onenightontrain

kyungsoomenangis

Chandra terus menjaga Kala di ruang rawatnya, terus memandangi temannya itu yang sudah terhitung empat hari dia terbaring koma disini. Sesekali pandangannya menuju jendela yang berada di samping tempatnya duduk menghadap Kala. Langit mulai gelap. Ia gerakkan kakinya tidak jelas, terus menunggu Kala untuk segera bangun.

Chandra bangun dari duduknya yang sudah cukup lama, terasa sedikit pegal terlalu lama duduk dengan posisi sama. Berdiri hendak menuju meja di depan ranjang Kala. Tapi langkahnya terhenti ketika sekilas matanya melihat gerakan tangan Kala. Langsung saja ia mengecek tubuh Kala dan melihat alat yang berada di samping ranjang Kala. Kondisinya sudah normal. Ia menatap Kala berbinar-binar. Menunggu perlahan-lahan Kala yang sedang membuka matanya. Hingga saat matanya terbuka penuh, Chandra memeluknya kegirangan.

“KALLLLL!!!!” Terdengar suara teriakan gembira Chandra melihat Kala siuman.

Kala yang masih menyatukan nyawanya merasakan sakit kepala saat teriakan Chandra sampai di telinganya. “Aaa ...” Lirih Kala.

“Eh, maaf, Kal, gue kegirangan akhirnya lo banguunn ... empat hari, Kal. Empat hari lo koma ... GILA!”

“Ada apa ...? Saya kenapa ...? Jihane Aruna ... Bagaimana?” Berbagai pertanyaan datang dari Kala yang baru bangun dengan segala kebingungannya.

“Satu-satu nanyanya ... Lo itu koma, Kal. Lo inget nggak malem setelah lo ketemu Jihane dan ke rumah sakit lagi? Itu lo dihadapan gue pingsan dan berakhir disini emoag hari ....” Chandra antusias bercerita.

“Banyak yang nyariin lo. Gue bingung harus gimana. Awalnya gue mau bilang sejujurnya ke Septa, Jihane, Meja Bundar, tapi ... gue keinget omongan lo dulu ...”

“Lo nggak mau bikin orang-orang khawatir sama keadaan lo ... Ya akhirnya gue cuma ngasih tau Anne soal keadaan lo. Anne juga lagi dalam perjalanan balik, dia mau jenguk lo.”

Kala terdiam, menatap serius setiap kata yang keluar dari mulut Chandra. Meski tatapannya penuh kepada Chandra dalam pikirannya berbeda. Ia kembali mengingat Ayahnya. Mengingat Ayahnya yang akan segera menikah dengan Ibu dari Jihane Aruna.

“Kal ...? Lo dengerin gue cerita nggak sih?” Kala akhirnya keluar dari lamunannya mengenai Ayahnya. Ia alihkan pandangannya ke sekeliling ruang rawatnya.

“Ini di mana?”

“Di rumah sakit yaaaang jauh ... Sesuai keinginan lo.”

Kala sedikit mengangguk. Melihat itu Chandra tiba-tiba sadar, harusnya ia menemui dokter yang menangani Kala terlebih dahulu dan memberi tahunya bahwa Kala sudah siuman.

“Oh ya, Kal, gue ke ruangan Dokter Calvin dulu, ya? Lapor soal keadaan lo. Abis ini lo diperiksa dulu. Gue keluar dulu, ya ...” Chandra keluar dari ruangan Kala.

Di ruangannya Kala kembali melamun, cukup lama ia melamun membuat sakit kepalanya muncul dan ia sedikit meringis kesakitan. Untuk menghilangkan sakit kepalanya ia coba untuk memejamkan matanya. Tubuhnya masih cukup lemah. Untungnya keadaan ia bangun dari koma tidak parah, ia hanya cukup beristirahat setelah empat hari dirinya terbaring koma.

Matanya yang terpejam terbuka saat nada dering telepon berbunyi. Ia cari dimana posisi suara itu muncul. Melihat ke arah kirinya ia melihat meja yang diatasnya terdapat ponsel milik seseorang. Cukup terganggu dengan suara telepon itu akhirnya coba meraih ponsel itu sebisanya tanpa melihat dari siapa telepon itu ia langsung mengangkatnya.

Di tempat lain, Jihane yang sedang berada di kamarnya berbaring di kasur terbangun kaget melihat bahwa teleponnya itu dijawab. Langsung saja ia berkata apa yang sedari tadi ia ingin sampainya.

“Kak, gue mau ngundang lo buat dateng ke tunangan nyokap gue ...”

Kala yang mendengar suara itu tubuhnya bergetar seperti sudah ribuan tahun tidak mendengar suara cempreng milik perempuan yang ia sangat sayangi itu.

Ucapan Jihane tak kunjung mendapat jawaban.

“Kak? Gue lagi ngomong ini sama lo bukan sama patung. Kalo lo bisa dateng ... Tolong dateng, ya ...”

“Sama kalo bisa ... Kalo bisa ini ya ... Kalo Kak Kala udah nggak sibuk ngurusin perawatan Killa, tolong datengnya sama dia ...”

“Tapi kalo bisa Kak Kala aja yang dateng malah bagus ... Tapi kalo emang nggak bisa yaudah lo sama temen-temen lo tolong dateng buat ngeramein. Tenang ... Nanti bakal banyak makanan disana kok.”

Tetap tidak ada balasan setelah banyaknya yang Jihane katakan. Kala tak kuat untuk menjawab ucapan Jihane apalagi dengan keadaannya yang baru saja siuman dari koma. Hanya air mata bening yang terus berjatuhan dari pelupuk mata Kala sebagai balasan yang Jihane Katakan. Jarang sekali Kala menangis separah ini apalagi dalam diam, tapi karena Jihane ia bisa menangis sebegitunya.

“Kak? Lo dengerin gue nggak sih? Minimal jawab 'iya' kek!” Jihane kesal. Di kamarnya ia melempar bantal yang ia pegang selama berbicara dalam telepon itu karena sedikit deg-degan.

Jihane terdengar kesal sebab tak kunjung mendapat jawaban itu membuat Kala tersenyum. Sudah lama ia tidak mendengar ocehan yang datang dari Jihane seperti biasa padanya.

Saat Kala sedang tersenyum lebar menampilkan gigi-giginya itu seketika terkejut melihat Chandra datang dengan Dokter Calvin.

“Kal?” Chandra langsung melangkah menuju ranjang Kala dan mengambil ponsel dan melihat telepon dari siapa itu sebelum mematikannya.

Jihane yang mendengar suara Chandra memanggil Kala ingin bertanya tapi terdahului dengan panggilan yang ditutup sepihak. Ia langsung saja kaget dan terus memikirkan itu. Apakah yang sedari tadi mendengar ocehan-ocehannya itu adalah Kala?

Langsung saja Jihane mengirim pesan ke Chandra dengan segala tanda tanyanya.

Sudah teramat lama Chandra berdiam di tempatnya. Menyaksikan temannya itu yang sedang terbaring lemah merasakan sakit yang tak terhingga. Fokusnya hanya jatuh kepada Kala. Ia sangat takut bahwa Kala akan tertidur semakin lama lagi. Pemeriksaan setelah Kala pingsan malam itu di hadapannya itu memberikan hasil bahwa 50% dari penglihatan yang Kala punya tidak berfungsi lagi. Bahkan Kala yang terbaring lemah itu sempat kejang yang membuat Chandra khawatir hebat.

Ditambah dengan pesan-pesan yang Jihane kirim padanya membuat ia berkata pada Kala yang ia yakini mendengar ucapannya meski matanya terpejam.

“Kal ... Perlu dibales atau nggak pesannya?”

