Pemuda yang butuh bantuan
tw // violence cw // harsh word Mohon bijak dalam membaca dan tidak untuk ditiru!
Butuh waktu tiga puluh menit hingga Kala sampai di daerah sekolahan yang cukup besar dengan naik bus. Setelah sebelumnya ia sudah mendaftarkan Shakilla ke TK Cendrawasih dan SMP 17, kali ini Kala mendaftarkan Shakilla ke SMA Bina Nusa.
Kala berjalan menuju SMA Bina Nusa yang sudah tak jauh lagi jaraknya akan sampai. Ditengah perjalanannya, tiba-tiba banyak sekali pemuda-pemuda yang berlarian kesana-kemari sambil berteriak kencang.
“WOI ANJING! SINI LO!”
Kata-kata kasar Kala dengar ketika melihat pemuda-pemuda itu berteriak. Dilihatnya banyak sekali yang sudah banyak darah di wajah dan bajunya. Tawuran, pasti mereka sedang tawuran antar pelajar. Dilihatnya banyak sekali barang-barang bahaya yang mereka bawa ditujukan untuk lawan.
Zaman sekarang banyak sekali anak muda yang membuang waktunya sia-sia untuk sesuatu yang tidak berguna.
Kala melihat satu pemuda berhenti ditengah-tengah, dilihatnya pemuda itu memegangi kepalanya frustasi dan bingung. Menengok kanan-kirinya tergesa-gesa seperti mengharapkan secercah harapan hidup. Sepertinya ia tertinggal kawanannya, ia berhenti di tempat dimana lebih dominan lawan.
Kala ikut menengok kanan-kirinya, mencari tempat yang aman untuk persembunyiannya jika para pemuda itu menghampirinya dan mengira ia adalah lawannya. Tapi, mata Kala tetap tertuju pada pemuda yang ada di depannya. Sangat pasrah. Tangis Kala lihat dari wajahnya.
Kala melihat lawan pemuda yang ada di depannya itu membawa benda berbahaya, yang sepertinya akan segera dilempar lalu mengenai pemuda di depannya itu.
“Awas!” seru Kala sambil menarik lengan pemuda itu cepat. Tepat, benda tajam itu tak mengenai pemuda yang saat ini sedang ia pegang lengannya.
“Tidak apa-apa?” tanya Kala khawatir pada pemuda di depannya ini, dilihatnya wajah pemuda itu berlumuran darah.
Pemuda itu menghembuskan napas lega, nyatanya ia masih diberika hidup. Padahal, ia sudah membayangkan bagaimana ia akan habis diserang lawannya.
Pemuda itu melirik Kala, menghempaskan jemari Kala yang masih memegang lengannya keras lalu berjalan melewati Kala tanpa sepatah katapun.
Kala memaklumi, pemuda itu masih shock dengan apa yang terjadi barusan. “Hati-hati!” Teriak Kala pada pemuda itu yang tubuhnya mulai tak terlihat oleh netra Kala.
⛸
Lonceng berbunyi cukup kencang, menandakan bahwa jam istirahat sekolah dimulai. Kala yang sedang berada di ruang Kepala Sekolah, menunggu Kepala Sekolah sedang mencari berkas yang ia minta.
Sambil menunggu, Kala berdiri melihat-lihat sekitaran ruangan itu. Dilihatnya banyak sekali piala-piala serta penghargaan yang sekolah ini dapatkan, ia takkan menyesal mendaftarkan Shakilla ke sekolah ini. Tapi, netranya tertuju pada sebuah foto pemuda yang tadi ia tolong yang sepertinya bersama teman-temannya di foto itu.
“Pak, pemuda ini salah satu siswa di sekolah ini?”
Kepala Sekolah berhasil menemukan berkas yang sedari tadi ia cari, menaruh berkas itu di atas meja. “Iya, dia siswa di sekolah ini. Foto itu saat sedang dilaksanakannya acara kenaikan kelas.”
Kala kembali duduk, membuka berkas yang ia minta tadi dengan baik-baik ia lihat tiap data siswa juga fotonya. Kala melihat foto serta data diri pemuda yang ia tolong tadi, “Septa Sagara … ”
Kala menutup berkas yang sudah cukup ia lihat lalu kembali menaruhnya di atas meja.
“Baik, Pak. Saya yakinkan anak saya bersekolah disini ketika sudah besar nanti. Biaya pendaftarannya sudah saya kirim, ya, Pak.”
“Maaf, Pak Kala, anak anda berumur berapa, ya, sekarang?” tanya Kepala Sekolah bingung dengan ucapan Kala ‘Ketika sudah besar nanti’.
“Oh, umur anak saya saat ini masih tujuh tahun, Pak. Tapi, saya sudah siapkan penuh pendidikan untuk anak saya. Mohon kabari setiap perkembangan sekolahnya, ya, Pak.”
“Baik, Pak. Bisa saya minta ketikkan nomor telepon anda? Kami akan kabari perkembangan sekolah kami secara berkala kepada Bapak.” Kepala Sekolah menyodorkan gadget miliknya kepada Kala. Dibalas Kala mendorong kembali gadget milik Kepala Sekolah itu.
“Harus pakai nomor telepon, ya, Pak? Tidak bisa jika saya datang langsung atau lewat surat saja?” Kala menawarkan cara lain, sebab dirinya tidak lagi memegang gadget.
“Mohon maaf, tidak bisa, Pak. Kami takutkan banyak kesibukan kegiatan apalagi di awal semester seperti ini dan sulit untuk bertemu secara langsung. Nomor telepon kami mintai untuk memudahkan komunikasi juga memberikan informasi terkait perkembangan sekolahnya, Pak.” jelas Kepala Sekolah dibalas anggukan paham oleh Kala.
“Baik, Pak. Kalau begitu, besok saya akan kesini lagi lalu akan saya berikan nomor telepon saya, ya, Pak.” Kala berdiri, menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Kepala Sekolah tanda resminya pertemuan mereka untuk mendaftarkan Shakilla kesini.
Setelah selesai pertemuan, Kala berjalan menuju luar sekolah. Sambil memikirkan bahwa ia harus pakai gadget lagi untuk keperluan sekolah Shakilla. Sampai di luar sekolah, ia teringat dengan pemuda yang ia tolong yang ternyata juga salah satu siswa di sekolah ini.
©️ lyterasee