kalapergi

Pagi ini Kala dan Chandra sedang dalam perjalanan menuju bandara. Di dalam taxi Kala duduk di belakang sedangkan Chandra di depan menemani supir. Keadaan dalam taxi sama sekali tidak ada pembicaraan. Kala yang berada di belakang sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia memikirkan Shakilla juga memikirkan Jihane Aruna yang ia tinggalkan. Apalagi memikirkan pernikahan Ayahnya yang harusnya sedang diselenggarakan hari ini.

Sampai di bandara Kala turun dan menunggu di kursi tunggu sambil menaruh kopernya di sampingnya sebelum duduk di kursi. Sedangkan Chandra sedang mengurus semua tentang penerbangannya menuju Amerika.

Dalam duduknya di kursi ia menengok ke sampingnya, menatap koper yang ia bawa. Yang kita lihat hanya Kala yang menatap kopernya tapi aslinya ia seolah menatap Jihane Aruna yang berada di sampingnya alih-alih kopernya. Membayangkan ia memberikan perpisahan yang layak pada Jihane Aruna dan meminta doa pada Jihane Aruna agar ia kembali lagi dalam keadaan sehat dan selamat. Tapi semuanya hanyalah angan-angan yang tak mungkin terjadi.

Kala sudah putuskan bahwa tidak akan ada hubungan lagi antara dirinya dengan Jihane Aruna untuk meminimalisir sakit yang makin berlebih jika terus berhubungan. Pesan singkat yang ia sampaikan pada Jihane Aruna sebelum menuju bandara sudah cukup untuk mengakhiri semuanya bagi Kala.

Cukup lama menunggu Chandra, Kala melihat ke sekitar. Di sisi lain, Jihane yang baru saja sampai di bandara berlari menuju ke dalam dan matanya mengitari seluruh posisi bandara mencari seseorang. Ia mencari Kala. Jihane yakini bahwa Kala belum pergi sekarang. Ia yakini bahwa Kala juga masih ragu untuk pergi meninggalkannya. Pikiran itu terus Jihane tanam dalam pikirannya.

Ia berjalan beberapa langkah saat melihat televisi yang terpasang di bandara sedang mengabarkan pesawat yang saat ini hilang kontak. Ia lihat dengan seksama pesawat apa yang hilang kotak. J Airways 129. Terpampang jelas dalam televisi itu mengabarkan bahwa pesawat J Airways yang belum lama terbang mengalami hilang kontak. Pesawat yang Jihane ingat sedang menumpangi Mamahnya itu dalam masalah.

Setelah melihat televisi itu Jihane alihkan pandangannya ke seluruh bandara. Ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Pandangannya mulai mengabur, ia mulai merasa saat melihat orang-orang berlalu-lalang tidak terlihat jelas dari pandangannya. Ia terjatuh lemas dan pingsan.

Saat itu juga bandara mulai ramai orang berlalu-lalang dan mulai berisik dengan segala pertanyaan dari keluarga yang merasa salah satu anggota keluarganya berada di pesawat yang hilang kontak itu.

Kala yang sedang duduk menunggu Chandra dihampiri penasaran melihat bandara yang ramai tak biasanya. Ia mulai beranjak dari duduknya saat makin lama di ujung sana banyak orang yang sedang berkumpul seperti telah terjadi sesuatu di sana. Kala berjalan menuju ke titik berkumpul orang-orang sambil pandangannya melihat ke seluruh penjuru bandara. Dan pandangannya terhenti saat melihat televisi, sebuah pesawat mengalami hilang kontak belum lama ini.

Semakin dihampiri penasaran ia mulai berlari cukup cepat menuju ke sana. Sampai di sana ia maju menyingkirkan orang-orang perlahan untuk memberinya jalan. Dan saat melihat ternyata ada yang pingsan ia terdiam sesaat. Ia melihat sekitaranya. Bagaimana bisa tidak ada yang menolong orang yang sedang terbaring lemah pingsan itu dan hanya dipandangi dengan beberapa pertanyaan tanpa aksi.

Kala perlahan melangkah menuju yang sedang pingsan, yang ia yakini adalah perempuan setelah melihat rambut panjangnya itu. Makin mendekat ke arah itu dengan jantungnya ia rasa berdegup lebih kencang terkejut saat melihat siapa yang sedang terbaring lemah itu. Jihane Aruna. Saat melihat itu langsung ia angkat wajah Jihane Aruna dan berusaha membuat Jihane terbangun dari tidurnya. Tak bangun-bangun juga ia mulai berteriak untuk seseorang memanggil ambulance.

“TOLONG! TOLONG PANGGIL AMBULANCE SECEPATNYA! TOLONG SAYA!” Kala berteriak kencang memohon agar ada yang mulai bergerak membantu selain hanya menonton.

Chandra yang selesai mengurus penerbangan Kala melihat kerumunan itu dan mendekatkannya. Melihat Kala yang berada di situ ia panggil, “Kal?”

Mendengar ada yang memanggil namanya, Kala mendongakkan kepalanya dan Chandra berada di depannya. “Chandra, tolong Jihane Aruna!” Kala terlewat panik melihat Jihane pingsan, ia bahkan sampai tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya memeluk Jihane Aruna yang sedang memejamkan mata itu.

Chandra yang terkejut saat tahu yang pingsan adalah Jihane langsung melakukan pertolongan pertama yang bisa ia lakukan saat itu juga. Setelah ambulance datang, Kala langsung mengangkat Jihane dan membaringkannya ke dalam ranjang juga memasukkannya ke ambulance itu.

Chandra yang melihat itu segera menghentikan Kala. “Kal. Stop.”

“Chandra saya mohon, tolong tunda.”

“Kal, harus berapa kali lagi gue tunda terus soal ini? Gue capek. Jihane udah ada yang nanganin, sekarang saatnya lo yang ditanganin, Kal!”

Kala hanya mendengarkan pembicaraan Chandra dan langsung meninggalkannya masuk ke dalam ambulance yang di dalamnya terdapat Jihane Arunanya.

Chandra yang melihat itu hanya bisa menghembuskan napas kasar. Ia akan menghadapi hal semacam ini berulang kali.

Sesampainya di rumah sakit, Jihane langsung ditangani oleh Dokter. Kala yang ikut ke rumah sakit menunggu Jihane di ruang tunggu. Ia mulai duduk dan merapalkan doa-doa terbaik untuk keadaan Jihane Aruna. Setelah cukup lama matanya ia pejamkan untuk terus berdoa, kegiatannya itu dihentikan saat ada seorang Ners yang memanggilnya.

“Keluarga Pasien atas nama Jihane Aruna?” Suara lembut Ners terdengar ke telinganya. Ia langsung sadar dan beranjak berdiri dari duduknya. “Iya, saya. Bagaimana keadaannya, Ners?”

“Tadi sudah ditangani Dokter, dan pasien baik-baik saja. Hanya saja mungkin tadi mengalami shock saat tahu keluarganya berada dalam pesawat yang hilang kontak itu.” Mendengar itu Kala terdiam. Dirinya tetap geming. Ia tidak tahu bahwa penyebab Jihane Aruna pingsan adalah keluarganya yang berada dalam pesawat hilang kontak yang baru saja terjadi. Siapa keluarganya?

Setelah cukup lama terdiam, Kala sadar. “Boleh saya temui?”

“Boleh, tapi mohon biarkan istirahat dulu.”

— usahredup