Tidak ada jawaban. Chandra mengetahui itu, tapi hal itu rasanya perlu Kala tahu. Chandra memandangi ponselnya yang sedari tadi menampilkan pesan-pesan dari banyak orang. Septa, Meja Bundar, dan Jihane. Jihane menelponnya. Segera ia rapikan bajunya dan mengatur napasnya. Tarik buang ... lalu ia angkat telepon itu begitu menjauh dari ranjang Kala terbaring.

“Halo ...?”

“Chandra ... ini gue, Jihane.” Terdengar jelas oleh Chandra bahwa Jihane di sana sedang khawatir dengan lirihan tiap kata yang keluar dari mulutnya.

“Halo ... Gue tau.” Kaki Chandra tidak bisa diam mengartikan ia terus berpikir harus berkata apa selanjutnya oleh Jihane jika ditanya mengenai Kala.

“Ada masalah sama Kala? Kenapa dia nggak jawab chat gue? Dia juga nggak jawab teleponnya. Udah tiga hari, Chan ...”

Pertanyaan bertubi-tubi datang menghampiri Chandra. Mau tidak mau saat ini juga Chandra harus melakukan aksinya berbohong.

“Dia nggak bisa bisa jawab teleponnya sekarang. Dia lagi sibuk ngurus perawatan Shakilla. Penting banget, Ji ...” Chandra berkata sambil pandangannya menuju ranjang Kala. Memerhatikan tubuh lemas Kala yang tak berdaya dengan matanya yang terpejam juga suara-suara alat yang terus berbunyi.

koma

“Sampai kapan?” Jihane lega mendengar Chandra berkata begitu. Berarti Kala sedang tidak apa-apa saat ini. Ia tidak sakit atau sedang ada masalah. Ia hanya fokus mengurus perawatan Shakilla anaknya.

“Beberapa hari ini mungkin dia nggak akan pegang hp.”

“Oke. Tolong bilang ke dia ya kalo gue nelpon dia.”

“Tolong juga bilang buat telpon gue balik.”

“Oke.”

“Makasih, Chan ...”

Jihane yang saat ini berdiri di depan rumah Kala terus menunggunya menurunkan badannya berjongkok. Lega rasanya saat ia menelpon Chandra dan Chandra mau mengangkatnya. Tapi, ia lupa sesuatu. Ia lupa untuk bertanya Dimana Kala sekarang.

Setelah mengangkat telpon dari Jihane, Chandra kembali mendekati ranjang Kala.

“Kal ... Lo nggak perlu khawatirin gimana keadaan Jihane sekarang. Dia baik-baik aja. Dia barusan telpon gue, dia minta lo untuk telpon dia balik. Fokus sembuh ya, Kal ...”

“Lo harus cepet bangun biar bisa telpon Jihane balik ...” ucap Chandra sambil menepuk pelan bahu Kala yang masih dalam keadaan terpejam. Terdengar lirihan napas lega dari Chandra.

Setelah mengetahui pesan yang diberikan Kala padanya, Chandra segera menuju rumah Kala menggunakan mobilnya. Menjemput Kala beserta Killa yang saat itu sedang tertidur pulas. Chadra awalnya meminta Kala untuk langsung menceritakan semuanya saja di rumahnya malam itu, tapi melihat raut wajah datar Kala akhirnya ia mengurungkan keinginannya.

Membawa Kala dan Killa menuju rumah sakit adalah salah satu jalan, sekaligus memastikan keadaan Kala apalagi dengan keadaannya saat ini. Di perjalan menuju rumah sakit, Kala hanya berdiam tanpa bersuara sedikitpun di dalam mobil, sambil melihat ke arah jalan lewat jendela lalu mengelus lembut tubuh Killa guna menjaganya tetap tertidur pulas di pangkuannya itu.

“Kal ...”

“Saya akan ceritakan sesampai di sana ...” Kala enggan berbincang saat ini, dirinya masih sama shocknya dengan Chandra bahkan lebih. Bagaimana tidak? Orang yang selama ini berada di dekatnya ntah berpura-pura atau memang tidak mengenalinya adalah Ayahnya. Seorang figur yang saat ia kecil dahulu sangat dibutuhkan nyatanya tak pernah hadir. Dan sekarang ia hadir seolah mencari anaknya yang tlah lama hilang.

Kalau saja pembicaraan Pakde Supra dan orang itu ia tidak sengaja menguping, ia tidak akan mengetahui kebenaran dari kenyataan yang sednag ia hadapi. Sesampainya di rumah sakit, Killa ditaruh di sebuah ruangan khusus milik Chandra yang menjabat sebagai Dokter di rumah sakit itu. Lalu Kala dan Chandra mulai menuju ruang tamu yang biasa Chandra pakai untuk menjamu tamu-tamu pentingnya di rumah sakit itu. Duduk di sofa cukup lama tanpa suara akhirnya Chandra memberanikan diri untuk memulai.

“Langsung ceritain aja, Kal ...”

Dalam obrolannya dengan Kala malam itu, Chandra hanya bisa menutup mulutnya sebab sangat terkejut dengan apa yang Kala ceritakan. Ditambah lagi dengan Kala yang mengatakan bahwa ia akan memberikan pernyataan pensiunnya sebagai atlet figure skater. Bukan tanpa sebab hal itu ia pilih, dengan segala masalah yang ia hadapi rasanya rasa gembira berseluncur tak ia rasakan lagi. Sakit yang ia rasakan sekarang ini juga menjadi alasan terbesar.

“Beneran mau gitu, Kal? Ini bukan keputusan mudah pasti buat lo ...” Chandra bertanya dengan serius.

“Saat ini yang hanya bisa saya lakukan adalah menjalani pengobatan. Saya ingin jauh dari semua orang. Saya tidak ingin tahu akan masalah apapun selain masalah kesehatan saya, sakit kepala yang saya rasakan semakin lama semakin parah sakitnya, Chandra.”

“Terus? Jihane? Bokap lo? Meja Bundar? Shakilla? Gimana?” Banyak sekali tanggungannya. Diam yang sedari tadi ia lakukan adalah untuk memikirkan bagaimana mereka-mereka yang Chandra sebutkan tadi.

“Shakilla akan saya carikan dokter pengganti secepatnya, yang pasti bukan Berengsek itu. Lalu meja bundar, saya rasa mereka tidak perlu tahu ini semua, itu hanya akan menambah pikiran mereka, saya tidak ingin jadi beban. Untuk Berengsek itu, saya tidak peduli. Apapun yang mereka lakukan saya akan bersikap bodo amat. Saya juga tidak akan menganggap dia sebagai Ayah saya. Tidak sudi.”

“Jihane? Lo belum ngasih tau gue bakal gimana sama Jihane.” Kala yang tadinya menunduk terpejam tatapannya kembali menghadap Chandra dengan tarikan napas panjangnya lalu ia buang dengan perlahan.

“Perihal Jihane Aruna ...” Lama jeda yang Kala beri dalam ucapannya kali ini, ia masih memikirkan ucapannya setelahnya. “saya akan memutuskan hubungan saya dengannya.”

“Kal?” Chandra terkejut dengan ucapan Kala barusan.

“Saya bingung harus bagaimana, Chandra. Pada akhirnya hubungan saya dan Jihane Aruna yang harus dikorbankan.”

“Ibu Jihane Aruna dan Si Berengsek itu akan segera menikah.”

“Gila! Mereka ini nggak punya hati atau nggak punya otak sih? Bisa-bisanya. Jahat banget.” Chandra kembali dikejutkan dengan ucapan Kala.

“Lo nggak boleh terlalu baik, Kal! Orang yang udah bikin lo sakit itu harus dibales sakit juga, jangan dibales baik. Lawan, Kal ...”

