siapa?
Kala memasuki kafe milik temannya itu, Sulthan dengan bergandeng tangan bersama Shakilla. Melihat keadaan sekitar, dihampirinya teman-teman yang sedang menjalani tugasnya masing-masing dalam mendesain kafe untuk acara ulang tahun salah satu pelanggan di kafe.
“Kal!” Teriak Talay yang lebih dulu menyadari keberadaan Kala Lalu teman-teman yang akhirnya menyadari keberadaan Kala menghampiri Kala.
“Lo katanya mau ke sini sama Jihane, Kal? Kok datengnya malah sama dia,” tanya Bhakti yang melihat keberadaan anak kecil disamping Kala yang mengandeng tangan Kala.
“Apa saya belum cerita? Ini anak saya.”
Tidak ada jawaban apapun setelah kata terakhir yang keluar dari mulut Kala selain reaksi kaget dari teman-teman Kala.
“Anak lagi?”
“Kebanyakan anak lo tapi nggak punya istri.”
Begitulah jawaban teman-temannya setelah berdiam cukup lama dengan reaksi kaget yang mereka alami akibat Kala.
“Gue istrinya.” Dari jauh, hadir Jihane yang berjalan mendekati mereka. Semua pasang mata melihat Jihane yang semakin dekat menuju ke tempat di mana mereka berkumpul.
Kala yang melihat Jihane, ia bertanya, “Tidak apa?”
Bagaimana bisa manusia satu ini bertanya “tidak apa?” setelah drama-drama yang baru saja mereka alami beberapa jam sebelumnya itu. Tapi dengan senyum riangnya Jihane menjawab, “Nggak papa, untung lo yang begini. Kalo orang lain udah mati di tangan gue.”
Kala menggelengkan kepala mendengar jawaban Jihane, wanita satu ini memang selalu punya jawaban anti mainstream khasnya.
Setelah itu, Sulthan selaku pemilik resmi kafe Meja Bundar ini memberikan arahan untuk segera mengangkat barang-barang lain yang belum masuk ke dalam kafe lalu menggeserkan meja-meja yang posisinya masih tak beraturan.
“Killa, Ayah bantu-bantu dulu ya, Killa duduk disini dulu sembari menunggu Kak Anne. Paham?” Kala berbicara dengan sedikit menggerakan tangannya berharap Killa mengerti. Ia memang belum terlalu bisa berbahasa isyarat, ia masih terus berusaha untuk mengingat setiap gerakan tangan yang digunakan guna berbahasa isyarat. Tapi daya ingatnya semakin hari semakin memburuk, ia perlu berulang kali mengingat-ingatnya agar menempel di kepala. Semoga gerakan yang ia beri tadi sedikit membuat Killa paham.
***
Jihane mengangkat kardus besar sendirian, Kala yang melihat itu menghampiri Jihane hendak membantu, “Saya bantu,” katanya sambil ikut mengangkat kardus besar itu bersama Jihane.
Sudah hendak sampai ke tempat di mana kardus besar itu ingin diletakkan, datang Chandra yang mengambil alih tempat Kala mengangkat kardus besar itu bersama jihane, “Gue aja yang angkat.”
Kala yang melihat itu tentu kaget dan rasanya ingin marah. Chandra tanpa basa-basinya menyingkirkan posisi Kala agar ia saja yang mengangkat kardus besar itu. Bukan, Kala bukan ingin marah sebab Chandra mengambil alih apa yang menjadi miliknya untuk membantu Jihane tapi ia ingin marah karena ia tahu Chandra pasti tak mau jika dirinya harus mengangkat yang berat-berat. Ia sungguh risih dengan perlakuan Chandra yang selalu seperti ini.
Berdiam di tempat sambil melihat Chandra dan Jihane yang semakin menjauh membawa kardus besar itu, bahunya ditepuk pelan. Mas Umin. “Istirahat aja dulu, Kal. Nanti lanjut lagi.”
“Iya, Mas. Makasih. Mas juga istirahat.”
“Pasti, Kal. Mas juga istirahat. Oh ya, udah ketemu Khaisar?”
“Belum, saya harap tidak perlu bertemu.”
“Nggak boleh gitu, Kal. Mas ke dapur dulu ya.” Mas Umin kembali menepuk bahu Kala pelan pertanda Mas Umin hendak pergi meninggalkan Kala.
Kala melihat Jihane yang duduk di salah satu kursi sambil mengatur napasnya, ia hampiri Jihane sambil membawa air minum, “Minum.” Kala berikan air mineral itu pada Jihane yang habis mengangkat barang-barang berat.
“Maaf ya, saya tidak bantu sampai selesai.”
“Nggak papa yaelah, santai.”
“Saya ke sana dulu ya?”
“Eh? yaudah.”
Kala berjalan menuju tempat Chandra berdiri di pojok kafe. Tanpa basa-basi ia langsung menanyakan apa yang sedang Chandra lakukan tadi.
“Kenapa seperti itu?”
“Apa? Lo emang nggak boleh angkat yang berat-berat. Makanya gue yang angkat.”
