onenightontrain

Tibalah mereka di akuarium raksasa. Jihane yang saat itu terus menunjukan wajah cenberutnya tak henti-henti mengoceh dalam hati. Ia pikir “jalan-jalan” bersama Kala itu ya hanya berdua, ternyata ada satu anak kicik yang mengikuti mereka sampai ke sini. Septa.

“Kenapa sih lo? Cemberut banget.” Sambil melihat akuarium-akurium raksasa itu ia bertanya.

“Ya lo! Ngapain coba ngikut-ngikut?!”

“Ya emangnya kenapa? Gue anaknya Kala, lagipula Kala nya juga nggak apa-apa tuh gue ikut.”

“Tau ah! Males! Pulang aja!” Jihane membalik badan hendak pulang.

“Mau ke mana?”

Mendengar Kala yang mulai bersuara, niatnya untuk pulang sirna. Ia kembali mengingat bahwa Kala mengajaknya pergi, garis bawahi bahwa Kala yang mengajaknya. Ia tak mungkin melewatkan kesempatan itu apalagi dengan dirinya yang sebentar lagi akan sulit untuk bepergian karena minggu besok ia sudah mulai bekerja.

“Nggak ke mana-mana. Ini cuma ngeliatin sekeliling aja bagus banget ya.” Ia putar balikkan lagi badannya dan menghadap Kala.

Kala tersenyum lalu mengajak Jihane berkeliling. Sebelum itu ia pegang pundak Septa menghentikan aksinya yang terus memotret akuarium-akuarium itu.

“Bersenang-senang ya, saya dan Jihane keliling dahulu.” Hanya dengan anggukan Septa membalas ucapan Kala, dan dirinya malah dibuat amarah dengan Jihane yang menjulurkan lidah sambil bilang, “Norak!”

Kala dan Jihane sudah tidak ada, Septa kembali memotret. Cahaya biru di sana sangat rugi bilang tak diabadikan. Ia senang sekali, meski ia punya banyak waktu untuk hanya ke sana tapi pergi bersama orang lain ia tidak punya bahkan tidak ada pernah. Semenjak Kala hadir di hidupnya rasanya sebagian rasa yang hilang kembali hidup, Kala menghidupkan rasa kasih sayang orang tua untuknya setelah sekian lama Ibunya pergi dan Ayahnya tak meperdulikannya.

“Bahagia, Kal. Makasih udah anggap gue anak lo.” Ia membicara sendiri.

Di tempat lain, Kala dan Jihane melihat ikan-ikan raksasa di sana, salah satunya hiu. Kala sangat senang ketika Jihane begitu excitednya melihat hiu yang mendekat. Dengan tingkahnya yang terus loncat-loncat ketika hiu muncul membuat Kala tertawa hingga Jihane menyadari dirinya yang terlalu aktif dan akhirnya keduanya tertawa bersama.

“Sumpah, sorry kalo keliatan lebay tapi gue seneng banget!!!” Senyum yang memperlihatkan gigi-gigi Jihane tak sekalipun pudar.

“Eh itu hiunya ke sini lagi!!!” Jihane menunjuk salah satu hiu yang mendekat ke arahnya dan Kala. Kala lalu menunjuk hiu itu juga. Pandangannya terus menghadap Jihane.

“Kalau berkenan, mau menikah dengan saya?”

Kalimat itu keluar tanpa aba-aba. Dengan tiba-tiba Kala bertanya, bukan sekedar pertanyaan biasa itu membuat Jihane membeku sebentar. Dengan bingung dan groginya ia bertanya, “H-hah? Maksudnya?”

Bukan, bukan karena ia tak mengerti, hanya saja ia tak menyangka bahwa kalimat sakral itu akan terucap diluar dugaannya. Selama mereka berhubungan, selalu Jihane yang memperlihatkan cintanya pada Kala tapi nyatanya saat ini ia tahu bahwa secintanya ia pada Kala tetap Kala yang lebih mencintainya.

“Maaf jika terlalu terburu-buru, saya hanya tidak mau terlalu lama membawa kamu ke hubungan yang tidak tahu arahnya akan dibawa ke mana.”

“Nggak, ini nggak keburu-buru, cuma gue mau kerja???”

“Lalu?”

“Lo nggak apa-apa kalau gue kerja?”

“Siapa yang melarang? Mengajakmu menikah itu tandanya saya bukan hanya mencintaimu, tapi mencintai juga semua yang kamu sukai.” Kala menatap Jihane dalam.

“Kamu suka bekerja, saya akan terima itu asal tetap jaga kesehatan. Lakukan apa yang kamu sukai.”

“Maaf, saya hanya bisa bicara seperti in-” Belum sempat ia lanjutkan ucapannya, Kala terkejut dengan Jihane yang perlahan menyatukan jari-jari tangannya ke jari-jari tangan Kala. Keduanya dalam genggaman masing-masing.

“Gue tau lo nggak tau mau ngelakuin apa. Kalo lagi di situasi kaya gini itu dipegang tangannya.”

Kala tersenyum mendengar itu lalu ia balas genggaman tangan Jihane erat.

“Nanti saat masuk kerja, saya antar ya?”

“Boleh, naek bus lagi?”

“Kalau kamu tidak mau tidak apa, saya bisa bawa motor.”

“Tadi tuh ada yang bilang kalo mencintai seseorang berarti juga cinta sama apa yang disukai, siapa ya yang bilang?” Pura-pura tidak tahu Jihane meledek ucapan Kala sebelumnya. Kala tersipu malu mendengarnya.

“Udah nggak apa-apa naek bus, gue kan cuma nanya.”

Dari kejauhan Septa melihat Kala dan Jihane berpegangan tangan, “Abis ngapain aja lo berdua?”

Jihane yang kaget dengan kehadiran Septa langsung melepaskan genggaman tangannya dengan Kala, Kala yang melihat itu kembali menarik tangan Jihane dan memegangnya erat.

“Katanya, kalau lagi di situasi seperti ini itu digenggam tangannya.”

Wajah Jihane benar bener memerah, ia memukul pelan bahu Kala. Septa yang melihat itu tersenyum geli.

“Udah tua mah gausah pacaran, kaga jelas.”

“Akan segera menikah.” Tanpa ragu Kala menjawab dan membuat mata Septa melebar.

“Serius?”

“Sangat. Nanti, saat saya sudah menikah dengan Jihane Aruna, tolong panggil dia Ibu ya?”

“Ogah.” Septa langsung berjalan meninggalkan mereka berdua. Jalannya terhenti lalu membalikkan badannya. “Yaudah iya, tapi nanti kan? Sekarang pulang dah yok.”

“Iya nya itu beneran dipanggil Ibu?” Jihane bertanya pada Kala menahan tawa. “Sepertinya.” Keduanya tertawa lebar.

Malam itu, setelah diberitahu kabar bahwa Khaisar akan segera menyerahkan diri ke polisi Kala terus berdiam di rumah. Ia tak berkeinginan untuk ke sana karena menurutnya bukan urusannya. Itu memang sudah kewajibannya untuk ke sana. Tapi sebenarnya, di dalam pikirannya ia terus berpikir. Apa yang akan terjadi setelah Khaisar menyerahkan diri? Apakah dengan itu Leora akan kembali? atau apakah dengan hal itu terjadi persahabatan mereka akan kembali seperti dulu? Tidak. Tidak akan ada yang berubah setelah apa yang sudah terjadi. Terkadang terbesit dipikirannya hal seperti itu—bahwa semuanya akan sia-sia sebab tak akan ada yang berubah. Untuk apa Khaisar di penjara? Hanya untuk sebagai pertanggungjawaban?

Tapi Kala harus tetap punya jawaban akan pertanyaan-pertanyaan itu, yang jawabannya hanya akan setuju atau tidak. Saat itu dipikirannya hanya ada satu. Bukti. Hanya bukti yang bisa menjadi jawaban akhir dari setuju atau tidaknya.

Di kamarnya, Kala terus berjalan ke sana ke sini mencari sesuatu. Mencari sesuatu yang bisa menjadi bukti. Dan terpikirkanlah oleh pikirannya foto—saat Leora jatuh ia sempat memotret agar sewaktu-waktu keluarganya ingin menuntut ada bukti. Karena saat kejadian itu sama sekali tidak ada campur tangan polisi. Semuanya tertutup sebab keluarga berpikir takut membuat karir Kala hancur jika ia terlibat akan kecelakaan ini. Ia terus mencari di mana letak foto itu, tapi sekeras apa pun ia mencari tetap tidak ketemu. Sudah tiga tahun daya ingat Kala berkurang drastis. Yang ia temukan justru foto-fotonya saat bersama Pakde Supra, dan saat itu juga ia baru teringat bahwa foto itu pernah ia berikan pada Pakde Supra karena jika foto itu terus ia pegang hidupnya tidak akan tenang terus mengingat masa kelam dan selalu dikelilingi rasa bersalah.

Kala bergegas pergi menuju rumah Pakde Supra yang cukup berjarak dari rumahnya. Sesampainya di sana, ia melihat Pakde Supra sedang merapikan buku-buku di toko. Ia langsung temui Pakde dan memanggilnya, “Pakde …”

Pakde yang mendengar itu terkejut langsung memutar balikkan badannya dan melihat tubuh Kala. “Eh, Nak, kebetulan kemari, tadinya Pakde mau kasih ini ke kamu besok aja karna udah malem. Ini, surat dari Ibumu.” Meski Ibunya sudah meninggalkannya sejak melahirkannya, tapi surat-surat itu tak pernah meninggalkannya. Surat itu setiap bulan Pakde berikan pada Kala guna Kala tak melupakan Ibunya. Surat itu ditulis Ibunya sejak masih mengandung Kala, begitulah Ibunya yang bagai bidadari itu. Bahkan isi surat itu hanya berisi betapa cintanya Ibunya pada Kala juga beribu kalimat pujian yang diberikan Ibunya untuk Ayahnya. Padahal ia jelas tahu bahwa Ayahnya tak pantas mendapatkan pujian itu tapi Ibunya tetap memberikan pujian itu dengan sepenuh hati.

Surat-surat itu Ibu Kala berikan pada Pakde Supra disaat-saat sebelum ia melahirkan Kala sebab pecah ketuban. Ibunya beri tahu pada Pakde Supra mengenai keberadaan surat-surat itu dan menyuruhnya memberikannya pada Kala. Hal itu ia lakukan sebab dirinya takkan pernah tahu kapan hari terakhir napasnya berhembus. Bisa saja hari itu.