“Kalau saya lawan, bagaimana dengan Ibu Jihane Aruna? Semuanya saya pikirkan untuk kebaikan keluarga Jihane Aruna. Kalau saya lawan, semuanya bisa saja hancur.”

Ditengah-tengah obrolan serius mereka, bunyi telepon berdering dari gadget Kala. Melihat dari siapa penelepon itu membuat Kala berpikir untuk tidak menjawabnya.

“Dari siapa, Kal?”

“Jihane Aruna.”

Diam. Baik Chandra dan Kala fokus dengan pikirannya masing-masing. Kala memikirkan akan ia jawab atau tidak telepon itu dalam keadaan seperti ini dan Chandra dengan pikirannya tentang nasib Kala selanjutnya. Terlalu malang.

“Angkat, Kal. Kalau bukan sekarang kapan lagi? Kita nggak pernah tau gimana keadaan lo dan Jihane Aruna besok. Bilang ke dia tentang semuanya. Tentang bokap lo dan Ibunya. Bilang.” Kala yang mendengar ucapan Chandra itu langsung membawa teleponnya yang masih berdering menuju keluar ruangan.

“Kak ... ” Suara lirih itu terdengar dari luar sana, dada Kala terasa sesak mendengar suara itu. Ia tidak sanggup untuk mengatakan yang sebenarnya tentang mereka.

“Kayanya beneran selesai di sini ... Capek banget ...”

“Gue lagi di jembatan, Kak ...”

Mendengar ucapan Jihane barusan Kala terkejut. Ia langsung berlari sekencang mungkin menuju jembatan yang Jihane maksud. Jembatan di mana ia pertama kali bertemu Jihane dan melihatnya ingin bunuh diri. Khawatir makin Kala rasa setelah mendengar Jihane mengucapkan terima kasih, “Makasih, Kak ... Makasih udah bantuin gue dulu di sini.”

“TUNGGU! TUNGGU DI SANA! JANGAN LAKUKAN APAPUN! PAHAM? JIHANE ARUNA? MASIH DI SANA?”

Kala berlari kencang melewati jalan yang sedang ramai dengan pengendara mobil dan mobil. Menghiraukan suara klakson dari pengendara sebab Kala berlari melewati jalan pengendara itu.

“Jihane Aruna?” Kali ini nadanya pelan. Ia berharap tidak ada kejadian yang saat ini tertempel dipikirannya. Bunuh diri. Ia takut sekali Jihane Arunanya akan melakukan hal itu untuk yang kedua kalinya. Meski ia tidak tahu apa yang sedang Jihane alami tapi ia paham bahwa dari awal pertemuannya sampai sekarang pun Jihane Aruna tidak pernah baik-baik saja.

“Dengar suara saya, Jihane Aruna?” Kala masih memastikan bahwa telepon itu masih berada ditelinga Jihane.

“Denger ...”

“Tahan dulu ... Jangan lakukan apapun, ya?”

Kala masih juga berlari menuju jembatan yang jaraknya cukup jauh dari rumah sakit. Dihadang dengan kemacetan yang malam itu menghalangi Kala berlari ia tetap berusaha untuk cepat menuju jembatan. Saat dirinya melihat jalanan sudah mereda dari kemacetan ia berlari menyeberang jala Kala tertabrak mobil yang tiba-tiba saja muncul dan terpental begitu juga dengan gadgetnya. Kepalanya penuh darah akibat terpental dan malam itu ia dikerubuni dengan orang-orang yang menyaksikan adegan itu. Menghiraukan itu semua dirinya masih mencoba untuk meraih gadgetnya yang tak sanggup ia raih dengan jaraknya yang cukup jauh. Sambil menahan rasa sakit dari kepalanya Kala berhasil meraih gadgetnya dan mencoba sekuat tenaga untuk berdiri mengatur keseimbangannya karena pusing yang tiba-tiba hadir saat ia berdiri.

Meski dalam keadaan kepalanya yang bocor dan menghasilkan darah banyak keluar ia tetap berlari menuju jembatan yang tak jauh dari kejadian tabrakannya. Ia tidak sanggup lagi untuk berbicara selain hanya bisa sekuat tenaganya berlari ke jembatan.

Sesampainya di jembatan ia melihat Jihane berdiri di pegangan jembatan itu. Berdiri menghadap lurus ke arah sungai yang menjulang lebar di sana.

“Stop! Stop! Stop! Jangan lakukan apapun.” Kala berteriak cukup keras pada Jihane. Ia lega Jihane masih berdiri dengan posisinya di sana. Jihane yang melihat kehadiran Kala secara tiba-tiba terkejut.

“Kak ... Lo ngapain di sini?” Jihane menengok ke arah Kala yang berada di sampingnya sedang berjalan menujunya perlahan juga.

“Tenang ... Tenang ... Jangan lakukan apapun.”

“Ada apa sih, Kak?”

“Itu lo kenapa?” Jihane yang khawatir juga berjalan mendekat ke arah Kala. Mereka sama-sama mendekatkan diri yang pada akhirnya jarak antara mereka hanya lima jengkal.

“H-hah? Ada apa?” Kala yang bingung dengan ucapan Jihane meraba wajahnya hingga memegang sarah di kepalanya.

“Tidak apa. Kamu tidak apa?”

“Kak ... Lo abis ngapain ini sampe berdarah? Berantem? Ayo diobatin dulu.” Kala semakin bingung. Yang harusnya dikhawatirkan adalah Jihane Aruna sebab berada di jembatan keramat tapi kenapa malah justru perhatian itu tertuju pada Kala.

“Kamu tidak apa?”

“Ish! Aturan gue yang nanya, lo gapapa? Tapi ini mah lo bukannya gapapa tapi nggak baik-baik aja.” Jihane menarik Kala untuk duduk di kursi yang ada di sekitar jembatan lalu duduk dan memegang pelan kepala Kala.

“Sakit, ya? Abis ngapain sih?”

“Kalau mau mati, mati bersama.” Jihane yang mendengar ucapan Kala barusan sangat amat terkejut. Kala yang saat itu memerhatikan raut wajah Jihane pun semakin tidak habis pikir lagi.

“Ngapain mati? Ngeledek, ya? Mentang-mentang dulu gue pengen bundir di sini.” Ia memukul pelan bahu Kala.

“Memangnya sekarang tidak?”

“Hah? Ya nggak lah. Ngapain ... Orang udah ada yang nyemangatin gue hidup kok ... Jadi buat apa bundir.”

“Gue tuh ke sini cuma pengen refresh otak aja. Soalnya bokap tadi pagi abis ngechat gue dan keselnya ampe sekarang belum reda. Kepala tuh rasanya berisik banget.” Jihane berbicara sambil menghadap jalanan melihat pengendara berlalu-lalang.

Kala yang melihat itu mendekatkan dirinya pada Jihane. Jihane yang dadanya saat itu berdegup kencang memejamkan matanya. “Hush! Sekarang udah cukup tenang mereka.” Kala meniup jidat Jihane.

“H-hah?”

“Kepalanya berisik 'kan? Sekarang sudah saya suruh tenang.” Mendengar balasan dari Kala membuat Jihane memukul-mukul kepalanya keras.

“Ish! Ish! Ish! Gue geer! Gue geer!” Melihat kepala Jihane yang terus menerus dipukul oleh Jihane sendiri, Kala akhirnya memegang tangan Jihane menahan agar tidak ada pukulan lagi.

“Jangan dipukul, tapi diusap ...” ucap Kala dengan suara pelan.

