onenightontrain

“Jangan dibuang itu.” Kala memungut dan mengumpulkan satu persatu kertas-kertas yang terjatuh akibat Jihane. Wanita itu memegang kertas berisikan tulisan buatannya sendiri seperti jijik. Membuka tiap kertas tanpa gairah hingga mengakibatkan kertas-kertas itu jatuh dan berserakan di bawah.

“Ih! Gue nggak buang. Jatoh jatoh, nggak gue buang.” Jihane berusaha meyakinkan Kala bahwa kertas-kertas itu tak berniatan ia buang. Ia mengambil kembali kertas-kertas yang tadi jatuh itu dari tangan Kala. Kala sudah fotocopy ulang isi dari buku yang Jihane tulis dengan beberapa kertas agar memudahkan pengoreksiannya jika terdapat banyak kesalahan penulisan.

Buku itu menjadi awal pertemuan antara Kala dan Jihane. Buku yang sempat terjatuh saat Jihane kecelakaan, lalu ada ditangan Kala tapi saat hendak dikembalikan lagi ke pemiliknya bukunya justru salah. Mengetahui setelah dikembalikan justru buku itu ditemukan oleh teman kerja Umin berada di tong sampah membuat Kala sedikit merasa kecewa. Sebab ada usaha sebelum ia sampai ke rumah sakit tempa Jihane sempat dirawat hanya karena ingin mengembalikan buku itu.

Sekarang ini, Kala dan Jihane berencana untuk merevisi buku itu. Mendengar alasan bahwa buku itu dibuang sebab banyak kesalahan kepenulisan juga katanya 'jelek'. Kala ingin membantu memperbaiki isi buku itu, meski tak akan sebagus buku-buku milik Tere Liye setidaknya buku yang kata Jihane 'jelek' itu menjadi sedikit lebih baik.

“Lo kenapa pengen banget revisi nih cerita, sih? Kurang kerjaan tau nggak?!” Jihane mengoceh sambil duduk di salah satu kursi Cafe Meja Bundar. Saat ini mereka sedang berada di Cafe Meja Bundar dengan teman-teman Kala lainnya juga.

“Cerita yang kamu tulis ini sudah cukup bagus. Karena kamu bilang buku ini ada kurangnya, alangkah lebih baiknya diperbaiki bukan dibuang.” Nada bicara Kala sedikit menyindir membuat Jihane membentuk wajah masam.

“Mau pesan apa? Agar fokus saat nanti pengoreksiannya, kamu makan dulu.” Kala tahu, jika saat proses revisi dimulai bersamaan dengan makanan datang maka fokus Jihane pasti akan ke makanan, bukan ke bukunya. Bagi Jihane, makanan adalah nomor satu dalam hidupnya.

“Gue mau nasi goreng, mie goreng, chicken katsu, burger, kebab-” Ucapan Jihane dipotong.

“Jihane Aruna.” Kala menggelengkan kepalanya. Selalu ada saja kelakuan yang membuatnya geleng kepala dari Jihane. “Hehehe.”

“Pesan makanan yang memang akan kamu habiskan.” Kala mulai mengambil kertas-kertas itu, lalu membacanya.

“Ih, beneran. Makanan itu pasti gue abisin. Serius, deh! Percaya sama gue.” Jihane membentuk jari tangannya menunjukkan angka dua. Tanda bahwa ia benar-benar serius.

< tw // death

Kala menunggu Jihane di depan rumah Umin. Dirinya ditemani lamunan tentang Ibu. Secepat itu Ibu pergi. Ia bahkan belum berani untuk memasuki rumah Umin dan melihat sekujur tubuh Ibu sudah kaku. Ibu berperan penting dalam hidupnya, ia yang selalu memperhatikan Kala seperti membuatkannya bekal sarapan tiap pagi, ia yang selalu lebih mengutamakan Kala daripada Umin anaknya sendiri. Ibu bagaikan Ibu kandung Kala, seorang wanita hebat yang mengkover peran Ibu dalam hidupnya.

Lamunan Kala buyar saat didengarnya seseorang memanggilnya. Itu suara Jihane. Kala melihat ke sekelilingnya dan melihat Jihane di arah samping dalam jarak cukup jauh sambil melambaikan tangan.

“Kak … ” Kala cukup terkejut dengan pakaian yang Jihane pakai, tapi ia sama sekali tak mengeluarkan pertanyaan apapun saat Jihane mendekat ke arahnya.

Jalan Jihane terhenti sebelum mendekat ke arah Kala di depannya. Ia melihat bendara kuning di dekat Kala. Dirinya sungguh terkejut, langsung saja ia mendekat ke arah Kala sambil memegangi baju yang ia pakai. Kemeja kotak-kotak merah muda dengan kaos putih didalamnya ditemani celana joger. “Kak, gue nggak salah kostum, kan?”

Tampak sekali wajah Jihane panik, ditambah dengan Kala yang sama sekali tak menjawab pertanyaanya justru mengalihkannya pada ucapan lain. “Ayo, masuk saja.”

“Kakkk.” Nada Jihane cukup tinggi Tampak dengan jelas wajah kesalnya.

“Tidak apa, Jihane Aruna.”

“Gapapa? Lo bilang gapapa? liat! liat itu disamping lo bendera apa?!” Jihane sedikit berteriak sambil menunjuk bendera yang ada di dekat Kala. Malu sekali dirinya datang dengan pakaian seperti ini, terkesan tidak sopan.

“Jihane Aruna, saat ini bukan kamu fokus utamanya. Jangan khawatir, ada saya.”

“Gue nggak mau masuk, mau pulang aja!” Jihane memalingkan wajahnya, ia menyembunyikan dirinya yang menangis. Ia sama sekali tak mau dilihat oleh Kala bahwa dirinya saat ini sedang menangis. Tidak ada yang pernah tahu perasaan bagaimana malu dirinya dilihat orang-orang mendatangi rumah duka dengan pakaian tidak sopan seperti ini.

“Jihane Aruna, tidak apa. Ayo masuk,” Kata Kala lembut.

Sambil berjalan memasuki rumah Umin, Kala berkata, “Maaf.” Sambil melihat wajah Jihane yang tampak sekali sedang menahan tangis. Saat ini Jihane benci dirinya yang selalu tak bisa mengontrol perasaan jika berhadapan dengan Kala. Menyebalkan.

Kala melihat Umin, memanggilnya lalu memeluknya erat. “Mas … Saya turut berduka cita … ”

Umin berusaha keras menahan tangisnya di depan Kala, ia selalu mencoba untuk tegar dihadapan Kala. Umin tersenyum hambar. “Makasih, Kal.”

Umin melepaskan pelukannya pada Kala. “Sebentar, ya, Kal.” Kala bingung, Umin bergerak menuju ke arah dapur. Kembali lagi dihadapannya dengan membawa sebungkus bekal.