Dan biasanya, setelah Kala diberi surat itu ia akan banyak bertanya lagi mengenai Ibunya tapi malam itu ia hanya mengucap terima kasih dan menerima surat itu lalu memberitahukan maksud kedatangannya malam itu.

“Pakde, ini saya terima, ya. Terima kasih. Tapi, kedatangan saya ke sini, saya ingin bertanya apa Pakde masih menyimpan foto yang saya berikan tiga tahun lalu? Foto yang kalau tidak salah saya berikan saat kaki saya dalam kondisi patah?”

“Saya ingin pinta foto itu kembali. Saya butuh itu.”

Pakde Supra dengan seksama mendengarkan runtutan kalimat yang Kala ucapkan lalu ia melihat ke sekelilingnya. “Oh, yang itu ya …? Sebentar, ya, Pakde cari dulu.” Pakde pergi meninggalkan Kala menuju rumahnya yang berada di samping toko bukunya.

“Iya, yang itu.” Mereka berdua sama sekali tak berniat menjelaskan lebih rinci apa foto itu.

———

Setelah cukup lama berada di ayunan taman, Khaisar dan Jihane berjalan menuju ke kantor polisi. sesampainya di sana, betapa terkejutnya mereka berdua melihat Kala sudah terduduk di kursi berhadapan dengan polisi. Kala yang menyadari itu lalu berdiri dan bergegas pergi bahkan tak menyapa Jihane.

“Kak Kala …” Jihane menyaksikan tubuh Kala yang semakin tak terlihat.

“Saudara Khaisar Al-Gibran, Anda kami tangkap.” Dua orang polisi berada di depan Khaisar dan Jihane. dan memborgol tangan Khaisar. Tambah terkejut dengan kehadiran dua orang itu Jihane bertanya, “Lho? Lho Pak? Kok langsung ditangkap? Kita aja belum ngasih tau mau ngapain ke sini.” Dirinya mencoba melepas borgol yang mengikat kedua tangan Khaisar.

“Ji, udah. Mending lo pulang. Makasih, ya, udah nemenin gue ke sini.” Setelah berbicara kepada Jihane, Khaisar di bawa ke dalam bersama dua orang polisi itu. Meski dirinya semakin jauh dari Jihane pandangannya masih terus ke Jihane. Khaisar masih menunggu ucapan yang akan keluar dari mulut Jihane.

“Gue yakin lo nggak salah, Gembel! Gue janji bakal nyari bukti. Tolong kuat di sana!” ucap Jihane cukup berteriak. “Titip Luna!” Khaisar menjawab.

Jihane melihat punggung Khaisar tak lagi terlihat setelah membelok dan masuk ke dalam ruangan. Ia tahu pasti Khaisar akan di interogasi. Dirinya masih tak habis pikir apa yang baru saja Kala lakukan. “Kak …”

Keluar dari kantor polisi Jihane kembali dikagetkan dengan hadirnya beberapa teman Kala dan Khaisar. Di sana ada Bhakti, Talay, Umin, Sulthan, dan Sena.

“Pacar Kala, Khaisar mana?” Bhakti mulai bersuara bertanya.

“Iya, Khaisar mana? gue mau ngomong dulu bentaran.” Talay menyambung.

“Udah, udah, nggak usah nanya-nanya gue lagi. Khaisar udah di dalem udah ditangkep.”

Teman-teman yang berada di sana terkejut, tak menyangka bahwa penangkapannya akan secepat ini prosesnya.

“Kok cepet banget, sih? kita-kita belom ngomong perpisahan, lho?” tanya Talay bingung yang langsung dihantam pukulan oleh Bhakti.

“Pertanyaan tolol, Alay!”

“Udah, gue mau pulang, ya. Kalian juga mending pulang. Nggak bakal bisa ketemu juga. Tadi ada Kak Kala juga ke sini.”

“KALA?!” Semuanya terkejut.

“Kala ke sini?” Mas Umin dengan serius bertanya pada Jihane. “Padahal tadi dia bilang nggak akan ke sini.” Jihane yang mendengar itu kembali terkejut.

“Nggak akan ke sini? Buktinya aja dia di sini bahkan sebelum gue sama Khaisar sampe ke sini.”

“Hah? Sebelom lo sama Khaisar di sini Kala udah di sini? Gila!” Bhakti tak habis pikir kagetnya.

Melihat keterkejutan teman-teman yang lain. Sena mulai bersuara bertanya pada teman-teman. “Kala, tuh, kenapa sih? beneran nggak bisa ditebak, tuh, anak.”

“Mungkin dia sakit.”

“Ngaco! Udah besok balik lagi aja ke sini ngejenguk Khaisar. Kasian, dah, gue.” Saran Sulthan pada teman-temannya.

“Lo juga, Jihane. Ayo pulang bareng kita aja udah malem. Harusnya kita yang bilang gini tadi bukan lo.”

“Iya, dah, tapi gue beneran nggak ngerti bener kata Sena, Kak Kala beneran nggak bisa ditebak. Dia bahkan nggak negor gue tadi.” Wajah Jihane cemberut.

“Udah apa! Ayo masuk! Ngapain cerita di sini mending di mobil.”

———

#

Malam itu, setelah diberitahu kabar bahwa Khaisar akan segera menyerahkan diri ke polisi Kala terus berdiam di rumah. Ia tak berkeinginan untuk ke sana karena menurutnya bukan urusannya. Itu memang sudah kewajibannya untuk ke sana. Tapi sebenarnya, di dalam pikirannya ia terus berpikir. Apa yang akan terjadi setelah Khaisar menyerahkan diri? Apakah dengan itu Leora akan kembali? atau apakah dengan hal itu terjadi persahabatan mereka akan kembali seperti dulu? Tidak. Tidak akan ada yang berubah setelah apa yang sudah terjadi. Terkadang terbesit dipikirannya hal seperti itu—bahwa semuanya akan sia-sia sebab tak akan ada yang berubah. Untuk apa Khaisar di penjara? Hanya untuk sebagai pertanggungjawaban?

Tapi Kala harus tetap punya jawaban akan pertanyaan-pertanyaan itu, yang jawabannya hanya akan setuju atau tidak. Saat itu dipikirannya hanya ada satu. Bukti. Hanya bukti yang bisa menjadi jawaban akhir dari setuju atau tidaknya.

Di kamarnya, Kala terus berjalan ke sana ke sini mencari sesuatu. Mencari sesuatu yang bisa menjadi bukti. Dan terpikirkanlah oleh pikirannya foto—saat Leora jatuh ia sempat memotret agar sewaktu-waktu keluarganya ingin menuntut ada bukti. Karena saat kejadian itu sama sekali tidak ada campur tangan polisi. Semuanya tertutup sebab keluarga berpikir takut membuat karir Kala hancur jika ia terlibat akan kecelakaan ini. Ia terus mencari di mana letak foto itu, tapi sekeras apa pun ia mencari tetap tidak ketemu. Sudah tiga tahun daya ingat Kala berkurang drastis. Yang ia temukan justru foto-fotonya saat bersama Pakde Supra, dan saat itu juga ia baru teringat bahwa foto itu pernah ia berikan pada Pakde Supra karena jika foto itu terus ia pegang hidupnya tidak akan tenang terus mengingat masa kelam dan selalu dikelilingi rasa bersalah.

Kala bergegas pergi menuju rumah Pakde Supra yang cukup berjarak dari rumahnya. Sesampainya di sana, ia melihat Pakde Supra sedang merapikan buku-buku di toko. Ia langsung temui Pakde dan memanggilnya, “Pakde …”

Pakde yang mendengar itu terkejut langsung memutar balikkan badannya dan melihat tubuh Kala. “Eh, Nak, kebetulan kemari, tadinya Pakde mau kasih ini ke kamu besok aja karna udah malem. Ini, surat dari Ibumu.” Meski Ibunya sudah meninggalkannya sejak melahirkannya, tapi surat-surat itu tak pernah meninggalkannya. Surat itu setiap bulan Pakde berikan pada Kala guna Kala tak melupakan Ibunya. Surat itu ditulis Ibunya sejak masih mengandung Kala, begitulah Ibunya yang bagai bidadari itu. Bahkan isi surat itu hanya berisi betapa cintanya Ibunya pada Kala juga beribu kalimat pujian yang diberikan Ibunya untuk Ayahnya. Padahal ia jelas tahu bahwa Ayahnya tak pantas mendapatkan pujian itu tapi Ibunya tetap memberikan pujian itu dengan sepenuh hati.

Surat-surat itu Ibu Kala berikan pada Pakde Supra disaat-saat sebelum ia melahirkan Kala sebab pecah ketuban. Ibunya beri tahu pada Pakde Supra mengenai keberadaan surat-surat itu dan menyuruhnya memberikannya pada Kala. Hal itu ia lakukan sebab dirinya takkan pernah tahu kapan hari terakhir napasnya berhembus. Bisa saja hari itu.

Dan biasanya, setelah Kala diberi surat itu ia akan banyak bertanya lagi mengenai Ibunya tapi malam itu ia hanya mengucap terima kasih dan menerima surat itu lalu memberitahukan maksud kedatangannya malam itu.

“Pakde, ini saya terima, ya. Terima kasih. Tapi, kedatangan saya ke sini, saya ingin bertanya apa Pakde masih menyimpan foto yang saya berikan tiga tahun lalu? Foto yang kalau tidak salah saya berikan saat kaki saya dalam kondisi patah?”

“Saya ingin pinta foto itu kembali. Saya butuh itu.”

Pakde Supra dengan seksama mendengarkan runtutan kalimat yang Kala ucapkan lalu ia melihat ke sekelilingnya. “Oh, yang itu ya …? Sebentar, ya, Pakde cari dulu.” Pakde pergi meninggalkan Kala menuju rumahnya yang berada di samping toko bukunya.

“Iya, yang itu.” Mereka berdua sama sekali tak berniat menjelaskan lebih rinci apa foto itu.

———

Setelah cukup lama berada di ayunan taman, Khaisar dan Jihane berjalan menuju ke kantor polisi. sesampainya di sana, betapa terkejutnya mereka berdua melihat Kala sudah terduduk di kursi berhadapan dengan polisi. Kala yang menyadari itu lalu berdiri dan bergegas pergi bahkan tak menyapa Jihane.

“Kak Kala …” Jihane menyaksikan tubuh Kala yang semakin tak terlihat.

“Saudara Khaisar Al-Gibran, Anda kami tangkap.” Dua orang polisi berada di depan Khaisar dan Jihane. dan memborgol tangan Khaisar. Tambah terkejut dengan kehadiran dua orang itu Jihane bertanya, “Lho? Lho Pak? Kok langsung ditangkap? Kita aja belum ngasih tau mau ngapain ke sini.” Dirinya mencoba melepas borgol yang mengikat kedua tangan Khaisar.

