onenightontrain

Pagi ini Kala dan Chandra berniat untuk berjalan-jalan sebelum mendekati hari dimana Kala akan melakukan operasi pengangkatan tumor. Jalan-jalan ini dalam rangka untuk membuat Kala rileks, tapi tetap saja jalan-jalan yang akan mereka lakukan mengelilingi Negeri Paman Sam ini tidak boleh berlebihan khawatir terjadi hak yang tidak diinginkan sebab Kala harus tetap menjaga kondisi tubuhnya untuk tetap fit sebelum melakukan operasi.

“Kal, naik bianglala itu, yuk?” Chandra menunjuk bianglala di sana yang terus berputar dan mengajak Kala sambil menarik tangannya pelan, namun tarikan tangan itu Kala tepis pelan.

“Saya takut ketinggian.” ucap Kala lalu matanya melihat ke arah yang lain.

“Oh iya lupa, terus mau nyobain permainan apa? Masa kita cuma jalan-jalan yang bener-bener jalan kaki doang.” Chandra mengeluarkan ekspresi cemberut andalannya.

“Saya mau coba itu …” Kala menunjuk ke sebuah tempat photobooth yang jaraknya tidak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini.

Chandra mengikuti arah tangan Kala menunjuk, ia dapat melihat bahwa arah tunjuk Kala adalah photobooth yang terlihat sepi dan di depannya dipajang foto yang seperti foto keluarga.

“Foto?”

“Iya.”

Sesampainya mereka di dalam tempat photobooth, mereka terdiam sejenak. Ntah apa yang masing-masing dari mereka pikirkan saat itu. Pandangan Chandra berfokus ke Kala yang tengah melihat pajangan foto keluarga yang terpajang di salah satu meja di sana. Chandra lalu mendekat ke arah Kala.

“Nanti kalau masih ada waktu, saya ingin foto seperti ini.” Kala mengelus foto keluarga yang tertempel di dinding bersampingan dengan beragam foto lainnya dengan tangannya yang mulai melemas.

“Foto keluarga? Ayo! Nanti foto sama Ayah-Ibu gue. Tenang … Gue yang bayarin. Sekarang kita berdua aja dulu … Ayo!” Mendengar itu senyuman tipis dari bibirnya terciptakan lalu Kala mengikuti Chandra di belakang berjalan ke area photobooth.

Kegiatan mengikuti Chandra dibelakangnya berhenti Kala lakukan saat tiba-tiba saja pandangan matanya mengabur dan dengan cepat berubah menjadi pandangan ganda. Merasakan kepalanya yang pusing, Kala yang saat itu hendak masuk ke dalam photobooth seketika memundurkan langkahnya sedikit dan menggelengkan kepalanya berharap pusing dan pandangan gandanya itu menghilang. Tapi nyatanya tidak, ia bahkan saat itu tidak bisa melihat apa-apa, ia tidak bisa melihat tubuh Chandra yang berada di depannya. Sama sekali.

Chandra yang saat itu sibuk berpose sebelum foto sontak terkejut saat ada suara kencang yang seolah ada yang jatuh. Saat ia melihat ke belakang ia makin terkejut melihat Kala yang terjatuh dengan terus memegangi kepalanya dan mengerang kesakitan.

“ARGHH!!!” Erangan kesakitan terus terdengar dengan Kala yang menekan kepalanya sekuat tenaga berusaha menghilangkan sakit kepalanya, namun sakit kepalanya itu tidak kunjung hilang berganti dengan sakit kepala yang makin dahsyat. Tak berselang lama, Kala tak sadarkan diri.

“Kal? Kala? Lo gapapa? Bangun Kal … Kita ke rumah sakit sekarang!” Chandra dengan sigap langsung membangunkan tubuh Kala yang tergeletak di bawah. Bisa ia lihat dengan jelas bahwa kondisi Kala memburuk. Saat itu juga ia rapalkan banyak-banyak doa agar Kala baik-baik saja.

–––

Chandra berada di samping ranjang Kala berdiri terdiam sambil melihat tubuh Kala yang terbaring lemah. Setelah dibawa ke rumah sakit Kala justru mengalami kejang dan tentu Chandra meyakini hal itu memengaruhi pertumbuhan tumornya.

Pikirannya kacau saat tadi bertemu Dokter dan mengingat perkataannya setelah Kala diperiksa. Di tempat photobooth tadi, setelah Kala mengerang kesakitan ia sudah tidak sadarkan diri. Melihat itu Chandra langsung membawa Kala kembali ke rumah sakit dan sesampai di rumwh sakit segera dilakukan pemeriksaan lebih lanjut setelah terjadi hal itu.

Saat bertemu Dokter, ia berkata bahwa pertumbuhan tumor di kepala Kala berkembang sangat pesat. Tumornya semakin membesar dan mengenai bagian yang tidak bisa diangkat melalui operasi. Dengan itu dokter menyatakan bahwa Kala tidak akan dioperasi khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Bila dipaksa tetap dilakukan operasi akan sangat beresiko untuk Kala. Untuk menghambat pertumbuhan tumor yang saat ini berkembang sangat pesat masih bisa dilakukan dengan terapi lainnya selain operasi pengangkatan tumor agar tumor tersebut sedikit demi sedikit mengecil.

Chandra yang sibuk dengan pikirannya itu pun bahkan sampai tidak sadar bahwa Kala sudah siuman.

“Chandra …”

Chandra yang mendengar itu sontak membuyarkan pikirannya dan langsung bergerak membantu Kala yang berusaha untuk mengubah posisinya untuk bersandar. Selesai dengan posisi yang nyaman, Kala terus memegangi kepalanya dan sedikit terdengar lirihan sakit yang Kala rasakan.

“Chandra … Saya kenapa?” Kala memecahkan keheningan yang ada di ruangan dengan pertanyaannya itu.

“Kal … Tumor lo cepet berkembangnya dan sekarang makin besar. Dan dokter bilang … ” Kala mendengarkan ucapan Chandra dengan tangan memegangi kepalanya yang masih terasa sakit seketika pergerakannya berhenti.

“Bilang apa?” tanya Kala penasaran. Hening. Chandra tidak memjawab. Ia sedang menyiapkan dirinya sebelum mengucapkan kalinat selanjutnya.