“Ini, Kal, buat kamu dari Ibu.” Umin memberikan bekal berisi sarapan yang dibuat oleh Ibunya pagi tadi. Kala yang mendengar itu tak kuat menahan tangisnya.

“Oh ya, tadi pagi sebenernya Ibu mau nganterin sendiri langsung ke rumah kamu, kangen katanya. Tapi tuhan berkata lain, ya.”

“Mas … Maaf … Saya sempat menolak sarapan dari Ibu.” Kala mengambil bekal dari tangan Umin dengan gemetaran.

“Nggak, ngapain minta maaf. Mas yang minta maaf karena Ibu nggak bisa kasih sarapan tiap pagi lagi.”

Jihane menyaksikan momen menyentuh itu langsung di depan matanya. Ia makin tak kuat saat melihat Kala menangis, ingin sekali meredakan tangisnya sebab ia tak pernah melihat Kala menangis. Tapi rasa itu terhalangi gengsi juga amarahnya pada Kala sebelum kejadian ini.

[11CENTIMETERS]

Kala dan Jihane memberikan doa terbaik mereka dihadapan Ibu. Disusul dengan Kala yang mengelus-elus tangan Ibu lembut dengan memberikan sedikit kata-kata terimakasih untuk Ibu. Setelah itu, proses pemakaman akan segera dilakukan. Kala yang mulai berdiri disusul Jihane yang juga ikut berdiri.

“Jihane Aruna, saya ingin makamkan Ibu. Mau ikut? Atau mau disini?” Tanya Kala sambil merapikan belakang bajunya.

Tak ada jawaban keluar dari mulut Jihane, sudah bisa dipastikan Jihane masih marah. Kala hanya menganggukan kepalanya lalu berkata, “Ya sudah, saya makamkan Ibu dulu, ya. Kamu tunggu disini. Istirahat.”

Kembali tak ada jawaban, Kala meninggalkan Jihane yang kembali duduk di teras lalu menuju kawan-kawannya.

“Ayo.” Ajak Kala pada kawan-kawannya yang sedang berkumpul.

Selesai pemakaman, Kala dan kawan-kawannya kembali ke rumah Umin. Bhakti dan Talay duduk di kursi depan rumah Umin, Sulthan dan Sena yang masuk ke dalam rumah untuk sedikit mengambil cemilan untuk menghilangkan lapar, Umin yang juga duduk di kursi ditemani lamunannya, dan Septa serta Chandra yang mengikuti Kala di belakang.

Septa yang melihat Kala terus-menerus celingak-celinguk memberanikan diri bertanya, “Cari apaan, sih, lo?”

Chandra yang mendengar itu langsung menoleh pada Kala. “Cari siapa, Kal?”

“Tadi saya bersama Jihane Aruna, saya ke dalam dulu, ya.” Kala meninggalkan Septa dan Chandra yang masih berdiri.

“Begitu, tuh, kalo lagi jatuh cinta.” Sarkas Chandra pada Septa melihat tubuh Kala yang semakin tak terlihat.

Kala mencari-cari Jihane dj dalam rumah Umin, ia menuju tempat dimana Jihane duduk terakhir kali tapi tak menemukan sosok Jihane terlihat. Ia lalu keluar rumah lagi dan bertanya pada Bhakti juga Talay. “Lihat Jihane Aruna?”

Bhakti dan Talay berdiri saat ditanya oleh Kala. “Lho, bukannya tadi di dalem?” Talay justru balik bertanya.

“Dia nanya, lo ngapain nanya juga, somplak.” Bhakti menoyor kepala Talay pelan.

“Saya sudah cari di dalam, tapi tidak ada.”

Umin yang sedang duduk lalu berdiri sedikit berterik pada Kala. “Pulang duluan kali, Kal. Capek, mungkin.”

“Capek ngapain? emang dia ikut ngubur?” Talay dengan polosnya bertanya.

“Tanya rumput aja sono, lo.” Bhakti yang sudah tidak kuat meninggalkan Talay dan Kala.

Kala yang mendengar apa kata Umin segera mengirim pesan pada Jihane. Kala berpikir bahwa Jihane benar-benar sangat marah padanya melebihi marahnya tempo hari.

©️ lyterasee

Setelah membalas pesan Jihane, Kala bergegas ke rumah Pakdhe Supra. Berjalan kaki menuju halte dari rumah Jihane dengan ditemani airpod yang selalu menempel ditelinga juga tak lupa dengan radio tapenya. Akhir-akhir ini Kala sering sekali mendengarkan lagu-lagu dari Bruno Mars, padahal Kala jarang mendengarkan lagu. Hari-harinya biasa saja, hanya mendengar titip radio. Tapi semenjak Kala tahu Jihane menyukai Bruno Mars ia mulai mencoba untuk mendengarkan lagu lainnya dari Bruno Mars. Agar, jika Jihane menyuruhnya bernyanyi lagi ia sudah tahu lagu beserta liriknya karena sudah ia hapal.

Bus Transjakarta berhenti tepat di depan halte. Melihat itu Kala langsung bergegas menaiki bus, ia duduk di bagian paling belakang bus itu. Kala selalu menanamkan prinsip wanita paling utama. Ia akan membiarkan para wanita duduk di bagian depan atau tengah, biarkan ia dibelakang. Lagi pula, menurutnya laki-laki memang lebih baik di belakang untuk mencegah adanya kejadian yang tak diinginkan bila duduk bercampur dengan wanita. Kita tidak pernah tahu seberapa nafsu seseorang pada saat itu.

Kala duduk dengan nyaman dikursinya, ia lalu memejamkan matanya pelan lalu menganyun bersama lagu yang ia dengarkan. Ia mencoba merasakan feeling dari lagu yang ia dengar. Oh ya, dari lagu-lagu Bruno Mars yang ia dengar, yang berulang kali ia dengar ialah yang berjudul Just The Way You Are. Menurutnya lagu itu sangat bagus pun dengan musik videonya. Klasik.

Kurang lebih tiga puluh menit perjalanan, akhirnya Kala sampai pada halte pemberhentian. Dari sana ia berjalan menuju gang rumah Pakdhe Supra. Melewati lorong-lorong kecil yang hanya bisa dilewati pejalan kaki dan pesepeda, tidak bisa mobil atau motor. Sesampainya di depan rumah Pakdhe Supra ia melihat sekeliling rumah milik Kakek itu dari depan, di samping rumahnya terdapat toko buku yang tidak terlalu besar. Kala sering membaca buku disana. Rindu sekali rasanya membaca buku kembali disana.

Kala masuk ke dalam toko buku milik Pakdhe Supra, selain menjadi pengirim surat dan koran ia juga sebagai penjaga toko buku miliknya sendiri. Toko bukunya memang tak besar, tapi buku-buku yang Kala baca terdapat disini semuanya. Komplit. Dilihatnya Pakdhe Supra yang sedang menyeruput segelas kopi yang ada di sampingnya ditemani koran yang ia baca dengan kacamata baca.

