Upacara Kepulangan

< tw // death

Kala menunggu Jihane di depan rumah Umin. Dirinya ditemani lamunan tentang Ibu. Secepat itu Ibu pergi. Ia bahkan belum berani untuk memasuki rumah Umin dan melihat sekujur tubuh Ibu sudah kaku. Ibu berperan penting dalam hidupnya, ia yang selalu memperhatikan Kala seperti membuatkannya bekal sarapan tiap pagi, ia yang selalu lebih mengutamakan Kala daripada Umin anaknya sendiri. Ibu bagaikan Ibu kandung Kala, seorang wanita hebat yang mengkover peran Ibu dalam hidupnya.

Lamunan Kala buyar saat didengarnya seseorang memanggilnya. Itu suara Jihane. Kala melihat ke sekelilingnya dan melihat Jihane di arah samping dalam jarak cukup jauh sambil melambaikan tangan.

“Kak … ” Kala cukup terkejut dengan pakaian yang Jihane pakai, tapi ia sama sekali tak mengeluarkan pertanyaan apapun saat Jihane mendekat ke arahnya.

Jalan Jihane terhenti sebelum mendekat ke arah Kala di depannya. Ia melihat bendara kuning di dekat Kala. Dirinya sungguh terkejut, langsung saja ia mendekat ke arah Kala sambil memegangi baju yang ia pakai. Kemeja kotak-kotak merah muda dengan kaos putih didalamnya ditemani celana joger. “Kak, gue nggak salah kostum, kan?”

Tampak sekali wajah Jihane panik, ditambah dengan Kala yang sama sekali tak menjawab pertanyaanya justru mengalihkannya pada ucapan lain. “Ayo, masuk saja.”

“Kakkk.” Nada Jihane cukup tinggi Tampak dengan jelas wajah kesalnya.

“Tidak apa, Jihane Aruna.”

“Gapapa? Lo bilang gapapa? liat! liat itu disamping lo bendera apa?!” Jihane sedikit berteriak sambil menunjuk bendera yang ada di dekat Kala. Malu sekali dirinya datang dengan pakaian seperti ini, terkesan tidak sopan.

“Jihane Aruna, saat ini bukan kamu fokus utamanya. Jangan khawatir, ada saya.”

“Gue nggak mau masuk, mau pulang aja!” Jihane memalingkan wajahnya, ia menyembunyikan dirinya yang menangis. Ia sama sekali tak mau dilihat oleh Kala bahwa dirinya saat ini sedang menangis. Tidak ada yang pernah tahu perasaan bagaimana malu dirinya dilihat orang-orang mendatangi rumah duka dengan pakaian tidak sopan seperti ini.

“Jihane Aruna, tidak apa. Ayo masuk,” Kata Kala lembut.

Sambil berjalan memasuki rumah Umin, Kala berkata, “Maaf.” Sambil melihat wajah Jihane yang tampak sekali sedang menahan tangis. Saat ini Jihane benci dirinya yang selalu tak bisa mengontrol perasaan jika berhadapan dengan Kala. Menyebalkan.

Kala melihat Umin, memanggilnya lalu memeluknya erat. “Mas … Saya turut berduka cita … ”

Umin berusaha keras menahan tangisnya di depan Kala, ia selalu mencoba untuk tegar dihadapan Kala. Umin tersenyum hambar. “Makasih, Kal.”

Umin melepaskan pelukannya pada Kala. “Sebentar, ya, Kal.” Kala bingung, Umin bergerak menuju ke arah dapur. Kembali lagi dihadapannya dengan membawa sebungkus bekal.

“Ini, Kal, buat kamu dari Ibu.” Umin memberikan bekal berisi sarapan yang dibuat oleh Ibunya pagi tadi. Kala yang mendengar itu tak kuat menahan tangisnya.

“Oh ya, tadi pagi sebenernya Ibu mau nganterin sendiri langsung ke rumah kamu, kangen katanya. Tapi tuhan berkata lain, ya.”

