Sesuatu yang baru kutahu

Dengan tenang Kala menunggu Jihane di depan rumahnya, dengan motor yang ia bawa. Sambil sesekali ia lihat ke atas ke arah balkon milik Jihane. Ia sudah berjanji malam itu untuk mengantar Jihane pertama kali kerja, khawatir Jihane lupa ia hendak memanggil Jihane dari bawah tapi suara notifikasi pesan yang datang dari Jihane mengalihkan perhatiannya dan tidak jadi memanggilnya. Kala tersenyum membacanya, bagaimana bisa Jihane dengan mudah mengeluarkan bahasa-bahasa seperti itu.

Melihat Jihane keluar dari rumah dan menghampirinya, Kala turun dari motornya lalu memberikan satu helm untuk Jihane. Ia sudah siapkan dua helm, satu untuknya dan satu untuk Jihane, semuanya sudah ia siapkan sempurna untuk Jihane yang baru masuk kerja. “Pakai helmnya.”

Alih-alih memakai helm itu ke kepalanya, Jihane justru hanya memegang helm itu karena ia berpikir jika memakai helm itu bisa membuat rambut yang sudah ia siapkan dengan rapi itu rusak. Kala tidak menyadari akan hal itu, ia justru langsung menaiki motornya dan diikuti Jihane juga menaikinya.

“Berangkat, ya.”

Dalam perjalanan hanya tercipta kesunyian diantara mereka, Kala yang fokus membawa motor dan Jihane yang terus menerus melihat ke kaca spion memeriksa apakah tetap rapi atau tidak rambutnya. Awalnya ia kaget sebab Kala justru membawa motor karena bisa saja sampai di sana riasan milik Jihane sudah hancur.

Kala ke arah kaca spion, ia menyadari Jihane tidak memakai helmnya, dengan pelan ia menyuruh Jihane untuk memakai helm. “Pakai helmnya.”

“Hah? Kenapa? Jangan ajak ngomong, gue budek kalo di motor.” Ditambah dengan suara-suara jalanan Jihane sedikit berteriak. Kala yang mendengar itu sedikit tertawa dan menyingkirkan motornya.

“Lho? Lho? Kenapa minggir? Motornya mogok?” Jihane panik bertanya pada Kala khawatir motornya terjadi sesuatu.

“Minggir dulu sebentar,” Kala turun dari motornya dan berdiri di hadapan Jihane lalu mengambil helmnya yang Jihane pegang lalu memakaikannya. “Helm ini dipakai bukan dipegang.”

“E-eh eh eh, tunggu dulu, ini bisa bikin rambut gue rusak …” Dengan sedikit lirih Jihane berkata.

Kala ingin menjawab tapi saat suara ambulance terdengar semakin dekat ke telinganya membuatnya ia mengurungkan niatnya untuk berbicara alih-alih melakukan gerakan hormat bagaikan pahlawan lewat yang membuat Jihane bingung.

“E-eh kenapa? E-eh?” Meskipun kebingungan menghampirinya ia tetap mengikuti Kala melakukan gerakan hormat.

Saat ambulance sudah melewati mereka Kala tetap masih dengan gerakan yang sama. “Ini belum selesai?” Jihane bertanya sambil melirik Kala sedikit. “Tunggu sampai suaranya tidak terdengar, baru selesai.”

Detik kemudian, Kala menurukan tangannya setelah melakukan gerakan hormat dan saat itu juga saat di mana Jihane akan banyak mengeluarkan pertanyaan untuk Kala. “Bertanyanya nanti saja, sekarang kita jalan lagi. Nanti telat.”

Sambil merapikan helmnya Jihane mengangguk paham dan naik ke atas motor. Mereka berjalan menuju gedung tempat Jihane kerja sama seperti tadi tanpa obrolan apalagi setelah Jihane bilang bahwa untuk jangan bicara saat di motor, memang benar seperti itu seharusnya.