Kala berjalan menuju ke arah Pakdhe Supra, menyapa Pakdhe Supra dengan ramah. Namun, jalannya terhenti saat ia ditabrak oleh seseorang. Isi dalam tas yang Kala pegang berhamburan kemana-mana. Langsung ia memungut barang-barangnya dengan gerakan cepat, di dalam tasnya terdapat mainan anak milik Shakilla, foto Ibunya, kartu nama dan juga sticky notes yang selalu ia bawa. Kala mengutamakan mengambil mainan Shakilla dan foto Ibunya. Bapak yang menabrak itu ikut menurunkan badannya dan membantu Kala. Bapak itu baru mengambil kartu nama milik Kala, dan hendak mengambil foto Ibunya tapi Kala menghentikannya. “Saya bisa sendiri.”

Singkat sekali pernyataan Kala, ia tak suka jika barang-barang miliknya terutama foto Ibunya dipegang orang lain. Apalagi itu laki-laki. Bahkan sepertinya umur Bapak yang menabraknya ini sama dengan Ayahnya. Ia sangat tak menyukai itu.

“Oh, maaf, ya, saya tidak sengaja. Salah saya tidak hati hati.” Jawab Bapak itu.

Tatapan Kala dan Bapak itu bertemu, memberikan keheningan untuk keduanya. Wajah Bapak itu tampak sedang berusaha mengingat sesuatu. “Lho? Ini SandyaKala Megantara yang atlet figure skating itu, kan?” Tanya Bapak itu sambil menunjuk ke arah Kala. Ia menyadari bahwa Kala adalah seorang atlet olahraga seluncur es.

Kala tak langsung menjawab, sungkan sekali ia untuk menjawab pertanyaan mengenai hal itu. “I-iya.” Jawab Kala ragu-ragu.

“Anda tahu dari mana saya atlet?” Tanya Kala penasaran sekali.

“Saya fans kamu, lho. Saya selalu nonton saat kamu tampil. Keren sekali.” Bapak itu memberikan dua jari jempol kanan kirinya dengan jari lainnya yang dilipat, pertanda bahwa Kala benar-benar keren.

Kala mulai terasa nyaman berbicara dengan Bapak itu. Dengan malu-malu menggelengkan kepala ia menolak pernyataan itu. “Tidak, tapi terimakasih … ”

Bapak itu tersenyum. “Oh ya, bukannya terakhir kali kamu berada di New York, ya? Kenapa tiba-tiba berada di Jakarta? Kok tidak ada berita yang muncul tentang kepulangan kamu, ya? Padahal saya samgat menunggu sebab ingin berfoto.” Pertanyaan Bapak itu banyak sekali. Sudah dipastikan benar jika Bapak itu ialah penggemar Kala. Ia bahkan tahu dimana Kala berada terakhir kali.

Kala tak menjawab lagi, ia justru memberikan pertanyaan pada Bapak dihadapannya ini. “Kenapa suka saya?”

Bapak itu lantas tertawa mendengar pertanyaan Kala. “Yaampun, gemas sekali. Sebenarnya saya dulu ingin sekali jadi atlet seperti kamu, tapi orang tua saya tidak setuju. Mereka ingin saya jadi dokter. Saya sudah coba melupakan keinginan saya ini, tapi saat lihat kamu di tv dengan penampilan kamu yang memukau membuat saya bersemangat lagi. Saya kagum dengan kamu, diusia muda kamu sudah bisa mengharumkan nama bangsa. Saya sebagai orang tua rasanya bangga. Mungkin semua orang yang menyaksikan kamu tampil bisa saja langsung jatuh cinta saat melihat kamu tampil. Keren sekali.”

Kala menatap serius Bapak itu, mendengarkannya dengan seksama. Ia kembali terbawa ke memori dahulu saat ia semangat berjuang untuk bisa menjadi atlet seperti sekarang. Semangatnya dipatahkan saat tahu ia berjuang tanpa dukungan kedua orang tua. Ia meyakinkan dirinya bisa meski banyak rintangan. Dan inilah Kala. Namun, mimpinya kembali dipatahkan untuk yang kesekian kalinya akibat penyakitnya.

Rasa sakit patah tulangnya saat berlatih skating tak ada rasa bandingannya dibandingkan saat semangatnya dipatahkan sebab penyakitnya.

©️ lyterasee

Sonia kini berada di toko furniture, ia membeli beberapa barang yang rasanya masih kurang mengisi rumah barunya dengan Jihane anaknya. Setelah perceraiannya dengan mantan suami sekaligus ayah dari Jihane dan Jidane yakni Januar hidupnya lebih tenang. Tak ada lagi rasa cemas yang datang, tak ada lagi rasa takut yang menghampirinya tiap Januar berada di rumah. Tiap malam saat masih bersama, Januar selalu datang dalam keadaan mabuk, ditambah dengan ocehannya tentang berbagai hal akibat minuman yang memabukkan itu.

Ia mengerti alasan Januar bisa menjadi seperti itu karena Jidane, anak laki-laki satu-satunya di keluarganya itu meninggal. Selain Jidane yang meninggalkan Sonia, Januar, dan Jihane ke tempat yang lebih baik, Jidane juga meninggalkan luka mendalam untuk keluarga terutama Januar. Setelah kepergian Jidane Januar mulai berubah, wajahnya selalu menampakkan wajah frustasi akan hal yang menghampirinya.

Sonia selesai memilih-milih barang dan langsung menuju kasir untuk membayarnya. Ia membeli sepasang kursi kecil untuk mengisi ruang tamunya. Ia berbicang-bincang sedikit dengan pihak toko membicarakan proses pick up kursi ke rumahnya. Setelah selesai, ia bergegas keluar toko yang cukup besar dan terkenal ini. Berjalan menyusuri jalanan yang ramai disambut pejalan kaki lainnya.

Ditengah perjalanan langkahnya tertahan, pasalnya saat berjalan ia seperti familiar dengan wajah laki-laki yang baru saja melewatinya. Sonia membalikkan badannya guna melihat siapa laki-laki itu. Benar saja, laki-laki itu juga membalikkan badannya membuat keduanya saat ini berhadapan.

Hening. Kedua masih sama-sama mencerna siapa yang mereka lihat dihadapan mereka saat ini. Laki-laki itu tersenyum, tampak sekali senyumannya seperti melepas rindu tak lama bertemu, lama sekali. Laki-laki itu melangkahkan kakinya maju satu langkah menuju Sonia. “Sonia ... Lama tak bertemu ...” Lirih laki-laki itu, matanya mulai berkaca-kaca.

“Mas Pram ... Selamat atas pernikahannya ...”

Mendengar itu, air mata laki-laki yang diketahui bernama Pram itu tumpah. “Sudah terlambat, Sonia ...”

