Rumah dan Ramah

“Kalau bicara akan hal rumah, sampai sekarang pun saya belum menemukannya, Septa.”

Ucapan itu terus berputar dikepala Septa saat sedang beristirahat sebentar di ruang tamu rumah Kala. Ucapan itu Kala ucapkan saat berjalan menuju rumahnya bersama Septa. Sesampainya di rumah Kala, seketika rasanya Septa rasakan suasana rumah yang berbeda. Ia memang sudah pernah ke rumah Kala tapi belum pernah sekalipun ia masuk kedalam rumah Kala ini.

“Septa, saya ke dapur dulu. Mau minum apa?” tanya Kala yang sudah menyelesaikan istirahat sebentarnya setelah sesampainya di rumah.

“Gue nggak mau minum, yang gue mau lo nemuin rumah lo itu.” Yang dimaksud rumah bukan sekadar tempat beristirahat yang bisa saja ditinggalkan tiap hendak pergi kemana saja. Tapi yang Septa maksud rumah adalah seperti yang Kala ucapkan. Rumah untuk berteduh, berkeluh-kesah, dan juga rumah untuk abadi.

Kala mendengar itu tersenyum. “Tenang saja, perlahan saya sudah temukan rumah saya. Sekarang, saya ingin kamu anggap rumah saya ini rumah kamu juga.” Kala berjalan menuju dapur. Mengambil segelas air lalu membawanya ke ruang tamu tenpat dimana Septa duduk. “Kalau kamu sudah anggap rumah ini seperti rumahmu, kamu bebas mau ambil apa saja.” lanjutnya.

Lantas Septa berdiri, merapikan bajunya sehabis dari duduknya lalu berjalan perlahan mengelilingi seisi rumah Kala. Melihat-lihat meja ruang tamu yang cukup terisi penuh dengan barang-barang. Septa mengambil sebuah medali yang tergeletak di meja ruang tamu Kala.

“Ini medali apa?” Melihat terdapat sebuah medali membuat Septa penasaran medali apa itu. Sebab, tiada tulisan yang menerangkan medali apa yang ia pegang.

“Medali saat saya memenangkan kejuaraan.” Kala mendekat kearah Septa berdiri, ia mengambil medali itu dari tangan Septa.

“Cocok.” kata Kala setelah menaruh medalinya di leher Septa. “Kejuaraan apa? Keren juga lo.”

Kala lagi-lagi tersenyum, rasanya membicarakan mengenai kejuaraan membuatnya teringat masa-masa indah saat menghadapi kejuaraan yang menurutnya sangat menegangkan. Sebab, tiap kali ia mengikuti kejuaraan rasanya ia membawa nama baik Ibunya, padahal Ibunya tahu pun tidak jika ia mengikuti kejuaraan itu. Ibunya sudah beristirahat di tempat peristirahatannya paling tenang.

Figure skating.

What? serius?” Wajah terkejut terlihat jelas di wajah Septa membuat Kala kali ini berganti tertawa.

“Darius.”

“Et, artis kali, ah. Tapi, sumpah, seriusan?” Rasa penasaran semakin menghampiri Septa. “Kapan saya pernah bercanda?”

“Barusan.” ledek Septa.

“Gue akuin lo keren, bagi-bagi tipsnya dong, Kakak.” Septa sendiri yang bicara seperti itu, tapi dirinya sendiri juga yang tertawa geli. Kembali ia lakukan aktivitas melihat meja milik Kala yang semua isinya tampak sangat menarik untuk dipertanyakan.

Kala manusia paling banyak yang harus dipertanyakan

Kala melihat Septa sangat serius melihat-lihat, hingga tatapannya tak lagi terlihat ceria saat Septa memegang sebuah bingkai foto. Kala segera menarik bingkai itu dari tangan Septa, tapi tak bisa sebab Septa mengangkat bingkai itu cukup tinggi membuat Kala kesulitan menggapainya. “Eits, katanya gue boleh ambil apa aja. Kalo jni foto siapa?”

“Bukan siapa-siapa. Kemarikan.” jawab Kala datar.

