Selagi bisa diobati, obati

Luna berlari secepat mungkin seperti ada yang mengejarnya di belakang setelah ia mendapati kabar dari Kala bahwa Jihane pingsan di bandara dan sudah dibawa ke rumah sakit tapi Kala justru pergi dan hanya meninggalkan pesan bahwa ia menitipkan Jihane padanya.

Setelah kegiatannya ke sana kemari mencari ruang rawat Jihane dengan dipenuhi rasa panik, akhirnya ia menemukan Jihane persis didepan matanya. Dengan posisi Luna sedang bertekuk lutut sebab kelelahan mencari Jihane ia menemukan keberadaan Jihane dan bisa melihat jelas dari pintu ruangannya yang terbuka cukup lebar. Luna kemudian berjalan ke arah ruangan itu dan berhenti di depan pintu. Di depan pintu itu ia menghembuskan napas lega karena akhirnya ia menemukan Jihane meski terlihat jelas di mata sahabatnya itu hanya ada tatapan kosong.

“Ji … Lo gapapa?” Luna mendekat ke arah ranjang Jihane lalu duduk di kursi yang ada di samping ranjang.

“Lun … Luna … Nyokap gue mana?”

Belum sempat Luna duduk di kursi yang terletak di samping rajang Jihane, ia sudah disuguhkan pertanyaan yang sangat sulit untuk ia jawab.

Demi mengalihkan pertanyaan Jihane, Luna berniat memberikan segelas air minum untuk Jihane minum.

“Ji … Minum dulu lo pasti belum minum, nih.”

Bukan diterima, gelas itu justru Jihane lempar. Gelagar suara gelas pecah mengisi ruangan. Luna yang menyaksikan hal itu sungguh terkejut, sebab ia tidak pernah melihat sahabatnya satu-satunya ini terlihat begitu rapuh.

“NYOKAP GUE MANA?!” Jihane berteriak lirih dengan napas yang terengah-engah.

“Ji ….”

Setelah mengirimi pesan kepada Luna mengenai kabar Jihane, Kala keluar dari ruangan Jihane dengan lemas, didalam lubuk hatinya ia tidak ingin meninggalkan Jihane pergi ke negeri Paman Sam itu dalam keadaan yang sehancur ini. Jihane sudah ditinggal pergi Ibunya, tidak mungkin Kala ikut jahat dan pergi meninggalkannya.

Dalam pikirannya yang tak rela meninggalkan Jihane, Kala sontak terkejut saat ia berjalan keluar ruang rawat Jihane dan menemukan wajah Chandra sudah ada tepat di depan wajahnya. Dengan tampang yang sedikit mengintimidasi, Kala seolah acuh dengan kehadiran Chandra saat itu dan terus berjalan lurus menuju pintu keluar rumah sakit.

“Jadi atau nggak?”

Chandra tetap berdiri di tempatnya meski sudah ditinggal pergi oleh Kala. Suara cukup ia tinggikan agar Kala bisa mendengar ucapannya. Tidak ada respons apa-apa dari Kala membuat Chandra ikut berjalan dan berusaha untuk menyamakan jalannya dengan Kala.

“Buat dapet jadwal fix pengobatan lo di sana, gue gak cuma modal nelpon doang ya, Kal. Lo harusnya paham perjuangan gue. Beliau bukan sembarang dokter.”

“Saya tahu. Terimakasih atas perjuangannya.”

Mendengar itu Chandra hanya bisa menghembuskan napas pasrah. Dalam perjalanan keluar rumah sakit sama sekali tidak ada obrolan diantara mereka. Mereka berdua berjalan dengan pikirannya masing-masing.

Sesampainya mereka di pintu keluar rumah sakit Chandra menghentikan langkahnya, ia berhenti untuk melihat Kala yang tetap berjalan dan berhenti saat hendak mencari taksi.

“Sulit banget keadaannya ya, Kal.” kata Chandra lirih. Bahkan saat keadaan itu bukan ia yang tapaki, ia tetap bisa merasakan perasaan campur aduk yang Kala rasakan saat ini.