“Kabar Mas bagaimana? Istri Mas? Anak Mas? Ah, maaf terlalu banyak tanya.” Sonia jelas berusaha untuk mentralkan suaranya agar tak terlihat gugup. Tiga puluh tahun lalu di danau tempat terakhir kali mereka bertemu membuat mereka canggung.

“Kabarmu bagaimana? Sudah menikah?” Pram balik bertanya.

“Sudah, bahkan sudah selesai proses cerai.” Gumam Sonia pelan.

“Sonia ... Maaf,” lirih Pram.

Sonia jelas tertawa mendengarnya, setelah meninggalkan Sonia dengan alasan pendidikan di negeri orang melanjutkan kuliah kedokterannya lalu tak lama setelah itu Sonia mendapat kabar bahwa Pram akan segera melangsungkan pernikahan. Bukan dengannya. Bahka, Sonia mendapat kabar itupun dari temannya. Apakah pantas kata maaf itu keluar?

“Sekarang saya yang bicara bahwa itu juga sudah terlambat.”

Pram mengajak Sonia untuk duduk di salah satu kursi yang tersedia di dekat mereka. Menjelaskan tentang apa yang terjadi selama mereka tak bersama yang mereka masing-masing sama-sama tak tahu sebelumnya, Dengan tangisan penyesalan juga tangis keterlambatan.

©️ lyterasee

Sejak tadi Jihane menunggu Kala di halte, rencana Kala ingin mengantar Jihane untuk melamar kerja di salah satu statuin tv yang cukup terkenal sepertinya benar. Tapi, sejak tadi pula Jihane belum melihat batang hidung Kala yang muncul dihadapan Jihane. Perihal halte, Jihanw dan Kala sudah sepakat, kemanapun mereka akan pergi, titik temunya di halte. Catat, halte dimanapun asal yang dekat rumah Jihane sebab Kala selalu khawatir jika tempatnya jauh dari lingkungan Jihane. Begitupun dengan bus, merekapun sudah bersepakat untuk kemana-mana dengan bus. Kata Kala lebih aman sebab banyak orang.

Sudah cukup lama Jihane mamatung di kursi halte menunggu Kala padahal sudah banyak bus yang melewati halte. “Jihane Aruna,” Suara itu membuat Jihane terkejut, sebab suara itu datang dari belakang tubuhnya.

“Maaf, menunggu lama, ya?” Kala yang tadinya berada di belakang Jihane segera merubah posisinya menuju samping Jihane.

“ISH, LO YA! Bikin kaget tau nggak, sih!” Jihane memukul tubuh Kala kesal.

“Pikir sendiri!” Pagi-pagi sudah datang drama dari seorang Jihane Aruna, nampaknya Jihane sudah tak perlu melamar kerja untuk menjadi news anchor. Sebab, acting marahnya saat ini bisa dibilang cukup mumpuni.

“Maaf ...,” Nampak jelas raut bersalah dari Kala.

“Nggak gue maafin kalo belum ketemu Mamah gue!” Jihane melipat tangannya di depan dada.

“Lain kali saja, ya. Takut jika kamu telat sampai kantornya.”

“Ish! Gue aja yang mau ngelamar santai-santai aja. Yaudah, kalo lo nggak mau, lo harus nyanyiin lagunya Bruno Mars!” Pinta Jihane sebagai ganti dari rencananya dengan Kala bertemu Mamahnya tak jadi.

“Lagunya seperti apa? Maaf, saya tidak tahu.” Kala tersenyum, wajahnya sama sekali tak terlihat bersalah kali ini, membuat Jihane geram. “Ish! lo tuh lahir tahun berapa, sih!”

“Seribu sembilan ratus sembilan puluh dua.” Kala menjawab. “Nggak usah dijawab ih! Siapa suruh jawab?!” Benar kata orang, wanita selalu benar tak pernah salah. Pun, jika salah tetap kembali pada kodratnya bahwa wanita tak pernah salah.

“Jihane Aruna, sudah, ya. Busnya sudah datang.” Kala mendrong pelan tubuh Jihane menyuruhnya untuk naik ke dalam bus yang baru saja datang. Wajah Jihane nampak masih kesal.

Sudah dalam bus, Jihane duduk di bangku bagian kanan pojok dekat kaca, sedangkan Kala justru duduk di seberangnya. Jihane melihat Kala justru sedang memainkan handphonenya semakin kesal. Kekesalannya tak membuat Kala peka hingga Jihane memukul kursi bus di sampingnya. Ya, saat itu baru Kala menyadari Jihane masih kesal. “SINI APA!”

Kala cukup terkejut, perlahan ia berpindah tempat duduk dan duduk di samping Jihane. Jihane tak melihat ke arah Kala, pandangannya terus menatap jalanan melaluo jendela.

Easy come, easy go, that's just how you live, oh.” Jihane yang sedang bersandar di kaca terbelalak saat mendengar Kala yang duduk di sampingnya ini menyanyikan lagu Bruno Mars. Penyanyi Favoritnya.

Jihane mengamati wajah Kala sambil bertanya, “Lo beneran tadi nyanyiin lagu Grenade? Sumpah? AKHH,” tanya Jihane antusias. Senyumnya kini mengembang jelas. Ceria sekali pikir Kala.

“Woo katanya nggak tau lagu Bruno Mars ... Boong aja, lo pasti fansnya juga, kan?” Jihane dengan pedenya menuduh Kala.

“Jihane Aruna, saya baru cari lagunya tadi ...” Senyum Jihane yang tadi terpancar seketika pudar. Malu sekali rasanya saat dugaanya salah. Ia langsung bersikap seperti tak terjadi apa-apa.

“Oh ya? Udah, ah, gue mau tidur. Kepagian kayanya gue, nih, masih ngantuk. Bangunin kalo udah sampe pake lagu Bruno Mars lagi tapi yang lain!” Kala yang melihat Jihane kembali bersandar di jendela mulai memejamkan mata tersenyum. “Tidur saja, nanti saya bangunkan jika sudah hampir sampai. Iya, dengan lagu Bruno Mars lainnya.”

Perjalanan cukup lama untuk sampai di tempat tujuan, Kala yang sedari tak tidur melihat ke arah Jihane yang tertidur pulas. Ia lihat kepala Jihane yang rasanya sakit jika terlalu lama berada diposisi bersandar seperti itu. Langsung saja, Kala memegang kepala Jihane perlahan-lahan agar Jihane tak terbangun lalu memindahkannya bersandar dibahunya. Ia sama sekali tidak apa-apa, ia tak memikirkan bahwa bahunya yang pasti akan pegal menahan kepala Jihane.