“Chandra …”

“D-dokter bilang … Tumor yang makin besar itu ngenain bagian yang sensitif dan …”

“Dan apa?”

“Operasi bukan pilihan yang tepat.” Chandra berkata dengan cepat dan langsung mengalihkan pandangannya menghindari melihat wajah Kala.

Kala yang mendengar itu lantas tubuhnya melemas dan membenturkan kepalanya ke dinding di belakangnya putus asa. Ia tidak menyangka bahwa kejadian ini akan terjadi padanya. Dengan kata lain, ia tidak bisa dioperasi. Padahal, ia sudah mencukur habis rambutnya dengan riang menyambut operasi yang akan ia lakukan.

“LEMAH … ” ucap Kala lirih sambil terus membenturkan kepalanya ke di dinding yang suara benturannya memunculkan suara yang sangat nyaring.

Chandra yang dalam posisi membalik badan pun bisa mendengar suara benturan kepala itu sangat nyaring itu lalu berkata, “Kal, berhenti … Lo nggak lemah!”

Kala mendengar itu lalu menghentikan kegiatan membenturkan kepalanya itu dan menjawab ucapan Kala. “Saya lemah, Chandra! Kamu harus sadar itu! Kalau saya tidak lemah, harusnya saya masih bisa dioperasi.”

Kala lalu bangun dari ranjangnya dan mencabut infus yang menempel ditangannya itu dengan erangan sakit yang membuat Chandra membalikkan badan kembali melihat Kala yang melakukan aksi itu dan berteriak, “Kal, jangan!”

Kala yang diteriaki seperti itu tidak peduli dan pergi begitu saja dengan membawa ponselnya yang sempat ia ambil di nakas samping ranjangnya.

Ia berlari kencang mungkin sekuat tenaganya dan berhenti di rooftop. Saat di rooftop itu, ia memandangi langit yang sepertinya tahu akan perasaannya dan ikut bersedih.

Setelah menatap langit cukup lama, ia menyalakan ponsel yang sedari tadi ia pegang, dan mengetik nomor seseorang. Jihane Aruna, ia mengetikkan nomor Jihane dengan lancar sebab ia sudah menghapal nomor itu sedari awal bertemu Jihane dan menatap nomor itu lamat-lamat. Ingin sekali ia menelepon wanita itu dan memberitahu bahwa saat ini dirinya sangat membutuhkan sosok wanita itu hadir. Ia sangat terjatuh dengan kejadian ini.

Ia terus pandangin lamat-lamat nomor telepon itu dan berakhir ponselnya kembali ia matikan dan menggenggam ponsel itu erat. Keinginan untuk menelepon Jihane Aruna ia urungkan sebab takut Jihane Aruna akan mengkhawatirkan kondisinya saat ini. Kala kembali memberikan atensinya pada langit di atasnya itu, saat melihat langit itu seolah ia bisa melihat wajah Jihane Arunanya yang seolah memberikan pelukan hangat untuknya. Hanya itu saja Kala rasa cukup.

“Terimakasih banyak, Jihane Aruna.” ucap Kala lirih setelah membayangkan dirinya diberi pelukan hangat oleh Jihane Arunanya. Wajah Jihane yang tadinya muncul diatas langit itu perlahan-lahan menghilang. Kala mengangkat tangannya berusaha menggapai langit yang tadinya memunculkan sosok Jihane Aruna untuknya.

Kala sangat membutuhkan pelukan hangat itu, dan dalam khayalnya orang pertama yang memberikannya pelukan itu adalah orang yang ia sayangi, Jihane Aruna.

Dari jauh, Chandra melihat semuanya, ia mengikuti arah Kala pergi dan berhenti di rooftop ini. Chandra memandang Kala dari jauh dengan bulir air mata yang tanpa ia minta turun begitu saja.

— naskahroman

Luna berlari secepat mungkin seperti ada yang mengejarnya di belakang setelah ia mendapati kabar dari Kala bahwa Jihane pingsan di bandara dan sudah dibawa ke rumah sakit tapi Kala justru pergi dan hanya meninggalkan pesan bahwa ia menitipkan Jihane padanya.

Setelah kegiatannya ke sana kemari mencari ruang rawat Jihane dengan dipenuhi rasa panik, akhirnya ia menemukan Jihane persis didepan matanya. Dengan posisi Luna sedang bertekuk lutut sebab kelelahan mencari Jihane ia menemukan keberadaan Jihane dan bisa melihat jelas dari pintu ruangannya yang terbuka cukup lebar. Luna kemudian berjalan ke arah ruangan itu dan berhenti di depan pintu. Di depan pintu itu ia menghembuskan napas lega karena akhirnya ia menemukan Jihane meski terlihat jelas di mata sahabatnya itu hanya ada tatapan kosong.

“Ji … Lo gapapa?” Luna mendekat ke arah ranjang Jihane lalu duduk di kursi yang ada di samping ranjang.

“Lun … Luna … Nyokap gue mana?”

Belum sempat Luna duduk di kursi yang terletak di samping rajang Jihane, ia sudah disuguhkan pertanyaan yang sangat sulit untuk ia jawab.

Demi mengalihkan pertanyaan Jihane, Luna berniat memberikan segelas air minum untuk Jihane minum.

“Ji … Minum dulu lo pasti belum minum, nih.”

Bukan diterima, gelas itu justru Jihane lempar. Gelagar suara gelas pecah mengisi ruangan. Luna yang menyaksikan hal itu sungguh terkejut, sebab ia tidak pernah melihat sahabatnya satu-satunya ini terlihat begitu rapuh.

“NYOKAP GUE MANA?!” Jihane berteriak lirih dengan napas yang terengah-engah.

“Ji ….”

Setelah mengirimi pesan kepada Luna mengenai kabar Jihane, Kala keluar dari ruangan Jihane dengan lemas, didalam lubuk hatinya ia tidak ingin meninggalkan Jihane pergi ke negeri Paman Sam itu dalam keadaan yang sehancur ini. Jihane sudah ditinggal pergi Ibunya, tidak mungkin Kala ikut jahat dan pergi meninggalkannya.

