Pasukan Meja Bundar
Beberapa waktu yang lalu setelah saling mengirim pesan dengan Jihane, Kala merobek satu kertas kecil berwarna kuning yang terletak di atas mejanya yang terkumpul menjadi satu diantara ribuan tumpukan kertas kecil lainnya. Kala menuliskan sesuatu di atas kertas kecil itu.
Jihane ajak jalan
Begitulah kira-kira isi kertas kecil yang Kala tulis.
Kala sering menuliskan sesuatu di atas kertas kecil berwarna kuning itu diberbagai kejadian. Ia akan menulis pada kertas kecil itu sehabis ia melakukan dan atau mendapatkan kejadian baik buruk atau baik, sebagai pengingat untuknya segala yang terjadi dalam hidupnya. Ia juga sering mencurahkan isi hatinya di atas kertas kecil itu. Kuno, padahal zaman sekarang sudah ada tempat tersendiri untuk menuliskan sesuatu.
Setelah menulis terdengar suara klakson yang cukup kencang dari luar rumahnya, Kala berjalan pelan menuju jendala kamarnya untuk melihat siapakah orang yang membunyikan klakson itu. Septa–yang membunyikan klakson–sedang menduduki motornya sambil menunggu Kala terlihat dari balik jendala kamarnya.
Kala bergegas bersiap keluar menggunakan kaos putih polos dibalut kemeja kotak-kotak langganannya juga tak lupa postman bag kulit berwarna cokelat. Kala mengambil satu foto dari atas mejanya itu, ia juga mengambil sticky notes berisikan kertas-kertas kecil berwarna kuning itu berserta gadgetnya. Ia segera memasukan barang-barang itu ke dalam postman bag miliknya.
Foto itu–foto Ibunya–selalu ia bawa kemanapun ia pergi. Mengingatkannya bahwa ia tak pernah sendirian di dunia ini, masih ada Ibunya meski hanya dalam bentuk foto bersamanya. Ibunya meninggal kala melahirkannya ke bumi. Beranjak cukup besar Kala mengetahui kemana Ibunya pergi, setelah ia dulu hanya dibohongi bahwa Ibunya pergi untuk mencari nafkah hingga ia mempertanyakan kemana Ayahnya.
Kala tak pernah mengetahui wajah Ayah dan Ibunya secara langsung, Ibunya hanya dalam bentuk foto sedangkan Ayahnya sama sekali ia tak tahu. Apakah tampan? Apakah wajah sang Ayah sangat mirip dengan wajahnya ini? Ataukah justru wajah Ayahnya mirip dengan Ibunya? Ia sama sekali tak tahu.
Yang Kala tahu, Ibunya sangat memperhatikannya. Ntahlah, Ibunya rupanya sudah menyiapkan surat-surat berisikan siapakah dirinya dan menjelaskan siapa Ayahnya. Dalam surat-surat itu banyak berisikan Ibunya memuji Ayahnya. Ia tak tertipu, setelah dewasa ia mengetahui bahwa Ayahnya tak sebaik dan seterpuji apa yang Ibunya tulis dalam surat.
Kala berjalan menuju pintu rumahnya menghampiri Septa yang sudah menunggu lama di luar. “Pagi, Septa Sagara.” Kala menyapa Septa sembari menepuk bahu Septa pelan.
“Lama banget, sih, lo, kaya cewe aja. Gue udah nunggu lama, nih. Cepet naek!” celetuk Septa kesal sudah menunggu terlalu lama.
“Maaf, tapi tak boleh seperti itu, bawa-bawa perempuan,” Kala menaiki motor milik Septa yang ada di hadapannya itu. “Ayo, jalan.” lanjutnya.
⛸
Kala dan Septa sampai di depan halaman Cafe Meja Bundar, Septa langsung memarkirkan motornya. Kala turun dari motor Septa, “Mau ikut masuk ke dalam?” tawar Kala mengajak Septa untuk ikut masuk bertemu dengan teman-temannya yang sudah ada janji untuk bertemu setelah sekian lama.
“Banyak makanan nggak di dalem?” Septa malah menanyakan soal makanan, membuat Kala teringat Jihane yang suka sekali makan dan pikirannya hanya makanan.