“Chandra, saya tidak perlu diperlakukan seperti itu. Saya tidak selemah itu hanya untuk mengangkat kardus yang beratnya tidak seberapa itu.” Mata Kala menuju ke arah kardus besar yang tadi ia bawa dengan Jihane.
“Kal, denger ya, kalo dokter lo bukan gue, jangankan angkat kardus itu, untuk bangun dari ranjang aja lo nggak boleh. Tapi karena gue dokter lo aja nih gue begini. Perlakuan gue ini gak seposesif perlakukan dokter lain.”
“Oke, saya minta maaf jika perkataan saya menyinggung kamu. Tapi saya berhak memilih, dan tidak diperlakukan seperti itu juga tidak dirawat adalah pilihan saya. Tolong hargai.”
“Oh, sekarang main harga-menghargai? Gue juga berhak memilih, dan nggak kasih tau mereka-mereka itu tentang penyakit lo pilihan gue. Jadi tolong hargai gue juga sebagai dokter dan ikutin apa kata gue.” Chandra menunjukkan teman-teman Kala yang sedang istirahat sambil berbincang. Ia tunjuk Jihane yang sedang menghampiri Anne dan Shakilla dan tak lupa, ia juga menunjuk ke arah Septa yang sedang bermain handphone sendirian di ujung sana.
Pembicaraan mereka berakhir disitu, dipotong dengan Sulthan yang memberikan arahan berkumpul dan memberitahu untuk kembali memulai pekerjaan lagi. “Than, yang ulang tahun siapa?” Tiba-tiba saja Kala bertanya setelah Sulthan memberikan arahan.
“Salah satu pelanggan disini, tapi dia nggak bakal dateng.” Yang diucapkan Sulthan barusan mengambil atensi teman-teman semua.
“Jadi kita disini ngerayain ultah tapi yang ultah nggak ada gitu? capek-capekin amat.” Itu suara Khaisar yang langsung disambar pukulan bahu yang cukup kencang oleh Bhakti, “Protes mulu lo!”
Talay mendekat ke arah telinga Bhakti berbisik, “Tapi emang aneh juga, Ti. Buang-buang uang dia aja, terus juga tenaga gue jadi terkuras,”
“Bacot lo ah, digaji aja masih komentar.” Lain hal dengan Talay yang berbisik, Bhakti justru berteriak yang membuat teman-teman yang lain tertawa melihat Bhakti yang kesal.
“Yaudah, Than, saya bantu-bantu bagian dapur ya. Saya bisa masak.” Kala hendak berjalan ke arah dapur tapi tiba-tiba dirinya dihadang oleh Chandra dan Septa bersamaan.
“Nggak boleh, gue aja.” ucap Chandra.
“Iya, nggak boleh ngapain si lo nyape-nyapein aja. Lo mah bantuinnya suka nggak tanggung-tanggung.” Septa ikut bicara.
Jihane yang melihat itu menggeleng kepala dan meletakkan kedua tangannya di pinggang, “Eh! Kok jadi lo berdua yang posesif, kan seharusnya gue.” Jihane berteriak cukup kencang.
Chandra yang mendengar itu langsung menyambar, “Lah, emang lo siapa Kala? Lo bukan siapa-siapa.”
Teman-teman yang lain terkejut mendengar tanggapan Chandra begitupula Kala yang terlihat kecewa dengan balasan Chandra. Dan Jihane pun yang mendengar tanggapan Chandra seketika langsung terdiam. Ia berpikir, benar juga ya, dia ini bukan siapa-siapanya Kala. Ada hak apa dia ngomong gitu tadi?
“Oh iya ya, bener juga. Yaudah gue lanjut angkat barang yang lain lagi ya.” Jihane langsung pergi meninggalkan teman-teman yang lainnya dengan perasaan tak enak. Dalam hatinya rasanya sesak saat dapat balasan perkataan seperti itu. Tapi disaat bersamaan juga ia jadi sadar bahwa memang ia tak punya hak apa-apa akan hal itu.
Hubungan yang Jihane jalani bersama Kala adalah hubungan tanpa status kejelasan. Hubungan yang mereka jalani hanya mengikuti alurnya saja.
Kala sudah coba panggil Jihane berkali-kali tapi Jihane tak gubris sama sekali. Jihane terus tak berhenti mengangkat barang hingga Kala menghampiri pun. Meski tak digubris panggilan Kala oleh Jihane, Kala tetap terus mengikuti ke mana Jihane pergi. Sesekali ia juga membantu Jihane mengangkat barang walaupun akhirnya tetap tangannya akan disingkirkan oleh Jihane.
“Maaf, maafkan ucapan Chandra tadi.”
“Ngapain minta maaf? Nggak ada yang salah, gue yang salah.”
“Jihane Aruna, jangan seperti ini.”
“Udeh ya, Kak. Mending lo duduk aja istirahat kayanya emang lo nggak boleh capek nggak sih? Soalnya dokter Chandra sampe ngelarang gitu.” Kala yang mendengar itu seketika tubuhnya kaku, takut sekali ia jika Jihane menyadari bahwa di dirinya sebenarnya memang ada apa-apa.
©️ lyterasee.