Dalam pikirannya yang tak rela meninggalkan Jihane, Kala sontak terkejut saat ia berjalan keluar ruang rawat Jihane dan menemukan wajah Chandra sudah ada tepat di depan wajahnya. Dengan tampang yang sedikit mengintimidasi, Kala seolah acuh dengan kehadiran Chandra saat itu dan terus berjalan lurus menuju pintu keluar rumah sakit.

“Jadi atau nggak?”

Chandra tetap berdiri di tempatnya meski sudah ditinggal pergi oleh Kala. Suara cukup ia tinggikan agar Kala bisa mendengar ucapannya. Tidak ada respons apa-apa dari Kala membuat Chandra ikut berjalan dan berusaha untuk menyamakan jalannya dengan Kala.

“Buat dapet jadwal fix pengobatan lo di sana, gue gak cuma modal nelpon doang ya, Kal. Lo harusnya paham perjuangan gue. Beliau bukan sembarang dokter.”

“Saya tahu. Terimakasih atas perjuangannya.”

Mendengar itu Chandra hanya bisa menghembuskan napas pasrah. Dalam perjalanan keluar rumah sakit sama sekali tidak ada obrolan diantara mereka. Mereka berdua berjalan dengan pikirannya masing-masing.

Sesampainya mereka di pintu keluar rumah sakit Chandra menghentikan langkahnya, ia berhenti untuk melihat Kala yang tetap berjalan dan berhenti saat hendak mencari taksi.

“Sulit banget keadaannya ya, Kal.” kata Chandra lirih. Bahkan saat keadaan itu bukan ia yang tapaki, ia tetap bisa merasakan perasaan campur aduk yang Kala rasakan saat ini.

Chandra akhirnya kembali berjalan menghampiri Kala yang sudah masuk ke taksi yang sudah Kala berhentikan itu.

“Mau ke mana?”

“Ayo.”

“Ke?” Paras wajah bingung itu terlihat sangat jelas Chandra tampilkan.

“Mau saya yang berangkat sendiri?” Ucapan Kala berhasil membuat rentetan gigi Chandra mengering akibat kesenangan. Ia benar-benar tak mengira bahwa pilihan ini yang tetap Kala pilih.

“Eh seriusan?” Chandra bertanya sembari ikut masuk ke dalam taksi. Yang ditanya hanya diam, pandangannya lurus ke depan.

Let’s go! Pak, ke bandara, ya. Tolong juga agak ngebut dikit kita ngejar pesawat sebentar lagi flight.” Chandra menepuk pelan bahu Sang Sopir saat hendak berbicara itu.

“Iya, Mas. Berangkat, ya.”

Di dalam taksi itu hanya ada keheningan. Sang Sopir sibuk menyetir, Kala sibuk dengan pikirannya, dan Chandra yang juga sibuk dengan tingkah tidak bisa diamnya itu.

“Pak, saya boleh, nggak?” Pada akhirnya tetap Chandra yang memecahkan keheningan saat itu.

“Boleh, Mas.”

“Gini, Pak, saya mau tanya kalo semisal Bapak sakit, semisal ya, Pak …”

“Iya, Mas, semisal.” Chandra terkekeh mendengar jawaban Sopir yang terdengar pasrah.

“Misalnya Bapak sakit kaki, nah itu Bapak bakal apain, Pak? Bapak diemin atau Bapak bawa ke rumah sakit buat diobatin?”

Sebelum Sang Sopir mengeluarkan jawaban akan pertanyaan yang Chandra beri, Chandra sedikit memajukan posisi duduknya agar lebih nyaman mendengar cerita Sang Sopir.

“Kalau sakit kakinya nggak terlalu sakit, biasanya saya oles minyak aja, Mas. Nanti juga sembuh.”

“Nah, Pak, berarti tetep ada usaha biar sembuh kan ya, Pak … Tapi kalo kasusnya sakit kaki Bapak parah gimana, Pak?” Pertanyaan Chandra jelas bukan sekedar basa-basi, ia ingin Kala sadar dan mendengar obrolan itu.

“Ya kalau sakit kakinya parah jelas saya bawa ke rumah sakit, Mas. Biar saya tahu sebenernya sakit kaki ini sebabnya apa. Khawatir kalau didiemin malah makin parah dan mengganggu aktivitas saya apalagi nyupir.”

“Betul-betul, Pak. Tapi nih ya, Pak, gimana tanggapan Bapak sama orang yang udah tau sakitnya parah tapi nggak mau diobatin Pak? Nggak mau dibawa ke rumah sakit gitu, Pak.” Chandra dengan semangat semakin menyindir Kala yang berada di sampingnya dengan pandangan Kala yang tetap fokus ke arah kaca mobil. Sudah pasti Chandra paham bahwa Kala tidak sekedar melihat jalanan melalui kaca, melainkan Kala seperti melihat Jihane sebab pikirannya dipenuhi akan hal Jihane Aruna.

Dalam pikiran Kala muncul berbagai pertanyaan seperti, “Bagaimana keadaan Jihane sekarang?” dan “Bagaimana perasaan Jihane saat Ia tinggalkan ke tempat yang jauh? Apakah akan kecewa? Apakah hubungan mereka akan benar-benar kandas?” Pertanyaan seperti tentu muncul dibenak Kala.

Kembali kepertanyaan Chandra kepada Sopir yang siap diberikan jawaban, Chandra sedikit menyenggol tangan Kala pelan agar fokus mendengarkan Sang Sopir yang sedang berbicara dan berhasil membuat Kala membenarkan posisi duduknya. Menghadapkan pandangannya ke jalanan yang ada di depannya, Kala mulai memperhatikan tiap kata yang keluar dari mulut Sang Sopir.

“Mas, itu mah nyari mati namanya. Selagi bisa diobatin kenapa nggak ke rumah sakit? Udah tau parah. Padahal, kalau diobatin dan dibawa ke rumah sakit kan nggak ada ruginya, justru banyak untungnya karena bisa kembali normal lagi. Kalau begitu kan jadi bisa kembali beraktivitas seperti biasa lagi.”