“Ji, udah. Mending lo pulang. Makasih, ya, udah nemenin gue ke sini.” Setelah berbicara kepada Jihane, Khaisar di bawa ke dalam bersama dua orang polisi itu. Meski dirinya semakin jauh dari Jihane pandangannya masih terus ke Jihane. Khaisar masih menunggu ucapan yang akan keluar dari mulut Jihane.

“Gue yakin lo nggak salah, Gembel! Gue janji bakal nyari bukti. Tolong kuat di sana!” ucap Jihane cukup berteriak. “Titip Luna!” Khaisar menjawab.

Jihane melihat punggung Khaisar tak lagi terlihat setelah membelok dan masuk ke dalam ruangan. Ia tahu pasti Khaisar akan di interogasi. Dirinya masih tak habis pikir apa yang baru saja Kala lakukan. “Kak …”

Keluar dari kantor polisi Jihane kembali dikagetkan dengan hadirnya beberapa teman Kala dan Khaisar. Di sana ada Bhakti, Talay, Umin, Sulthan, dan Sena.

“Pacar Kala, Khaisar mana?” Bhakti mulai bersuara bertanya.

“Iya, Khaisar mana? gue mau ngomong dulu bentaran.” Talay menyambung.

“Udah, udah, nggak usah nanya-nanya gue lagi. Khaisar udah di dalem udah ditangkep.”

Teman-teman yang berada di sana terkejut, tak menyangka bahwa penangkapannya akan secepat ini prosesnya.

“Kok cepet banget, sih? kita-kita belom ngomong perpisahan, lho?” tanya Talay bingung yang langsung dihantam pukulan oleh Bhakti.

“Pertanyaan tolol, Alay!”

“Udah, gue mau pulang, ya. Kalian juga mending pulang. Nggak bakal bisa ketemu juga. Tadi ada Kak Kala juga ke sini.”

“KALA?!” Semuanya terkejut.

“Kala ke sini?” Mas Umin dengan serius bertanya pada Jihane. “Padahal tadi dia bilang nggak akan ke sini.” Jihane yang mendengar itu kembali terkejut.

“Nggak akan ke sini? Buktinya aja dia di sini bahkan sebelum gue sama Khaisar sampe ke sini.”

“Hah? Sebelom lo sama Khaisar di sini Kala udah di sini? Gila!” Bhakti tak habis pikir kagetnya.

Melihat keterkejutan teman-teman yang lain. Sena mulai bersuara bertanya pada teman-teman. “Kala, tuh, kenapa sih? beneran nggak bisa ditebak, tuh, anak.”

“Mungkin dia sakit.”

“Ngaco! Udah besok balik lagi aja ke sini ngejenguk Khaisar. Kasian, dah, gue.” Saran Sulthan pada teman-temannya.

“Lo juga, Jihane. Ayo pulang bareng kita aja udah malem. Harusnya kita yang bilang gini tadi bukan lo.”

“Iya, dah, tapi gue beneran nggak ngerti bener kata Sena, Kak Kala beneran nggak bisa ditebak. Dia bahkan nggak negor gue tadi.” Wajah Jihane cemberut.

“Udah apa! Ayo masuk! Ngapain cerita di sini mending di mobil.”

———

Khaisar terdiam. Setelah membaca pesan grup dari Kala ia menengok ke belakang, terdapat Kala juga dua manusia yang bagaikan bodyguardnya itu; Chandra dan Septa.

Menyadari keberadaan Kala di belakangnya, ia sapa Kala. “Kal …” Yang disapa hanya berlalu bagai tak ada makhluk di hadapannya itu.

Khaisar melihat punggung Kala yang semakin menjauh dan terkejut ada yang menepuk pelan bahunya.

“Jauh-jauh lo dari Kala.” Setelah berucap seperti itu Septa berlalu. Diganti dengan keberadaan Chandra di hadapannya.

“Jangan macem-macem lo. Kalo sampe di dalem lo macem-macem, nih, abis lo.” Chandra menunjukkan kepalan tangannya itu kepada Khaisar, mencoba menakut-nakutinya.

“Tenang, Bro. Tanpa lo ituin gue, gue udah abis duluan.”

Kalimat itu keluar dari mulut Khaisar tanpa permisi. Seperti dari ucapan itu gak ada kehidupan lagi setelahnya. Melihat ke dalam kafe, sudah banyak teman-temannya yang sudah menunggu sedari lama. Ia masuk dengan terus menarik lalu membuang napasnya pelan.

“Widih, Center ke-2 dateng. Silakan duduk, Center ke-2.” Bhakti menghentikan kesunyian dalam kafe dengan menyambut kedatangan Kala. Ia lalu menarik kursi sedikit saat Kala muncul di tempat berkumpul Meja Bundar untuk Kala duduk.

Tak lama setelah itu, Khaisar datang. Semua mata tertuju padanya. Bhakti kembali menyambut. “Widih, ini lagi Center utama dateng. Silakan duduk, Center utama.” Kegiatan menarik kursi itu kembali terulang.

Semuanya sudah duduk, semuanya sudah lengkap, tapi tidak ada satu pun yang mau memulai pembicaraan. Sampai akhirnya Kala bersuara. “Lalu apalagi yang harus dibicarakan?”

Mendengar pertanyaan Kala, semua mata tertuju pada Khaisar. Seolah menyuruh Khaisar untuk memulai bicara apa yang terjadi sebenarnya, antaranya, Kala, dan juga Leora.

“Oke, semuanya, sebelumnya gue mau minta maaf karena udah ngecewain kalian. Udah ngebuat kalian ngerasa dibohongi karena nggak tau masalah ini. Gue bingung harus mulai dari mana, tapi Kal, ucapan maaf ini gue teruntukan pertama untuk lo. Gue tau maaf gue ini nggak akan bisa balikin semuanya kaya dulu, tapi gue harap lo maafin gue meskipun kayanya nggak bakal dimaafin.” Khaisar tersenyum pahit.

“Gue—” Baru satu kata Khaisar keluarkan dari mulutnya. Se Meja Bundar dikagetkan dengan kehadiran Jihane di sana—di depan kafe sedang menuju ke tempat mereka berkumpul. Sambil terus menggoyangkan tangannya itu.

Hey! Kok kalian bisa ada di sini? lengkap lagi, ada apa ini?” Jihane mengarahkan pandangannya ke satu per satu orang yang duduk dengan formasi bundar itu. Ia melihat keneradaan Kala, ia mendekat lalu disapanya Kala. “Hai, Kak!”

“Jihane Aruna, sedang apa?”

“Oh, ini gue emang lagi janjian sama temen di sini. Mau ngopi aja.”

“Oh, kirain janjian sekampung.” Septa bersuara meledek Jihane.

“Diem lo!”

“Heh! lo ngapain di sini, sih? Ganggu aja lagi serius juga!” Protes Chandra sambil berdiri.

“Lah, terserah gue, Orgil!” Jihane kembali teringat dengan Chandra yang tiba-tiba mengiriminya pesan lalu berucap terimakasih padanya. Perlu digaris bawahi, padanya. Sebab itu mulai hari ini Chandra ia panggil Orgil dengan ketidakjelasannya yang berucap itu tak terduga.

Jihane melihat keberadaan Khaisar yang duduk berhadapan dengan Mas Umin. “Eh, Gembel! Itu muka ngapa kusut banget? Lo kena bayarin mereka semua makan, ya?”

Khaisar tak menghiraukan ucapan Jihane, dengan serius ia bertanya, “Lo mau tetep di sini, atau pindah? Kalo mau di sini, lo duduk, diem.”

“Eh, eh, ada apaan sih ini? Pada serius-serius banget.” Tak diucapan langsung maupun dalam hati Jihane bertanya-tanya.

“Udah, Ji, dengerin aja.” Bhakti menyuruh Jihane duduk.

Tidak cukup jika hanya disuruh duduk, ia lalu bertanya pada Kala. Nihil, Kala sama sekali tidak bersuara. Tidak biasa Kala seperti ini pikirnya.

“Dengerin. Gue hanya masalah ini nyebar cuma sampe lo aja, Ji. Lo yang terakhir.” Jihane yang dibilang seperti itu hanya mengangguk-anggukan kepala saja. Ia masih penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.

“Gue, Khaisar. Gue ngaku kalo gue yang ngedorong Leora dari rooftop gedung tua tiga tahun lalu. Dan gue siap untuk bertanggung jawab akan apa yang gue lakuin.” Semuanya terkejut, semua mata membuka matanya lebar-lebar tak terkecuali Kala. Justru dirinyalah orang yang paling terkejut dengan pengakuan Khaisar. Tak pernah disangka bahwa Khaisar dengan sendirinya mengakui perbuatannya padahal Kala berharap itu semua tidak benar. Itu semua hanya prasangka Kala. Tapi hari itu, Khaisar mengakui dengan sadar.

“Khai?” Mas Umin mencoba memastikan kebenaran ucapan yang keluar dari mulut Khaisar.

Chandra berdiri dan memukul keras meja di hadapannya. “Heh, Berengsek! Lo tuh gimana, sih? Kemarenan lo bilang sendiri di grup kalo bukan lo yang ngelakuin bahkan pake embel-embel pembelaan. Dan sekarang lo bilang kalo itu beneran lo yang ngelakuin. Labil lo! Yang bener! Ini bukan masalah main-main!”

“Kalau memang benar Anda yang melakukan. Harusnya Anda tahu apa yang harus Anda lakukan tiga tahun lalu, Anjing!” Kala kecewa. Jelas. Tiga tahun berlalu dan ia masih berharap bahwa kejadian itu tidak benar-benar Khaisar yang melakukan. Ia masih memegang kepercayaan bahwa Khaisar tidak akan pernah berani melakukan hal itu dan hari ini kepercayaannya runtuh.

Bukan lagi Berengsek nama yang cocok untuknya, tapi Mati! Ikut Mati adalah nama yang sangat cocok untuknya saat ini. Tiga tahun berlalu ia baru mengakui itu sekarang. Dengan alih-alih pembelaan dahulu demi rasa kasihan.

“Heh, harusnya lo nyadar apa yang lo lakuin tiga tahun lalu, Bangsat!”

