Pertama Kali Lihat
tw // violence , blood
“Kak, nanti ajarin lagi, ya? Susah banget tau, takut jatoh.” Sehabis bermain Ice Skating diajari Kala, Jihane dan Kala berjalan keluar Skating Club. Dirinya pikir Ice Skating akan mudah karena sudah pernah diajarkan oleh Kak Jidane, nyatanya masih tetap sama sulitnya.
“Iya, nanti saya ajarkan. Kamu tidak perlu takut, ada saya.” Kala berkata sambil melihat wajah Jihane memastikan bahwa kata-katanya ini akan ia pegang.
Berjalan sudah cukup jauh dari Skating Club di malam hari ini, Kala melihat ke sekitar di mana ia berdiri. Dari kejauhan ia melihat keberadaan taman, ia ajak Jihane untuk ke sana. “Jihane Aruna, jika ke taman dahulu, tidak apa?”
“Lho? Mau ngapain?”
“Kamu tunggu di sana dulu, saya ingin belikan makanan. Jangan takut, saya tidak akan tinggalkan kamu sendiri di sana. Saya akan kembali lagi. Lagipula, di sana masih banyak pengunjung.”
“Oh, yaudah. Jangan lama-lama, ya.”
“Iya, saya antarkan kamu ke taman dulu.”
Kala dan Jihane berjalan ke taman. Setelah dipastikan Jihane duduk dengan aman disalah satu kursi taman, Kala bersiap pergi dari taman. Sebelum itu, ia pegang tangan Jihane yang juga sedang memegang gadgetnya. “Tunggu saya, ya? Gadgetnya tetap dipegang, kalau ada apa-apa langsung telpon saya.”
Jihane mengangguk paham. Ia melihat tubuh Kala yang semakin menjauh. Ia lalu berteriak, “Hati-hati.”
***
Sudah tiga puluh menit ia tunggu kedatangan Kala kembali ke taman tapi batang hidungnya pun belum terlihat juga. Semakin khawatir ia setelah pikiran Kala terjadi apa-apa muncul di kepalanya. Berulang kali ia pandangkan matanya ke depan, berharap Kala segera muncul dan berada dihadapannya. Khawatirnya tak bisa lagi ia tenangkan, Jihane berdiri hendak pergi menuju arah Kala pergi.
Terus berjalan sambil melihat sekeliling, banyak sekali yang berjualan. Ia berpikir ada di mana Kala berada di antara para penjual itu. Ia bahkan tidak sempat bertanya Kala mau beli apa.
Jihane menghampiri setiap penjual yang berada di sana. Satu persatu ia datangi tapi tak ada juga keberadaan Kala. Hingga akhirnya ia berjalan menuju tempat sepi, berpikir bahwa mungkin Kala di bawa oleh orang jahat di tenpat sepi seperti ini karena biasanya memang selalu seperti itu agar kedok sang penjahat tidak ketahuan.
Jihane terkejut, sungguh terkejut. Yang ada di depan matanya ini adalah pemandangan yang tidak pernah ia pikirkan akan terjadi dalam hidupnya. Kala terlibat baku hantam dengan Khaisar. Kala tampak kalut sekali malam itu. Jihane pun takut melihatnya, tapi ia tidak tega melihat Khaisar terus mendapat pukulan dari Kala.
“Kak … stop …” Sambil menutup mulutnya ia bersuara.
Kala menyadar jelas siapa suara yang ia dengar itu, ia lirikan matanya ke arah kanan. Jihane Aruna. Ada Jihane yang melihat dirinya dengan kalut memukuli Khaisar. Ia lepas kerah baju Khaisar yang ia pegang kasar. Kala berdiri merapikan bajunya lalu mengambil makanan yang berada di tanah—makanan yang tadi ia sudah beli sebelum kedatangan Khaisar.
Ditengtengnya makanan itu sambil berjalan menuju Jihane melewati Khaisar yang masih terbaring di tanah juga diinjaknya kertas yang berada di dekat Khaisar. “Ayo, ikut saya.” Jihane tidak berbicara bahkan tidak bisa berbicara. Dirinya masih kaget dengan apa yang terjadi barusan.