Malam itu, Kala mengurungkan niatnya untuk memutuskan hubungan dengan Jihane. Kesalahpahaman yang terjadi malam ini terlalu dramatis, tapi itu membuat Kala tersadar. Ia tak seharusnya melepaskan wanita gemas yang malam itu perhatian tidak pernah terlepas dari pandangannya.

Kala tersadar bahwa melepaskan wanita itu bukanlah cara menyelesaikan masalah itu. Tapi, ia masih tidak tahu harus kapan menceritakan masalah ini dengan serius pada wanita itu. Jalani saja dulu.


jembatan

foto

Kala berjalan dengan santai menuju rumah Pakde Supra, tepat berada di depan toko buku yang persis di samping rumahnya Kala masuki tempat itu. Melihat ke sekeliling sebab sudah cukup lama ia tak mampir ke sini. Memasuki tempat khusus Pakde dengan perlahan Kala mendengar obrolan seseorang yang ia yakini itu suara Pakde Supra.

“Aku sudah bilang sekarang bukan waktu yang tepat!” Amarah terdengar dari balik pintu tempat Kala sekarang berdiri memberikan kupingnya untuk mendengarkan obrolan itu.

“Tapi sampai kapan, Mas? Sampai kapan aku harus menunggu kehadiran anakku dihadapanku?!” Suara lelaki membalas dengan nada tinggi ditambah dengan suara lirih.

“Sampai dia siap, Pram ... Sampai dia bisa menerima kehadiranmu ...” Suara lirih Pakde Supra terdengar jelas, Kala yang mendengar dari balik pintu terkejut saat Pakde menyebutkan nama “Pram”. Bohong jika ia lupa siapa nama itu.

“Dia pasti bisa menerimaku, Mas. Aku akan jelaskan semua yang terjadi.”

“Penjelasanmu sejelas apapun itu tidak akan bisa menyembuhkan luka yang kamu berikan padanya dan Ibunya dahulu, Pram!” Kesabaran Pakde Supra habis, ia melempar buku yang sedari tadi ia genggam agar amarahnya tak memuncak.

“Sadar! Apa yang kamu lakukan padanya dulu! Kala tidak akan pernah bisa memaafkanmu!”

Deg!

Bukan main jantungnya terkejut. Benar pikirannya bahwa orang yang sedang beradu dengan Pakde Supra adalah orang yang paling dibencinya. Ayahnya sendiri. Dengan amarah yang bergejolak dan tidak bisa ditahan lagi Kala membuka pintu itu. Pakde Supra dan laki-laki itu hanya bisa terdiam melihat siapa yang berada di depan pintu itu.

“Berengsek.” Hanya sepatah kata itu yang keluar dari mulut Kala sebelum akhirnya detik kemudian ia meninggalkan tempat itu. Meyakinkan dirinya yang terkejut hebat sebab “Pram” yang ia benci itu adalah “Habibie” yang selama ini ia hormati.

Sedangkan di dalam ruangan itu kesunyian tercipta. Keduanya masih sama-sama terkejut. Terlebih lagi dengan Habibie yang masih kebingungan dengan pikiran buruknya saat ini.

“Dia anakku?”

“Tolong jawab!”

“Mas Ibra!” Laki-laki yang ia teriaki itu hanya diam. Iya, Pakde Supra. Laki-laki yang selama ini dikenal dengan nama Supra memiliki nama asli yaitu Ibrahim. Nama Supra ia buat hanya demi Kala, nama itu terdengar lucu untuk membuat Kala tertawa meski nyatanya Kala tak pernah menertawakannya. Nama itu ia buat agar Kala bisa nyaman dengannya dengan kelucuannya.

“Iya, dia anakmu.”

“Megantara ...?” Setitik air bening jatuh dari pelupuk mata Habibie. Ia tidak bisa memikirkan bagaimana sebentar lagi anaknya itu akan membencinya. Bukan sebentar lagi, tapi saat ini juga anaknya pasti sudah membencinya.

“Kenapa tidak bisa sedari dulu, Mas?”

“Kenapa baru bilang sekarang saat saya memaksa?! Kenapa tidak dari dulu sebelum saya mengenalnya lebih jauh?!”

“Mas ...” Badan Habibie lemas, ia jatuhnya badannya berlutut menangisi apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Bukan hanya kamu yang akan dia benci, aku juga ...”

“Sudah kubilang lebih baik kamu tidak tahu siapa anakmu jika tidak ingin ini terjadi ...” Ibrahim berkata sambil melihat sekelilingnya membayangkan saat dulu Kala masih kecil sering berkeliaran di sini. Ia tak akan siap dengan ini semua.

“Sekarang urusi dirimu sendiri, Pram. Aku sudah tahu bahwa kamu ingin menikah.”

Mendengar itu Pram bangun, lalu menatap tajam mata Ibrahim dan pergi begitu saja meninggalkan Ibrahim sendirian.


Kala beristiharat di halte bus, ia sedang menunggu bus segera datang dan membawanya pulang. Menahan tangis yang susah payah ia tahan agar tak keluar sekarang. Diluar ia terlihat tak ada kesedihan hanya ada kebencian pada lelaki itu, tapi jujur dari dalam hatinya ia sangat sakit seperti ditusuk belati. Bagaimana bisa orang yang ia percaya tidak akan pernah menyakitinya justru adalah orang yang pernah menyakiti Ibunya sebelumnya. Orang yang meninggalkan Ibunya bahkan saat Ibunya mengandung dirinya.

Kala menaiki bus yang baru saja datang, ia duduk dipinggir dekat jendela. Pikirannya sudah tidak bisa fokus lagi setelah kejadian itu. Ia masih tidak menyangka bahwa waktu mengetahui siapa ayahnya secepat ini. Bukan hanya memikirkan Pak Habibie lah yang menyakiti Ibunya, ia juga memikirkan Jihane dimana Ibunya akan menikah dengan Pak Habibie. Ayahnya. Ia tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana nasib hubungannya dengan Jihane selanjutnya apalagi dengan Pak Habibie dan Ibu Jihane yang segera melangsungkan pernikahan. Betapa malangnya dirinya dan jahatnya Ayahnya yang muncul disaat seperti ini. Kenapa pula dia harus hadir setelah apa yang dia lakukan dulu.

“Udah selesai ...” Jihane merapikan garpu dan sendoknya setelah kegiatan makannya selesai. Kala yang sudah lebih dulu selesai makan hanya memperhatikan tiap gerakan yang Jihane lakukan.

“Ya sudah, ayo pulang.”

“Eh bentar, tadi gue udah nge chat Septa.”

“Ada apa?”

“Ituuu ... gue nyuruh dia buat minta maaf ke lo.” Kala yang mendengar itu kebingungan.

“Maaf untuk apa?”

“Ya ituuu ... dia ampe buat lo mohon-mohon ke kepala sekolahnya demi dia tetep bisa sekolah.”

“Itu memang sudah seharusnya, Jihane Aruna. Sudah seharusnya saya seperti itu sebagai orang tuanya.” Menanggapi obrolan dari Jihane, Kala berdiri menyiapkan diri untuk keluar dari rumah makan tempat mereka makan ini. Jihane yang melihat itu juga ikut berdiri bergegas mengikuti Kala.

“Lo segitunya ya sama Septa, kaya beneran orang tuanya.”

“Saya memang orang tuanya.” Kala menatap Jihane sambil berjalan keluar.

“Hadah, yaudah dah gue mah kalah mulu sama Septa.”

Langkah mereka berdua yang berjalan menuju keluar rumah makan terhenti saat ada seseorang yang berdiri dihadapan mereka.

“Om Habibie?” tanya Jihane memastikan.

“Eh, halo Jihane, sedang apa di sini? Habis makan, ya?” Habibie menyadari keberadaan Jihane.