“Lo nggak tahu berefek apa masalah ini ke Kala. Dia cedera kaki pas latihan! Dan itu karena lo! Karena masalah yang lo buat tanpa mikir dan ngorbanin nyawa orang, Bangsat! Ah!” Chandra tidak bisa lagi mengontrol emosinya. Ia memikirkan bagaimana perasaan Kala saat ini. Tiga tahun lalu cederanya bahkan sampai hari ini pun belum pulih total, Skating yang ia tinggalkan dan sakitnya yang tidak tahu akan muncul keajaiban kesembuhan atau tidak, semua ini karena Khaisar. Semua masalah dari Khaisar.

Dari lubuk hatinya yang terdalam, Khaisar terkejut dengan fakta bahwa tiga tahun lalu Kala cedera akibatnya. Benih murni turun dari mata Khaisar. Air mata yang tak lagi kuat ia tahan akhirnya keluar. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada Kala tiga tahun lalu, dan saat ini ia tahu kebenaran dari kesulitan yang Kala rasakan.

“Dia gue telpon berkali-kali nggak diangkat, berita tentang cedera kakinya muncul di berita. Pasti lo nggak tau kan soal ini? Pasti. Gue yakin itu. Gue ke rumahnya, ngeliat dia di kursi roda lagi ngelempar hpnya, Bangsat!”

“Dia menderita sedangkan lo nggak tau lagi kaya gimana saat itu!”

Semua pengunjung yang berada di kafe memilih pergi dari kafe melihat apa yang terjadi. Kala hanya terdiam, begitupun dengan teman-teman yang lain. Mereka pun sama terkejutnya dengan Kala apalagi ditambah dengan fakta-fakta yang dibeberkan Chandra. Bahkan Jihane sekali pun bungkam, enggan untuk mengeluarkan suara. Suasana saat itu sangat panas dengan keseriusan dan kemarahan yang berapi-api terus datang dari Chandra.

Kala sampai kapan pun tidak akan pernah bisa menyuarakan amarahnya, maka dari itu Chandra wakilkan itu. Sejak ia lahir, ia enggan untuk marah, senang, bahkan sedih. Tidak mengenal rasa, itulah yang ia rasakan. Ia selalu datar, hingga Jihane Aruna datang ke hidupnya.

Bahkan saat kehadiran Shakilla muncul. Kala temukan Killa di depan Skating Club—tempat biasa ia berlatih skating. Dengan tanpa rasa apapun ia hanya mengambil dan merawat Killa. Rasa itu hadir secara perlahan, ia bahkan tidak memperdulikan siapa orang tua Killa. Jihane Aruna datang ke kehidupannya, semuanya berubah. Ia jadi punya keinginan untuk bangkit dan tetap hidup. Memperjuangkan apa yang harus diperjuangkan. Siapa Ayahnya, Siapa orang tua Shakilla, dan apa alasannya hidup.

“Gue tau gue goblok, tolol, bego, berengsek, dan yang lainnya. Tapi inilah gue, gue pelakunya. Gue bakal bertanggung jawab dan dapetin hukuman yang seharusnya gue dapetin dari tiga tahun lalu.” Tidak ada cara lain, inilah yang harus Khaisar lakukan demi Kala. Demi penderitaan yang Kala rasakan selama ini.

“Gue pembunuh Leora. Orang yang gue sayangi tiga tahun lalu itu.”

Saking seriusnya suasana saat itu, mereka semua tidak menyadari keberadaan Luna yang mendengar semua itu. Hingga akhirnya Jihane terkejut menyadari Luna berada di belakang Khaisar. “Luna … ” sambil membuka suara Jihane berdiri.

Semuanya perhatian tertuju pada suara yang keluar dari mulut Jihane lalu mengikuti arah matanya tertuju. Begitu pun dengan Khaisar. Ia menengok ke belakang melihat siapa yang berada tepat di belakangnya.

“L-lun … ” Dengan terbata-bata ia bersuara.

Luna sudah sedari tadi mengeluarkan air matanya yang terus mengucur dengan deras dengan isak tangis yang ia tahan sekuat tenaga agar tidak ada yang menyadari keberadaannya. Sesungguhnya sakit yang sungguh sakit adalah sakit yang berasal dari tangisan tertahan. Tangisan yang menimbulkan sesak luar biasa di dada.

Luna mencoba menghapus air mata yang sedari tadi mengalir, lalu matanya menatap dalam mata Khaisar. “K-kita p-putus.” Kalimat itu susah payah ia keluarkan. Melawan isak tangis yang menghalangi ucapannya untuk keluar.

Tidak ada yang mengira bahwa hari ini akan terjadi. Terjadi peperangan besar di batin Khaisar, ia bahkan tidak mengira bahwa Luna akan tahu masalah ini secepat yang ia kira. Padahal, ia sudah menyiapkan hari yang tepat untuk memberitahunya yaitu tepat hari dimana ia akan ditahan.

“L-lun … A-aku bisa jelasin. A-aku kira kamu nggak akan tahu secepet ini. Aku udah nyiapin waktu yang tepat untuk ngasih tau kamu tapi bukan hari ini. Aku belum siap untuk ngasih tau kamu hari ini … Aku sayang banget sama kamu, Lun … ” Khaisar menggenggam tangan Luna, tapi ditepis dengan cepat oleh Luna genggaman itu. Genggaman hangat itu … tidak akan pernah bisa Khaisar sentuh … lagi ….

“Aku sayang banget sama kamu … tapi bukan hari ini hari yang telat untuk sayang aku nggak punya arti lagi buat kamu … ”

“Kita udah selesai … Aku harap aku nggak pernah ketemu kamu lagi … Ya … Aku harap …”

“Ji, gue pulang.” Luna memutar badannya lalu berjalan menuju pintu keluar kafe. Dalam perjalanan itu ia berharap Khaisar akan menahannya. Menahannya untuk pergi. Tapi tidak, justru Jihane yang berlari mengikuti arahnya pergi.

“Lo gimana sih, Gembel. Bukannya dikejar.”

Khaisar jelas tidak akan mengejar. Rasanya tidak pantas Luna mendapatkan dirinya, tapi hal itu bukan berarti cintanya untuk Luna sudah hilang, tapi bertambah. Kehilangan selalu membuat kecintaan semakin bertambah. Menyadari bahwa yang hilang justru yang paling dibutuhkan.

Hari itu semuanya hancur. Cintanya, bahagianya, dan hidupnya. Semua pegangan itu bagaikan runtuh disaat bersamaan. Ia tidak punya lagi pegangan hidup. Ia mati.

———

⚠️ mention of death & blood ⚠️

Setelah hampir lima menit Kala menunggu pesanan makanan yang ia pesan untuk Jihane akhirnya jadi. Segera ia bawa makanan itu menuju taman tempat Jihane menunggu melewati gang yang sepi. Di gang itu, ia lihat keberadaan Khaisar di depannya. Tak hiraukan kemunculan Khaisar yang mendekati dirinya, Kala lanjut berjalan.

Khaisar yang melihat itu dengan susah payah menyamakan jalannya dengan Kala. Ia mulai membuka suara. “Kal, gue mau ngomong sebentar.”

“Saya sibuk.” Jalan Kala dipercepat agar Khaisar tidak lagi mengikutinya, tapi bukan Khaisar namanya jika tidak melakukan apa yang dia mau apapun rintangannya.

“Sebentar aja, ngomong serius.” Sambil membawa sebuah kertas yang sedari tadi ia pegang sambil terus berusaha menyamakan jalannya dengan Kala.

“Sudah saya bilang, saya sibuk.” Akhirnya Kala berhenti sejenak dari jalannya untuk berbicara seperti itu.

Khaisar terdiam. Hingga Kala jalan kembali ia masih terdiam. Khaisar memandang Kala yang jaraknya semakin menjauh lalu ia berteriak sambil mengangkat kertas yang ia pegang.

“GUE BAKAL NYERAHIN DIRI, KAL!”

Kala yang mendengar teriakan Khaisar sontak jalannya terhenti. Ia balikkan badannya kembali menghadap Khaisar yang jauh jaraknya dengannya. Kala lalu berjalan menuju hadapan Khaisar. Semakin dekat jaraknya dengan Khaisar ia taruh makanan yang ia pegang untuk Jihane itu di tanah lalu dengan gerakan cepat ia pukul pipi Khaisar. “Berengsek!”

“Sudah saya peringatkan sedari dulu untuk tidak bicarakan hal ini!” Nadanya lantang tanda bahwa dirinya sedang kalut.

Yang dipukul tubuhnya terjatuh, lalu bangkit kembali sambil memegang pipinya yang terasa sakit dan semakin memegang erat kertas yang ia pegang.

“Kenapa marah? Ini, kan, yang lo mau? Kalau emang Kata lo gue salah kenapa nggak dari dulu lo lapor polisi, Kal? Kenapa harus pake diemin gue, benci gue, dan anggap diri gue ini nggak ada?”

“Kalau bukan karena keinginan orang tua Leora, sudah dari awal saya laporkan kamu ke polisi!”

“Yaudah, sekarang nggak usah nurutin keinginan orang tua Leora. Kita ke kantor polisi sekarang. Gue udah bawa surat penyerahan diri ini.”

Mendengar kalimat yang keluar dari mulu Khaisar barusan membuat emosi Kala meninggi.

“Untuk apa? Untuk apa lakukan ini? Berharap semuanya akan kembali seperti dulu? Jangan harap, Berengsek!” Kala kembali menghantam wajah Khaisar. Khaisar yang terbaring ditanah dipegang kerah bajunya oleh Kala dengan kencang.

“Berhenti lakukan ini, Berengsek!”

“Gimana gue mau berhenti? Mau berbusa-busa gue ngomong yang sebenernya ke lo, lo nggak akan paham, lo nggak akan percaya!”

“Bukan gue, bukan gue yang dorong Leora sampe jatoh ke bawah. Saat itu gue lagi mabok, Kal. Gue baru sadar gue lagi apa sebenernya ya pas Leora jatoh. Lo dengan gampangnya langsung pukul gue abis-abisan.”

Memang, tiga tahun lalu tepat hari Kamis tanggal dua belas Leora jatuh dari rooftop. Rooftop yang berada di gedung tua yang jadi tempat berkumpul Kala, Khaisar dan Leora. Tiga bersahabat yang hubungannya sudah terjalin sebelum Kala dan Khaisar mengenal Meja Bundar.

Sore itu, Khaisar yang sedang pusing akibat pertengkaran orang tuanya memilih untuk pergi ke sebuah Club ditemani teman yang ia kenal dari media sosial. Setelah keluar dari sana, ia dapat pesan dari grup dari Leora untuk bertemu di rooftop biasa. Dalam kondisi setengah sadar Khaisar baca pesan itu dan langsung menuju ke sana dengan bantuan taksi.

