Pengakuan

Malam itu, semua berkumpul. Menatap lurus pada sebuah kue ulang tahun yang nyatanya tak berkepemilikan. Yang ulang tahun justru tidak ada, yang punya acara justru tidak terlihat batang hidungnya. Untuk sekadar manghilangkan kesunyian tak bersuara ini, Khaisar dan teman-teman memrequest pada Sulthan yang merupakan pemilik kafe untuk melakukan live music band mereka. Meja Bundar. Selain Meja Bundar menjadi nama kafe yang mereka tempati saat ini, Meja Bundar juga menjadi nama band mereka sekaligus nama pertemanan mereka. Meja Bundar memiliki banyak arti untuk mereka. Berawal dari meja yang menjadi saksi persahabatan mereka dimulai.

“Than, gue sama temen-temen performaja gimana? Daripada cuma kaya gini nggak jelas.” Usul Khaisar diikuti anggukan teman-teman lainnya.

“Oh, yaudah. Kalian mau perform lagu apa?”

“Semua tentang kita.” Dengan yakin Khaisar jawab itu. Ia ingin mengembalikan memori memori dahulu yang selalu ada lagu Semua Tentang Kita yang menemani.

“Oke, stand by ya.”

Malam itu, Khaisar dan teman-teman lainnya menyanyikan lagu Semua Tentang Kita. Kala yang menjadi penonton, tanpa diperintah pikirannya langsung lari menuju kilas balik persahabat Meja Bundar. Dusta jika dia bilang tak rindu. Jelas tiap hari rasanya hidupnya tak punya arti sebab tak ada yang menjadi sumber dari arti itu. Orang-orang yang mengisi dunianya dengan warna.

Selesai lagu dinyanyikan, Khaisar bersuara. “Terimakasih sudah dengar, lagu ini sangat berarti untuk gue, temen-temen gue, dan satu orang yang gue harap juga berpikir begitu.”

Kala mendengar dengan serius apa yang Khaisar katakan. Lalu suara terdengar lagi, bukan Khaisar, melainkan Mas Umin. “Semoga, semua tentang kita akan tetap menjadi semua tentang kita. Nggak ada tentang lo dan tentang gue. Yang ada cuma tentang kita.”

Mas Umin tahu pasti apa yang menjadi penyebab kerenggangan Meja Bundar, tapi ia tak punya kuasa untuk ikut campur sebab yang menjadi sumber masalahnya hanya Khaisar dan Kala. Terlalu menggurui jika ia ikut campur, apalagi teman-teman yang lain tidak ada yang tahu apa yang terjadi antara mereka.

Dalam hatinya Kala tersenyum, meski dari luar tatapannya hanya datar tak mengartikan apa-apa. Jihane yang melihat pun ikut tersenyum, namun dirinya jelas terlihat sedang tersenyum.

“Mau request lagu apa lagi, nih?” Talay cukup teriak bertanya pada penonton di depannya. Langsung disambut Luna yang baru datang menjawab, “Can’t Help Falling In Love, dong!”

Khaisar tersenyum ke arah Luna. Kehadirannya selalu membawa senyuman untuk Khaisar. Khaisar tak mungkin tak cinta Luna meski jika dilihat memang seperti tak ada cinta yang Khaisar taruh pada Luna.

“Oke, gas!” Khaisar bersemangat memberi arah pada teman-temannya.

Lagu kedua dinyanyikan, semuanya tampak khusyuk mendengarkan lirik demi lirik. Hingga pada satu lirik, terdapat dua manusia yang sepertinya sedang dalam keadaan sangat-sangat serius menyelami lagu itu.

Take my hand Take my whole life too For I can’t help falling in love with you

Pada lirik itu dinyanyikan, Kala menatap Jihane lekat. Ia panggil Jihane dengan lembut. “Jihane Aruna …”

Jihane yang sedang fokus mendengarkan lagu itu fokusnya teralihkan sebab panggilan yang terdengar dari Kala. “Apaa?” Jihane ikut menatap Kala.

Tatapan mereka satu sama lain sangat dalam. Tatapan itu semakin dalam lagi saat Kala bersuara. “Kamu punya peran penting dalam hidup saya.”

Mungkin bagi sebagian orang kalimat itu hanya kalimat biasa. Kalimat biasa yang tak punya arti apa-apa. Tapi, bagi Jihane, malam yang menjadi saksi bahwa kalimat itu menjadi kalimat sakral. Kala jarang berucap seperti itu, maka pada malam itu, Jihane yakini bahwa Kala sedang mengutarakan rasa cintanya. Memang seperti kegeeran, tapi tatapan Kala menyiratkan arti seperti itu.

Jihane yang mendengar itu, reaksi apalagi yang pantas ia keluarkan selain salah tingkah. Ia mengenal jelas bagaimana sosok Kala maka dari itu dengan terbata-bata ia sampaikan jawaban, “T-thank y-you …

Menjawab kalimat yang Kala berikan dengan senyum kikuk dan Kala ikut tersenyum, senyumannya sangat berbeda kali ini. Sumringah, itu kata yang sangat tepat mengartikan senyuman Kala malam itu.

Hanya melalui tatapan, malam itu menjadi peresmian hubungan mereka. Hubungan yang tak memiliki kejelasan itu tak lagi hidup, sebab, malam itu mereka saling cinta.