Jihane Aruna, saya membutuhkanmu …

Pagi ini Kala dan Chandra berniat untuk berjalan-jalan sebelum mendekati hari dimana Kala akan melakukan operasi pengangkatan tumor. Jalan-jalan ini dalam rangka untuk membuat Kala rileks, tapi tetap saja jalan-jalan yang akan mereka lakukan mengelilingi Negeri Paman Sam ini tidak boleh berlebihan khawatir terjadi hak yang tidak diinginkan sebab Kala harus tetap menjaga kondisi tubuhnya untuk tetap fit sebelum melakukan operasi.
“Kal, naik bianglala itu, yuk?” Chandra menunjuk bianglala di sana yang terus berputar dan mengajak Kala sambil menarik tangannya pelan, namun tarikan tangan itu Kala tepis pelan.
“Saya takut ketinggian.” ucap Kala lalu matanya melihat ke arah yang lain.
“Oh iya lupa, terus mau nyobain permainan apa? Masa kita cuma jalan-jalan yang bener-bener jalan kaki doang.” Chandra mengeluarkan ekspresi cemberut andalannya.
“Saya mau coba itu …” Kala menunjuk ke sebuah tempat photobooth yang jaraknya tidak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini.
Chandra mengikuti arah tangan Kala menunjuk, ia dapat melihat bahwa arah tunjuk Kala adalah photobooth yang terlihat sepi dan di depannya dipajang foto yang seperti foto keluarga.
“Foto?”
“Iya.”
Sesampainya mereka di dalam tempat photobooth, mereka terdiam sejenak. Ntah apa yang masing-masing dari mereka pikirkan saat itu. Pandangan Chandra berfokus ke Kala yang tengah melihat pajangan foto keluarga yang terpajang di salah satu meja di sana. Chandra lalu mendekat ke arah Kala.
“Nanti kalau masih ada waktu, saya ingin foto seperti ini.” Kala mengelus foto keluarga yang tertempel di dinding bersampingan dengan beragam foto lainnya dengan tangannya yang mulai melemas.
“Foto keluarga? Ayo! Nanti foto sama Ayah-Ibu gue. Tenang … Gue yang bayarin. Sekarang kita berdua aja dulu … Ayo!” Mendengar itu senyuman tipis dari bibirnya terciptakan lalu Kala mengikuti Chandra di belakang berjalan ke area photobooth.
Kegiatan mengikuti Chandra dibelakangnya berhenti Kala lakukan saat tiba-tiba saja pandangan matanya mengabur dan dengan cepat berubah menjadi pandangan ganda. Merasakan kepalanya yang pusing, Kala yang saat itu hendak masuk ke dalam photobooth seketika memundurkan langkahnya sedikit dan menggelengkan kepalanya berharap pusing dan pandangan gandanya itu menghilang. Tapi nyatanya tidak, ia bahkan saat itu tidak bisa melihat apa-apa, ia tidak bisa melihat tubuh Chandra yang berada di depannya. Sama sekali.
Chandra yang saat itu sibuk berpose sebelum foto sontak terkejut saat ada suara kencang yang seolah ada yang jatuh. Saat ia melihat ke belakang ia makin terkejut melihat Kala yang terjatuh dengan terus memegangi kepalanya dan mengerang kesakitan.
“ARGHH!!!” Erangan kesakitan terus terdengar dengan Kala yang menekan kepalanya sekuat tenaga berusaha menghilangkan sakit kepalanya, namun sakit kepalanya itu tidak kunjung hilang berganti dengan sakit kepala yang makin dahsyat. Tak berselang lama, Kala tak sadarkan diri.
“Kal? Kala? Lo gapapa? Bangun Kal … Kita ke rumah sakit sekarang!” Chandra dengan sigap langsung membangunkan tubuh Kala yang tergeletak di bawah. Bisa ia lihat dengan jelas bahwa kondisi Kala memburuk. Saat itu juga ia rapalkan banyak-banyak doa agar Kala baik-baik saja.
–––
Chandra berada di samping ranjang Kala berdiri terdiam sambil melihat tubuh Kala yang terbaring lemah. Setelah dibawa ke rumah sakit Kala justru mengalami kejang dan tentu Chandra meyakini hal itu memengaruhi pertumbuhan tumornya.
Pikirannya kacau saat tadi bertemu Dokter dan mengingat perkataannya setelah Kala diperiksa. Di tempat photobooth tadi, setelah Kala mengerang kesakitan ia sudah tidak sadarkan diri. Melihat itu Chandra langsung membawa Kala kembali ke rumah sakit dan sesampai di rumwh sakit segera dilakukan pemeriksaan lebih lanjut setelah terjadi hal itu.
Saat bertemu Dokter, ia berkata bahwa pertumbuhan tumor di kepala Kala berkembang sangat pesat. Tumornya semakin membesar dan mengenai bagian yang tidak bisa diangkat melalui operasi. Dengan itu dokter menyatakan bahwa Kala tidak akan dioperasi khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Bila dipaksa tetap dilakukan operasi akan sangat beresiko untuk Kala. Untuk menghambat pertumbuhan tumor yang saat ini berkembang sangat pesat masih bisa dilakukan dengan terapi lainnya selain operasi pengangkatan tumor agar tumor tersebut sedikit demi sedikit mengecil.