Di tempat berbeda, setelah membaca pesan dari Leora, Kala memesan beberapa makanan untuk dibawa ke sana. Setelah memesan ia langsung menuju kesana. Tepat di depan gedung tua itu ia mengarahkan pandangannya ke atas. Melihat bahwa di rooftop itu terdapat Leora yang sedang duduk di tembok pembatas dan hanya kepala Khaisar muncul.

Kala lalu mengangkat beberapa makanan yang ia bawa itu. “Ini! Tung–”

Belum sempat Kala lanjutkan apa yang ia katakan, dirinya terpaku melihat apa yang baru saja terjadi. Leora jatuh dari rooftop itu. Makanan yang ia bawa jatuh dan Kala langsung menuju dimana Leora terbaring lemah dengan berlumuran darah.

“Ra …” Ia elus lembut wajah Leora sambil ia hilangkan darah-darah yang ada di wajahnya itu.

“Tunggu, Ra … Saya ke atas dulu, kamu kuat. Pasti kuat.” Katanya meyakinkan dirinya sendiri sebab ia tahu mustahil Leora masih hidup setelah jatuh dari rooftop itu.

Kala melihat ke atas, dari bawah ia bisa melihat Khaisar. Langsung ia berlari menaiki tangga demi tangga sampai ke rooftop. Sesampainya di sana ia langsung berlari menuju Kala dan menghantam habis Khaisar. Ia tendang perut Khaisar. “BANGSAT!”

“K-kal, bukan gue, gue nggak ngapa-ngapain, Kal. Gue nggak ngedorong Leora. Gue nggak ngapa-ngapain Leora, Kal. Percaya sama gue!” Dengan terisak Khaisar berbicara.

“BACOT! KAMU HARUS DAPAT HUKUMAN SETIMPAL, ANJING!”

Emosinya tak tertahan lagi, setelah habis memukuli Khaisar dengan puas Kala langsung menuju ke bawah kembali dan mengendong Leora membawanya ke rumah sakit dengan jarak yang tak dekat. Sambil berlari air mata Kala terus mengucur keluar.

“Tahan, Ra … Kamu kuat, sebentar lagi kita sampai, Ra …”

Sesampainya Kala di rumah sakit dan Leora berhasil sedang ditangani oleh Dokter. Kala dengan matanya yang kosong duduk di kursi dekat ruangan Leora ditangani. Gemetar ia mengambil gadgetnya di kantong lalu mencari kontak Ibu Leora. Ketemu kontak itu ia langsung menelponnya.

“B-bu … Maafkan Kala, bisa Ibu ke rumah sakit sekarang?”

Sudah hampir satu jam Leora berada di dalam ruangan tapi Dokter tak kunjung keluar. Hingga kedatangan orang tua Leora membuyarkan pikiran-pikiran buruk Kala.

“A-ada apa Kala? Leora kenapa? Anak Ibu kenapa, Nak? …”

Kala ingin menjelaskan apa yang terjadi, belum sempat ia membuka mulutnya keluar Dokter dari ruangan dan membuat Kala tidak jadi menceritakan apa yang terjadi.

Semua diperintahkan Dokter untuk masuk ke dalam ruangan, dilihatnya dari depan pintu, Leora dengan tubuhnya yang sudah ditutup kain putih. Pikiran buruk Kala terjadi. Kala melihat dengan histerisnya Ibu Leora menangisi putrinya. Anak satu-satunya.

Kala mendekat ke tempat dimana Leora terbaring, ia buka kain itu dan mencium kening Leora dengan air matanya yang tak kunjung berhenti juga gemetar hebat yang tak kunjung hilang.

“Ini semua karena Khai, Bu … Pak … Khai yang saat itu bersama Leora di rooftop. Saya bisa laporkan Khai ke kantor polisi sekarang. Maafkan saya, Bu … Pak … Saya … Saya gagal menjaga Leora …”

“Nak … Gapapa … Nggak usah … Kami ikhlas dengan kepergian Leora … Cepat kamu pergi dari sini … Sebelum ada orang lain yang melihat keberadaan kamu … Kamu ini Atlet … Harus jaga nama baik negara …”

Mendengar ucapan Bapak Leora, Kala semakin terisak tangis. Ia mengangguk lalu segera memakai topinya.

“Saya akan kunjungi Leora setiap hari, Pak …”

“Jadi Atlet yang membanggakan ya, Nak …” Kala kembali mengangguk dan segera keluar dari ruangan.

Begitulah keretakan persahabatan antara Kala dan Khaisar terjadi. Keduanya masih dalam pemikirannya masing-masing.

“Kita sama-sama tau, Kal. Lo, gue, kita sama-sama suka sama Leora dulu. Nggak mungkin gue ngelakuin hal sejahat itu ke Leora, Kal. Gue cinta dia saat itu.” Khaisar bersuara dengan masih dipegang kerahnya dengan Kala.

“Tapi, kalau lo sampai sekarang nggak percaya juga gapapa. Gue udah ikhlas, Kal. Gue emang pantes dapetin ini semua karena menurut lo karena gue semuanya bisa terjadi.”

“Kak … stop …” lirih suara Jihane melihat apa yang terjadi dengan Kala dan Khaisar.

Di ujung sana, ada Talay juga yang melihat adegan baku hantam mereka sejak awal dan tetap diam. Dengan menahan tangisnya sekuat tenaga agar tak terdengar. Talay si perasa.

©️thequtubuqu.

tw // violence , blood

“Kak, nanti ajarin lagi, ya? Susah banget tau, takut jatoh.” Sehabis bermain Ice Skating diajari Kala, Jihane dan Kala berjalan keluar Skating Club. Dirinya pikir Ice Skating akan mudah karena sudah pernah diajarkan oleh Kak Jidane, nyatanya masih tetap sama sulitnya.

“Iya, nanti saya ajarkan. Kamu tidak perlu takut, ada saya.” Kala berkata sambil melihat wajah Jihane memastikan bahwa kata-katanya ini akan ia pegang.

Berjalan sudah cukup jauh dari Skating Club di malam hari ini, Kala melihat ke sekitar di mana ia berdiri. Dari kejauhan ia melihat keberadaan taman, ia ajak Jihane untuk ke sana. “Jihane Aruna, jika ke taman dahulu, tidak apa?”

“Lho? Mau ngapain?”

“Kamu tunggu di sana dulu, saya ingin belikan makanan. Jangan takut, saya tidak akan tinggalkan kamu sendiri di sana. Saya akan kembali lagi. Lagipula, di sana masih banyak pengunjung.”

“Oh, yaudah. Jangan lama-lama, ya.”

“Iya, saya antarkan kamu ke taman dulu.”

Kala dan Jihane berjalan ke taman. Setelah dipastikan Jihane duduk dengan aman disalah satu kursi taman, Kala bersiap pergi dari taman. Sebelum itu, ia pegang tangan Jihane yang juga sedang memegang gadgetnya. “Tunggu saya, ya? Gadgetnya tetap dipegang, kalau ada apa-apa langsung telpon saya.”

Jihane mengangguk paham. Ia melihat tubuh Kala yang semakin menjauh. Ia lalu berteriak, “Hati-hati.”

***

Sudah tiga puluh menit ia tunggu kedatangan Kala kembali ke taman tapi batang hidungnya pun belum terlihat juga. Semakin khawatir ia setelah pikiran Kala terjadi apa-apa muncul di kepalanya. Berulang kali ia pandangkan matanya ke depan, berharap Kala segera muncul dan berada dihadapannya. Khawatirnya tak bisa lagi ia tenangkan, Jihane berdiri hendak pergi menuju arah Kala pergi.

Terus berjalan sambil melihat sekeliling, banyak sekali yang berjualan. Ia berpikir ada di mana Kala berada di antara para penjual itu. Ia bahkan tidak sempat bertanya Kala mau beli apa.

Jihane menghampiri setiap penjual yang berada di sana. Satu persatu ia datangi tapi tak ada juga keberadaan Kala. Hingga akhirnya ia berjalan menuju tempat sepi, berpikir bahwa mungkin Kala di bawa oleh orang jahat di tenpat sepi seperti ini karena biasanya memang selalu seperti itu agar kedok sang penjahat tidak ketahuan.

Jihane terkejut, sungguh terkejut. Yang ada di depan matanya ini adalah pemandangan yang tidak pernah ia pikirkan akan terjadi dalam hidupnya. Kala terlibat baku hantam dengan Khaisar. Kala tampak kalut sekali malam itu. Jihane pun takut melihatnya, tapi ia tidak tega melihat Khaisar terus mendapat pukulan dari Kala.

“Kak … stop …” Sambil menutup mulutnya ia bersuara.

Kala menyadar jelas siapa suara yang ia dengar itu, ia lirikan matanya ke arah kanan. Jihane Aruna. Ada Jihane yang melihat dirinya dengan kalut memukuli Khaisar. Ia lepas kerah baju Khaisar yang ia pegang kasar. Kala berdiri merapikan bajunya lalu mengambil makanan yang berada di tanah—makanan yang tadi ia sudah beli sebelum kedatangan Khaisar.

Ditengtengnya makanan itu sambil berjalan menuju Jihane melewati Khaisar yang masih terbaring di tanah juga diinjaknya kertas yang berada di dekat Khaisar. “Ayo, ikut saya.” Jihane tidak berbicara bahkan tidak bisa berbicara. Dirinya masih kaget dengan apa yang terjadi barusan.

Kala dan Jihane berjalan tanpa suara. Hingga akhirnya Jihane berani bersuara. “Mau ke mana? Ini sebenernya ada apa? Tadi lo bilang cuma mau beli makanan? Kenapa sekarang gue malah ngeliat lo berantem sama Khaisar. Ini sebenernya ada apa, sih? Jawab!” Kebingungan yang sejak tadi ia pendam akhirnya berani ia keluarkan.

Perjalanan mereka berhenti di taman tempat tadi Jihane menunggu. Kala lihat sekitarnya. Dilihatnya kursi yang tadi Jihane duduki. “Duduk dahulu.” Ia pegang bahu Jihane lembut mengajaknya untuk duduk.

“Jelasin! Ini kenapa sampe berdarah-darah gini, sih! Brutal banget berantemnya.” Jihane memegang ujung bibir Kala tapi Kala menghindar. Ia pindahkan pegangannya menuju tangan Kala juga Kala lepas.

“Kenapa, sih? Orang cuma dipegang doang. Nggak mau dipegang?”

“Bukan begitu.”