“Coba sekarang diganti posisinya semisal kita yang ada diposisi si rasa sakit ini, apa enak didiemin gitu? Kaya kita didiemin temen atau pacar aja, Mas. Udah pasti nggak enak. Sekarang gimana caranya kita bisa ngehargain si rasa sakit ini dengan cara diobatin dan dibawa ke rumah sakit, kalau mikirin diri sendiri aja mah namanya egois. Jangan jadi manusia kalau cuma mikirin diri sendiri.”

“TUUHHH, dengerin yaa …” Chandra melirikkan matanya ke arah Kala. Kala yang sedari tadi mendengar ucapan Sang Sopir jelas hatinya tersentuh. Ia pun jadi sadar kalau benar dirinya selama ini egois. Kala tipikal orang yang tidak berani untuk sekedar membunuh semut saja seolah menjadi sangat jahat karena membiarkan membunuh dirinya sendiri secara perlahan.

“Udah sampe, Mas.” Sang Sopir menghentikan obrolan saat sudah sampai di bandara. Chandra yang mendengar apa kata sopir itu lalu segera mengecek jam yang melingkar ditangannya, masih ada waktu sedikit lagi sebelum pesawat meninggalkan Chandra dan Kala.

“Tolong lo yang kasih ke sopir, gue tunggu di dalem.” Chandra memberikan uang untuk Kala berikan kepada sopir lalu ia membuka pintu taksi dan langsung berjalan meninggalkan Kala lebih dahulu masuk.

Tidak lama kemudian Kala ikut membuka pintu taksi dan keluar, lalu ia berhenti tepat di pintu taksi depan yang sejajar dengan sopir lalu memberikan uang tersebut kepada sopir. “Pak, maaf ini, terima kasih banyak.”

Sang Sopir yang memberikan atensi penuh kepada Kala lalu menerima uang tersebut dan memeriksanya sebentar, tapi saat ia periksa terdapat uang lebih dari tarif taksi. Melihat melalui kaca mobil Kala sudah berjalan tiga langkah namun segera sopir itu panggil kembali untuk mengembalikan uang lebih yang terlalu banyak itu.

“Mas, maaf ini kembaliannya. Mas kebanyakan ngasihnya.” Sang Sopir memberikan uang lebih itu ke Kala yang setelah dipanggil langsung berbalik badan dan melangkah mendekat ke sopir dan sedikit menundukkan kepalanya agar lebih sopan kepada sopir.

“Tidak apa, Pak, sebagai tip.”

“Wah, Mas, banyak banget tipnya. Makasih ya, Mas.” Kala bisa melihat dengan jelas rentetan gigi sopir yang ada di depan matanya tak kunjung hilang, tanda bahwa sopir itu sangat senang. Kala yang melihat itupun ikut tersenyum.

“Oh ya, Mas, saya mau ngasih tau aja walaupun bukan Mas yang sakit. Kalau sakit jangan didiemin ya Mas, langsung dibawa ke rumah sakit dan diobatin. Syukur-syukur kita masih bisa ngerasain sakit dan bisa diobatin, ada orang diluar sana yang udah nggak bisa ngerasain sakit eh nggak bisa diobatin juga karena nggak bisa sembuh.” Senyum yang tadi merekah pada Kala seolah langsung hilang diganti dengan matanya yang sudah berkaca-kaca saat mendengar ucapan sopir itu, ia seperti ditampar habis-habisan mendengar itu dan ia hanya bisa membalas dengan anggukan paham.

“Nama Bapak siapa?”

“Iman, Mas.”

“Pak Iman, terimakasih banyak.”

— naskahroman

Setelah kurang lebih sebulan Kala menjalani pengobatan di Amerika, akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Alasan terbesarnya untuk kembali adalah ia ingin menjalani hidup normal seperti biasanya. Telah melewati sekian banyaknya pengobatan dan mendengar dokternya mengatakan bahwa tindakan operasi sudah tidak bisa dilakukan hanya itu satu-satunya jalan. Berhenti dan kembali.

Bukan, ia bukan lagi putus asa dan kecewa. Ia hanya menyadari bahwa tubuhnya semakin melemah. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menghabiskan sisa waktu bersama orang yang disayangi. Dan tepat hari ini, ia kembali ke Indonesia dengan kondisi tubuhnya yang semakin mengurus efek dari serangkaian pengobatan yang ia jalani sebulan belakangan.

Kala dan Chandra beristirahat sebentar di bandara selepas sampai di Indonesia dan menunggu Jihane yang akan datang di ruang tunggu yang disediakan bandara. Dalam istirahatnya itu, Kala sempatkan untuk mengirim pesan ke Jihane. Memberitahukan padanya bahwa ia ingin bertemu, ada yang ingin ia bicarakan.

Jihane yang sedang berada di kamar ditemani Luna berteriak histeris ketika mendapati pesan dari Kala hingga membuat Luna yang sedang memainkan laptopnya terkejut.

“Jihaneee … Kenapa?” Luna yang tadinya sedang berbaring di kasur akhirnya bangun untuk bertanya apa yang telah terjadi.

“Kak Kala …”

“Kala? Kenapa dia?”

“Kak Kala …”

“Iya kenapaaa …” Luna sudah habis kesabaran menunggu jawaban dari pertanyaannya yang tak kunjung dijawab. Hingga akhirnya ia memukul bantal yang ada di sampingnya ke arah Jihane.

“KAK KALA UDAH BALIKKKK!!! YEYY!!! AH LUNAAAA” Jihane yang akhirnya mengeluarkan suara meringis kesakitan sebab ada bantal yang mengenai tubuhnya.

“Eh serius?”

“Serius, makanya apa-apa tuh sabar. Gue juga lagi ngatur jantung buat bilang ini.” Jihane berkata sambil merapikan kembali bantal yang sempat mengenainya itu.

Sorry sorry lagian lo gue tanyain jawabannya ‘Kak Kala’ ‘Kak Kala’ mulu. Eh—”

Luna yang melihat Jihane bangun dari kasur dan berjalan ke arah lemari bajunya terkejut. “Eh, mau kemana?”

“Mau ketemu Kak Kala.”

“Lho, udah janjian?”

“Udahlah. Gue cocokan pake baju apa ya untuk merayakan kembalinya Kak Kala ke Indo?” Satu persatu pakaian yang ada di lemarinya ia keluarkan.

“Itu aja.” Pilihan Luna jatuh pada salah satu pakaian yang jarang sekali Jihane pakai. Dress.

