Rasa kehilangan
Dengan sangat khawatir Jihane menunggu hasil pemeriksaan Kala. Pemeriksaan kesehatan Kala dilakukan oleh Dokter Chandra—temannya sendiri. Kesepakatan sedari awal yang Kala dan Chandra buat sepertinya hari ini akan terpecahkan, kesepakatan bahwa tidak boleh ada yang tahu penyakit Kala kecuali dirinya sendiri, Chandra, dan Anne. Awalnya kesepakatan itu hanya antara dirinya dan Kala, tapi setelah Chandra bilang bahwa setidaknya Kala punya tempat bercurah selain Chandra yang tak lain adalah dokternya sendiri.
Saat ini Kala sedang berada di rooftop rumah sakit, melamun memikirkan bahwa sebentar lagi Jihane Arunanya akan tahu kelemahannya. Kelemahan yang susah payah ia sembunyikan agar Jihane Arunanya itu hanya akan melihat sisi terbaik dari Kala. Kala juga memikirkan apa yang akan Jihane Arunanya rasakan saat tahu akan penyakitnya sebenarnya. Dia lamunkan semua kenyataan yang menghampirinya.
Setelah melakukan pemeriksaan Kala memang pamit keluar pada Jihane, Jihane yang melihat raut datar Kala justru khawatir dan menawarkan untuk mengantar ke mana Kala mau pergi tapi Kala menahannya dengan alasan menyuruhnya melihat hasil dari pemeriksaannya. Sendiri. Ia tidak akan tahan melihat reaksi apa yang akan Jihane keluarkan.
Setelah nama Kala sebagai pasien dipanggil Jihane memasuki ruangan Dokter Chandra. Dilihatnya Chandra yang berdiri membelakanginya tak berbicara sedikitpun. Cukup lama kesunyian tercipta dengan Jihane yang hanya terdiam tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, Chandra membalikkan badannya juga membalikkan posisi laptop miliknya menghadap dimana Jihane berdiri.
Jihane bisa melihat dengan jelas apa isi dari laptop itu, untuk memastikan kejelasan apa yang ia lihat, Jihane memajukan selangkah posisinya berdiri dan sedikit menunduk untuk melihat isi laptop lebih jelas. Jihane bisa melihat jelas gambar otak dengan buletan kecil diantaranya ada pada laptop itu.
“Maksudnya apa?”
“Glioblastoma, kanker otak stadium 4.”
Jelas Jihane sangat terkejut dengan jawaban yang diberikan Chandra, ia tidak menyangka bahwa histeris kesakitan yang kemarin malam Kala rasakan adalah bagian dari penyakit yang bukan biasa.
“Bisa sembuh ‘kan?”
“Sejauh yang saya tangani dan saya tahu, kasus penyakit ini belum ada yang menemukan titik terang kesembuhan.” Nada bicara tidak lagi seperti biasa Chandra bicara, nada serius dan tegas, ia juga mengganti katanya menjadi “saya”. Ia yakini bahwa saat ini adalah situasi yang serius.
Jihane menatap dalam mata Chandra, seolah ada harapan bahwa titik terang kesembuhan itu bisa terjadi pada Kala.
“Tapi nggak menutup kemungkinan bisa sembuh ‘kan?” Masih sama, Jihane masih berharap. Jiwanya kacau, pikirannya hancur. Keadaan berubah secepat ini. Kemarin baru saja ia merasa hati gembira dengan ajakan menikah Kala, tapi hatinya harus patah dengan kenyataan ini.
Dengan pertanyaan yang Jihane ajukan Chandra hanya bisa menjawab dengan anggukan. Ntahlah anggukan apa itu, yang jelas ia hanya harus tetap menjawab tiap pertanyaan yang dilontarkan Jihane sebab pasti dirinya sangat shock dengan apa yang terjadi.
Setelah Chandra membalas anggukan, Jihane langsung keluar dari ruangan. Ia berlari tanpa arah mencari dimana keberadaan Kala saat ini. Melewati setiap lorong dengan tatapan kosong. Hingga berhenti di depan anak tangga ia terpikirkan untuk menuju rooftop. Menaiki tangga demi tangga tanpa henti ia berusaha ke rooftop yang berada di lantai 14 tanpa menggunakan lift yang tersedia.
Sampailah Jihane di rooftop, ia bisa melihat tubuh belakang seseorang di ujung sana dari jaraknya yang cukup jauh yang ia yakini itu adalah tubuh Kala. Ia berjalan perlahan, sampai di tengah-tengah rooftop ia memanggil nama Kala lembut.
“Kak Kala …” Suara lembut itu bagaikan lirih tak berdaya.
Kala yang menyadari dirinya dipanggil dan mengetahui bahwa itu adalah suara panggilan dari Jihane, ia langsung membalikkan badannya menghadap Jihane dengan jarak jauh menghalangi mereka.
Dari jarak antaranya dan Jihane memang cukup jauh dengan rooftop yang sebesar ini, tapi ia tahu bahwa saat itu juga Jihane sedang menahan isak tangisnya agar tak pecah.
Dari jaraknya Kala menatap dalam mata Jihane. Ditemani kesunyian tempat ini, tidak ada yang membuka suara bahkan Kala sekalipun.
“Lo nggak baik-baik aja dan nggak akan baik-baik aja …” Jihane membuka suara.
“G-gue bakal kehilangan lo …” Saat itu juga, tangisnya pecah. Kala mendekat ke arah Jihane dan mendekap tubuh Jihane erat, dirasanya hangat menjalar dalam pelukan mereka membuat Jihane membuang napasnya. Bukan lega, hanya saja rasanya ia dikuatkan oleh Kala dan dirasa lebih tenang.
“Selagi masih ada, tidak akan ada kehilangan.”
Keduanya sama-sama berandai bahwa malam ini tidak pernah ada. Tidak pernah ada berita menyakitkan yang mereka ketahui. Tidak ada ketakutan kehilangan yang akan terus menghampiri sampai waktunya tiba. Tidak ada kesedihan yang dirasa akan terus terulang.
Meratapi kenyataan bahwa mereka akan saling kehilangan satu sama lain.