“Udah sini … Diobatin.“ Jihane buka tasnya lalu menarik tangan Kala. Ia ambil lap—penyeka agar darah yang keluar dari tangan Kala berhenti.

“Saya bisa sendiri. Nanti saya obati di rumah saja.” Lagi-lagi tangan Kala yang Jihane pegang kembali ditarik oleh Kala. Ia tarik tangannya lalu ia gerakkan tangannya guna meredakan sakit yang dirasa.

“Ih, jangan batu, sih! Lagi abis ngapain, sih, sampe berantem gitu.”

“Sudah Jihane Aruna, saya tidak apa.”

“Ya terus emangnya kenapa kalo gue mau obatin lo? Nggak boleh? Yaudah.” Jihane palingkan wajahnya dari Kala.

“Kamu takut darah.” Jihane yang menyadari itu langsung kembalikan wajahnya menghadap Kala, ia tak menyangka Kala akan memikirkan hal ketakutannya dalam kondisinya saat ini.

“Gue gapapa, kok, tenang aja. Kalo ngobatin lo gini nggak takut.” Jihane kembali pegang tangan Kala lalu ia berikan obat pada tangan Kala dan diberikannya plaster di atas tangan Kala.

“Tuh, udah selesai, gue nggak takut. Nanti di rumah diganti lagi plesternya. Terus juga itu muka lo dikompres, ya, sekarang ini nggak mungkin, kan, gue bawa kompresan.”

“Terimakasih, ya.”

Kala dan Jihane berjalan untuk pulang. Sebenarnya capek sekali Kala rasa setelah adu tojos dengan Khaisar. Seluruh badannya rasanya sakit sekali, tapi ia tahan itu. Sampai di depan rumah Jihane ia beri makanan yang sedari tadi tadi ia pegang di tangannya yang satunya lalu pamit. “Jihane Aruna … Ini, makanan yang tadi saya ingin belikan untukmu. Maaf, sepertinya sudah keras.”

Jihane terkejut menyadari Kala masih memegang makanan itu terlebih makanan itu adalah cimol. “Cimol? Jadi tadi lo mau beliin makanan gue itu mau beli cimol? Tau dari mana gue suka cimol?” Ia terima cimol itu dari tangan Kala.

“Waktu itu saya sempat tanyakan pada temanmu. Ya sudah, saya pamit, ya.”

“E-eh iya, hati-hati, ya. Itu jangan lupa lukanya diobatin lagi di rumah.” Kala yang mendengar itu mengangguk lalu pergi meninggalkan Jihane yang sudah lebih dahulu masuk ke rumah.

Buru-buru Jihane menuju kamarnya lalu melihat kepergian Kala dari balkonnya. “Ada apa, ya, Kak Kala sama Khaisar …”


tw // violence , blood

“Kak, nanti ajarin lagi, ya? Susah banget tau, takut jatoh.” Sehabis bermain Ice Skating diajari Kala, Jihane dan Kala berjalan keluar Skating Club. Dirinya pikir Ice Skating akan mudah karena sudah pernah diajarkan oleh Kak Jidane, nyatanya masih tetap sama sulitnya.

“Iya, nanti saya ajarkan. Kamu tidak perlu takut, ada saya.” Kala berkata sambil melihat wajah Jihane memastikan bahwa kata-katanya ini akan ia pegang.

Berjalan sudah cukup jauh dari Skating Club di malam hari ini, Kala melihat ke sekitar di mana ia berdiri. Dari kejauhan ia melihat keberadaan taman, ia ajak Jihane untuk ke sana. “Jihane Aruna, jika ke taman dahulu, tidak apa?”

“Lho? Mau ngapain?”

“Kamu tunggu di sana dulu, saya ingin belikan makanan. Jangan takut, saya tidak akan tinggalkan kamu sendiri di sana. Saya akan kembali lagi. Lagipula, di sana masih banyak pengunjung.”

“Oh, yaudah. Jangan lama-lama, ya.”

“Iya, saya antarkan kamu ke taman dulu.”

Kala dan Jihane berjalan ke taman. Setelah dipastikan Jihane duduk dengan aman disalah satu kursi taman, Kala bersiap pergi dari taman. Sebelum itu, ia pegang tangan Jihane yang juga sedang memegang gadgetnya. “Tunggu saya, ya? Gadgetnya tetap dipegang, kalau ada apa-apa langsung telpon saya.”

Jihane mengangguk paham. Ia melihat tubuh Kala yang semakin menjauh. Ia lalu berteriak, “Hati-hati.”

***

Sudah tiga puluh menit ia tunggu kedatangan Kala kembali ke taman tapi batang hidungnya pun belum terlihat juga. Semakin khawatir ia setelah pikiran Kala terjadi apa-apa muncul di kepalanya. Berulang kali ia pandangkan matanya ke depan, berharap Kala segera muncul dan berada dihadapannya. Khawatirnya tak bisa lagi ia tenangkan, Jihane berdiri hendak pergi menuju arah Kala pergi.

Terus berjalan sambil melihat sekeliling, banyak sekali yang berjualan. Ia berpikir ada di mana Kala berada di antara para penjual itu. Ia bahkan tidak sempat bertanya Kala mau beli apa.

Jihane menghampiri setiap penjual yang berada di sana. Satu persatu ia datangi tapi tak ada juga keberadaan Kala. Hingga akhirnya ia berjalan menuju tempat sepi, berpikir bahwa mungkin Kala di bawa oleh orang jahat di tenpat sepi seperti ini karena biasanya memang selalu seperti itu agar kedok sang penjahat tidak ketahuan.

Jihane terkejut, sungguh terkejut. Yang ada di depan matanya ini adalah pemandangan yang tidak pernah ia pikirkan akan terjadi dalam hidupnya. Kala terlibat baku hantam dengan Khaisar. Kala tampak kalut sekali malam itu. Jihane pun takut melihatnya, tapi ia tidak tega melihat Khaisar terus mendapat pukulan dari Kala.

“Kak … stop …” Sambil menutup mulutnya ia bersuara.

Kala menyadar jelas siapa suara yang ia dengar itu, ia lirikan matanya ke arah kanan. Jihane Aruna. Ada Jihane yang melihat dirinya dengan kalut memukuli Khaisar. Ia lepas kerah baju Khaisar yang ia pegang kasar. Kala berdiri merapikan bajunya lalu mengambil makanan yang berada di tanah—makanan yang tadi ia sudah beli sebelum kedatangan Khaisar.

Ditengtengnya makanan itu sambil berjalan menuju Jihane melewati Khaisar yang masih terbaring di tanah juga diinjaknya kertas yang berada di dekat Khaisar. “Ayo, ikut saya.” Jihane tidak berbicara bahkan tidak bisa berbicara. Dirinya masih kaget dengan apa yang terjadi barusan.

Kala dan Jihane berjalan tanpa suara. Hingga akhirnya Jihane berani bersuara. “Mau ke mana? Ini sebenernya ada apa? Tadi lo bilang cuma mau beli makanan? Kenapa sekarang gue malah ngeliat lo berantem sama Khaisar. Ini sebenernya ada apa, sih? Jawab!” Kebingungan yang sejak tadi ia pendam akhirnya berani ia keluarkan.

Perjalanan mereka berhenti di taman tempat tadi Jihane menunggu. Kala lihat sekitarnya. Dilihatnya kursi yang tadi Jihane duduki. “Duduk dahulu.” Ia pegang bahu Jihane lembut mengajaknya untuk duduk.

“Jelasin! Ini kenapa sampe berdarah-darah gini, sih! Brutal banget berantemnya.” Jihane memegang ujung bibir Kala tapi Kala menghindar. Ia pindahkan pegangannya menuju tangan Kala juga Kala lepas.

“Kenapa, sih? Orang cuma dipegang doang. Nggak mau dipegang?”

“Bukan begitu.”

“Udah sini … Diobatin.“ Jihane buka tasnya lalu menarik tangan Kala. Ia ambil lap—penyeka agar darah yang keluar dari tangan Kala berhenti.

“Saya bisa sendiri. Nanti saya obati di rumah saja.” Lagi-lagi tangan Kala yang Jihane pegang kembali ditarik oleh Kala. Ia tarik tangannya lalu ia gerakkan tangannya guna meredakan sakit yang dirasa.

“Ih, jangan batu, sih! Lagi abis ngapain, sih, sampe berantem gitu.”

“Sudah Jihane Aruna, saya tidak apa.”

“Ya terus emangnya kenapa kalo gue mau obatin lo? Nggak boleh? Yaudah.” Jihane palingkan wajahnya dari Kala.

“Kamu takut darah.” Jihane yang menyadari itu langsung kembalikan wajahnya menghadap Kala, ia tak menyangka Kala akan memikirkan hal ketakutannya dalam kondisinya saat ini.

“Gue gapapa, kok, tenang aja. Kalo ngobatin lo gini nggak takut.” Jihane kembali pegang tangan Kala lalu ia berikan obat pada tangan Kala dan diberikannya plaster di atas tangan Kala.

“Tuh, udah selesai, gue nggak takut. Nanti di rumah diganti lagi plesternya. Terus juga itu muka lo dikompres, ya, sekarang ini nggak mungkin, kan, gue bawa kompresan.”

“Terimakasih, ya.”

Kala dan Jihane berjalan untuk pulang. Sebenarnya capek sekali Kala rasa setelah adu tojos dengan Khaisar. Seluruh badannya rasanya sakit sekali, tapi ia tahan itu. Sampai di depan rumah Jihane ia beri makanan yang sedari tadi tadi ia pegang di tangannya yang satunya lalu pamit. “Jihane Aruna … Ini, makanan yang tadi saya ingin belikan untukmu. Maaf, sepertinya sudah keras.”

Jihane terkejut menyadari Kala masih memegang makanan itu terlebih makanan itu adalah cimol. “Cimol? Jadi tadi lo mau beliin makanan gue itu mau beli cimol? Tau dari mana gue suka cimol?” Ia terima cimol itu dari tangan Kala.

“Waktu itu saya sempat tanyakan pada temanmu. Ya sudah, saya pamit, ya.”

“E-eh iya, hati-hati, ya. Itu jangan lupa lukanya diobatin lagi di rumah.” Kala yang mendengar itu mengangguk lalu pergi meninggalkan Jihane yang sudah lebih dahulu masuk ke rumah.