“Ish, masa pake ini.” Jihane mencocokan dress itu pada tubuhnya.

“Cocok, dress itu jarang banget lo pake. Katanya mau ngerayain kembalinya Kala, ya pake baju yang lain lah jangan itu-itu mulu biar Kala tuh terkesima.”

“Eh tapi tapi, bukannya lo waktu itu sempet nggak chat-chatan lagi ya sama Kala sebelum dia ke Amerika? Kok bisa tiba-tiba ketemuan gini?”

“Bisalah. Kala nggak bisa lama-lama jauh dari gue. Takdirnya dia itu ya sama gue. Dia mau pergi ke mana pun juga baliknya ke gue.” Jihane menjawab sambil berjalan menuju ke kamar mandi untuk berganti pakaiannya dengan dress yang tadi sudah Luna pilihkan.

“Iya deh yang takdir mah beda …” Suara Luna cukup mengeras akibat Jihane yang sudah lebih dulu berjalan ke kamar mandi.

Setelah keluar dari kamar mandi, selama sejam Jihane berdiri dihadapan cermin. Kalau cermin bisa berbicara, mungkin ia sudah bosan karena Jihane selalu bertanya apakah baju ini cocok atau tidak untuk dirinya.

“Udah sana pergi. Lama banget ganti baju gituan doang.”

“Beneran cocok?”

“COCOK JIII!!!”

“Oke, gue jalan ya. Doain pas ketemu gue diajak nikah.” Jihane membuka pintu kamarnya lalu pergi keluar. Luna yang mendengar ucapan Jihane tersebut hanya bisa menggelengkan kepala. Ada-ada aja.

Setelah tubuh Jihane benar-benar sudah tidak terlihat di kamar. Luna berjalan menuju balkon. Ia bisa melihat Jihane yang ingin masuk ke dalam mobilnya.

“Jangan mimpi …” teriak Luna dari atas balkon yang segera Jihane balas.

“Iri.”

———

Kala yang sudah cukup lama menunggu kedatangan Jihane di bandara mendapat ocehan dari Chandra. Kala memang sudah janji temu dengan Jihane di bandara.

“Lama banget si dia. Ngapain aja itu bocah?”

“Tunggu sebentar lagi, pasti datang.”

“Jangan lama-lama, Kal. Sakit ini punggung gue bawa barang banyak banget berat, gue mau istirahat.”

Kala yang mendengar itu pun yang tadinya melirik ke seluruh penjuru bandara mencari keberadaan Jihane akhirnya berjalan ke arah Chandra.

“Biar saya yang bawa.” Kala mengadahkan tangannya untuk diberi barang-barang yang sedang Chandra bawa.

“Eh, nggak apaan sih.” Chandra terkejut melihat itu dan langsung menolak tawaran Kala.

“Tidak apa, punggungmu pasti sudah sakit.”

“Gapapa.” Chandra semakin menjauhkan barang-barang yang ia bawa itu dari hadapan Kala agar tidak semakin memaksa ingin bergantian membawa barang-barang.

“Katamu kalau sakit jangan dibiarkan tapi diobati. Kalau punggungmu sakit karena terlalu banyak membawa barang, obatnya berhenti membawa barang.” Skakmat. Chandra tidak bisa berkutik.

“Eh, gapapa udah ini udah nggak sakit. Gue udah segar bugar.” Chandra bangun dari duduknya dan melepas barang bawaan yang ia pegang lalu mengangkat kedua tangannya memamerkan otot-ototnya ke hadapan Kala.

“Tuh—”

“KAK KALAAA!!!” Belum selesai Chandra berbicara, atensi Kala sudah berganti ke arah suara yang menggelegar memanggil namanya dan maju selangkah saat melihat Jihane yang jauh di sana mengenakan dress yang terlihat sangat cocok untuknya.

Jihane yang cukup berjarak dengan Kala saat itu tetap bisa melihat Kala. Badannya terlihat lebih kurus dan kepalanya yang hanya tersisa sedikit rambut.

“Jihane Aruna.” Kala memanggil nama Jihane lalu melangkah lebih dekat ke arah Jihane.

Wajah Jihane amat sangat senang melihat Kala. Bahkan rentetan gigi-giginya itu terlihat kering sebab senyumnya sama sekali tak lekas pudar. Jihane kemudian berlari ke arah Kala dan memeluknya.

“Gimana kabar lo?” Dalam pelukan itu, Jihane bertanya. Seketika bulir air matanya jatuh begitu saja.

“Tidak apa.” Kala membalas pelukan Jihane erat.

Setelah cukup lama mereka berpelukan erat. Kala mulai melepaskan pelukan itu. Tangannya bergerak menghapus bulir air mata yang terlihat mengambang di mata Jihane.

“Jangan menangis. Saya tidak apa.” Berhasil Kala menghapus air mata Jihane, ia mengangguk paham.

“Jihane Aruna, saya minta maaf. Maaf sudah buatmu khawatir.”

“Maaf, saya sempat menjauh darimu. Saya sadar, saya tidak perlu jauh-jauh ke Amerika, sebab kamu obat saya.” Mendengar itu langsung saja tangis Jihane semakin deras, ia bahkan sampai tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun akibat sesak tangisnya yang tidak mau berhenti.

“Sudah, jangan menangis.” Kala kembali memberikan pelukan agar Jihane tenang.

“Sangat cocok mengenakan dress ini. Indah.” Jihane yang saat itu berada dipelukan Kala sontak tertawa senang mendengarnya.

Dan dalam pelukan itu juga Kala berkata, “Saya tidak akan pergi lagi. Tidak akan.”

Sebelum masuk ke dalam ruang rawat Jihane, Kala mendapati pesan dari Chandra. Melihat apa yang Chandra kirimkan membuatnya mengurungkan niatnya untuk masuk ke ruangan Jihane. Ntahlah, ia hanya merasa posisi ini sangat sulit untuknya. Pernikahan Ayahnya dan Mamah Jihane memang tidak jadi, tapi rasanya hubungan antara Jihane dan dirinya sudah terlanjur hancur.