Chandra akhirnya kembali berjalan menghampiri Kala yang sudah masuk ke taksi yang sudah Kala berhentikan itu.

“Mau ke mana?”

“Ayo.”

“Ke?” Paras wajah bingung itu terlihat sangat jelas Chandra tampilkan.

“Mau saya yang berangkat sendiri?” Ucapan Kala berhasil membuat rentetan gigi Chandra mengering akibat kesenangan. Ia benar-benar tak mengira bahwa pilihan ini yang tetap Kala pilih.

“Eh seriusan?” Chandra bertanya sembari ikut masuk ke dalam taksi. Yang ditanya hanya diam, pandangannya lurus ke depan.

Let’s go! Pak, ke bandara, ya. Tolong juga agak ngebut dikit kita ngejar pesawat sebentar lagi flight.” Chandra menepuk pelan bahu Sang Sopir saat hendak berbicara itu.

“Iya, Mas. Berangkat, ya.”

Di dalam taksi itu hanya ada keheningan. Sang Sopir sibuk menyetir, Kala sibuk dengan pikirannya, dan Chandra yang juga sibuk dengan tingkah tidak bisa diamnya itu.

“Pak, saya boleh, nggak?” Pada akhirnya tetap Chandra yang memecahkan keheningan saat itu.

“Boleh, Mas.”

“Gini, Pak, saya mau tanya kalo semisal Bapak sakit, semisal ya, Pak …”

“Iya, Mas, semisal.” Chandra terkekeh mendengar jawaban Sopir yang terdengar pasrah.

“Misalnya Bapak sakit kaki, nah itu Bapak bakal apain, Pak? Bapak diemin atau Bapak bawa ke rumah sakit buat diobatin?”

Sebelum Sang Sopir mengeluarkan jawaban akan pertanyaan yang Chandra beri, Chandra sedikit memajukan posisi duduknya agar lebih nyaman mendengar cerita Sang Sopir.

“Kalau sakit kakinya nggak terlalu sakit, biasanya saya oles minyak aja, Mas. Nanti juga sembuh.”

“Nah, Pak, berarti tetep ada usaha biar sembuh kan ya, Pak … Tapi kalo kasusnya sakit kaki Bapak parah gimana, Pak?” Pertanyaan Chandra jelas bukan sekedar basa-basi, ia ingin Kala sadar dan mendengar obrolan itu.

“Ya kalau sakit kakinya parah jelas saya bawa ke rumah sakit, Mas. Biar saya tahu sebenernya sakit kaki ini sebabnya apa. Khawatir kalau didiemin malah makin parah dan mengganggu aktivitas saya apalagi nyupir.”

“Betul-betul, Pak. Tapi nih ya, Pak, gimana tanggapan Bapak sama orang yang udah tau sakitnya parah tapi nggak mau diobatin Pak? Nggak mau dibawa ke rumah sakit gitu, Pak.” Chandra dengan semangat semakin menyindir Kala yang berada di sampingnya dengan pandangan Kala yang tetap fokus ke arah kaca mobil. Sudah pasti Chandra paham bahwa Kala tidak sekedar melihat jalanan melalui kaca, melainkan Kala seperti melihat Jihane sebab pikirannya dipenuhi akan hal Jihane Aruna.

Dalam pikiran Kala muncul berbagai pertanyaan seperti, “Bagaimana keadaan Jihane sekarang?” dan “Bagaimana perasaan Jihane saat Ia tinggalkan ke tempat yang jauh? Apakah akan kecewa? Apakah hubungan mereka akan benar-benar kandas?” Pertanyaan seperti tentu muncul dibenak Kala.

Kembali kepertanyaan Chandra kepada Sopir yang siap diberikan jawaban, Chandra sedikit menyenggol tangan Kala pelan agar fokus mendengarkan Sang Sopir yang sedang berbicara dan berhasil membuat Kala membenarkan posisi duduknya. Menghadapkan pandangannya ke jalanan yang ada di depannya, Kala mulai memperhatikan tiap kata yang keluar dari mulut Sang Sopir.