Buru-buru Jihane menuju kamarnya lalu melihat kepergian Kala dari balkonnya. “Ada apa, ya, Kak Kala sama Khaisar …”

—-

Di bus menuju tempat yang ingin Kala kunjungi bersama Jihane, untuk pertama kalinya mereka berdua duduk berdampingan. Biasanya, Kala berada di kursi belakang bus dan Jihane di depannya. Alasan mengapa Kala selalu di belakang, karena menurutnya harusnya bus melakukan sistem duduk perempuan dengan perempuan dan laki-laki dengan laki-laki yang duduk berdampingan. Perempuan berada di bagian depan bus dan laki-laki berada di belakang untuk menghindari kejahatan seksual yang biasa terjadi di bus saat justru perempuan dan laki-laki duduk berdampingan. Makanya, Kala dan Jihane tidak duduk bersama dan Kala biarkan Jihane duduk bersama perempuan.

Kali ini mereka duduk berdampingan, rasanya cukup canggung. Dan kecanggungan itu terhenti saat Jihane mengeluarkan sesuatu dari tasnya. “Tadaaa … Ini, revisi cerita gue.” Jihane memberika buku yang di dalamnya terdapat isi cerita yang ia buat dan sudah direvisi sesuai permintaan Kala.

Kala yang melihat buku itu cukup kaget mengingat pembicaraan mereka tempo lalu.“Lho, bukannya saya sudah bilang kemarin untuk lupakan ceritamu?” Kala menerima buku pemberian Jihane lalu ia buka perlahan dan lihat isinya.

“Iya, sih, cuma waktu itu, tuh, gue cuma kaya kesel aja karena ngomongin itu waktunya lagi nggak pas bukannya pengen revisi gue ini nggak perlu dikasih ke lo. Ya kali udah susah-susah gue tulis ulang terus nggak dikasih ke lo. Buang-buang tenaga gue.” Jihane menatap Kala sambil menjelaskan dengan serius. Yang dilihat justru tatapannya terpaku pada buku di depannya.

Kala menutup buku itu, Jihane yang melihat itu sambil sedikit menyipitkan matanya akibat sinar matahari pagi itu bertanya, “Kok cepet banget bacanya? Jelek—“ Belum sempat ia lanjutkan, dirinya terkejut dengan apa yang Kala lakukan. Kala menutupi wajah Jihane dari sinar matahari dengan buku itu.

“Mau tukar posisi?” Kala bertanya.

“H-hah? Nggak, gausah. Gapapa, kok, ini.” Sejak tadi dirinya terpaku, tapi setelah Kala bertanya semakin terpaku. Apa yang dilakukan Kala jelas membuat Jihane sedikit terbawa perasaan.

“Syukur kalau begitu. Cerita dan penulisannya lebih rapi. Buku ini nanti saya pegang, ya? Ingin saya bacakan untuk Shakilla jika ingin tidur.”

“E-eh iya. Boleh, semoga Shakilla nggak mimpi buruk setelah baca itu.”

“Tidak akan.” Jihane tersenyum mendengar itu. dirinya sudah tak kuat.

***

Sampai di tempat tujuan, Jihane melihat ke sekitar menelusuri sekitar memperkirakan tempat apa yang sedang ada di depan matanya ini.

“Ini Skating Club. Tempat dimana biasanya saya berlatih.” Jihane yang mendengar itu cukup kaget. Ia baru ingat bahwa yang berada di sampingnya ini adalah seorang atlet figure skating.

“Oh iya, gue baru inget. Wah, gede juga ya tempat latihannya.” Melihat sekitar rasanya ada yang mengganjal bagi Jihane. “Tapi, kok, sepi banget, ya, Kak? Apa latihannya kalau pagi belum dimulai?”

“Club ini sudah lama tidak dipakai. Coachnya sudah tidak ada. Dan hari ini, saya ingin coba latihan lagi. Sudah lama tidak latihan dan main skating.” Sambil tersenyum Kala menjelaskan.

“Udah lama? Bukannya kalau atlet latihannya tuh setiap hari, ya? Kalo udah lama, udah berapa lama nggak latihan?”

“Tiga tahun mungkin.” Kala sedikit mengangkat bahunya.

“HAH!!?? SERIUS??” Jihane terkejut, bagaimana bisa seorang atlet tiga tahun tidak berlatih. Apa tidak lupa cara bermainnya?

“Meski sudah tiga tahun tidak bermain tapi saya masih ingat, kok.” Kala terkikik melihat wajah Jihane yang berubah menjadi serius setelah ia bilang tiga tahun.

“Ayo masuk!” ajak Kala.

Selama memasuki club, fokus Jihane berpindah-pindah. Hingga saat ia lihat ice rink— tempat dimana kita bermain skating, wajahnya berubah muram, Kala yang melihat itu khawatir dan bertanya.

“Ada apa? Kamu tidak suka tempat ini?”

“Nggak, suka, kok. Cuma kalo inget tempat ini jadi inget dulu waktu ada Kakak aja.”

“Mau coba main?”

“E-eh, nggak, ah. Gue nggak bisa.” Jihane menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Tidak apa, saya ajarkan. Ayo!” Kala memegang tangan Jihane.

“Nggak, nggak bisa, takut jatoh, ah.”

“Tidak akan, saya jaga.” Kala yang tadi memegang Jihane berubah menjadi menariknya agar ikut ke ruang ganti. “Kita ke ruang ganti.”

Jihane yang melihat itu langsung melepaskan pegangan tangannya pada Kala cukup keras. “Gue bilang gue nggak mau, ya, nggak mau dong. Gue nggak suka dipaksa.” Setelah berkata begitu, ia langsung keluar dari club.

“Jihane Aruna …”Kala terkejut. Ia tak menyangka bahwa ajakannya itu membuat Jihane sebegitu marahnya hingga keluar club. Kala langsung mengikutinya untuk keluar. Di luar ia lihat Jihane terdiam.

“Kamu kenapa? Tidak apa? Maaf kalau tadi saya terkesan memaksa.” Kala melihat wajah Jihane khawatir, Jihane menangis.

“Gue pengen pulang.” Dengan terisak ia bersuara. Kala yang pada awalnya bingung langsung segera mengajaknya untuk pulang.

Malam itu, semua berkumpul. Menatap lurus pada sebuah kue ulang tahun yang nyatanya tak berkepemilikan. Yang ulang tahun justru tidak ada, yang punya acara justru tidak terlihat batang hidungnya. Untuk sekadar manghilangkan kesunyian tak bersuara ini, Khaisar dan teman-teman memrequest pada Sulthan yang merupakan pemilik kafe untuk melakukan live music band mereka. Meja Bundar. Selain Meja Bundar menjadi nama kafe yang mereka tempati saat ini, Meja Bundar juga menjadi nama band mereka sekaligus nama pertemanan mereka. Meja Bundar memiliki banyak arti untuk mereka. Berawal dari meja yang menjadi saksi persahabatan mereka dimulai.

“Than, gue sama temen-temen performaja gimana? Daripada cuma kaya gini nggak jelas.” Usul Khaisar diikuti anggukan teman-teman lainnya.

“Oh, yaudah. Kalian mau perform lagu apa?”

“Semua tentang kita.” Dengan yakin Khaisar jawab itu. Ia ingin mengembalikan memori memori dahulu yang selalu ada lagu Semua Tentang Kita yang menemani.

“Oke, stand by ya.”

Malam itu, Khaisar dan teman-teman lainnya menyanyikan lagu Semua Tentang Kita. Kala yang menjadi penonton, tanpa diperintah pikirannya langsung lari menuju kilas balik persahabat Meja Bundar. Dusta jika dia bilang tak rindu. Jelas tiap hari rasanya hidupnya tak punya arti sebab tak ada yang menjadi sumber dari arti itu. Orang-orang yang mengisi dunianya dengan warna.

Selesai lagu dinyanyikan, Khaisar bersuara. “Terimakasih sudah dengar, lagu ini sangat berarti untuk gue, temen-temen gue, dan satu orang yang gue harap juga berpikir begitu.”

Kala mendengar dengan serius apa yang Khaisar katakan. Lalu suara terdengar lagi, bukan Khaisar, melainkan Mas Umin. “Semoga, semua tentang kita akan tetap menjadi semua tentang kita. Nggak ada tentang lo dan tentang gue. Yang ada cuma tentang kita.”

Mas Umin tahu pasti apa yang menjadi penyebab kerenggangan Meja Bundar, tapi ia tak punya kuasa untuk ikut campur sebab yang menjadi sumber masalahnya hanya Khaisar dan Kala. Terlalu menggurui jika ia ikut campur, apalagi teman-teman yang lain tidak ada yang tahu apa yang terjadi antara mereka.

Dalam hatinya Kala tersenyum, meski dari luar tatapannya hanya datar tak mengartikan apa-apa. Jihane yang melihat pun ikut tersenyum, namun dirinya jelas terlihat sedang tersenyum.

“Mau request lagu apa lagi, nih?” Talay cukup teriak bertanya pada penonton di depannya. Langsung disambut Luna yang baru datang menjawab, “Can’t Help Falling In Love, dong!”

Khaisar tersenyum ke arah Luna. Kehadirannya selalu membawa senyuman untuk Khaisar. Khaisar tak mungkin tak cinta Luna meski jika dilihat memang seperti tak ada cinta yang Khaisar taruh pada Luna.

“Oke, gas!” Khaisar bersemangat memberi arah pada teman-temannya.

Lagu kedua dinyanyikan, semuanya tampak khusyuk mendengarkan lirik demi lirik. Hingga pada satu lirik, terdapat dua manusia yang sepertinya sedang dalam keadaan sangat-sangat serius menyelami lagu itu.

Take my hand Take my whole life too For I can’t help falling in love with you

Pada lirik itu dinyanyikan, Kala menatap Jihane lekat. Ia panggil Jihane dengan lembut. “Jihane Aruna …”

Jihane yang sedang fokus mendengarkan lagu itu fokusnya teralihkan sebab panggilan yang terdengar dari Kala. “Apaa?” Jihane ikut menatap Kala.

Tatapan mereka satu sama lain sangat dalam. Tatapan itu semakin dalam lagi saat Kala bersuara. “Kamu punya peran penting dalam hidup saya.”

Mungkin bagi sebagian orang kalimat itu hanya kalimat biasa. Kalimat biasa yang tak punya arti apa-apa. Tapi, bagi Jihane, malam yang menjadi saksi bahwa kalimat itu menjadi kalimat sakral. Kala jarang berucap seperti itu, maka pada malam itu, Jihane yakini bahwa Kala sedang mengutarakan rasa cintanya. Memang seperti kegeeran, tapi tatapan Kala menyiratkan arti seperti itu.