Berdiam cukup lama hanya melihat Jihane dari kaca di luar ruangan membuatnya merasa kasihan pada Jihane. Apalagi setelah berita yang baru saja terjadi. Akhirnya Kala tetap masuk ke dalam ruang rawat Jihane. Perlahan ia berjalan menuju ranjang Jihane terbaring. Berdiri di samping ranjang dan hanya memandangi Jihane tanpa melakukan apapun.

“Saya harus bagaimana, Jihane Aruna?”

“Tetap pergi atau tetap di sini?”

Pertanyaan itu ia lontarkan pada Jihane yang saat itu masih memejamkan matanya. Melihat Jihane yang tetap pada posisinya tertidur, tubuh Kala melemas dan mulai jatuh ke lantai. Lelah sekali rasanya melewati tiap duri-duri yang ia rasakan di dunia ini.

Di lantai ia terduduk. Cukup lama posisinya seperti itu. Sampai pada saat ia ingin menggenggam tangan Jihane yang lemas, tinggal jarak sedikit lagi tangannya benar-benar menggenggam tangan Jihane tapi kembali ia urungkan. Menurutnya bukan sekarang saatnya memikirkan soal hubungan mereka, memikirkan bagaimana kelanjutan cinta mereka, tapi saat ini harusnya ia memikirkan harus menjawab apa saat Jihane siuman nanti dan menanyakan perihal Ibunya.

Sejam Kala menunggu Jihane yang masih tertidur dengan posisi terduduk di lantai akhirnya ia bangun beranjak pergi dari tempat itu. Tapi saat hendak melangkah keluar tangannya ditahan.

“Tolong tetap di sini, gue butuh lo.” Kalimat itu keluar dari mulut Jihane. Setelah Kala menoleh ke belakang melihat keadaan Jihane, Jihane masih tertidur. Mungkin ia mengingau saking lelahnya. Perlahan Kala lepaskan genggaman tangan Jihane pada dirinya dan keluar dari ruang rawat.

Saat di luar, Kala tidak langsung pergi dari rumah sakit. Ia tetap berdiri di balik kaca memerhatikan Jihane yang masih tertidur. Sebenarnya ia tidak ingin meninggalkan Jihane, tapi sepertinya kepergiannya lebih baik pikir Kala.

“Saya pergi, Jihane Aruna.”


— usahredup

kalapergi

Pagi ini Kala dan Chandra sedang dalam perjalanan menuju bandara. Di dalam taxi Kala duduk di belakang sedangkan Chandra di depan menemani supir. Keadaan dalam taxi sama sekali tidak ada pembicaraan. Kala yang berada di belakang sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia memikirkan Shakilla juga memikirkan Jihane Aruna yang ia tinggalkan. Apalagi memikirkan pernikahan Ayahnya yang harusnya sedang diselenggarakan hari ini.

Sampai di bandara Kala turun dan menunggu di kursi tunggu sambil menaruh kopernya di sampingnya sebelum duduk di kursi. Sedangkan Chandra sedang mengurus semua tentang penerbangannya menuju Amerika.

Dalam duduknya di kursi ia menengok ke sampingnya, menatap koper yang ia bawa. Yang kita lihat hanya Kala yang menatap kopernya tapi aslinya ia seolah menatap Jihane Aruna yang berada di sampingnya alih-alih kopernya. Membayangkan ia memberikan perpisahan yang layak pada Jihane Aruna dan meminta doa pada Jihane Aruna agar ia kembali lagi dalam keadaan sehat dan selamat. Tapi semuanya hanyalah angan-angan yang tak mungkin terjadi.

Kala sudah putuskan bahwa tidak akan ada hubungan lagi antara dirinya dengan Jihane Aruna untuk meminimalisir sakit yang makin berlebih jika terus berhubungan. Pesan singkat yang ia sampaikan pada Jihane Aruna sebelum menuju bandara sudah cukup untuk mengakhiri semuanya bagi Kala.

Cukup lama menunggu Chandra, Kala melihat ke sekitar. Di sisi lain, Jihane yang baru saja sampai di bandara berlari menuju ke dalam dan matanya mengitari seluruh posisi bandara mencari seseorang. Ia mencari Kala. Jihane yakini bahwa Kala belum pergi sekarang. Ia yakini bahwa Kala juga masih ragu untuk pergi meninggalkannya. Pikiran itu terus Jihane tanam dalam pikirannya.

Ia berjalan beberapa langkah saat melihat televisi yang terpasang di bandara sedang mengabarkan pesawat yang saat ini hilang kontak. Ia lihat dengan seksama pesawat apa yang hilang kotak. J Airways 129. Terpampang jelas dalam televisi itu mengabarkan bahwa pesawat J Airways yang belum lama terbang mengalami hilang kontak. Pesawat yang Jihane ingat sedang menumpangi Mamahnya itu dalam masalah.

Setelah melihat televisi itu Jihane alihkan pandangannya ke seluruh bandara. Ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Pandangannya mulai mengabur, ia mulai merasa saat melihat orang-orang berlalu-lalang tidak terlihat jelas dari pandangannya. Ia terjatuh lemas dan pingsan.

Saat itu juga bandara mulai ramai orang berlalu-lalang dan mulai berisik dengan segala pertanyaan dari keluarga yang merasa salah satu anggota keluarganya berada di pesawat yang hilang kontak itu.

Kala yang sedang duduk menunggu Chandra dihampiri penasaran melihat bandara yang ramai tak biasanya. Ia mulai beranjak dari duduknya saat makin lama di ujung sana banyak orang yang sedang berkumpul seperti telah terjadi sesuatu di sana. Kala berjalan menuju ke titik berkumpul orang-orang sambil pandangannya melihat ke seluruh penjuru bandara. Dan pandangannya terhenti saat melihat televisi, sebuah pesawat mengalami hilang kontak belum lama ini.

Semakin dihampiri penasaran ia mulai berlari cukup cepat menuju ke sana. Sampai di sana ia maju menyingkirkan orang-orang perlahan untuk memberinya jalan. Dan saat melihat ternyata ada yang pingsan ia terdiam sesaat. Ia melihat sekitaranya. Bagaimana bisa tidak ada yang menolong orang yang sedang terbaring lemah pingsan itu dan hanya dipandangi dengan beberapa pertanyaan tanpa aksi.

