarakan perasaannya. “Harusnya, tuh, yang nyuapin anak kaya gini istri karena istri tugasnya ngerawat anak dan ngurusin rumah. Suami tugasnya kerja.” ucap Jihane sambil menyuapi Shakilla.

“Tidak dong, anak itu kan anak kita. Bukan anak saya atau anak kamu. Jadi itu sudah tanggung jawab bersama bukan individu.” jawab Kala tak setuju dengan pendapat Jihane.

“Bukan begitu … anak … anak kita ya bukan anak kita … Aduh, bagaimana, ya, saya jelaskannya.” Kala kebingungan.

“HAHAHAHA. Lucu lo, ah.”

Kala melihat laki-laki berjas putih khas dokter melewati tempatnya sarapan saat ini. Langsung Kala berdiri dan memanggilnya, “Chandra!”

Chandra–dokter baru saja melewati tukang bubur itu berhenti saat mendengar dirinya dipanggil. Dilihatnya ada Kala, ia langsung membalikkan badannya dan menuju ke tukang bubur tempat Kala berada.

“Sarapan, Chandra.”

“Udah, makasih.” jawab Chandra ketus. Ia langsung bergegas untuk meninggalkan Kala, belum sempat dirinya melangkah sudah dipanggil oleh Kala lagi.

“Chandra, sebentar. Kenalkan dulu, ini teman saya.”

Chandra mau tak mau berkenalan dengan wanita yang berada di samping Kala ini. Yang sudah bisa ia pastikan wanita ini wanita yang sering kali Kala bicarakan yang mengakibatkan Chandra marah pada Kala.

Jihane yang berada di sana ikut sama canggungnya dengan Kala dan Chandra.

“Chandra.” Chandra memberikan tangannya untuk berjabat tangan dengan Jihane.

“Eh, Iya, Ji—” Belum sempat Jihane perkenalkan namanya, ia sudah dipotong dengan ucapan laki-laki yang baru saja ia kenal itu.

“Jihane, kan? Oh ya, Jihane Aruna, lupa. Lo sering dibicarain sama dia.” sindir Chandra. Chandra langsung melepaskan jabatan tangannya dengan Jihane.

Berjalan menuju Shakilla, mengajak Shakilla mengobrol. “Shakilla, nanti cek kesehatan bareng Om lagi, yah!”

Kala yang melihat itu ingin sekali memberhentikan Chandra tapi Chandra sudah kembali berbicara dengan Jihane dan tak enak rasanya memotong pembicaraan.

“Oh ya, lo,” Chandra menunjuk Jihane, “Lo mau sehat, kan?” Pertanyaan itu sangat tiba-tiba membuat Jihane juga menjawab dengan seadanya.

“Eh, iya, semua orang juga pasti mau sehat, dong.” Jihane menjawab pertanyaan Chandra.

“See?” Chandra melihat ke arah Kala dan langsung pergi meninggalkan mereka.

“Eh? gue salah apa deh? kok? kok dia pergi gitu aja?

“Duduk,” Kala menyuruh Jihane duduk kembali.

“Kak, serius, sumpah, tadi gue ada salah jawab pertanyaannya?”

“Tidak.”

“Ih, tapi kok dia gitu, sih?”

“Gue ada salah, ya, kan, jawabnya?”

“Tidak.”

“Kalo nggak ada salah nggak mungkin dia pergi aja, Kak,”

“Lagian juga ngapain tiba-tiba nanyain kesehatan.”

“Dia dokter.”

Jihane baru sadar, ia teringat awal percakapannya dengan Kala menggunakan email bernama ‘Dr. Chandra Atharyan’

“Oh … eh … itu dokter yang di email itu, kan?”

“Iya, sudah duduk, Jihane Aruna.”

©️ lyterasee