“Ada, banyak. Chef di cafe ini sudah terjamin enak makanannya.” Mendengar hal itu Septa ikut masuk ke dalam cafe bersama Kala yang mendampinginya di sampingnya.
Septa celingak-celinguk melihat seisi Cafe. Cocok, cocok untuk ia nongkrong dengan teman-temannya melihat design cafe ini cukup bagus.
Kala tiba-tiba menarik tangan Septa dan memegang erat tangannya membawanya kedekatnya membuat Septa terkejut serta bingung. Ia langsung mencoba melepaskan pegangan itu tapi tak bisa karena Kala cukup kuat. Di depannya ini terlihat laki-laki dengan wajah datar menyambut mereka. “Duduk.”
Kala melihat wajah Khaisar, sangat tak berekspresi apa-apa. Ia merasa bersalah, tapi masalah itu ia kesampingkan. “Biarkan saya pesan makanan untuknya terlebih dahulu.” Pesanan makanan itu ditujukan untuk Septa. Septa yang mendengarnya hanya membalas anggukan kikuk, ia sangat bingung dengan situasi apa ini.
Kala dan Septa menuju recepsionist untuk memesan makanan dan minuman, di sana ia melihat Anne. “Kala? Kamu beneran pengen ketemu Khaisar?” tanya Anne terkejut dan takut dengan kehadiran Kala ke cafe ini.
“Anne, tenang, ya. Saya akan bicarakan baik-baik.” Kala mencoba menenangkan Anne yang terlihat begitu panik.
Kala memesan beberapa makanan dan minuman untuk membuat suasana lebih baik lagi. Anne juga sudah cukup tenang dan tidak panik dengan kehadirannya.
Saat sedang memesan, bahu Kala terasa seperti ada yang menepuknya, Kala langsung menengok ke belakang melihat siapa orang itu. “Woi, bro, kemane aja lu,” Sapaan itu dari Talay, salah satu teman Kala yang hobinya hanya pakai baju ketekan.
“Talay, apa kabar?”
“Wes, bro, gua selalu baik. Lo yang gimana kabarnya?”
“Baik …” Kala melihat Talay yang menengok ke arah kitchen cafe.
“WOI, PADUKA KITA DATENG, NIH!” teriak Talay riang.
Orang-orang yang ada di kitchen langsung menghampiri Talay dan Kala. Ada Bhakti, Sena, Sulthan dan Lumintang. Mereka berlima terlihat sumringah melihat Kala, mereka langsung memberikan Kala pelukan hangat.
“Kal … Duduk, yuk” ajak Lumintang setelah memeluk Kala. Kala membawa Septa bersama teman-temannya untuk duduk di kursi. Meja tempat Kala dan teman-temannya ini sama sekali tak berbentuk bundar seperti nama kelompok mereka. Mejanya justru berbentuk segilima, cukup aneh.
Setelah berkumpul semua, Lumintang sebagai pemegang umur paling tua memulai ritual perundingan seperti yang biasa mereka lakukan jika membicarakan hal penting. “Oke, semuanya, sebelum perundingan ini dimulai alangkah baiknya berdoa menurut kepercayaan masing-masing. Berdoa, mulai.” Septa yang melihat itu berpikir hal itu cukup aneh. Pertemanan Kala juga aneh, tidak jelas. Itu pikirnya.
Selesai berdoa, Khaisar langsung memulai pembicaraan. “Langsung aja, deh, ya. Kal, lo tuh harusnya mikir, nggak cuma lo yang sakit akan kejadian dulu. Gue juga, Kal!” Khaisar memulai pembicaraan dengan topik yang cukup berat.
“Lo pernah mikir nggak? Gue udah coba buat lakuin sesuatu biar hubungan kita jadi lebih baik dari sebelumnya tapi lo selalu gitu. Menghindar, terus ngirim surat kalo gue lakuin itu lo nggak bakal mau temanan sama gue lagi. Kal, dari dulu, dari dulu lo kaya udah nggak anggap gue temen lo.”
“Semenjak kejadian tiga tahun lalu lo udah nggak anggap gue siapa-siapa, Kal. Lo pergi, lo pergi jauh banget dan kita lost contact. Temen-temen juga nggak ada yang tau lo gimana, lo dimana. Terakhir kali kita tau lo lagi kejuaraan di Kanada.” Khaisar mengutarakan semua rasa yang ia pendam selama tiga tahun setelah retaknya hubungan persahabatannya dengan Kala.