“Iya, Om. Oh ya, Om udah kenal kan ya sama cowo di samping Jihane?”

“Sudah, sudah, siang Megantara ...” Habibie menyapa Kala, dibalas anggukan oleh Kala.

“Megantara?” Tiba-tiba saja Jihane mengeluarkan pertanyaan.

“Oh, itu, Om memang sudah izin sama Kala untuk panggil dia Megantara saja ...” Habibie tersenyum pada Kala saat berbicara.

“Oh gituuu ... Yaudah, Om, Jihane sama Kak Kala duluan ya, Om?” Mendengar itu Habibie langsung terpikirkan sesuatu, ia ingin mengajak Kala makan bersama.

“Sebentar. Megantara ... Kalau ada waktu luang boleh saya ajak kamu makan bersama?” Ajakan Habibie tentu dibalas anggukan setuju dari Kala.

“Boleh, Pak. Nanti atur waktunya saja.”

“Saat hari anak nanti, bisa?” Pertanyaan itu membuat Kala sedikit bingung, kenapa harus waktu itu? jangka waktu yang jika dihitung dari sekarang masih cukup lama.

“Saya usahakan nanti, terima kasih ajakannya, Pak.”

“Iya, sama-sama. Hati-hati ya, Jihane dan Megantara.”

Jihane yang sedari tadi hanya memerhatikan pembicaraan mereka tersenyum dan berjalan lebih dulu daripada Kala. Sampai di pintu depan rumah makan Kala berhenti, pusingnya tiba-tiba saja muncul.

“Kak ... lo emang udah sedeket itu ya sama Om Habibie?” Menyadari pertanyaannya tak kunjung ada jawaban ia menengok ke belakang untuk memastikan Kala ada di belakang. Melihat Kala masih saja berada di depan pintu rumah makan sedangkan dirinya sudah cukup jauh ia berlari khawatir.

“Kak? Kenapa? Kepalanya sakit lagi?” Jihane menurunkan badannya menyamakan posisi jongkok dengan Kala.

“Tidak, hanya pusing saja.”

“Yaudah, duduk dulu aja.”

“Tidak, tidak apa. Sudah hilang pusingnya.”

“Beneran? Yaudah ayo pegangan tangan, kalo kepalanya pusing lagi pegang tangan gue yang erat aja nanti jalannya kita berhenti.” Jihane mengulurkan tangannya untuk Kala, menunggu uluran tangannya yang tak kunjung dibalas Jihane inisiatif untuk menggenggam tangan Kala lebih dulu.

“Dah ayo, aman.” Kala tersenyum melihat tangannya yang lebih dulu Jihane genggam. Mereka berjalan menuju rumah Kala dengan jalan kaki sambil diisi dengan obrolan-obrolan kecil dan canda tawa.


foto

Dengan sangat khawatir Jihane menunggu hasil pemeriksaan Kala. Pemeriksaan kesehatan Kala dilakukan oleh Dokter Chandra—temannya sendiri. Kesepakatan sedari awal yang Kala dan Chandra buat sepertinya hari ini akan terpecahkan, kesepakatan bahwa tidak boleh ada yang tahu penyakit Kala kecuali dirinya sendiri, Chandra, dan Anne. Awalnya kesepakatan itu hanya antara dirinya dan Kala, tapi setelah Chandra bilang bahwa setidaknya Kala punya tempat bercurah selain Chandra yang tak lain adalah dokternya sendiri.

Saat ini Kala sedang berada di rooftop rumah sakit, melamun memikirkan bahwa sebentar lagi Jihane Arunanya akan tahu kelemahannya. Kelemahan yang susah payah ia sembunyikan agar Jihane Arunanya itu hanya akan melihat sisi terbaik dari Kala. Kala juga memikirkan apa yang akan Jihane Arunanya rasakan saat tahu akan penyakitnya sebenarnya. Dia lamunkan semua kenyataan yang menghampirinya.

Setelah melakukan pemeriksaan Kala memang pamit keluar pada Jihane, Jihane yang melihat raut datar Kala justru khawatir dan menawarkan untuk mengantar ke mana Kala mau pergi tapi Kala menahannya dengan alasan menyuruhnya melihat hasil dari pemeriksaannya. Sendiri. Ia tidak akan tahan melihat reaksi apa yang akan Jihane keluarkan.

Setelah nama Kala sebagai pasien dipanggil Jihane memasuki ruangan Dokter Chandra. Dilihatnya Chandra yang berdiri membelakanginya tak berbicara sedikitpun. Cukup lama kesunyian tercipta dengan Jihane yang hanya terdiam tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, Chandra membalikkan badannya juga membalikkan posisi laptop miliknya menghadap dimana Jihane berdiri.

Jihane bisa melihat dengan jelas apa isi dari laptop itu, untuk memastikan kejelasan apa yang ia lihat, Jihane memajukan selangkah posisinya berdiri dan sedikit menunduk untuk melihat isi laptop lebih jelas. Jihane bisa melihat jelas gambar otak dengan buletan kecil diantaranya ada pada laptop itu.

“Maksudnya apa?”

“Glioblastoma, kanker otak stadium 4.”

Jelas Jihane sangat terkejut dengan jawaban yang diberikan Chandra, ia tidak menyangka bahwa histeris kesakitan yang kemarin malam Kala rasakan adalah bagian dari penyakit yang bukan biasa.

“Bisa sembuh ‘kan?”

“Sejauh yang saya tangani dan saya tahu, kasus penyakit ini belum ada yang menemukan titik terang kesembuhan.” Nada bicara tidak lagi seperti biasa Chandra bicara, nada serius dan tegas, ia juga mengganti katanya menjadi “saya”. Ia yakini bahwa saat ini adalah situasi yang serius.

Jihane menatap dalam mata Chandra, seolah ada harapan bahwa titik terang kesembuhan itu bisa terjadi pada Kala.

“Tapi nggak menutup kemungkinan bisa sembuh ‘kan?” Masih sama, Jihane masih berharap. Jiwanya kacau, pikirannya hancur. Keadaan berubah secepat ini. Kemarin baru saja ia merasa hati gembira dengan ajakan menikah Kala, tapi hatinya harus patah dengan kenyataan ini.

Dengan pertanyaan yang Jihane ajukan Chandra hanya bisa menjawab dengan anggukan. Ntahlah anggukan apa itu, yang jelas ia hanya harus tetap menjawab tiap pertanyaan yang dilontarkan Jihane sebab pasti dirinya sangat shock dengan apa yang terjadi.

Setelah Chandra membalas anggukan, Jihane langsung keluar dari ruangan. Ia berlari tanpa arah mencari dimana keberadaan Kala saat ini. Melewati setiap lorong dengan tatapan kosong. Hingga berhenti di depan anak tangga ia terpikirkan untuk menuju rooftop. Menaiki tangga demi tangga tanpa henti ia berusaha ke rooftop yang berada di lantai 14 tanpa menggunakan lift yang tersedia.

Sampailah Jihane di rooftop, ia bisa melihat tubuh belakang seseorang di ujung sana dari jaraknya yang cukup jauh yang ia yakini itu adalah tubuh Kala. Ia berjalan perlahan, sampai di tengah-tengah rooftop ia memanggil nama Kala lembut.

“Kak Kala …” Suara lembut itu bagaikan lirih tak berdaya.

Kala yang menyadari dirinya dipanggil dan mengetahui bahwa itu adalah suara panggilan dari Jihane, ia langsung membalikkan badannya menghadap Jihane dengan jarak jauh menghalangi mereka.

Dari jarak antaranya dan Jihane memang cukup jauh dengan rooftop yang sebesar ini, tapi ia tahu bahwa saat itu juga Jihane sedang menahan isak tangisnya agar tak pecah.