Kala perlahan melangkah menuju yang sedang pingsan, yang ia yakini adalah perempuan setelah melihat rambut panjangnya itu. Makin mendekat ke arah itu dengan jantungnya ia rasa berdegup lebih kencang terkejut saat melihat siapa yang sedang terbaring lemah itu. Jihane Aruna. Saat melihat itu langsung ia angkat wajah Jihane Aruna dan berusaha membuat Jihane terbangun dari tidurnya. Tak bangun-bangun juga ia mulai berteriak untuk seseorang memanggil ambulance.

“TOLONG! TOLONG PANGGIL AMBULANCE SECEPATNYA! TOLONG SAYA!” Kala berteriak kencang memohon agar ada yang mulai bergerak membantu selain hanya menonton.

Chandra yang selesai mengurus penerbangan Kala melihat kerumunan itu dan mendekatkannya. Melihat Kala yang berada di situ ia panggil, “Kal?”

Mendengar ada yang memanggil namanya, Kala mendongakkan kepalanya dan Chandra berada di depannya. “Chandra, tolong Jihane Aruna!” Kala terlewat panik melihat Jihane pingsan, ia bahkan sampai tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya memeluk Jihane Aruna yang sedang memejamkan mata itu.

Chandra yang terkejut saat tahu yang pingsan adalah Jihane langsung melakukan pertolongan pertama yang bisa ia lakukan saat itu juga. Setelah ambulance datang, Kala langsung mengangkat Jihane dan membaringkannya ke dalam ranjang juga memasukkannya ke ambulance itu.

Chandra yang melihat itu segera menghentikan Kala. “Kal. Stop.”

“Chandra saya mohon, tolong tunda.”

“Kal, harus berapa kali lagi gue tunda terus soal ini? Gue capek. Jihane udah ada yang nanganin, sekarang saatnya lo yang ditanganin, Kal!”

Kala hanya mendengarkan pembicaraan Chandra dan langsung meninggalkannya masuk ke dalam ambulance yang di dalamnya terdapat Jihane Arunanya.

Chandra yang melihat itu hanya bisa menghembuskan napas kasar. Ia akan menghadapi hal semacam ini berulang kali.

Sesampainya di rumah sakit, Jihane langsung ditangani oleh Dokter. Kala yang ikut ke rumah sakit menunggu Jihane di ruang tunggu. Ia mulai duduk dan merapalkan doa-doa terbaik untuk keadaan Jihane Aruna. Setelah cukup lama matanya ia pejamkan untuk terus berdoa, kegiatannya itu dihentikan saat ada seorang Ners yang memanggilnya.

“Keluarga Pasien atas nama Jihane Aruna?” Suara lembut Ners terdengar ke telinganya. Ia langsung sadar dan beranjak berdiri dari duduknya. “Iya, saya. Bagaimana keadaannya, Ners?”

“Tadi sudah ditangani Dokter, dan pasien baik-baik saja. Hanya saja mungkin tadi mengalami shock saat tahu keluarganya berada dalam pesawat yang hilang kontak itu.” Mendengar itu Kala terdiam. Dirinya tetap geming. Ia tidak tahu bahwa penyebab Jihane Aruna pingsan adalah keluarganya yang berada dalam pesawat hilang kontak yang baru saja terjadi. Siapa keluarganya?

Setelah cukup lama terdiam, Kala sadar. “Boleh saya temui?”

“Boleh, tapi mohon biarkan istirahat dulu.”

— usahredup

kalapergi

Pagi ini Kala dan Chandra sedang dalam perjalanan menuju bandara. Di dalam taxi Kala duduk di belakang sedangkan Chandra di depan menemani supir. Keadaan dalam taxi sama sekali tidak ada pembicaraan. Kala yang berada di belakang sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia memikirkan Shakilla juga memikirkan Jihane Aruna yang ia tinggalkan. Apalagi memikirkan pernikahan Ayahnya yang harusnya sedang diselenggarakan hari ini.

Sampai di bandara Kala turun dan menunggu di kursi tunggu sambil menaruh kopernya di sampingnya sebelum duduk di kursi. Sedangkan Chandra sedang mengurus semua tentang penerbangannya menuju Amerika.

Dalam duduknya di kursi ia menengok ke sampingnya, menatap koper yang ia bawa. Yang kita lihat hanya Kala yang menatap kopernya tapi aslinya ia seolah menatap Jihane Aruna yang berada di sampingnya alih-alih kopernya. Membayangkan ia memberikan perpisahan yang layak pada Jihane Aruna dan meminta doa pada Jihane Aruna agar ia kembali lagi dalam keadaan sehat dan selamat. Tapi semuanya hanyalah angan-angan yang tak mungkin terjadi.

Kala sudah putuskan bahwa tidak akan ada hubungan lagi antara dirinya dengan Jihane Aruna untuk meminimalisir sakit yang makin berlebih jika terus berhubungan. Pesan singkat yang ia sampaikan pada Jihane Aruna sebelum menuju bandara sudah cukup untuk mengakhiri semuanya bagi Kala.

Cukup lama menunggu Chandra, Kala melihat ke sekitar. Di sisi lain, Jihane yang baru saja sampai di bandara berlari menuju ke dalam dan matanya mengitari seluruh posisi bandara mencari seseorang. Ia mencari Kala. Jihane yakini bahwa Kala belum pergi sekarang. Ia yakini bahwa Kala juga masih ragu untuk pergi meninggalkannya. Pikiran itu terus Jihane tanam dalam pikirannya.

Ia berjalan beberapa langkah saat melihat televisi yang terpasang di bandara sedang mengabarkan pesawat yang saat ini hilang kontak. Ia lihat dengan seksama pesawat apa yang hilang kotak. J Airways 129. Terpampang jelas dalam televisi itu mengabarkan bahwa pesawat J Airways yang belum lama terbang mengalami hilang kontak. Pesawat yang Jihane ingat sedang menumpangi Mamahnya itu dalam masalah.

Setelah melihat televisi itu Jihane alihkan pandangannya ke seluruh bandara. Ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Pandangannya mulai mengabur, ia mulai merasa saat melihat orang-orang berlalu-lalang tidak terlihat jelas dari pandangannya. Ia terjatuh lemas dan pingsan.

