Semangat!

Sejak tadi Jihane menunggu Kala di halte, rencana Kala ingin mengantar Jihane untuk melamar kerja di salah satu statuin tv yang cukup terkenal sepertinya benar. Tapi, sejak tadi pula Jihane belum melihat batang hidung Kala yang muncul dihadapan Jihane. Perihal halte, Jihanw dan Kala sudah sepakat, kemanapun mereka akan pergi, titik temunya di halte. Catat, halte dimanapun asal yang dekat rumah Jihane sebab Kala selalu khawatir jika tempatnya jauh dari lingkungan Jihane. Begitupun dengan bus, merekapun sudah bersepakat untuk kemana-mana dengan bus. Kata Kala lebih aman sebab banyak orang.

Sudah cukup lama Jihane mamatung di kursi halte menunggu Kala padahal sudah banyak bus yang melewati halte. “Jihane Aruna,” Suara itu membuat Jihane terkejut, sebab suara itu datang dari belakang tubuhnya.

“Maaf, menunggu lama, ya?” Kala yang tadinya berada di belakang Jihane segera merubah posisinya menuju samping Jihane.

“ISH, LO YA! Bikin kaget tau nggak, sih!” Jihane memukul tubuh Kala kesal.

“Pikir sendiri!” Pagi-pagi sudah datang drama dari seorang Jihane Aruna, nampaknya Jihane sudah tak perlu melamar kerja untuk menjadi news anchor. Sebab, acting marahnya saat ini bisa dibilang cukup mumpuni.

“Maaf ...,” Nampak jelas raut bersalah dari Kala.

“Nggak gue maafin kalo belum ketemu Mamah gue!” Jihane melipat tangannya di depan dada.

“Lain kali saja, ya. Takut jika kamu telat sampai kantornya.”

“Ish! Gue aja yang mau ngelamar santai-santai aja. Yaudah, kalo lo nggak mau, lo harus nyanyiin lagunya Bruno Mars!” Pinta Jihane sebagai ganti dari rencananya dengan Kala bertemu Mamahnya tak jadi.

“Lagunya seperti apa? Maaf, saya tidak tahu.” Kala tersenyum, wajahnya sama sekali tak terlihat bersalah kali ini, membuat Jihane geram. “Ish! lo tuh lahir tahun berapa, sih!”

“Seribu sembilan ratus sembilan puluh dua.” Kala menjawab. “Nggak usah dijawab ih! Siapa suruh jawab?!” Benar kata orang, wanita selalu benar tak pernah salah. Pun, jika salah tetap kembali pada kodratnya bahwa wanita tak pernah salah.

“Jihane Aruna, sudah, ya. Busnya sudah datang.” Kala mendrong pelan tubuh Jihane menyuruhnya untuk naik ke dalam bus yang baru saja datang. Wajah Jihane nampak masih kesal.

Sudah dalam bus, Jihane duduk di bangku bagian kanan pojok dekat kaca, sedangkan Kala justru duduk di seberangnya. Jihane melihat Kala justru sedang memainkan handphonenya semakin kesal. Kekesalannya tak membuat Kala peka hingga Jihane memukul kursi bus di sampingnya. Ya, saat itu baru Kala menyadari Jihane masih kesal. “SINI APA!”

Kala cukup terkejut, perlahan ia berpindah tempat duduk dan duduk di samping Jihane. Jihane tak melihat ke arah Kala, pandangannya terus menatap jalanan melaluo jendela.

Easy come, easy go, that's just how you live, oh.” Jihane yang sedang bersandar di kaca terbelalak saat mendengar Kala yang duduk di sampingnya ini menyanyikan lagu Bruno Mars. Penyanyi Favoritnya.

Jihane mengamati wajah Kala sambil bertanya, “Lo beneran tadi nyanyiin lagu Grenade? Sumpah? AKHH,” tanya Jihane antusias. Senyumnya kini mengembang jelas. Ceria sekali pikir Kala.

“Woo katanya nggak tau lagu Bruno Mars ... Boong aja, lo pasti fansnya juga, kan?” Jihane dengan pedenya menuduh Kala.

“Jihane Aruna, saya baru cari lagunya tadi ...” Senyum Jihane yang tadi terpancar seketika pudar. Malu sekali rasanya saat dugaanya salah. Ia langsung bersikap seperti tak terjadi apa-apa.