Dari jaraknya Kala menatap dalam mata Jihane. Ditemani kesunyian tempat ini, tidak ada yang membuka suara bahkan Kala sekalipun.

“Lo nggak baik-baik aja dan nggak akan baik-baik aja …” Jihane membuka suara.

“G-gue bakal kehilangan lo …” Saat itu juga, tangisnya pecah. Kala mendekat ke arah Jihane dan mendekap tubuh Jihane erat, dirasanya hangat menjalar dalam pelukan mereka membuat Jihane membuang napasnya. Bukan lega, hanya saja rasanya ia dikuatkan oleh Kala dan dirasa lebih tenang.

“Selagi masih ada, tidak akan ada kehilangan.”

Keduanya sama-sama berandai bahwa malam ini tidak pernah ada. Tidak pernah ada berita menyakitkan yang mereka ketahui. Tidak ada ketakutan kehilangan yang akan terus menghampiri sampai waktunya tiba. Tidak ada kesedihan yang dirasa akan terus terulang.

Meratapi kenyataan bahwa mereka akan saling kehilangan satu sama lain.

———

Dengan tenang Kala menunggu Jihane di depan rumahnya, dengan motor yang ia bawa. Sambil sesekali ia lihat ke atas ke arah balkon milik Jihane. Ia sudah berjanji malam itu untuk mengantar Jihane pertama kali kerja, khawatir Jihane lupa ia hendak memanggil Jihane dari bawah tapi suara notifikasi pesan yang datang dari Jihane mengalihkan perhatiannya dan tidak jadi memanggilnya. Kala tersenyum membacanya, bagaimana bisa Jihane dengan mudah mengeluarkan bahasa-bahasa seperti itu.

Melihat Jihane keluar dari rumah dan menghampirinya, Kala turun dari motornya lalu memberikan satu helm untuk Jihane. Ia sudah siapkan dua helm, satu untuknya dan satu untuk Jihane, semuanya sudah ia siapkan sempurna untuk Jihane yang baru masuk kerja. “Pakai helmnya.”

Alih-alih memakai helm itu ke kepalanya, Jihane justru hanya memegang helm itu karena ia berpikir jika memakai helm itu bisa membuat rambut yang sudah ia siapkan dengan rapi itu rusak. Kala tidak menyadari akan hal itu, ia justru langsung menaiki motornya dan diikuti Jihane juga menaikinya.

“Berangkat, ya.”

Dalam perjalanan hanya tercipta kesunyian diantara mereka, Kala yang fokus membawa motor dan Jihane yang terus menerus melihat ke kaca spion memeriksa apakah tetap rapi atau tidak rambutnya. Awalnya ia kaget sebab Kala justru membawa motor karena bisa saja sampai di sana riasan milik Jihane sudah hancur.

Kala ke arah kaca spion, ia menyadari Jihane tidak memakai helmnya, dengan pelan ia menyuruh Jihane untuk memakai helm. “Pakai helmnya.”

“Hah? Kenapa? Jangan ajak ngomong, gue budek kalo di motor.” Ditambah dengan suara-suara jalanan Jihane sedikit berteriak. Kala yang mendengar itu sedikit tertawa dan menyingkirkan motornya.

“Lho? Lho? Kenapa minggir? Motornya mogok?” Jihane panik bertanya pada Kala khawatir motornya terjadi sesuatu.

“Minggir dulu sebentar,” Kala turun dari motornya dan berdiri di hadapan Jihane lalu mengambil helmnya yang Jihane pegang lalu memakaikannya. “Helm ini dipakai bukan dipegang.”

“E-eh eh eh, tunggu dulu, ini bisa bikin rambut gue rusak …” Dengan sedikit lirih Jihane berkata.

Kala ingin menjawab tapi saat suara ambulance terdengar semakin dekat ke telinganya membuatnya ia mengurungkan niatnya untuk berbicara alih-alih melakukan gerakan hormat bagaikan pahlawan lewat yang membuat Jihane bingung.

“E-eh kenapa? E-eh?” Meskipun kebingungan menghampirinya ia tetap mengikuti Kala melakukan gerakan hormat.

Saat ambulance sudah melewati mereka Kala tetap masih dengan gerakan yang sama. “Ini belum selesai?” Jihane bertanya sambil melirik Kala sedikit. “Tunggu sampai suaranya tidak terdengar, baru selesai.”

Detik kemudian, Kala menurukan tangannya setelah melakukan gerakan hormat dan saat itu juga saat di mana Jihane akan banyak mengeluarkan pertanyaan untuk Kala. “Bertanyanya nanti saja, sekarang kita jalan lagi. Nanti telat.”

Sambil merapikan helmnya Jihane mengangguk paham dan naik ke atas motor. Mereka berjalan menuju gedung tempat Jihane kerja sama seperti tadi tanpa obrolan apalagi setelah Jihane bilang bahwa untuk jangan bicara saat di motor, memang benar seperti itu seharusnya.

Dengan tenang Kala menunggu Jihane di depan rumahnya, dengan motor yang ia bawa. Sambil sesekali ia lihat ke atas ke arah balkon milik Jihane. Ia sudah berjanji malam itu untuk mengantar Jihane pertama kali kerja, khawatir Jihane lupa ia hendak memanggil Jihane dari bawah tapi suara notifikasi pesan yang datang dari Jihane mengalihkan perhatiannya dan tidak jadi memanggilnya. Kala tersenyum membacanya, bagaimana bisa Jihane dengan mudah mengeluarkan bahasa-bahasa seperti itu.

Melihat Jihane keluar dari rumah dan menghampirinya, Kala turun dari motornya lalu memberikan satu helm untuk Jihane. Ia sudah siapkan dua helm, satu untuknya dan satu untuk Jihane, semuanya sudah ia siapkan sempurna untuk Jihane yang baru masuk kerja. “Pakai helmnya.”

Alih-alih memakai helm itu ke kepalanya, Jihane justru hanya memegang helm itu karena ia berpikir jika memakai helm itu bisa membuat rambut yang sudah ia siapkan dengan rapi itu rusak. Kala tidak menyadari akan hal itu, ia justru langsung menaiki motornya dan diikuti Jihane juga menaikinya.

“Berangkat, ya.”

Dalam perjalanan hanya tercipta kesunyian diantara mereka, Kala yang fokus membawa motor dan Jihane yang terus menerus melihat ke kaca spion memeriksa apakah tetap rapi atau tidak rambutnya. Awalnya ia kaget sebab Kala justru membawa motor karena bisa saja sampai di sana riasan milik Jihane sudah hancur.

Kala ke arah kaca spion, ia menyadari Jihane tidak memakai helmnya, dengan pelan ia menyuruh Jihane untuk memakai helm. “Pakai helmnya.”

“Hah? Kenapa? Jangan ajak ngomong, gue budek kalo di motor.” Ditambah dengan suara-suara jalanan Jihane sedikit berteriak. Kala yang mendengar itu sedikit tertawa dan menyingkirkan motornya.

“Lho? Lho? Kenapa minggir? Motornya mogok?” Jihane panik bertanya pada Kala khawatir motornya terjadi sesuatu.

“Minggir dulu sebentar,” Kala turun dari motornya dan berdiri di hadapan Jihane lalu mengambil helmnya yang Jihane pegang lalu memakaikannya. “Helm ini dipakai bukan dipegang.”

“E-eh eh eh, tunggu dulu, ini bisa bikin rambut gue rusak …” Dengan sedikit lirih Jihane berkata.

Kala ingin menjawab tapi saat suara ambulance terdengar semakin dekat ke telinganya membuatnya ia mengurungkan niatnya untuk berbicara alih-alih melakukan gerakan hormat bagaikan pahlawan lewat yang membuat Jihane bingung.

