Rindu yang baru terpenuhi
Di rumah sakit Premiere, Kala dan laki-laki yang akrab dipanggil Umin bertemu. Pelukan erat Umin berikan pada Kala, segala rindu yang sudah tak tertahan sirna saat ini juga. Kala yang membalas pelukan hangat itu terasa tenang. Sudah lama ia membutuhkan pelukan-pelukan dari orang tersayang. Dilihatnya Umin yang berpakaian office boy rasanya menyayat hati Kala.
Baik Kala ataupun Umin belum mengetahui sepenuhnya apa yang terjadi selama tak ada pertemuan untuk mereka juga teman-teman lainnya. Banyak sekali pertanyaan yang sebenarnya butuh sekali jawaban hari itu, tapi keduanya memilih diam.
“Kala … Sehat?” Pertanyaan seperti itu selalu punya makna mendalam untuk seorang SandyaKala Megantara. Bagaimana hari-hari yang ia lalui terasa berat selama tak bersama teman-temannya yang biasnaya memberikan dukungan penuh untuknya.
“Sehat, Mas … Mas sendiri sehat?”
“Mas selalu sehat, Kal. Ibu … Ibu yang sekarang ini sedang tidak sehat. Kangennya udah nggak terbendung sama kamu.”
Kala memindahkan sapu yang sedang Umin pegang ke tempat lain. Dengan senyuman khasnya Kala berbicara, “Ayo … temui Ibu. Saya sudah rindu.”
Ajakan Kala mendapat antusias penuh dari Umin. Umin langsung membersihkan badannya dan bergegas ke kamar mandi untuk berganti pakaian diikuti dengan Kala yang menunggu di parkiran.
“Ayo, Kal. Naek Joni.” Umin menaiki sepeda ontel kesayangannya yang ia namai Joni setelah selesai dari kamar mandi. Sembari menunjuk ontel kesayangannya itu pada Kala, Kala langsung menuju sepeda ontel itu dan duduk dibagian belakang ontel tua itu.
Ontel tua, Umin, dan juga Kala bergegas menuju rumah Umin. Bertemu dengan Ibu Nursin—ibu Umin—yang sudah lama merindu pada Kala. Kala sudah membayangkan akan semengharukan apa nanti pertemuannya.
“Joni sehat, Mas?” Pertanyaan itu langsung membuat gelak tawa bagi Umin. Mengingat meski ontel itu tetap setia sampai saat ini pada Umin selama dua puluh tahun, tapi ontel tua ini kerap merengek untuk diperbaiki akan kerusakannya.
“Joni ngambek mulu, Kal … Pengen dinaekin Kala.” Umin selalu mengeluarkan senyum lebarnya sembari mengoes ontel tua itu. Dengan semangatnya yang membara ia menuju rumah sangat cepat.
Sampai di pedesaan tempat Umin tinggal, mereka harus turun dari sepeda dan berjalan kaki cukup jauh. Sebelum kembali berjalan, Kala menarik napas, sembari menutup mata ia mengingat-ingat momen-momen menyenangkan yang ia alami di pedesaan ini.
“Ayo jalan, Kal. Masih lumayan jauh, ya. Maklum kita harus jalan kaki karena ini banyak banget tanah merah, licin.” Umin mengajak Kala kembali berjalan sembari mendorong Joni di ontel tua.
“Tanah merah tidak pernah berubah, ya.” Kala berjalan hati-hati melewati banyaknya tanah merah yang bisa membuatnya terjatuh.
“Tau, tuh. Udah jaman modern masih aja bikin susah.”
Meski jalannya sedikit sulit, tapi Kala dan Umin menjalani dengan senang hati. Keduapun sama, sudah tak sabar menemui Ibu Nursin. Aneh, padahal Ibu Nursin itu Ibunya Umin tapi rasa tak sabar Umin sama seperti rasa tak sabarnya Kala.
“Tanah merah tidak pernah berubah … masih saja membawa kenangan indah.” Kata-kata Kala itu berhenti tepat di depan rumah Umin.
Umin dan Kala berjalan pelan memasuki rumah yang sederhana. Masih seperti rumah pada zaman dahulu. Dengan tanah merah, timba air, bale, dan juga burung perkutut yang menemani tiap harinya.
“Assalamu’alaikum, Bu …. Bu … Ibu … Umin bawa Kala, nih, Bu ….” Umin berjalan berdampingan dengan Kala menengok ke kanan dan ke kiri mencari Ibu. Ah, rupanya Ibu sedang ada di dapur memasak.
“Bu ….” Kala yang melihat Ibu langsung memanggil Ibu. Mendekati Ibu yang sedang memasak dengan serius. Ibu tak memperhatikan Kala, membuat Kala menengok pada Umin dan mempertanyakan kebingungannya.
“Ibu udah mulai pikun, Kal …. Coba dipegang Ibunya,” Medengarkan arahan Umin, Kala memegang bahu Ibu lembut.
“Ibu … Ini Kala, Bu ….”
Akhirnya, ibu menengok ke arah Kala, dengan senyuman khas nenek tua yang penuh dengan keriput di wajahnya tetapi tetap cantik.
“Kala … MasyaAllah ini beneran Kala?” Ibu meraba wajah Kala, memastikan kebenaran bahwa yang di depannya saat ini bener seorang SandyaKala.
“Kemana aja, Le …” Ibu menangis, membuat hati Kala rasanya teriris. Mengingat bahwa ia belum pernah melihat Ibu kandungnya menangis. Jangankan menangis, melihat sedetik wajah ibunya saja belum pernah.
“Sehat, Bu?” Kala belum sempat medapat jawaban akan pertanyaannya, ia langsung disuruh makan makanan buatan Ibu Umin. Kala rindu, rindu dengan makanan Ibu Umin yang selalu jadi sarapan paginya dulu.
Umin yang melihat itu di depannya merasa tersentuh, Kala butuh sosok Ibu dihidupnya. Syukur ia masih punya Ibu yang bisa menggantikan sosok Ibu kandung Kala.
Hari itu, hanya ada kegembiraan diantara mereka. Hanya ada nostalgia-nostalgia tentang Kala dan Umin dahulu kala. Dan, hanya ada suka tanpa duka.
©️ lyterasee