“Oh ya? Udah, ah, gue mau tidur. Kepagian kayanya gue, nih, masih ngantuk. Bangunin kalo udah sampe pake lagu Bruno Mars lagi tapi yang lain!” Kala yang melihat Jihane kembali bersandar di jendela mulai memejamkan mata tersenyum. “Tidur saja, nanti saya bangunkan jika sudah hampir sampai. Iya, dengan lagu Bruno Mars lainnya.”

Perjalanan cukup lama untuk sampai di tempat tujuan, Kala yang sedari tak tidur melihat ke arah Jihane yang tertidur pulas. Ia lihat kepala Jihane yang rasanya sakit jika terlalu lama berada diposisi bersandar seperti itu. Langsung saja, Kala memegang kepala Jihane perlahan-lahan agar Jihane tak terbangun lalu memindahkannya bersandar dibahunya. Ia sama sekali tidak apa-apa, ia tak memikirkan bahwa bahunya yang pasti akan pegal menahan kepala Jihane.

Kala mengambil airpodnya lalu menyalakan radio tapenya yang berputar lagu-lagu lawas kesukaannya. Kala tenang mendengarkab lagu-lagunya dari radio tape miliknya yang ia pegang, hingga radio tape yang ia pegang jatuh. Sakit kepalanya kambuh, ia tak pernah menduga bahwa penyakitnya ini kambuh di pagi hari seperti ini bahkan saat bersama Jihane yang sedang tidur bersandar dibahunya.

Sakit kepalanya semakin sakit, ia meremas kepalanya keras berharap sakitnya reda. Ia tahan sekali suara kesakitannya agar Jihane tak terbangun. Ingin sekali rasanya segera keluar dari bus tapi ia tak tega meninggalkan Jihane apalagi janjinya ia antarkan JIhane hingga sampai tujuan. Sakit tak bisa dikendalikan lagi, ia merogoh tas miliknya mencari obat peredanya agar tak kejang. Sayang, sepertinya ia kelupaan menaruh obatnya ke dalam tas.

Kala berhenti sebentar, mengambil kertas kecil beserta pulpennya dan menulis sesuatu di atas kertas kecil itu, selesai menulisnya Kala memegang tangan Jihane perlahan dengan gemetar. Ia tempelkan kertas kecil itu di telapak tangan Jihane agar saat Jihane bangun ia tak kaget. Kala bangun dari kursi busnya hendak keluar, tapi sakitnya makin-makin, ia berbalik menatap Jihane yang sedang tertidur. Pikirannya berperang antara meninggalkan Jihane sendiri di bus atau tidak. Dilihatnya terdapat bapak-bapak yang duduk di belakang tempat Jihane dan Kala duduk. Dengan nada gemetaran Kala berkata pada Bapak itu, “Pak ... Ma-af, sa-saya ti-tip wa-ni-ta yya-ng se-dang terti-dur, Pak ... To-long, sa-at su-dah ssam-sampai ge-dung di-sana ba-ngunkan de-ngann la-gu Bruu-no Mars ...” Kala menunjuk gedung yang berada tak jauh dari bus.

Kala berbicara dengan gemetaran sambil memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit. “Sebentar, Nak. Tapi itu kamu kenap-” Belum sempat Bapak melanjutkan bicaranya ia sudah di kagetkan dengan Kala yang melompat dari bus yang masih dalam posisi berjalan. Sudah sangat tak tertahan lagi sakitnya.

Bapak tak bergerak sesaat, hingga ia sadar bahwa sedikit lagi hampir sampai pada gedung yang Kala tunjuk tadi. Bapak berjalan menuju kursi Jihane tertidur. Ia bingung, tapi ia tetap menyanyikan lagu dari Bruno Mars yang setaunya saja. Jihane yang mendengar itu langsung terbangun. “UDAH SAMPE? SUMPAH?GUE-” Bicaranya berhenti saat dilihatnya dihadapannya ini bukan Kala melainkan orang lain. Ia merapikan rambutnya dan melihat terdapat kertas kecil di tangannya. Jihane membaca itu.

“Mba, maaf. Tapi, Masnya tadi kaya kesakit-”

“EH IYA, PAK. MAKASIH, PAK. SAYA DULUAN, YA.” Jalan Jihane terburu-buru keluar dari bus yang terhenti pas di depan gedung besar salah satu statiun tv nasional terkenal. Saat di interview, Jihane jadi tak fokus sebab pikirannya hanya ada pada Kala. Memikirkan apa alasan Kala meninggalkannya di bus dalam keadaan ia tertidur, berusaha ia hilangkan pikiran-pikiran negatif yang datang terus-menerus. Frustasi.

©️ lyterasee