“Gue tau gue salah, Kal. Gue minta maaf. Gue pengen menebus semua dosa-dosa gue dan minta lo buat bantu gue tapi lo malah ngilang, Kal. Jujur, lebih baik lo pukulin gue abis-abisan setelah kejadian itu dari pada lo diemin gue tiga tahun, Kal. TIGA TAHUN. Sakit banget sumpah.” Khaisar mulai mengeluarkan air matanya, sebenarnya untuk membuka luka lama ia pun sama seperti Kala, Tidak mampu. Itu mengapa Kala selalu berusaha untuk menghindari percakapan dengan Khaisar. Tiap kali bertemu, obrolannya akan beda tidak seperti dulu, Tidak ada canda tawa.
“Khaisar …” Tatap Kala dalam pada Khaisar. Teman-teman lainnya hanya melihat dan mendengar tanpa mengetahui apa masalahnya kecuali Umin. Ingin sekali rasanya Talay bertanya ada apa sebenarnya karena mulutnya rasanya sudah gatal, tapi ia urungkan niatnya melihat betapa seriusnya obrolan saat ini.
Laki-laki berpakaian dokter memasuki cafe, menyita perhatian orang-orang di cafe termasuk pasukan meja bundar. Kala yang melihat kehadiran Chandra langsung berdiri dan meninggalkan percakapannya dengan Khaisar yang belum selesai. “Chandra, silakan kesini!” ajak Kala pada Chandra dari kejauhan.
Chandra langsung memberikan tundukan hormat pada teman-teman Kala. Ia sudah tahu siapa orang-orang yang berkumpul ini karena Kala sudah menceritakannya, tapi ia terfokus pada satu anak muda yang berada tepat di samping Kala. “Ini siapa, Kal? Temen lo juga?” Chandra langsung menanyakan akan hal pemuda itu tanpa melihat situasi tegang saat ini.
“Anak saya.”
“HAH?” Semua terkejut begitupun dengan Khaisar yang tadi tampak emosional. Septa yang mendengar itu pasrah.
“Eh, maap, Kal, seriusan lu?” Talay yang sedari tadi memendam mulutnya untuk tidak berbicara akhirnya keluar juga.
“Iya, ini anak saya.” Kala menjawab tanpa rasa malu ataupun rasa lainnya. Ia dengan pede menjawab seperti itu.
“Udah gede, ya, bund,” suara Bhakti meski kecil tetap terdengar oleh Kala, menghadirkan senyum yang terukir jelas dari bibir Kala. Sudah lama teman-teman tak melihat senyum itu, tapi hari ini, berkat Bhakti senyum itu akhirnya terpancar kembali.
“Alhamdulillah …” Semuanya mengucap syukur setelah melihat senyuman Kala.
“Freak abis nih orang-orang, abis momen serius tiba-tiba ngelucu.” Septa sudah tak habis pikir melihat kelakuan pasukan meja bundar yang beragam ini.
Semua yang mendengar ucapan Septa langsung memberikan tatapan sinis pada Septa, kecuali Kala yang justru terlihat gemas dengan kelakuan Septa. “Apa? Ngapain ngeliatin gue kaya gitu? Yang lain sinis, lo doang beda. Ada yang lucu?” Septa melihat Kala yang tersenyum langsung menanyakannya pada Kala.
Lumintang yang melihat semua kejadian di meja ini langsung mencoba mencairkan suasana, “Ayo, ayo, makan aja udah, gausah ada drama-drama,”
“Eh, iya, itu lo siapa namanya? duduk, diri aja.” Lumintang menyuruh Chandra duduk, sebab sedari tadi Chandra menyaksikan dengan posisi berdiri.
“Makan, tadi kamu tanyakan makanan disini.” Kala melihat Septa, menyuruhnya untuk segera makan untuk mengisi perutnya. Kala sangat senang melihat momen ini, teman lamanya bahkan akur dengan teman barunya.
Kala yang melihat Septa makan mengeluarkan gadgetnya lalu memfoto Septa yang sedang makan tanpa Septa sadari.
©️ lyterasee