Kala mengambil airpodnya lalu menyalakan radio tapenya yang berputar lagu-lagu lawas kesukaannya. Kala tenang mendengarkab lagu-lagunya dari radio tape miliknya yang ia pegang, hingga radio tape yang ia pegang jatuh. Sakit kepalanya kambuh, ia tak pernah menduga bahwa penyakitnya ini kambuh di pagi hari seperti ini bahkan saat bersama Jihane yang sedang tidur bersandar dibahunya.

Sakit kepalanya semakin sakit, ia meremas kepalanya keras berharap sakitnya reda. Ia tahan sekali suara kesakitannya agar Jihane tak terbangun. Ingin sekali rasanya segera keluar dari bus tapi ia tak tega meninggalkan Jihane apalagi janjinya ia antarkan JIhane hingga sampai tujuan. Sakit tak bisa dikendalikan lagi, ia merogoh tas miliknya mencari obat peredanya agar tak kejang. Sayang, sepertinya ia kelupaan menaruh obatnya ke dalam tas.

Kala berhenti sebentar, mengambil kertas kecil beserta pulpennya dan menulis sesuatu di atas kertas kecil itu, selesai menulisnya Kala memegang tangan Jihane perlahan dengan gemetar. Ia tempelkan kertas kecil itu di telapak tangan Jihane agar saat Jihane bangun ia tak kaget. Kala bangun dari kursi busnya hendak keluar, tapi sakitnya makin-makin, ia berbalik menatap Jihane yang sedang tertidur. Pikirannya berperang antara meninggalkan Jihane sendiri di bus atau tidak. Dilihatnya terdapat bapak-bapak yang duduk di belakang tempat Jihane dan Kala duduk. Dengan nada gemetaran Kala berkata pada Bapak itu, “Pak ... Ma-af, sa-saya ti-tip wa-ni-ta yya-ng se-dang terti-dur, Pak ... To-long, sa-at su-dah ssam-sampai ge-dung di-sana ba-ngunkan de-ngann la-gu Bruu-no Mars ...” Kala menunjuk gedung yang berada tak jauh dari bus.

Kala berbicara dengan gemetaran sambil memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit. “Sebentar, Nak. Tapi itu kamu kenap-” Belum sempat Bapak melanjutkan bicaranya ia sudah di kagetkan dengan Kala yang melompat dari bus yang masih dalam posisi berjalan. Sudah sangat tak tertahan lagi sakitnya.

Bapak tak bergerak sesaat, hingga ia sadar bahwa sedikit lagi hampir sampai pada gedung yang Kala tunjuk tadi. Bapak berjalan menuju kursi Jihane tertidur. Ia bingung, tapi ia tetap menyanyikan lagu dari Bruno Mars yang setaunya saja. Jihane yang mendengar itu langsung terbangun. “UDAH SAMPE? SUMPAH?GUE-” Bicaranya berhenti saat dilihatnya dihadapannya ini bukan Kala melainkan orang lain. Ia merapikan rambutnya dan melihat terdapat kertas kecil di tangannya. Jihane membaca itu.

“Mba, maaf. Tapi, Masnya tadi kaya kesakit-”

“EH IYA, PAK. MAKASIH, PAK. SAYA DULUAN, YA.” Jalan Jihane terburu-buru keluar dari bus yang terhenti pas di depan gedung besar salah satu statiun tv nasional terkenal. Saat di interview, Jihane jadi tak fokus sebab pikirannya hanya ada pada Kala. Memikirkan apa alasan Kala meninggalkannya di bus dalam keadaan ia tertidur, berusaha ia hilangkan pikiran-pikiran negatif yang datang terus-menerus. Frustasi.

©️ lyterasee

“Kalau bicara akan hal rumah, sampai sekarang pun saya belum menemukannya, Septa.”

Ucapan itu terus berputar dikepala Septa saat sedang beristirahat sebentar di ruang tamu rumah Kala. Ucapan itu Kala ucapkan saat berjalan menuju rumahnya bersama Septa. Sesampainya di rumah Kala, seketika rasanya Septa rasakan suasana rumah yang berbeda. Ia memang sudah pernah ke rumah Kala tapi belum pernah sekalipun ia masuk kedalam rumah Kala ini.

“Septa, saya ke dapur dulu. Mau minum apa?” tanya Kala yang sudah menyelesaikan istirahat sebentarnya setelah sesampainya di rumah.

“Gue nggak mau minum, yang gue mau lo nemuin rumah lo itu.” Yang dimaksud rumah bukan sekadar tempat beristirahat yang bisa saja ditinggalkan tiap hendak pergi kemana saja. Tapi yang Septa maksud rumah adalah seperti yang Kala ucapkan. Rumah untuk berteduh, berkeluh-kesah, dan juga rumah untuk abadi.

Kala mendengar itu tersenyum. “Tenang saja, perlahan saya sudah temukan rumah saya. Sekarang, saya ingin kamu anggap rumah saya ini rumah kamu juga.” Kala berjalan menuju dapur. Mengambil segelas air lalu membawanya ke ruang tamu tenpat dimana Septa duduk. “Kalau kamu sudah anggap rumah ini seperti rumahmu, kamu bebas mau ambil apa saja.” lanjutnya.

Lantas Septa berdiri, merapikan bajunya sehabis dari duduknya lalu berjalan perlahan mengelilingi seisi rumah Kala. Melihat-lihat meja ruang tamu yang cukup terisi penuh dengan barang-barang. Septa mengambil sebuah medali yang tergeletak di meja ruang tamu Kala.

“Ini medali apa?” Melihat terdapat sebuah medali membuat Septa penasaran medali apa itu. Sebab, tiada tulisan yang menerangkan medali apa yang ia pegang.

“Medali saat saya memenangkan kejuaraan.” Kala mendekat kearah Septa berdiri, ia mengambil medali itu dari tangan Septa.

“Cocok.” kata Kala setelah menaruh medalinya di leher Septa. “Kejuaraan apa? Keren juga lo.”

Kala lagi-lagi tersenyum, rasanya membicarakan mengenai kejuaraan membuatnya teringat masa-masa indah saat menghadapi kejuaraan yang menurutnya sangat menegangkan. Sebab, tiap kali ia mengikuti kejuaraan rasanya ia membawa nama baik Ibunya, padahal Ibunya tahu pun tidak jika ia mengikuti kejuaraan itu. Ibunya sudah beristirahat di tempat peristirahatannya paling tenang.

Figure skating.

What? serius?” Wajah terkejut terlihat jelas di wajah Septa membuat Kala kali ini berganti tertawa.

“Darius.”

“Et, artis kali, ah. Tapi, sumpah, seriusan?” Rasa penasaran semakin menghampiri Septa. “Kapan saya pernah bercanda?”

“Barusan.” ledek Septa.

“Gue akuin lo keren, bagi-bagi tipsnya dong, Kakak.” Septa sendiri yang bicara seperti itu, tapi dirinya sendiri juga yang tertawa geli. Kembali ia lakukan aktivitas melihat meja milik Kala yang semua isinya tampak sangat menarik untuk dipertanyakan.