“E-eh kenapa? E-eh?” Meskipun kebingungan menghampirinya ia tetap mengikuti Kala melakukan gerakan hormat.

Saat ambulance sudah melewati mereka Kala tetap masih dengan gerakan yang sama. “Ini belum selesai?” Jihane bertanya sambil melirik Kala sedikit. “Tunggu sampai suaranya tidak terdengar, baru selesai.”

Detik kemudian, Kala menurukan tangannya setelah melakukan gerakan hormat dan saat itu juga saat di mana Jihane akan banyak mengeluarkan pertanyaan untuk Kala. “Bertanyanya nanti saja, sekarang kita jalan lagi. Nanti telat.”

Sambil merapikan helmnya Jihane mengangguk paham dan naik ke atas motor. Mereka berjalan menuju gedung tempat Jihane kerja sama seperti tadi tanpa obrolan apalagi setelah Jihane bilang bahwa untuk jangan bicara saat di motor, memang benar seperti itu seharusnya.

Setelah mendapat pesan yang begitu banyak dari Jihane, Kala segera turun dari busnya. Bus dengan arah yang sama dengan Jihane. Kala tidak akan pernah bisa meninggalkan Jihane pulang sendirian, meski Jihane menolak untuk diantarnya pulang Kala tetap berinisiatif untuk mengikuti bus dimana Jihane taiki untuk pulang dan ia ikuti dengan busnya di belakang.

Di busnya Kala duduk dengan terus memandang handphonenya, ia bahkan menyuruh Jihane untuk terus mengiriminya banyak pesan agar ia tahu apa yang terjadi. Jihane pun tipe orang yang akan mengirim banyak pesan apa yang sedang dia lakukan di mana saja.

Sambil membalas pesan-pesan dari Jihane ia tersenyum, mungkin orang lain yang ada di bus akan menganggapnya seperti orang gila karena ia tersenyum pada benda. Senyumannya itu bukan tanpa arti, ia tersenyum sebab foto yang Jihane kirim. Foto yang menunjukkan bahwa album di galery Jihane dipenuhi dengan foto-fotonya yang Jihane pinta lewat Khaisar. Senyumnya terhenti ketika mengingat Khaisar, ia letakkan handphonenya itu di samping tempat ia duduk.

Kala terus memikirkan Khaisar, bagaimana ia di sana? Bagaimana makannya di sana? Bagaimana tidurnya di sana? Semua itu ia pikirkan. Semakin memikirkan itu membuat hatinya campur aduk, disatu sisi ia kasihan dengan Khaisar tapi disisi lain memang itu yang harus Khaisar dapatkan setelah apa yang dia lakukan. Ah, sudahlah memikirkan Khaisar hanya akan membuatnya pusing.

Benar saja, kepala Kala tiba-tiba terasa sangat sakit. Ia kehilangan pandangan jernihnya, semua yang ia pandangan menjadi buram. Ia tarik rambutnya berharap sakitnya hilang dengan itu tapi sakitnya justru makin-makin. Ia meringis tanpa suara, ia tahan sakitnya agar orang lain tidak tahu.

Handphone Kala yang berada di sampingnya itu berbunyi, ia masih bisa melihat bahwa ada yang menelpon di hp itu, ia berusaha untuk membaca siapa yang menelponnya. Dan ia berhasil membaca bahwa telpon itu dari Jihane. Ia tak mengangkatnya, ia takut jika dengan mengangkatnya Jihane akan menyadari bahwa dirinya sedang menahan sakit.

Wajahnya semakin pucat, sampai saat itu ia paksa matanya terpenjam berharap tertidur dan sakit kepalanya hilang tapi gagal, sakit kepalanya tak hilang juga. Menahan rasa sakit cukup lama akhirnya sakitnya hilang, dengan masih sedikit nyeri di kepalanya ia rasa, Kala tetap memaksakan dirinya untuk menyalakan hpnya dan melihat pesan-pesan dari Jihane, dua puluh pesan belum dibaca dengan pesan-pesan ketakutan yang Jihane kirim membuat pandangan Kala menuju ke depan. Bus Jihane sudah tak ada di pandangannya, di depan bus Kala kosong, tidak ada kendaraan lain.

Kala menuju ke depan dan berbicara kepada supir untuk sedikit lebih cepat membawakan busnya. Dan bus Jihane langsung terlihat berada di depannya. Kala turun.

Disisi lain, Jihane yang sedang ketakutan badannya gemetar hebat. Laki-laki yang terus berusaha mendekatinya tak pernah menyerah, laki-laki itu berusaha menggerakkan kakinya dengan menyenggol kaki Jihane seperti menggodanya. Jihane tidak tahu harus berbuat apa, pikirannya buntu karena ketakutan yang ia rasa sekarang. Pandangannya terus ia arahkan ke tempat lain memberi kode berharap orang lain akan sadar dengan apa yang laki-laki bejat itu lakukan padanya di sampingnya.

Jihane teriak kencang. “AKH!” Ia teriak kencang dengan memejamkan mata saat ada yang menarik tangannya.

“Ini saya, ayo segera turun.”

Saat itu juga rasanya lega, ia berhasil keluar dari neraka itu. Dengan masih berpegangan tangan dengan Kala Jihane menurunkan badannya jongkok, ia keluarkan segala tangis yang sedari tadi ia tahan karena ketakutan. Kala yang menggenggam tangan Jihane juga mau tak mau ikut berjongkok, awalnya ia ingin lepaskan genggaman itu setelah Jihane berjongkok, tapi kata-kata yang Jihane keluarkan membuatnya ia tetap menggenggam Jihane dan bahkan lebih erat.

“Tetet pegangan tangan kaya gini, rasanya gue aman.”

“Maaf, maaf karena izinkan kamu untuk pulang sendiri.”

Berdiam dengan jongkok sampai Jihane tenang, mereka akhirnya pulang menuju rumah Jihane berjalan kaki. Dengan Kala yang terus bersuara. “Kamu aman … Kamu aman … Kamu aman …” Kalimat itu terus Kala ulangi agar Jihane tenang sambil mengelus tangannya lembut.

Sampai di depan rumah Jihane, Kala menahan tangannya Jihane saat Jihane hendak masuk tanpa berbicara apapun sejak tadi, ia tahu pasti Jihane Arunanya masih ketakutan. “Jihane Aruna, boleh saya antarkan kamu sampai dalam? Khawatir ada apa-apa nanti.”

Bertanyaan yang Kala lontarkan sama sekali tak membuahkan jawaban hanya anggukan yang Kala artikan sebagai “Iya”.

Kala dan Jihane yang masih berpegangan tangan memasuki rumah, Kala terus memperhatikan sekeliling. Matanya menuju ke satu kamar di ujung dan berpikir bahwa itu kamar dari Mamah Jihane. “Ibumu sudah tidur?” Kala bertanya hanya untuk merilekskan Jihane yang terus diam sedari tadi.

Saat hendak menaiki tangga menuju ke lantai atas, Kala bingung sebab Jihane berhenti tanpa suara. Ia enggan untuk bertanya lagi sebab sudah berulang kali ia bertanya pada Jihane, sampai akhirnya ia berinisiatif untuk keduanya menggendong Jihane ke lantai atas.

“Jihane Aruna, maaf,” kata Kala melepas genggaman tangannya dengan Jihane dan digantikan dengan ia mulai menggendong Jihane menuju kamarnya.

Sesampainya di lantai atas ia cukup bingung di mana kamar Jihane sebab ada dua pintu di ujung sana. Jihane yang sedang digendong mulai bersuara.“Di sana, pintu coklat.”

