Tragedi

Sebelumnya, Septa tak pernah menginginkan untuk menginjakkan kaki sucinya di rumahnya. Iya, rumahnya sendiri. Semenjak kematian Ibunya dan perselingkuhan Ayahnya yang terkuak ia tak pernah kembali ke rumah ini. Rumah yang ia rasakan sekarang bukan lagi rumah melainkan neraka. Bagaimana tidak? di dalam rumahnya ini hadir seorang jalang yang tanpa dosa hidup dan menghancurkan keluarganya.
“Mana? Ayahmu itu mana? Berani-beraninya dia.” Laki-laki yang sedang duduk di sofa ruang tamu itu tetap menunggu kehadiran Kala yang tak kunjung datang. Dengan menahan amarah laki-laki itu bersila. Septa yang sedari tadi berdiri tak selera untuk duduk, ia juga menunggu kedatangan Kala.
Ketukkan pintu terdengar, membuat manusia-manusia yang berada di dalam rumah kebingungan. Di rumah ini sudah disediakan bell, tapi mengapa ada tamu yang masih mengetuk pintu. Septa tahu siapa yang mengetuk pintu itu, dengan gerakan cepat ia menuju pintu depan untuk membukakan pintu.
“Selamat pagi … ” Kala menunduk setelah dibukakan pintu oleh Septa, sedangkan Septa dengan gerakan cepat menarik Kala untuk segera masuk. “Udah, ah, cepetan!”
Septa membawa Kala ke hadapan Ayahnya yang sedang bersantai duduk. Kala yang berhadapan dengan Ayah Septa berniat baik untuk bersalaman, tapi tak kunjung dapat balasan dari Ayah Septa. Septa yang melihat itu geram.
Ngapain pake salaman, sih. Dia nggak perlu dihormatin.
“Lansung saja,” Tak membalas jabatan tangan Kala, Ayah Septa berdiri. “Septa, ini Ayah gadungan kamu?” Tangan Septa mengepal, sangat geram dengan kata-kata yang Ayahnya sendiri keluarkan.
“Saya bisa jelaskan … ” Tenang sekali jawaban Kala. Ia sangat tahu bahwa diposisi ini, tak bisa masalah diselesaikan dengan amarah.
“Saya hanya membantu Septa saat itu, tidak lebih. Saya meminta maaf jika apa yang saya lakukan melukai hati anda sebagai orang tua Septa.”
“Oh, ya harus. Kamu memang harus minta maaf sama saya.”
“Ngapain maaf, sih, Kal!” Septa sudah tak bisa menahan amarahnya lagi, jawaban Ayahnya sama sekali tak menghargai Kala sebagai lawan bicaranya.
“Sebentar, ya, Septa. Saya akan selesaikan. Pak, saya harus apa agar anda tidak memarahi Septa?” Kebaikan Kala terkadang memang tak mengenal tempat dan lembutnya terkadang juga tak tahu diri.
“Udah, lah. Ribet, ayo gue anter pulang aja. Nggak jelas banget.” Septa menarik tangan Kala. “Septa stop!”
Septa dan Ayahnya sama-sama dibentengi amarah. Septa yang sudah tak kuat dengan ketidakjelasan ini menginginkan pergi dari tempat ini secepatnya. Sedangkan Ayahnya, ia menginginkan masalah ini dibicarakan lebih lanjut. Tapi bukan hanya dibicarakan, Septa tahu itu. Kala bisa saja dimaki-maki jika terus-menerus berargumen dengan Ayahnya.
“Apalagi? Papah nggak jelas dari tadi juga omongannya. Apa yang mau diomongin lagi. Septa pergi.”
“Tidak sopan!” Septa yang membawa Kala menuju keluar langkahnya terhenti mendengar ucapan Ayahnya. Geram sekali rasanya.
“Bilang apa tadi? Nggak sopan? Apa bedanya sama Papah yang nggak sopan juga nggak ngehargain Ayah Septa?!”
“Saya yang orang tua kamu, bukan dia!” Nada bicara Ayah Septa meninggi.
“Orang tua Septa udah pergi sejak Mamah pergi!”
“SEPTA!” Ayah Septa menarik Septa lalu menamparnya keras. Kala kaget, dengan cepat ia mencoba meleraikan. “Sudah, sudah … ”
“Urusin aja sana jalang lo yang nggak tau diri itu! Nggak usah ikut-ikut campur urusan gue! Gue bukan anak lo lagi. Sekarang!” Septa menarik keras dan cepat tangan Kala serta buru-buru melangkah keluar dari rumahnya.
“Pergi sana! Jauh-jauh! Kurang ajar!”
[ 11 Centimeters ]
Septa dan Kala berjalan cukup jauh sejak pergi dari rumah Septa. Septa tak bicara apapun selama perjalanan itu, Kala menghentikan. “Sudah, berhenti, Septa. Mau jalan sejauh mana lagi?”
Kala menurunkan badan Septa, mengajaknya untuk duduk istirahat meski sebentar. “Saya minta maaf,” ucap Kala lirih sambil menatap Septa.
“Ngapain minta maaf, sih. Lo, tuh, dari tadi minta maaf mulu, ya!” protes Septa yang rasanya sudah kenyang kata maaf yang didapatnya dari Kala.
“Saya yang mulai. Maaf sudah buat Ayahmu merasa tak dihargai.”
“Dia pantes dapetin itu. Nggak usah minta maaf.”
Suasana menjadi sunyi, Septa tetap diam tanpa bersuara dengan kepalanya yang menunduk. Kala yang melihat itu menepuk pelan punggung Septa, “Septa, malam ini kamu boleh menginap di rumah saya.”
Septa kaget mendengar itu, ia langsung menatap wajah Kala, ekspresi wajahnya seperti mempertanyakan kebenaran akan ucapan Kala barusan. “Beneran?”
“Benar, lagipula saya hanya tinggal berdua. Tidak apa.”
“Jangan lelah, ya. Harus tetap hidup. Tuhan sedang uji kesabaranmu.” Septa kembali menatap Kala, kali ini tatapannya mengisyaratkan kesedihan.
“Hidup tanpa orang tua juga tetap bisa. Hanya perlu pembiasaan saja, saya juga seperti itu dahulu.”
“Lo?–” Septa menunjuk Kala. “Saya bahkan hidup tanpa keduanya. Tanpa Ibu, tanpa Ayah. Tapi saya tetap hidup, jadi kamu juga harus tetap hidup.”
Buliran mata baru saja tumpah: berasal dari Septa yang merasa hatinya tersentuh mendengar ucapan Kala. Langsung saja ia segera hapus sebelum Kala melihatnya, gengsi dalam dirinya tidak akan pernah hilang. Ingin sekali Septa mengeluarkan kata-kata semangat juga untuk seseorang yang duduk disampingnya ini, tapi kata-kata itu sangat keluh untuk dikeluarkan.
“Jalan lagi, ayo!” Ajak Kala kembali melanjutkan perjalanannya, mereka tak membawa kendaraan sebab Septa menarik Kala keras dan berjalan tanpa henti. Tapi Kala tak pernah protes akan hal itu. Tak ada kata-kata bantahan untuk mengikuti Septa yang sedang dalam amarah.
“Selama apapun juga saya izinkan kamu. Anggap rumah saya nanti rumah kamu.”
©️ lyterasee