Kala dan Jihane berjalan tanpa suara. Hingga akhirnya Jihane berani bersuara. “Mau ke mana? Ini sebenernya ada apa? Tadi lo bilang cuma mau beli makanan? Kenapa sekarang gue malah ngeliat lo berantem sama Khaisar. Ini sebenernya ada apa, sih? Jawab!” Kebingungan yang sejak tadi ia pendam akhirnya berani ia keluarkan.
Perjalanan mereka berhenti di taman tempat tadi Jihane menunggu. Kala lihat sekitarnya. Dilihatnya kursi yang tadi Jihane duduki. “Duduk dahulu.” Ia pegang bahu Jihane lembut mengajaknya untuk duduk.
“Jelasin! Ini kenapa sampe berdarah-darah gini, sih! Brutal banget berantemnya.” Jihane memegang ujung bibir Kala tapi Kala menghindar. Ia pindahkan pegangannya menuju tangan Kala juga Kala lepas.
“Kenapa, sih? Orang cuma dipegang doang. Nggak mau dipegang?”
“Bukan begitu.”
“Udah sini … Diobatin.“ Jihane buka tasnya lalu menarik tangan Kala. Ia ambil lap—penyeka agar darah yang keluar dari tangan Kala berhenti.
“Saya bisa sendiri. Nanti saya obati di rumah saja.” Lagi-lagi tangan Kala yang Jihane pegang kembali ditarik oleh Kala. Ia tarik tangannya lalu ia gerakkan tangannya guna meredakan sakit yang dirasa.
“Ih, jangan batu, sih! Lagi abis ngapain, sih, sampe berantem gitu.”
“Sudah Jihane Aruna, saya tidak apa.”
“Ya terus emangnya kenapa kalo gue mau obatin lo? Nggak boleh? Yaudah.” Jihane palingkan wajahnya dari Kala.
“Kamu takut darah.” Jihane yang menyadari itu langsung kembalikan wajahnya menghadap Kala, ia tak menyangka Kala akan memikirkan hal ketakutannya dalam kondisinya saat ini.
“Gue gapapa, kok, tenang aja. Kalo ngobatin lo gini nggak takut.” Jihane kembali pegang tangan Kala lalu ia berikan obat pada tangan Kala dan diberikannya plaster di atas tangan Kala.
“Tuh, udah selesai, gue nggak takut. Nanti di rumah diganti lagi plesternya. Terus juga itu muka lo dikompres, ya, sekarang ini nggak mungkin, kan, gue bawa kompresan.”
“Terimakasih, ya.”
Kala dan Jihane berjalan untuk pulang. Sebenarnya capek sekali Kala rasa setelah adu tojos dengan Khaisar. Seluruh badannya rasanya sakit sekali, tapi ia tahan itu. Sampai di depan rumah Jihane ia beri makanan yang sedari tadi tadi ia pegang di tangannya yang satunya lalu pamit. “Jihane Aruna … Ini, makanan yang tadi saya ingin belikan untukmu. Maaf, sepertinya sudah keras.”
Jihane terkejut menyadari Kala masih memegang makanan itu terlebih makanan itu adalah cimol. “Cimol? Jadi tadi lo mau beliin makanan gue itu mau beli cimol? Tau dari mana gue suka cimol?” Ia terima cimol itu dari tangan Kala.
“Waktu itu saya sempat tanyakan pada temanmu. Ya sudah, saya pamit, ya.”
“E-eh iya, hati-hati, ya. Itu jangan lupa lukanya diobatin lagi di rumah.” Kala yang mendengar itu mengangguk lalu pergi meninggalkan Jihane yang sudah lebih dahulu masuk ke rumah.
Buru-buru Jihane menuju kamarnya lalu melihat kepergian Kala dari balkonnya. “Ada apa, ya, Kak Kala sama Khaisar …”
—-
