
Chandra terus menjaga Kala di ruang rawatnya, terus memandangi temannya itu yang sudah terhitung empat hari dia terbaring koma disini. Sesekali pandangannya menuju jendela yang berada di samping tempatnya duduk menghadap Kala. Langit mulai gelap. Ia gerakkan kakinya tidak jelas, terus menunggu Kala untuk segera bangun.
Chandra bangun dari duduknya yang sudah cukup lama, terasa sedikit pegal terlalu lama duduk dengan posisi sama. Berdiri hendak menuju meja di depan ranjang Kala. Tapi langkahnya terhenti ketika sekilas matanya melihat gerakan tangan Kala. Langsung saja ia mengecek tubuh Kala dan melihat alat yang berada di samping ranjang Kala. Kondisinya sudah normal. Ia menatap Kala berbinar-binar. Menunggu perlahan-lahan Kala yang sedang membuka matanya. Hingga saat matanya terbuka penuh, Chandra memeluknya kegirangan.
“KALLLLL!!!!” Terdengar suara teriakan gembira Chandra melihat Kala siuman.
Kala yang masih menyatukan nyawanya merasakan sakit kepala saat teriakan Chandra sampai di telinganya. “Aaa ...” Lirih Kala.
“Eh, maaf, Kal, gue kegirangan akhirnya lo banguunn ... empat hari, Kal. Empat hari lo koma ... GILA!”
“Ada apa ...? Saya kenapa ...? Jihane Aruna ... Bagaimana?” Berbagai pertanyaan datang dari Kala yang baru bangun dengan segala kebingungannya.
“Satu-satu nanyanya ... Lo itu koma, Kal. Lo inget nggak malem setelah lo ketemu Jihane dan ke rumah sakit lagi? Itu lo dihadapan gue pingsan dan berakhir disini emoag hari ....” Chandra antusias bercerita.
“Banyak yang nyariin lo. Gue bingung harus gimana. Awalnya gue mau bilang sejujurnya ke Septa, Jihane, Meja Bundar, tapi ... gue keinget omongan lo dulu ...”
“Lo nggak mau bikin orang-orang khawatir sama keadaan lo ... Ya akhirnya gue cuma ngasih tau Anne soal keadaan lo. Anne juga lagi dalam perjalanan balik, dia mau jenguk lo.”
Kala terdiam, menatap serius setiap kata yang keluar dari mulut Chandra. Meski tatapannya penuh kepada Chandra dalam pikirannya berbeda. Ia kembali mengingat Ayahnya. Mengingat Ayahnya yang akan segera menikah dengan Ibu dari Jihane Aruna.
“Kal ...? Lo dengerin gue cerita nggak sih?” Kala akhirnya keluar dari lamunannya mengenai Ayahnya. Ia alihkan pandangannya ke sekeliling ruang rawatnya.
“Ini di mana?”
“Di rumah sakit yaaaang jauh ... Sesuai keinginan lo.”
Kala sedikit mengangguk. Melihat itu Chandra tiba-tiba sadar, harusnya ia menemui dokter yang menangani Kala terlebih dahulu dan memberi tahunya bahwa Kala sudah siuman.
“Oh ya, Kal, gue ke ruangan Dokter Calvin dulu, ya? Lapor soal keadaan lo. Abis ini lo diperiksa dulu. Gue keluar dulu, ya ...” Chandra keluar dari ruangan Kala.
Di ruangannya Kala kembali melamun, cukup lama ia melamun membuat sakit kepalanya muncul dan ia sedikit meringis kesakitan. Untuk menghilangkan sakit kepalanya ia coba untuk memejamkan matanya. Tubuhnya masih cukup lemah. Untungnya keadaan ia bangun dari koma tidak parah, ia hanya cukup beristirahat setelah empat hari dirinya terbaring koma.
Matanya yang terpejam terbuka saat nada dering telepon berbunyi. Ia cari dimana posisi suara itu muncul. Melihat ke arah kirinya ia melihat meja yang diatasnya terdapat ponsel milik seseorang. Cukup terganggu dengan suara telepon itu akhirnya coba meraih ponsel itu sebisanya tanpa melihat dari siapa telepon itu ia langsung mengangkatnya.
Di tempat lain, Jihane yang sedang berada di kamarnya berbaring di kasur terbangun kaget melihat bahwa teleponnya itu dijawab. Langsung saja ia berkata apa yang sedari tadi ia ingin sampainya.
“Kak, gue mau ngundang lo buat dateng ke tunangan nyokap gue ...”
Kala yang mendengar suara itu tubuhnya bergetar seperti sudah ribuan tahun tidak mendengar suara cempreng milik perempuan yang ia sangat sayangi itu.
Ucapan Jihane tak kunjung mendapat jawaban.
“Kak? Gue lagi ngomong ini sama lo bukan sama patung. Kalo lo bisa dateng ... Tolong dateng, ya ...”
“Sama kalo bisa ... Kalo bisa ini ya ... Kalo Kak Kala udah nggak sibuk ngurusin perawatan Killa, tolong datengnya sama dia ...”
“Tapi kalo bisa Kak Kala aja yang dateng malah bagus ... Tapi kalo emang nggak bisa yaudah lo sama temen-temen lo tolong dateng buat ngeramein. Tenang ... Nanti bakal banyak makanan disana kok.”
Tetap tidak ada balasan setelah banyaknya yang Jihane katakan. Kala tak kuat untuk menjawab ucapan Jihane apalagi dengan keadaannya yang baru saja siuman dari koma. Hanya air mata bening yang terus berjatuhan dari pelupuk mata Kala sebagai balasan yang Jihane Katakan. Jarang sekali Kala menangis separah ini apalagi dalam diam, tapi karena Jihane ia bisa menangis sebegitunya.
“Kak? Lo dengerin gue nggak sih? Minimal jawab 'iya' kek!” Jihane kesal. Di kamarnya ia melempar bantal yang ia pegang selama berbicara dalam telepon itu karena sedikit deg-degan.
Jihane terdengar kesal sebab tak kunjung mendapat jawaban itu membuat Kala tersenyum. Sudah lama ia tidak mendengar ocehan yang datang dari Jihane seperti biasa padanya.
Saat Kala sedang tersenyum lebar menampilkan gigi-giginya itu seketika terkejut melihat Chandra datang dengan Dokter Calvin.
“Kal?” Chandra langsung melangkah menuju ranjang Kala dan mengambil ponsel dan melihat telepon dari siapa itu sebelum mematikannya.
Jihane yang mendengar suara Chandra memanggil Kala ingin bertanya tapi terdahului dengan panggilan yang ditutup sepihak. Ia langsung saja kaget dan terus memikirkan itu. Apakah yang sedari tadi mendengar ocehan-ocehannya itu adalah Kala?
Langsung saja Jihane mengirim pesan ke Chandra dengan segala tanda tanyanya.






