Satu bus

kyungsoonangis

Jihane keluar rumah hendak membeli makanan untuk dirinya dan Ibunya yang baru keluar kamar setelah tiga hari lamanya. Mengurung diri tanpa alasan yang jelas, tapi mungkin saja dia sedang merenungi kesalahannya. Pun kalau dia sadar.

Berjalan sendirian menyusuri jalanan yang sedang dihantam dinginnya malam hari seolah ikut merasakan suasana dingin di rumahnya juga. Bahkan setelah keluar kamar Ibunya itu tetap bungkam, tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya selain hanya raut wajah sembab yang dapat Jihane liat dari Ibunya.

Berjalan cukup lama sendirian, jalannya terhenti saat melihat sebuah tempat makan kaki lima yang bertuliskan seblak dibannernya. Ia berhenti sejenak dan terus memandangi tempat itu. Seblak adalah makanan kesukaannya dan itu mengingatkannya dengan ucapan Kala saat ia sedang putus asa.

“Setidaknya tetap hidup untuk makan makanan yang kamu suka.” Begitu katanya.

Setelah selesai dengan isi pikirannya yang dipenuhi oleh Kala, Jihane masuk ke tempat seblak itu dan memesan satu seblak untuk dirinya sendiri.

“Bu, seblaknya satu ya, cabenya yang banyak. Makasih, Bu.” Dalam kondisi seperti sekarang ini, cara satu-satunya untuk menghilangkan segala keberisikan di kepalanya itu hanya dengan memakan yang pedas-pedas. Dengan makan yang pedas-pedas, pikirannya hanya fokus untuk mencari sesuatu yang bisa menetralisir rasa pedas yang ia rasa.

Setelah seblak siap disantap, Jihane langsung memakannya meski makanan itu masih dalam suhu yang panas sekali. Malam ini panas itu seperti tidak ada rasanya. Satu demi satu sendok masuk ke dalam mulutnya, dan setiap satu sendok itu tak bisa melepaskannya dari pikiran tentang Kala. Mengapa semuanya terus berkaitan dengan orang itu.

Selesai dengan kegiatan memakan seblak di malam hari itu Jihane pergi ke satu tempat makan lagi, yaitu membeli makanan untuk Ibunya yang padahal sudah menyakitinya. Wah, anak baik sekali masih menyiapkan makan untuk Ibunya itu.

Setelah itu ia menuju ke halte dan menunggu bus datang. Lagi dan lagi laki-laki itu muncul dipikirannya. Ia bahkan sampai memukul kepalanya agar pikiran mengenai laki-laki itu tidak lagi muncul. Tapi nihil, ia tidak pernah bisa menghilangkan pikirannya tentang Kala. Laki-laki pertama yang berhasil mengambil alih pikirannya kurang dari setahun mereka berkenalan.

Masuk ke dalam bus, di dalam ternyata penuh, mau tidak mau Jihane harus berdiri sebab tidak ada lagi bangku tersisa. Posisinya berdiri cukup dekat dengan bagian depan bus tapi tidak terlalu dekat. Berdiri dengan tatapannya yang bisa dengan jelas melihat jalanan. Saat itu Jihane bahkan tidak menyadari bahwa Kala ada di belakangnya. Tepat di belakangnya.

Kala memang sudah sedari tadi bahkan sebelum Jihane menaiki bus ia sudah berada di bus. Awalnya di bus itu ia mendapat bangku untuk duduk, tapi saat bus berhenti untuk menunggu penumpang lain naik ia menyadari bahwa salah satu penumpang yang naik bus itu adalah Jihane Aruna. Langsung saja ia berdiri, ia hendak memanggil Jihane tapi niatnya ia urungkan saat Jihane terlihat sedang sibuk mencari tempat duduk.

Bahkan saat itu awalnya Kala ingin menawarkan bangkunya untuk Jihane duduki, tapi belum sempat ia menawarkan itu dalam posisinya berdiri saat menghadap belakang kursinya sudah ditempati orang lain. Dan ya ia juga harus berdiri sama seperti Jihane malam itu di bus.

Dalam posisinya berdiri di belakang Jihane, pandangan Kala hanya berfokus pada Jihane yang terlihat bagian belakangnya saja. Ia coba dekatkan dirinya dengan Jihane mencoba untuk menutupi badannya tanpa Jihane tahu. Jaraknya sudah sedekat itu, tapi Jihane tidak menyadari ada Kala di belakangnya yang terus mencoba menutupi bagian belakang tubuh Jihane agar tidak ada yang lihat sekalipun diri Kala sendiri. Kala palingkan wajahnya ke sebelah kanannya sambil satu tangan memegang pegangan bus dan satu laginya mengusap wajahnya saat tiba-tiba saja air matanya jatuh.

Sesak mulai muncul, sebab Kala berusaha menahan agar tangisnya tidak terdengar siapanpun. Menyadari bahwa dalam jarak sedekat ini ia belum berani untuk menyapa Jihane. Tapi saat itu juga Kala terasa lega sebab Jihane dalam pengawasannya.