“Kalo bukan siapa-siapa nggak mungkin dipajang, sih, setau gue,”

“Pacar ya … ?” curiga Septa.

“Saya bilang bukan.”

“Trus siapa kalo bukan pacar … ” Septa merajuk.

“Sudah malam, tidur, ya. Saya siapkan kamarnya dulu di atas.”

Kala berjalan perlahan menuju lantai atas, Septa yang melihat itu tak tega. “Iya, iya, deh, gue balikin, nih, bingkainya. Udah tua ngambek-ngambekan.”

Langkah Kala terhenti, sebenarnya ia tak berniat untuk marah pada Septa. Ia memang benar-benar akan membereskan kamar atas untuk Septa tidur sebab kamar atas tak pernah terpakai. Pun perihal jalannya yang perlahan itu sebab ia yang takut ketinggian, maka dari itu ia berjalan perlahan.

“Ya sudah taruh kembali di meja yang rapi. Kamu mau ikut ke atas tidak?” tanya Kala sambil berbalik arah berhadapan dengan Septa dari tangga.

Septa berlari kecil menghampiri Kala yang berada di tangga lalu ia berjalan mengikuti tiap langkah Kala seperti anak kecil.

Kala membuka satu pintu kamar yang terdapat di kamar atas. Di lantai atas terdapat dua kamar kosong. Kala dan Septa masuk ke dalam kamar. “Gue nggak mau disini, ah. Baru mau dibersihin gimana, sih, yang punya rumah.”

“Maaf, saya baru sempat bersihkan. Tapi, saya akan bersihkan yang sungguhan. Jangan khawatir, tidak akan ada kuman.”

Septa keluar kamar melihat kamar sebelah lalu masuk kembali. “Kenapa nggak di kamar yang sebelah aja?”

“Maaf, Septa. Kamar yang satu lagi sudah pernah dipakai Jihane Aruna. Jangan dipakai lagi.”

“Cie bulol.” ledek Septa sambil menyenggol pelan bahu Kala. “Apa?” Septa tertawa melihat respon Kala yang terlihat salah tingkah.

“Mau tunggu di luar atau di dalam? Saya bersihkan dulu.”

“Di dalem aja, gue bantuin tenang.”

Kala dan Septa bersama-sama membersihkan kamar. Septa seringkali meledek Kala soal kamar sebelah. “Eh, nggak jadi, deh. Kayanya enakan kamar sebelah.” Septa penasaran dengar reaksi Kala tapi Kala sama sekali tak bereaksi apa-apa mendengar ucapan Septa. “Iya, deh, iya. Bercanda, Bapak.”

“Oh ya, kenapa kamar atas nggak dipake? Bukan, maksud gue kenapa cuma dipake buat tamu?”

“Saya lebih suka dibawah.” Sudah jelas Kala bohong. Ia sama sekali tak punya keinginan untuk sekadar berucapan akan ketakutannya dengan ketinggian. Ia sangat tak ingin melihat rasa kasihan yang akan ia dapat jika mengucapkan akan hal itu.

“Boong. Udah tua gausah banyak boong ya, Pak.”

“Darius.”

“Darius.”

Kala dan Septa berucap berbarengan. Septa jadi tahu apa yang akan jadi jawaban Kala. Lelucon kuno.

“Rumah ini rumah saya, sebagai tuan rumah hak saya untuk mau tidur di mana.”

Iya boss, siap boss. ucap Septa dalam hati.

“Sudah selesai. Silakan istirahat.” Kala menuju keluar kamar setelah selesai merapikan kamar. “Makasih, Bapak.”

Ucapan Septa kali ini serius. Tak ada nada bercanda yang datang dari suaranya. Ia benar-benar berterimakasih pada Kala sebab mau menampungnya. Ia sudah cukup capek harus bersinggah di mana lagi setelah hari-hari sebelumnya ia singgab di banyak rumah teman-temannya.

“Rumah ini sama pemiliknya sama. Ramah.” ucap Septa tersenyum.

“Selamat malam, Anak saya.”

©️ lyterasee