Saat itu juga bandara mulai ramai orang berlalu-lalang dan mulai berisik dengan segala pertanyaan dari keluarga yang merasa salah satu anggota keluarganya berada di pesawat yang hilang kontak itu.

Kala yang sedang duduk menunggu Chandra dihampiri penasaran melihat bandara yang ramai tak biasanya. Ia mulai beranjak dari duduknya saat makin lama di ujung sana banyak orang yang sedang berkumpul seperti telah terjadi sesuatu di sana. Kala berjalan menuju ke titik berkumpul orang-orang sambil pandangannya melihat ke seluruh penjuru bandara. Dan pandangannya terhenti saat melihat televisi, sebuah pesawat mengalami hilang kontak belum lama ini.

Semakin dihampiri penasaran ia mulai berlari cukup cepat menuju ke sana. Sampai di sana ia maju menyingkirkan orang-orang perlahan untuk memberinya jalan. Dan saat melihat ternyata ada yang pingsan ia terdiam sesaat. Ia melihat sekitaranya. Bagaimana bisa tidak ada yang menolong orang yang sedang terbaring lemah pingsan itu dan hanya dipandangi dengan beberapa pertanyaan tanpa aksi.

Kala perlahan melangkah menuju yang sedang pingsan, yang ia yakini adalah perempuan setelah melihat rambut panjangnya itu. Makin mendekat ke arah itu dengan jantungnya ia rasa berdegup lebih kencang terkejut saat melihat siapa yang sedang terbaring lemah itu. Jihane Aruna. Saat melihat itu langsung ia angkat wajah Jihane Aruna dan berusaha membuat Jihane terbangun dari tidurnya. Tak bangun-bangun juga ia mulai berteriak untuk seseorang memanggil ambulance.

“TOLONG! TOLONG PANGGIL AMBULANCE SECEPATNYA! TOLONG SAYA!” Kala berteriak kencang memohon agar ada yang mulai bergerak membantu selain hanya menonton.

Chandra yang selesai mengurus penerbangan Kala melihat kerumunan itu dan mendekatkannya. Melihat Kala yang berada di situ ia panggil, “Kal?”

Mendengar ada yang memanggil namanya, Kala mendongakkan kepalanya dan Chandra berada di depannya. “Chandra, tolong Jihane Aruna!” Kala terlewat panik melihat Jihane pingsan, ia bahkan sampai tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya memeluk Jihane Aruna yang sedang memejamkan mata itu.

Chandra yang terkejut saat tahu yang pingsan adalah Jihane langsung melakukan pertolongan pertama yang bisa ia lakukan saat itu juga. Setelah ambulance datang, Kala langsung mengangkat Jihane dan membaringkannya ke dalam ranjang juga memasukkannya ke ambulance itu.

Chandra yang melihat itu segera menghentikan Kala. “Kal. Stop.”

“Chandra saya mohon, tolong tunda.”

“Kal, harus berapa kali lagi gue tunda terus soal ini? Gue capek. Jihane udah ada yang nanganin, sekarang saatnya lo yang ditanganin, Kal!”

Kala hanya mendengarkan pembicaraan Chandra dan langsung meninggalkannya masuk ke dalam ambulance yang di dalamnya terdapat Jihane Arunanya.

Chandra yang melihat itu hanya bisa menghembuskan napas kasar. Ia akan menghadapi hal semacam ini berulang kali.

Sesampainya di rumah sakit, Jihane langsung ditangani oleh Dokter. Kala yang ikut ke rumah sakit menunggu Jihane di ruang tunggu. Ia mulai duduk dan merapalkan doa-doa terbaik untuk keadaan Jihane Aruna. Setelah cukup lama matanya ia pejamkan untuk terus berdoa, kegiatannya itu dihentikan saat ada seorang Ners yang memanggilnya.

“Keluarga Pasien atas nama Jihane Aruna?” Suara lembut Ners terdengar ke telinganya. Ia langsung sadar dan beranjak berdiri dari duduknya. “Iya, saya. Bagaimana keadaannya, Ners?”

“Tadi sudah ditangani Dokter, dan pasien baik-baik saja. Hanya saja mungkin tadi mengalami shock saat tahu keluarganya berada dalam pesawat yang hilang kontak itu.” Mendengar itu Kala terdiam. Dirinya tetap geming. Ia tidak tahu bahwa penyebab Jihane Aruna pingsan adalah keluarganya yang berada dalam pesawat hilang kontak yang baru saja terjadi. Siapa keluarganya?

Setelah cukup lama terdiam, Kala sadar. “Boleh saya temui?”

“Boleh, tapi mohon biarkan istirahat dulu.”

— usahredup

kyungsoonangis

Jihane keluar rumah hendak membeli makanan untuk dirinya dan Ibunya yang baru keluar kamar setelah tiga hari lamanya. Mengurung diri tanpa alasan yang jelas, tapi mungkin saja dia sedang merenungi kesalahannya. Pun kalau dia sadar.

Berjalan sendirian menyusuri jalanan yang sedang dihantam dinginnya malam hari seolah ikut merasakan suasana dingin di rumahnya juga. Bahkan setelah keluar kamar Ibunya itu tetap bungkam, tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya selain hanya raut wajah sembab yang dapat Jihane liat dari Ibunya.

Berjalan cukup lama sendirian, jalannya terhenti saat melihat sebuah tempat makan kaki lima yang bertuliskan seblak dibannernya. Ia berhenti sejenak dan terus memandangi tempat itu. Seblak adalah makanan kesukaannya dan itu mengingatkannya dengan ucapan Kala saat ia sedang putus asa.

“Setidaknya tetap hidup untuk makan makanan yang kamu suka.” Begitu katanya.

Setelah selesai dengan isi pikirannya yang dipenuhi oleh Kala, Jihane masuk ke tempat seblak itu dan memesan satu seblak untuk dirinya sendiri.

“Bu, seblaknya satu ya, cabenya yang banyak. Makasih, Bu.” Dalam kondisi seperti sekarang ini, cara satu-satunya untuk menghilangkan segala keberisikan di kepalanya itu hanya dengan memakan yang pedas-pedas. Dengan makan yang pedas-pedas, pikirannya hanya fokus untuk mencari