Kala manusia paling banyak yang harus dipertanyakan

Kala melihat Septa sangat serius melihat-lihat, hingga tatapannya tak lagi terlihat ceria saat Septa memegang sebuah bingkai foto. Kala segera menarik bingkai itu dari tangan Septa, tapi tak bisa sebab Septa mengangkat bingkai itu cukup tinggi membuat Kala kesulitan menggapainya. “Eits, katanya gue boleh ambil apa aja. Kalo jni foto siapa?”

“Bukan siapa-siapa. Kemarikan.” jawab Kala datar.

“Kalo bukan siapa-siapa nggak mungkin dipajang, sih, setau gue,”

“Pacar ya … ?” curiga Septa.

“Saya bilang bukan.”

“Trus siapa kalo bukan pacar … ” Septa merajuk.

“Sudah malam, tidur, ya. Saya siapkan kamarnya dulu di atas.”

Kala berjalan perlahan menuju lantai atas, Septa yang melihat itu tak tega. “Iya, iya, deh, gue balikin, nih, bingkainya. Udah tua ngambek-ngambekan.”

Langkah Kala terhenti, sebenarnya ia tak berniat untuk marah pada Septa. Ia memang benar-benar akan membereskan kamar atas untuk Septa tidur sebab kamar atas tak pernah terpakai. Pun perihal jalannya yang perlahan itu sebab ia yang takut ketinggian, maka dari itu ia berjalan perlahan.

“Ya sudah taruh kembali di meja yang rapi. Kamu mau ikut ke atas tidak?” tanya Kala sambil berbalik arah berhadapan dengan Septa dari tangga.

Septa berlari kecil menghampiri Kala yang berada di tangga lalu ia berjalan mengikuti tiap langkah Kala seperti anak kecil.

Kala membuka satu pintu kamar yang terdapat di kamar atas. Di lantai atas terdapat dua kamar kosong. Kala dan Septa masuk ke dalam kamar. “Gue nggak mau disini, ah. Baru mau dibersihin gimana, sih, yang punya rumah.”

“Maaf, saya baru sempat bersihkan. Tapi, saya akan bersihkan yang sungguhan. Jangan khawatir, tidak akan ada kuman.”

Septa keluar kamar melihat kamar sebelah lalu masuk kembali. “Kenapa nggak di kamar yang sebelah aja?”

“Maaf, Septa. Kamar yang satu lagi sudah pernah dipakai Jihane Aruna. Jangan dipakai lagi.”

“Cie bulol.” ledek Septa sambil menyenggol pelan bahu Kala. “Apa?” Septa tertawa melihat respon Kala yang terlihat salah tingkah.

“Mau tunggu di luar atau di dalam? Saya bersihkan dulu.”

“Di dalem aja, gue bantuin tenang.”

Kala dan Septa bersama-sama membersihkan kamar. Septa seringkali meledek Kala soal kamar sebelah. “Eh, nggak jadi, deh. Kayanya enakan kamar sebelah.” Septa penasaran dengar reaksi Kala tapi Kala sama sekali tak bereaksi apa-apa mendengar ucapan Septa. “Iya, deh, iya. Bercanda, Bapak.”

“Oh ya, kenapa kamar atas nggak dipake? Bukan, maksud gue kenapa cuma dipake buat tamu?”

“Saya lebih suka dibawah.” Sudah jelas Kala bohong. Ia sama sekali tak punya keinginan untuk sekadar berucapan akan ketakutannya dengan ketinggian. Ia sangat tak ingin melihat rasa kasihan yang akan ia dapat jika mengucapkan akan hal itu.

“Boong. Udah tua gausah banyak boong ya, Pak.”

“Darius.”

“Darius.”

Kala dan Septa berucap berbarengan. Septa jadi tahu apa yang akan jadi jawaban Kala. Lelucon kuno.

“Rumah ini rumah saya, sebagai tuan rumah hak saya untuk mau tidur di mana.”

Iya boss, siap boss. ucap Septa dalam hati.

“Sudah selesai. Silakan istirahat.” Kala menuju keluar kamar setelah selesai merapikan kamar. “Makasih, Bapak.”

Ucapan Septa kali ini serius. Tak ada nada bercanda yang datang dari suaranya. Ia benar-benar berterimakasih pada Kala sebab mau menampungnya. Ia sudah cukup capek harus bersinggah di mana lagi setelah hari-hari sebelumnya ia singgab di banyak rumah teman-temannya.

“Rumah ini sama pemiliknya sama. Ramah.” ucap Septa tersenyum.

“Selamat malam, Anak saya.”

©️ lyterasee

Image

Sebelumnya, Septa tak pernah menginginkan untuk menginjakkan kaki sucinya di rumahnya. Iya, rumahnya sendiri. Semenjak kematian Ibunya dan perselingkuhan Ayahnya yang terkuak ia tak pernah kembali ke rumah ini. Rumah yang ia rasakan sekarang bukan lagi rumah melainkan neraka. Bagaimana tidak? di dalam rumahnya ini hadir seorang jalang yang tanpa dosa hidup dan menghancurkan keluarganya.

“Mana? Ayahmu itu mana? Berani-beraninya dia.” Laki-laki yang sedang duduk di sofa ruang tamu itu tetap menunggu kehadiran Kala yang tak kunjung datang. Dengan menahan amarah laki-laki itu bersila. Septa yang sedari tadi berdiri tak selera untuk duduk, ia juga menunggu kedatangan Kala.

Ketukkan pintu terdengar, membuat manusia-manusia yang berada di dalam rumah kebingungan. Di rumah ini sudah disediakan bell, tapi mengapa ada tamu yang masih mengetuk pintu. Septa tahu siapa yang mengetuk pintu itu, dengan gerakan cepat ia menuju pintu depan untuk membukakan pintu.

“Selamat pagi … ” Kala menunduk setelah dibukakan pintu oleh Septa, sedangkan Septa dengan gerakan cepat menarik Kala untuk segera masuk. “Udah, ah, cepetan!”

Septa membawa Kala ke hadapan Ayahnya yang sedang bersantai duduk. Kala yang berhadapan dengan Ayah Septa berniat baik untuk bersalaman, tapi tak kunjung dapat balasan dari Ayah Septa. Septa yang melihat itu geram.

Ngapain pake salaman, sih. Dia nggak perlu dihormatin.

“Lansung saja,” Tak membalas jabatan tangan Kala, Ayah Septa berdiri. “Septa, ini Ayah gadungan kamu?” Tangan Septa mengepal, sangat geram dengan kata-kata yang Ayahnya sendiri keluarkan.

“Saya bisa jelaskan … ” Tenang sekali jawaban Kala. Ia sangat tahu bahwa diposisi ini, tak bisa masalah diselesaikan dengan amarah.