“Mas, itu mah nyari mati namanya. Selagi bisa diobatin kenapa nggak ke rumah sakit? Udah tau parah. Padahal, kalau diobatin dan dibawa ke rumah sakit kan nggak ada ruginya, justru banyak untungnya karena bisa kembali normal lagi. Kalau begitu kan jadi bisa kembali beraktivitas seperti biasa lagi.”

“Coba sekarang diganti posisinya semisal kita yang ada diposisi si rasa sakit ini, apa enak didiemin gitu? Kaya kita didiemin temen atau pacar aja, Mas. Udah pasti nggak enak. Sekarang gimana caranya kita bisa ngehargain si rasa sakit ini dengan cara diobatin dan dibawa ke rumah sakit, kalau mikirin diri sendiri aja mah namanya egois. Jangan jadi manusia kalau cuma mikirin diri sendiri.”

“TUUHHH, dengerin yaa …” Chandra melirikkan matanya ke arah Kala. Kala yang sedari tadi mendengar ucapan Sang Sopir jelas hatinya tersentuh. Ia pun jadi sadar kalau benar dirinya selama ini egois. Kala tipikal orang yang tidak berani untuk sekedar membunuh semut saja seolah menjadi sangat jahat karena membiarkan membunuh dirinya sendiri secara perlahan.

“Udah sampe, Mas.” Sang Sopir menghentikan obrolan saat sudah sampai di bandara. Chandra yang mendengar apa kata sopir itu lalu segera mengecek jam yang melingkar ditangannya, masih ada waktu sedikit lagi sebelum pesawat meninggalkan Chandra dan Kala.

“Tolong lo yang kasih ke sopir, gue tunggu di dalem.” Chandra memberikan uang untuk Kala berikan kepada sopir lalu ia membuka pintu taksi dan langsung berjalan meninggalkan Kala lebih dahulu masuk.

Tidak lama kemudian Kala ikut membuka pintu taksi dan keluar, lalu ia berhenti tepat di pintu taksi depan yang sejajar dengan sopir lalu memberikan uang tersebut kepada sopir. “Pak, maaf ini, terima kasih banyak.”

Sang Sopir yang memberikan atensi penuh kepada Kala lalu menerima uang tersebut dan memeriksanya sebentar, tapi saat ia periksa terdapat uang lebih dari tarif taksi. Melihat melalui kaca mobil Kala sudah berjalan tiga langkah namun segera sopir itu panggil kembali untuk mengembalikan uang lebih yang terlalu banyak itu.

“Mas, maaf ini kembaliannya. Mas kebanyakan ngasihnya.” Sang Sopir memberikan uang lebih itu ke Kala yang setelah dipanggil langsung berbalik badan dan melangkah mendekat ke sopir dan sedikit menundukkan kepalanya agar lebih sopan kepada sopir.

“Tidak apa, Pak, sebagai tip.”

“Wah, Mas, banyak banget tipnya. Makasih ya, Mas.” Kala bisa melihat dengan jelas rentetan gigi sopir yang ada di depan matanya tak kunjung hilang, tanda bahwa sopir itu sangat senang. Kala yang melihat itupun ikut tersenyum.

“Oh ya, Mas, saya mau ngasih tau aja walaupun bukan Mas yang sakit. Kalau sakit jangan didiemin ya Mas, langsung dibawa ke rumah sakit dan diobatin. Syukur-syukur kita masih bisa ngerasain sakit dan bisa diobatin, ada orang diluar sana yang udah nggak bisa ngerasain sakit eh nggak bisa diobatin juga karena nggak bisa sembuh.” Senyum yang tadi merekah pada Kala seolah langsung hilang diganti dengan matanya yang sudah berkaca-kaca saat mendengar ucapan sopir itu, ia seperti ditampar habis-habisan mendengar itu dan ia hanya bisa membalas dengan anggukan paham.

“Nama Bapak siapa?”

“Iman, Mas.”

“Pak Iman, terimakasih banyak.”

— naskahroman