Kala yang mendengar itu mengangguk paham dan menurunkan Jihane dari gendongannya saat sampai di depan kamar. “Langsung istirahat, saya pamit.”

Kala langsung menuju tangga hendak turun tapi langkahnya terhenti saat Jihane memanggilnya, ia langsung membalikkan badannya menghadap Jihane dari kejauhan. “Kak, tetap buat gue aman.”

Tibalah mereka di akuarium raksasa yang berada di tengah-tengah mal Jakarta. Jihane yang saat itu terus menunjukan wajah cenberutnya tak henti-henti mengoceh dalam hati. Ia pikir “jalan-jalan” bersama Kala itu ya hanya berdua, ternyata ada satu anak kicik yang mengikuti mereka sampai ke sini. Septa.

“Kenapa sih lo? Cemberut bae.” Sambil melihat akuarium-akurium raksasa itu ia bertanya.

“Ya lo! Ngapain coba ngikut-ngikut?!”

“Ya emangnya kenapa? Gue anaknya Kala, lagipula Kala nya juga nggak apa-apa tuh gue ikut.”

“Tau ah! Males! Pulang aja!” Jihane membalik badan hendak pulang.

“Mau ke mana?”

Mendengar Kala yang mulai bersuara, niatnya untuk pulang sirna. Ia kembali mengingat bahwa Kala mengajaknya pergi, garis bawahi bahwa Kala yang mengajaknya. Ia tak mungkin melewatkan kesempatan itu apalagi dengan dirinya yang sebentar lagi akan sulit untuk bepergian karena minggu besok ia sudah mulai bekerja.

“Nggak ke mana-mana. Ini cuma ngeliatin sekeliling aja bagus banget ya.” Ia putar balikkan lagi badannya dan menghadap Kala.

Kala tersenyum lalu mengajak Jihane berkeliling. Sebelum itu ia pegang pundak Septa menghentikan aksinya yang terus memotret akuarium-akuarium itu.

“Bersenang-senang ya, saya dan Jihane keliling dahulu.” Hanya dengan anggukan Septa membalas ucapan Kala, dan dirinya malah dibuat amarah dengan Jihane yang menjulurkan lidah sambil bilang, “Norak!”

Kala dan Jihane sudah tidak ada, Septa kembali memotret. Cahaya biru di sana sangat rugi bilang tak diabadikan. Ia senang sekali, meski ia punya banyak waktu untuk hanya ke sini tapi pergi bersama orang lain ia tidak punya bahkan tidak pernah. Semenjak Kala hadir di hidupnya sebagian rasa yang hilang kembali hidup, Kala menghidupkan rasa kasih sayang orang tua untuknya setelah sekian lama Ibunya pergi dan Ayahnya tak memperdulikannya.

“Bahagia, Kal. Makasih udah anggap gue anak lo.” Septa bergumam sendiri.

Di tempat lain, Kala dan Jihane melihat ikan-ikan raksasa di sana, salah satunya ikan pari. Kala sangat senang ketika Jihane begitu excitednya melihat ikan pari yang mendekat. Dengan tingkahnya yang terus loncat-loncat ketika pari itu muncul membuat Kala tertawa hingga Jihane menyadari dirinya yang terlalu aktif dan akhirnya keduanya tertawa bersama.

“Sumpah, sorry kalo keliatan lebay tapi gue seneng banget!!!” Senyum lebar yang memperlihatkan gigi-gigi Jihane itu tak sekalipun pudar.

“Eh itu pari nya ke sini lagi!!!” Jihane menunjuk salah satu pari yang mendekat ke arahnya dan Kala, Kala lalu menunjuk pari itu juga. Pandangannya terus menghadap Jihane.

Menyaksikan ikan pari yang mendekat ke arah mereka, alunan lagu kesukaan Jihane yakni Marry You – Bruno Mars terdengar ke telinga mereka. Jihane cukup terkejut dengan itu. “WAH BRUNO MARS!!! lagu kesukaan gue!!! Gue pengen banget deh nanti nikah ada lagu ini!!! Bruno Marsku …”

“Bruno Mars …”

“H-hah?”

“Kalau berkenan, mau menikah dengan saya?”

Kalimat itu keluar tanpa aba-aba. Dengan tiba-tiba Kala bertanya, dengan lirik demi lirik terus berlantunan membuat Jihane bingung.

Bukan, bukan karena ia tak mengerti, hanya saja ia tak menyangka bahwa kalimat sakral itu akan terucap diluar dugaannya. Selama mereka berhubungan, selalu Jihane yang memperlihatkan cintanya pada Kala tapi nyatanya saat ini ia tahu bahwa secintanya ia pada Kala tetap Kala yang lebih mencintainya.

“Maaf jika terlalu terburu-buru, saya hanya tidak mau terlalu lama membawa kamu ke hubungan yang tidak tahu arahnya akan dibawa ke mana.”

“Nggak, ini nggak keburu-buru, cuma gue mau kerja???”

“Lalu?”

“Lo nggak apa-apa kalau gue kerja?”

“Siapa yang melarang? Mengajakmu menikah itu tandanya saya bukan hanya mencintaimu, tapi mencintai juga semua yang kamu sukai.” Kala menatap Jihane dalam.

“Kamu suka bekerja, saya akan terima itu asal tetap jaga kesehatan. Lakukan apa yang kamu sukai.”

“Maaf, saya hanya bisa bicara seperti in-” Belum sempat ia lanjutkan ucapannya, Kala terkejut dengan Jihane yang perlahan menyatukan jari-jari tangannya ke jari-jari tangan Kala. Keduanya dalam genggaman masing-masing.

“Gue tau lo nggak tau mau ngelakuin apa. Kalo lagi di situasi kaya gini itu, dipegang tangannya ...”

Kala tersenyum mendengar itu lalu ia balas genggaman tangan Jihane erat.

“Nanti saat masuk kerja, saya antar ya?”

“Boleh, naek bus lagi?”

“Kalau kamu tidak mau tidak apa, saya bisa bawa motor.”

“Tadi tuh ada yang bilang kalo mencintai seseorang berarti juga cinta sama apa yang disukai, siapa ya yang bilang?” Pura-pura tidak tahu Jihane meledek ucapan Kala sebelumnya. Kala tersipu malu mendengarnya.

“Udah nggak apa-apa naek bus, gue kan cuma nanya.”

Dari kejauhan Septa melihat Kala dan Jihane berpegangan tangan, “Abis ngapain aja lo berdua?”

Jihane yang kaget dengan kehadiran Septa langsung melepaskan genggaman tangannya dengan Kala, Kala yang melihat itu kembali menarik tangan Jihane dan memegangnya erat.

“Katanya, kalau lagi di situasi seperti ini itu digenggam tangannya.”

Wajah Jihane benar bener memerah, ia memukul pelan bahu Kala. Septa yang melihat itu tersenyum geli.

“Udah tua mah gausah pacaran, kaga jelas.”

“Akan segera menikah.” Tanpa ragu Kala menjawab dan membuat mata Septa melebar.

“Serius?”

“Sangat. Nanti, saat saya sudah menikah dengan Jihane Aruna, tolong panggil dia Ibu ya?”

“Ogah.” Septa langsung berjalan meninggalkan mereka berdua. Jalannya terhenti lalu membalikkan badannya. “Yaudah iya, tapi nanti kan? Sekarang pulang dah yok.”

“Iya nya itu beneran dipanggil Ibu?” Jihane bertanya pada Kala menahan tawa. “Sepertinya.” Keduanya tertawa lebar. Jihane kegirangan setengah mati memikirkan bahwa ia benar-benar akan dipanggil “Ibu”.