Terluka dan tak berdaya
Sudah teramat lama Chandra berdiam di tempatnya. Menyaksikan temannya itu yang sedang terbaring lemah merasakan sakit yang tak terhingga. Fokusnya hanya jatuh kepada Kala. Ia sangat takut bahwa Kala akan tertidur semakin lama lagi. Pemeriksaan setelah Kala pingsan malam itu di hadapannya itu memberikan hasil bahwa 50% dari penglihatan yang Kala punya tidak berfungsi lagi. Bahkan Kala yang terbaring lemah itu sempat kejang yang membuat Chandra khawatir hebat.
Ditambah dengan pesan-pesan yang Jihane kirim padanya membuat ia berkata pada Kala yang ia yakini mendengar ucapannya meski matanya terpejam.
“Kal ... Perlu dibales atau nggak pesannya?”
Tidak ada jawaban. Chandra mengetahui itu, tapi hal itu rasanya perlu Kala tahu. Chandra memandangi ponselnya yang sedari tadi menampilkan pesan-pesan dari banyak orang. Septa, Meja Bundar, dan Jihane. Jihane menelponnya. Segera ia rapikan bajunya dan mengatur napasnya. Tarik buang ... lalu ia angkat telepon itu begitu menjauh dari ranjang Kala terbaring.
“Halo ...?”
“Chandra ... ini gue, Jihane.” Terdengar jelas oleh Chandra bahwa Jihane di sana sedang khawatir dengan lirihan tiap kata yang keluar dari mulutnya.
“Halo ... Gue tau.” Kaki Chandra tidak bisa diam mengartikan ia terus berpikir harus berkata apa selanjutnya oleh Jihane jika ditanya mengenai Kala.
“Ada masalah sama Kala? Kenapa dia nggak jawab chat gue? Dia juga nggak jawab teleponnya. Udah tiga hari, Chan ...”
Pertanyaan bertubi-tubi datang menghampiri Chandra. Mau tidak mau saat ini juga Chandra harus melakukan aksinya berbohong.
“Dia nggak bisa bisa jawab teleponnya sekarang. Dia lagi sibuk ngurus perawatan Shakilla. Penting banget, Ji ...” Chandra berkata sambil pandangannya menuju ranjang Kala. Memerhatikan tubuh lemas Kala yang tak berdaya dengan matanya yang terpejam juga suara-suara alat yang terus berbunyi.

“Sampai kapan?” Jihane lega mendengar Chandra berkata begitu. Berarti Kala sedang tidak apa-apa saat ini. Ia tidak sakit atau sedang ada masalah. Ia hanya fokus mengurus perawatan Shakilla anaknya.
“Beberapa hari ini mungkin dia nggak akan pegang hp.”
“Oke. Tolong bilang ke dia ya kalo gue nelpon dia.”
“Tolong juga bilang buat telpon gue balik.”
“Oke.”
“Makasih, Chan ...”
Jihane yang saat ini berdiri di depan rumah Kala terus menunggunya menurunkan badannya berjongkok. Lega rasanya saat ia menelpon Chandra dan Chandra mau mengangkatnya. Tapi, ia lupa sesuatu. Ia lupa untuk bertanya Dimana Kala sekarang.
Setelah mengangkat telpon dari Jihane, Chandra kembali mendekati ranjang Kala.
“Kal ... Lo nggak perlu khawatirin gimana keadaan Jihane sekarang. Dia baik-baik aja. Dia barusan telpon gue, dia minta lo untuk telpon dia balik. Fokus sembuh ya, Kal ...”
“Lo harus cepet bangun biar bisa telpon Jihane balik ...” ucap Chandra sambil menepuk pelan bahu Kala yang masih dalam keadaan terpejam. Terdengar lirihan napas lega dari Chandra.