“Saya hanya membantu Septa saat itu, tidak lebih. Saya meminta maaf jika apa yang saya lakukan melukai hati anda sebagai orang tua Septa.”

“Oh, ya harus. Kamu memang harus minta maaf sama saya.”

“Ngapain maaf, sih, Kal!” Septa sudah tak bisa menahan amarahnya lagi, jawaban Ayahnya sama sekali tak menghargai Kala sebagai lawan bicaranya.

“Sebentar, ya, Septa. Saya akan selesaikan. Pak, saya harus apa agar anda tidak memarahi Septa?” Kebaikan Kala terkadang memang tak mengenal tempat dan lembutnya terkadang juga tak tahu diri.

“Udah, lah. Ribet, ayo gue anter pulang aja. Nggak jelas banget.” Septa menarik tangan Kala. “Septa stop!”

Septa dan Ayahnya sama-sama dibentengi amarah. Septa yang sudah tak kuat dengan ketidakjelasan ini menginginkan pergi dari tempat ini secepatnya. Sedangkan Ayahnya, ia menginginkan masalah ini dibicarakan lebih lanjut. Tapi bukan hanya dibicarakan, Septa tahu itu. Kala bisa saja dimaki-maki jika terus-menerus berargumen dengan Ayahnya.

“Apalagi? Papah nggak jelas dari tadi juga omongannya. Apa yang mau diomongin lagi. Septa pergi.”

“Tidak sopan!” Septa yang membawa Kala menuju keluar langkahnya terhenti mendengar ucapan Ayahnya. Geram sekali rasanya.

“Bilang apa tadi? Nggak sopan? Apa bedanya sama Papah yang nggak sopan juga nggak ngehargain Ayah Septa?!”

“Saya yang orang tua kamu, bukan dia!” Nada bicara Ayah Septa meninggi.

“Orang tua Septa udah pergi sejak Mamah pergi!”

“SEPTA!” Ayah Septa menarik Septa lalu menamparnya keras. Kala kaget, dengan cepat ia mencoba meleraikan. “Sudah, sudah … ”

“Urusin aja sana jalang lo yang nggak tau diri itu! Nggak usah ikut-ikut campur urusan gue! Gue bukan anak lo lagi. Sekarang!” Septa menarik keras dan cepat tangan Kala serta buru-buru melangkah keluar dari rumahnya.

“Pergi sana! Jauh-jauh! Kurang ajar!”

[ 11 Centimeters ]

Septa dan Kala berjalan cukup jauh sejak pergi dari rumah Septa. Septa tak bicara apapun selama perjalanan itu, Kala menghentikan. “Sudah, berhenti, Septa. Mau jalan sejauh mana lagi?”

Kala menurunkan badan Septa, mengajaknya untuk duduk istirahat meski sebentar. “Saya minta maaf,” ucap Kala lirih sambil menatap Septa.

“Ngapain minta maaf, sih. Lo, tuh, dari tadi minta maaf mulu, ya!” protes Septa yang rasanya sudah kenyang kata maaf yang didapatnya dari Kala.

“Saya yang mulai. Maaf sudah buat Ayahmu merasa tak dihargai.”

“Dia pantes dapetin itu. Nggak usah minta maaf.”

Suasana menjadi sunyi, Septa tetap diam tanpa bersuara dengan kepalanya yang menunduk. Kala yang melihat itu menepuk pelan punggung Septa, “Septa, malam ini kamu boleh menginap di rumah saya.”

Septa kaget mendengar itu, ia langsung menatap wajah Kala, ekspresi wajahnya seperti mempertanyakan kebenaran akan ucapan Kala barusan. “Beneran?”

“Benar, lagipula saya hanya tinggal berdua. Tidak apa.”

“Jangan lelah, ya. Harus tetap hidup. Tuhan sedang uji kesabaranmu.” Septa kembali menatap Kala, kali ini tatapannya mengisyaratkan kesedihan.

“Hidup tanpa orang tua juga tetap bisa. Hanya perlu pembiasaan saja, saya juga seperti itu dahulu.”

“Lo?–” Septa menunjuk Kala. “Saya bahkan hidup tanpa keduanya. Tanpa Ibu, tanpa Ayah. Tapi saya tetap hidup, jadi kamu juga harus tetap hidup.”

Buliran mata baru saja tumpah: berasal dari Septa yang merasa hatinya tersentuh mendengar ucapan Kala. Langsung saja ia segera hapus sebelum Kala melihatnya, gengsi dalam dirinya tidak akan pernah hilang. Ingin sekali Septa mengeluarkan kata-kata semangat juga untuk seseorang yang duduk disampingnya ini, tapi kata-kata itu sangat keluh untuk dikeluarkan.

“Jalan lagi, ayo!” Ajak Kala kembali melanjutkan perjalanannya, mereka tak membawa kendaraan sebab Septa menarik Kala keras dan berjalan tanpa henti. Tapi Kala tak pernah protes akan hal itu. Tak ada kata-kata bantahan untuk mengikuti Septa yang sedang dalam amarah.

“Selama apapun juga saya izinkan kamu. Anggap rumah saya nanti rumah kamu.”

©️ lyterasee

Image

“Mas, udah selesai, nih. Tinggal dipakein bedan, dah cantik, deh.” Itu suara Bu Ijah, seorang asisten rumah tangga yang Kala pekerjakan hanya untuk membantunya membersihkan badan Shakilla. Bukan, bukan karena Kala enggan membantu tetapi rasanya ia tak pantas dan tak seharusnya melakukan itu, mengingat bahwa ia hanyalah Ayah angjat Shakilla. Maka itu sebabnya kehadiran Bu Ijah di rumahnya ini.

Kala yang sedang membersihkan tempat Shakilla mengistirahatkan dirinya terhenti saat terdengar suara Bu Ijah memanggil. Bu Ijah sudah Kala anggap Ibunya sendiri, sebab itu yang membuat Kala tak memanggil tak pernah memanggil Bu Ijah dengan sebutan pembantu atau lain sebagainya. Kala merasa melihat Ibunya– Sarah saat melihat wajah Bu Ijah, sangat terbayangkan bahwa Ibunya berada di depan matanya.

Kala menghampiri Bu Ijah yang memanggilnya di dekat kamar mandi. “Sudah cantik meski tak pakai bedak, Bu Ijah.” Kala mengelus kepala Shakilla lembut.

“Oh ya, Bu Ijah, kalau ingin pulang nanti bareng saya dan Shakilla saja. Saya dan Shakilla juga sebentar lagi akan keluar.” Tugas Bu Ijah di rumah Kala hanya itu, membantu Shakilla mandi lalu pulang. Biasanya ia akan kembali lagi ke rumah Kala sore hari.

Shakilla yang mendengar kata keluar terlihat bingung, langsung ia berlari kecil ke arah meja belajarnya lalu mengambil secarik kertas berserta penanya. Shakilla menulis sesuatu di atas secarik kertas itu.