Jihane yang mendengar itu, reaksi apalagi yang pantas ia keluarkan selain salah tingkah. Ia mengenal jelas bagaimana sosok Kala maka dari itu dengan terbata-bata ia sampaikan jawaban, “T-thank y-you …

Menjawab kalimat yang Kala berikan dengan senyum kikuk dan Kala ikut tersenyum, senyumannya sangat berbeda kali ini. Sumringah, itu kata yang sangat tepat mengartikan senyuman Kala malam itu.

Hanya melalui tatapan, malam itu menjadi peresmian hubungan mereka. Hubungan yang tak memiliki kejelasan itu tak lagi hidup, sebab, malam itu mereka saling cinta.

Kala memasuki kafe milik temannya itu, Sulthan dengan bergandeng tangan bersama Shakilla. Melihat keadaan sekitar, dihampirinya teman-teman yang sedang menjalani tugasnya masing-masing dalam mendesain kafe untuk acara ulang tahun salah satu pelanggan di kafe.

“Kal!” Teriak Talay yang lebih dulu menyadari keberadaan Kala Lalu teman-teman yang akhirnya menyadari keberadaan Kala menghampiri Kala.

“Lo katanya mau ke sini sama Jihane, Kal? Kok datengnya malah sama dia,” tanya Bhakti yang melihat keberadaan anak kecil disamping Kala yang mengandeng tangan Kala.

“Apa saya belum cerita? Ini anak saya.”

Tidak ada jawaban apapun setelah kata terakhir yang keluar dari mulut Kala selain reaksi kaget dari teman-teman Kala.

“Anak lagi?”

“Kebanyakan anak lo tapi nggak punya istri.”

Begitulah jawaban teman-temannya setelah berdiam cukup lama dengan reaksi kaget yang mereka alami akibat Kala.

“Gue istrinya.” Dari jauh, hadir Jihane yang berjalan mendekati mereka. Semua pasang mata melihat Jihane yang semakin dekat menuju ke tempat di mana mereka berkumpul.

Kala yang melihat Jihane, ia bertanya, “Tidak apa?”

Bagaimana bisa manusia satu ini bertanya “tidak apa?” setelah drama-drama yang baru saja mereka alami beberapa jam sebelumnya itu. Tapi dengan senyum riangnya Jihane menjawab, “Nggak papa, untung lo yang begini. Kalo orang lain udah mati di tangan gue.”

Kala menggelengkan kepala mendengar jawaban Jihane, wanita satu ini memang selalu punya jawaban anti mainstream khasnya.

Setelah itu, Sulthan selaku pemilik resmi kafe Meja Bundar ini memberikan arahan untuk segera mengangkat barang-barang lain yang belum masuk ke dalam kafe lalu menggeserkan meja-meja yang posisinya masih tak beraturan.

“Killa, Ayah bantu-bantu dulu ya, Killa duduk disini dulu sembari menunggu Kak Anne. Paham?” Kala berbicara dengan sedikit menggerakan tangannya berharap Killa mengerti. Ia memang belum terlalu bisa berbahasa isyarat, ia masih terus berusaha untuk mengingat setiap gerakan tangan yang digunakan guna berbahasa isyarat. Tapi daya ingatnya semakin hari semakin memburuk, ia perlu berulang kali mengingat-ingatnya agar menempel di kepala. Semoga gerakan yang ia beri tadi sedikit membuat Killa paham.

***

Jihane mengangkat kardus besar sendirian, Kala yang melihat itu menghampiri Jihane hendak membantu, “Saya bantu,” katanya sambil ikut mengangkat kardus besar itu bersama Jihane.

Sudah hendak sampai ke tempat di mana kardus besar itu ingin diletakkan, datang Chandra yang mengambil alih tempat Kala mengangkat kardus besar itu bersama jihane, “Gue aja yang angkat.”

Kala yang melihat itu tentu kaget dan rasanya ingin marah. Chandra tanpa basa-basinya menyingkirkan posisi Kala agar ia saja yang mengangkat kardus besar itu. Bukan, Kala bukan ingin marah sebab Chandra mengambil alih apa yang menjadi miliknya untuk membantu Jihane tapi ia ingin marah karena ia tahu Chandra pasti tak mau jika dirinya harus mengangkat yang berat-berat. Ia sungguh risih dengan perlakuan Chandra yang selalu seperti ini.

Berdiam di tempat sambil melihat Chandra dan Jihane yang semakin menjauh membawa kardus besar itu, bahunya ditepuk pelan. Mas Umin. “Istirahat aja dulu, Kal. Nanti lanjut lagi.”

“Iya, Mas. Makasih. Mas juga istirahat.”

“Pasti, Kal. Mas juga istirahat. Oh ya, udah ketemu Khaisar?”

“Belum, saya harap tidak perlu bertemu.”

“Nggak boleh gitu, Kal. Mas ke dapur dulu ya.” Mas Umin kembali menepuk bahu Kala pelan pertanda Mas Umin hendak pergi meninggalkan Kala.

Kala melihat Jihane yang duduk di salah satu kursi sambil mengatur napasnya, ia hampiri Jihane sambil membawa air minum, “Minum.” Kala berikan air mineral itu pada Jihane yang habis mengangkat barang-barang berat.

“Maaf ya, saya tidak bantu sampai selesai.”

“Nggak papa yaelah, santai.”

“Saya ke sana dulu ya?”

“Eh? yaudah.”

Kala berjalan menuju tempat Chandra berdiri di pojok kafe. Tanpa basa-basi ia langsung menanyakan apa yang sedang Chandra lakukan tadi.

“Kenapa seperti itu?”

“Apa? Lo emang nggak boleh angkat yang berat-berat. Makanya gue yang angkat.”

“Chandra, saya tidak perlu diperlakukan seperti itu. Saya tidak selemah itu hanya untuk mengangkat kardus yang beratnya tidak seberapa itu.” Mata Kala menuju ke arah kardus besar yang tadi ia bawa dengan Jihane.

“Kal, denger ya, kalo dokter lo bukan gue, jangankan angkat kardus itu, untuk bangun dari ranjang aja lo nggak boleh. Tapi karena gue dokter lo aja nih gue begini. Perlakuan gue ini gak seposesif perlakukan dokter lain.”

“Oke, saya minta maaf jika perkataan saya menyinggung kamu. Tapi saya berhak memilih, dan tidak diperlakukan seperti itu juga tidak dirawat adalah pilihan saya. Tolong hargai.”

“Oh, sekarang main harga-menghargai? Gue juga berhak memilih, dan nggak kasih tau mereka-mereka itu tentang penyakit lo pilihan gue. Jadi tolong hargai gue juga sebagai dokter dan ikutin apa kata gue.” Chandra menunjukkan teman-teman Kala yang sedang istirahat sambil berbincang. Ia tunjuk Jihane yang sedang menghampiri Anne dan Shakilla dan tak lupa, ia juga menunjuk ke arah Septa yang sedang bermain handphone sendirian di ujung sana.

Pembicaraan mereka berakhir disitu, dipotong dengan Sulthan yang memberikan arahan berkumpul dan memberitahu untuk kembali memulai pekerjaan lagi. “Than, yang ulang tahun siapa?” Tiba-tiba saja Kala bertanya setelah Sulthan memberikan arahan.

“Salah satu pelanggan disini, tapi dia nggak bakal dateng.” Yang diucapkan Sulthan barusan mengambil atensi teman-teman semua.

“Jadi kita disini ngerayain ultah tapi yang ultah nggak ada gitu? capek-capekin amat.” Itu suara Khaisar yang langsung disambar pukulan bahu yang cukup kencang oleh Bhakti, “Protes mulu lo!”

Talay mendekat ke arah telinga Bhakti berbisik, “Tapi emang aneh juga, Ti. Buang-buang uang dia aja, terus juga tenaga gue jadi terkuras,”

“Bacot lo ah, digaji aja masih komentar.” Lain hal dengan Talay yang berbisik, Bhakti justru berteriak yang membuat teman-teman yang lain tertawa melihat Bhakti yang kesal.

“Yaudah, Than, saya bantu-bantu bagian dapur ya. Saya bisa masak.” Kala hendak berjalan ke arah dapur tapi tiba-tiba dirinya dihadang oleh Chandra dan Septa bersamaan.

“Nggak boleh, gue aja.” ucap Chandra.

“Iya, nggak boleh ngapain si lo nyape-nyapein aja. Lo mah bantuinnya suka nggak tanggung-tanggung.” Septa ikut bicara.

Jihane yang melihat itu menggeleng kepala dan meletakkan kedua tangannya di pinggang, “Eh! Kok jadi lo berdua yang posesif, kan seharusnya gue.” Jihane berteriak cukup kencang.

Chandra yang mendengar itu langsung menyambar, “Lah, emang lo siapa Kala? Lo bukan siapa-siapa.”

Teman-teman yang lain terkejut mendengar tanggapan Chandra begitupula Kala yang terlihat kecewa dengan balasan Chandra. Dan Jihane pun yang mendengar tanggapan Chandra seketika langsung terdiam. Ia berpikir, benar juga ya, dia ini bukan siapa-siapanya Kala. Ada hak apa dia ngomong gitu tadi?

“Oh iya ya, bener juga. Yaudah gue lanjut angkat barang yang lain lagi ya.” Jihane langsung pergi meninggalkan teman-teman yang lainnya dengan perasaan tak enak. Dalam hatinya rasanya sesak saat dapat balasan perkataan seperti itu. Tapi disaat bersamaan juga ia jadi sadar bahwa memang ia tak punya hak apa-apa akan hal itu.

Hubungan yang Jihane jalani bersama Kala adalah hubungan tanpa status kejelasan. Hubungan yang mereka jalani hanya mengikuti alurnya saja.

Kala sudah coba panggil Jihane berkali-kali tapi Jihane tak gubris sama sekali. Jihane terus tak berhenti mengangkat barang hingga Kala menghampiri pun. Meski tak digubris panggilan Kala oleh Jihane, Kala tetap terus mengikuti ke mana Jihane pergi. Sesekali ia juga membantu Jihane mengangkat barang walaupun akhirnya tetap tangannya akan disingkirkan oleh Jihane.

“Maaf, maafkan ucapan Chandra tadi.”

“Ngapain minta maaf? Nggak ada yang salah, gue yang salah.”

“Jihane Aruna, jangan seperti ini.”

“Udeh ya, Kak. Mending lo duduk aja istirahat kayanya emang lo nggak boleh capek nggak sih? Soalnya dokter Chandra sampe ngelarang gitu.” Kala yang mendengar itu seketika tubuhnya kaku, takut sekali ia jika Jihane menyadari bahwa di dirinya sebenarnya memang ada apa-apa.

©️ lyterasee.