Chandra yang sibuk dengan pikirannya itu pun bahkan sampai tidak sadar bahwa Kala sudah siuman.
“Chandra …”
Chandra yang mendengar itu sontak membuyarkan pikirannya dan langsung bergerak membantu Kala yang berusaha untuk mengubah posisinya untuk bersandar. Selesai dengan posisi yang nyaman, Kala terus memegangi kepalanya dan sedikit terdengar lirihan sakit yang Kala rasakan.
“Chandra … Saya kenapa?” Kala memecahkan keheningan yang ada di ruangan dengan pertanyaannya itu.
“Kal … Tumor lo cepet berkembangnya dan sekarang makin besar. Dan dokter bilang … ” Kala mendengarkan ucapan Chandra dengan tangan memegangi kepalanya yang masih terasa sakit seketika pergerakannya berhenti.
“Bilang apa?” tanya Kala penasaran. Hening. Chandra tidak memjawab. Ia sedang menyiapkan dirinya sebelum mengucapkan kalinat selanjutnya.
“Chandra …”
“D-dokter bilang … Tumor yang makin besar itu ngenain bagian yang sensitif dan …”
“Dan apa?”
“Operasi bukan pilihan yang tepat.” Chandra berkata dengan cepat dan langsung mengalihkan pandangannya menghindari melihat wajah Kala.
Kala yang mendengar itu lantas tubuhnya melemas dan membenturkan kepalanya ke dinding di belakangnya putus asa. Ia tidak menyangka bahwa kejadian ini akan terjadi padanya. Dengan kata lain, ia tidak bisa dioperasi. Padahal, ia sudah mencukur habis rambutnya dengan riang menyambut operasi yang akan ia lakukan.
“LEMAH … ” ucap Kala lirih sambil terus membenturkan kepalanya ke di dinding yang suara benturannya memunculkan suara yang sangat nyaring.
Chandra yang dalam posisi membalik badan pun bisa mendengar suara benturan kepala itu sangat nyaring itu lalu berkata, “Kal, berhenti … Lo nggak lemah!”
Kala mendengar itu lalu menghentikan kegiatan membenturkan kepalanya itu dan menjawab ucapan Kala. “Saya lemah, Chandra! Kamu harus sadar itu! Kalau saya tidak lemah, harusnya saya masih bisa dioperasi.”
Kala lalu bangun dari ranjangnya dan mencabut infus yang menempel ditangannya itu dengan erangan sakit yang membuat Chandra membalikkan badan kembali melihat Kala yang melakukan aksi itu dan berteriak, “Kal, jangan!”
Kala yang diteriaki seperti itu tidak peduli dan pergi begitu saja dengan membawa ponselnya yang sempat ia ambil di nakas samping ranjangnya.
Ia berlari kencang mungkin sekuat tenaganya dan berhenti di rooftop. Saat di rooftop itu, ia memandangi langit yang sepertinya tahu akan perasaannya dan ikut bersedih.
Setelah menatap langit cukup lama, ia menyalakan ponsel yang sedari tadi ia pegang, dan mengetik nomor seseorang. Jihane Aruna, ia mengetikkan nomor Jihane dengan lancar sebab ia sudah menghapal nomor itu sedari awal bertemu Jihane dan menatap nomor itu lamat-lamat. Ingin sekali ia menelepon wanita itu dan memberitahu bahwa saat ini dirinya sangat membutuhkan sosok wanita itu hadir. Ia sangat terjatuh dengan kejadian ini.
Ia terus pandangin lamat-lamat nomor telepon itu dan berakhir ponselnya kembali ia matikan dan menggenggam ponsel itu erat. Keinginan untuk menelepon Jihane Aruna ia urungkan sebab takut Jihane Aruna akan mengkhawatirkan kondisinya saat ini. Kala kembali memberikan atensinya pada langit di atasnya itu, saat melihat langit itu seolah ia bisa melihat wajah Jihane Arunanya yang seolah memberikan pelukan hangat untuknya. Hanya itu saja Kala rasa cukup.
“Terimakasih banyak, Jihane Aruna.” ucap Kala lirih setelah membayangkan dirinya diberi pelukan hangat oleh Jihane Arunanya. Wajah Jihane yang tadinya muncul diatas langit itu perlahan-lahan menghilang. Kala mengangkat tangannya berusaha menggapai langit yang tadinya memunculkan sosok Jihane Aruna untuknya.
Kala sangat membutuhkan pelukan hangat itu, dan dalam khayalnya orang pertama yang memberikannya pelukan itu adalah orang yang ia sayangi, Jihane Aruna.
Dari jauh, Chandra melihat semuanya, ia mengikuti arah Kala pergi dan berhenti di rooftop ini. Chandra memandang Kala dari jauh dengan bulir air mata yang tanpa ia minta turun begitu saja.
— naskahroman