“Mas … Maaf … Saya sempat menolak sarapan dari Ibu.” Kala mengambil bekal dari tangan Umin dengan gemetaran.

“Nggak, ngapain minta maaf. Mas yang minta maaf karena Ibu nggak bisa kasih sarapan tiap pagi lagi.”

Jihane menyaksikan momen menyentuh itu langsung di depan matanya. Ia makin tak kuat saat melihat Kala menangis, ingin sekali meredakan tangisnya sebab ia tak pernah melihat Kala menangis. Tapi rasa itu terhalangi gengsi juga amarahnya pada Kala sebelum kejadian ini.

[11CENTIMETERS]

Kala dan Jihane memberikan doa terbaik mereka dihadapan Ibu. Disusul dengan Kala yang mengelus-elus tangan Ibu lembut dengan memberikan sedikit kata-kata terimakasih untuk Ibu. Setelah itu, proses pemakaman akan segera dilakukan. Kala yang mulai berdiri disusul Jihane yang juga ikut berdiri.

“Jihane Aruna, saya ingin makamkan Ibu. Mau ikut? Atau mau disini?” Tanya Kala sambil merapikan belakang bajunya.

Tak ada jawaban keluar dari mulut Jihane, sudah bisa dipastikan Jihane masih marah. Kala hanya menganggukan kepalanya lalu berkata, “Ya sudah, saya makamkan Ibu dulu, ya. Kamu tunggu disini. Istirahat.”

Kembali tak ada jawaban, Kala meninggalkan Jihane yang kembali duduk di teras lalu menuju kawan-kawannya.

“Ayo.” Ajak Kala pada kawan-kawannya yang sedang berkumpul.

Selesai pemakaman, Kala dan kawan-kawannya kembali ke rumah Umin. Bhakti dan Talay duduk di kursi depan rumah Umin, Sulthan dan Sena yang masuk ke dalam rumah untuk sedikit mengambil cemilan untuk menghilangkan lapar, Umin yang juga duduk di kursi ditemani lamunannya, dan Septa serta Chandra yang mengikuti Kala di belakang.

Septa yang melihat Kala terus-menerus celingak-celinguk memberanikan diri bertanya, “Cari apaan, sih, lo?”

Chandra yang mendengar itu langsung menoleh pada Kala. “Cari siapa, Kal?”

“Tadi saya bersama Jihane Aruna, saya ke dalam dulu, ya.” Kala meninggalkan Septa dan Chandra yang masih berdiri.

“Begitu, tuh, kalo lagi jatuh cinta.” Sarkas Chandra pada Septa melihat tubuh Kala yang semakin tak terlihat.

Kala mencari-cari Jihane dj dalam rumah Umin, ia menuju tempat dimana Jihane duduk terakhir kali tapi tak menemukan sosok Jihane terlihat. Ia lalu keluar rumah lagi dan bertanya pada Bhakti juga Talay. “Lihat Jihane Aruna?”

Bhakti dan Talay berdiri saat ditanya oleh Kala. “Lho, bukannya tadi di dalem?” Talay justru balik bertanya.

“Dia nanya, lo ngapain nanya juga, somplak.” Bhakti menoyor kepala Talay pelan.

“Saya sudah cari di dalam, tapi tidak ada.”

Umin yang sedang duduk lalu berdiri sedikit berterik pada Kala. “Pulang duluan kali, Kal. Capek, mungkin.”

“Capek ngapain? emang dia ikut ngubur?” Talay dengan polosnya bertanya.

“Tanya rumput aja sono, lo.” Bhakti yang sudah tidak kuat meninggalkan Talay dan Kala.

Kala yang mendengar apa kata Umin segera mengirim pesan pada Jihane. Kala berpikir bahwa Jihane benar-benar sangat marah padanya melebihi marahnya tempo hari.

©️ lyterasee