Sudah terlambat.
Sonia kini berada di toko furniture, ia membeli beberapa barang yang rasanya masih kurang mengisi rumah barunya dengan Jihane anaknya. Setelah perceraiannya dengan mantan suami sekaligus ayah dari Jihane dan Jidane yakni Januar hidupnya lebih tenang. Tak ada lagi rasa cemas yang datang, tak ada lagi rasa takut yang menghampirinya tiap Januar berada di rumah. Tiap malam saat masih bersama, Januar selalu datang dalam keadaan mabuk, ditambah dengan ocehannya tentang berbagai hal akibat minuman yang memabukkan itu.
Ia mengerti alasan Januar bisa menjadi seperti itu karena Jidane, anak laki-laki satu-satunya di keluarganya itu meninggal. Selain Jidane yang meninggalkan Sonia, Januar, dan Jihane ke tempat yang lebih baik, Jidane juga meninggalkan luka mendalam untuk keluarga terutama Januar. Setelah kepergian Jidane Januar mulai berubah, wajahnya selalu menampakkan wajah frustasi akan hal yang menghampirinya.
Sonia selesai memilih-milih barang dan langsung menuju kasir untuk membayarnya. Ia membeli sepasang kursi kecil untuk mengisi ruang tamunya. Ia berbicang-bincang sedikit dengan pihak toko membicarakan proses pick up kursi ke rumahnya. Setelah selesai, ia bergegas keluar toko yang cukup besar dan terkenal ini. Berjalan menyusuri jalanan yang ramai disambut pejalan kaki lainnya.
Ditengah perjalanan langkahnya tertahan, pasalnya saat berjalan ia seperti familiar dengan wajah laki-laki yang baru saja melewatinya. Sonia membalikkan badannya guna melihat siapa laki-laki itu. Benar saja, laki-laki itu juga membalikkan badannya membuat keduanya saat ini berhadapan.
Hening. Kedua masih sama-sama mencerna siapa yang mereka lihat dihadapan mereka saat ini. Laki-laki itu tersenyum, tampak sekali senyumannya seperti melepas rindu tak lama bertemu, lama sekali. Laki-laki itu melangkahkan kakinya maju satu langkah menuju Sonia. “Sonia ... Lama tak bertemu ...” Lirih laki-laki itu, matanya mulai berkaca-kaca.
“Mas Pram ... Selamat atas pernikahannya ...”
Mendengar itu, air mata laki-laki yang diketahui bernama Pram itu tumpah. “Sudah terlambat, Sonia ...”
“Kabar Mas bagaimana? Istri Mas? Anak Mas? Ah, maaf terlalu banyak tanya.” Sonia jelas berusaha untuk mentralkan suaranya agar tak terlihat gugup. Tiga puluh tahun lalu di danau tempat terakhir kali mereka bertemu membuat mereka canggung.
“Kabarmu bagaimana? Sudah menikah?” Pram balik bertanya.
“Sudah, bahkan sudah selesai proses cerai.” Gumam Sonia pelan.
“Sonia ... Maaf,” lirih Pram.
Sonia jelas tertawa mendengarnya, setelah meninggalkan Sonia dengan alasan pendidikan di negeri orang melanjutkan kuliah kedokterannya lalu tak lama setelah itu Sonia mendapat kabar bahwa Pram akan segera melangsungkan pernikahan. Bukan dengannya. Bahka, Sonia mendapat kabar itupun dari temannya. Apakah pantas kata maaf itu keluar?
“Sekarang saya yang bicara bahwa itu juga sudah terlambat.”
Pram mengajak Sonia untuk duduk di salah satu kursi yang tersedia di dekat mereka. Menjelaskan tentang apa yang terjadi selama mereka tak bersama yang mereka masing-masing sama-sama tak tahu sebelumnya, Dengan tangisan penyesalan juga tangis keterlambatan.
©️ lyterasee