Mau kemana?

Setelah menulis segera Shakilla berikan kertas itu pada Kala. Kala membaca isi dari secarik kertas itu, ia melihat jelas tulisan Shakilla yang semakin hari semakin bagus. Bagus. Ia membaca isi surat sambil mengambil sekotak kecil bedak untuk Shakilla.

Sambil memakaikan bedak pada wajah Shakilla Kala menjawab, “Kita akan jalan-jalan keluar, Killa. Cari sarapan untukmu, jangan khawatir, ya. Ada ayah.” Kala memastikan tak ada ketakutan yang hadir. Terlahir sebagai anak istimewa dengan tak bisa berbicara rupanya membuat mental Shakilla memburuk, apalagi setelah mendengar kata-kata dari orang-orang yang ia dengar.

Kala sempat menyekolahkan Shakilla dan berujung keluar sebab ia melihat Shakilla justru terlihat murung setelah bersekolah. Ia bawa Shakilla ke dokter, ternyata mentalnya terganggu. Sungguh malang, itu salah Kala. Maka dari itu, ia tak mau segala ketakutan hadir kembali pada sosok makhluk istimewa kesayangannya ini. Enam tahun bersama tak dibiarkan ada kekecewaan kembali hadir.

“Sudah cantik berlebihan ini ….” Sarkas Kala berusaha membuat suasana hati Shakilla membaik.

Kala merapikan tas miliknya lalu menggenggam tangan Shakilla. “Tidak boleh lepas, ya?” Kala mengangkat tangannya yang tergenggam dengan tangan Shakilla. Terlihat senyum milik Shakilla terukir, sepertinya suasana hati Shakilla mulai membaik. Ternyata usahanya untuk mencairkan suasana mulai berhasil.

Kala, Shakilla dan Bu Ijah berjalan keluar rumah menuju arah tujuan masing-masing. Kala dan Shakilla menuju halte untuk naik bus lalu berhenti di pemberhetian halte untuk bertemu Jihane Aruna.

Hampir sampai di halte, Kala melihat dari kaca Jihane sedang berjalan menuju halte sama dengannya. Jalannya Jihane dan juga jalannya bus bersamaan, Kala terus melihat dari kaca Jihane yang sedang berjalan.

Sampai di halte, Kala menggendong Shakilla lalu membawanya keluar bus. Turun dari bus, Kala mengedarkan pandangannya mencari Jihane sebab banyak penumpang yang berlalu-lalang turun dan naik bus.

Ternyata, tak jauh dari tempatnya berdiri dilihatnya Jihane yang berdiri dengan senyum sumringahnya sedang mengangkat tangannya melambai ke arah Kala. “KAKK!!!”

Kala tersenyum kecil melihat tingkah Jihane, ia langsung menurunkan Shakilla dari gendongannya dan menggantinya dengan berpegangan tangan berjalan menuju Jihane.

Sampai dihadapan Jihane, “Duduk dulu saja,” Kala menyuruh Jihane untuk beristirahat lebih dulu sebab dirinya tadi melihat Jihane berjalan kaki menuju halte.

Jihane heran dengan ucapan Kala, kenapa harus duduk dulu padahal dia tidak capek. “Halte nggak jauh dari rumah temen gue btw mon maap, nih …,”

“Eh, Kak, ini Shakilla? Hai ….” Jihane melambaikan tangannya pada Shakilla, dilihatnya Shakilla kebingungan dan terus menggenggam tangan Kala.

Kala yang melihat itu langsung menyamakan badannya dengan Shakilla, melepas genggaman tangannya pelan lalu berucap, “Shakilla … ini Bunda ….”

Kala terpaksa harus melakukan ini, sebab hanya itu satu-satunya cara untuk meredakan ketakutan pada diri Shakilla. Ibu, sudah lama Shakilla menanyakan dimana Ibunya dan menantikan kedatangannya. Hari ini, Kala sudah memulai kembali sandiwaranya akan hal Ibu Shakilla. Shakilla hanya tahu bahwa Kala ayahnya, tapi tidak dengan siapa Ibunya.

Jihane yang mendengar hal itu cukup terkejut, tapi ia berusaha untuk mengikuti sandiwara Kala. “Eh, iya, Shakilla gimana? sehat sayang?” Jawaban Jihane seperti sudah terlatih sebagai Ibu, membuat Kala yang cukup terkejut dengan inisiatifnya mengikuti sandiwara tersenyum kecil.

“Sini sayang, sama Bunda ….” Jihane membentangkan tangannya mengajak Shakilla berpelukan, tapi ia tak ingin berharap lebih sebab terlihat jelas ketakutan di wajah Shakilla. Jihane mulai menurunkan tangannya.

Shakilla masih melihat Jihane terus-menerus tanpa membalas ajakan pelukan Jihane, Kala yang melihat itu pun tetap tak bisa memaksa Shakilla karena ia tak ingin ada paksaan. Tapi tak disangka justru Shakilla berlari ke arah Jihane dan memeluknya erat.

Erat, erat sekali balasan pelukan dari Shakilla yang Jihane dapat. Ditemani dengan senyum sumringah yang terukir indah pada wajah Shakilla, Shakilla melihat ke arah Jihane. Ia sama sekali tak melepaskan pelukan itu.

Jihane yang cukup bingung berusaha melepas pelukan Shakilla perlahan. Melihat itu Shakilla juga mulai melepaskan pelukannya pada Jihane tapi ia justru berganti menggenggam tangan Jihane erat.

“Hehehe ….” Wajah pasrah Kala lihat jelas, menghadirkan tawanya.

“Shakilla rindu Ibunya. Ayo, kita mau kemana?” tanya Kala.

“Hm, kemana, ya. Kemana aja, deh, yang penting sarapan dari pada keburu abis.” Jihane masih dengan posisinya yang menggenggam tangan Shakilla.

“Mau makan apa?” Kala mengedarkan pandangannya mencari tempat makan yang terlihat oleh netranya.

“Bubur aja, tuh, deket.” Tunjuk Jihane pada tukang bubur yang tempatnya dekat dengan rumah sakit dimana Chandra bekerja.

Kala, Jihane, dan juga makhluk kecil yang terus mengikat dirinya pada tangan Jihane berjalan menuju tukang bubur yang tak jauh dari halte.

Sampai di tempat tukang bubur berjualan, Kala bertanya pada Jihane, “Pakai semua?”

Jihane cukup terkejut dan sedikit tak sampai otak dengan pertanyaan Kala. “Apanya? Eh, oh, toppingnya? pake … semua aja, deh.”

Menunggu Kala yang memesan bubur, Jihane dan Shakilla duduk di kursi. Tempatnya sarapan saat ini hanya tempat makan sederhana, tapi rasanya sangat berharga bagi Jihane. Sebab, momen ini adalah momen-momen langka yang tak banyak keluarga lain rasakan. Jihane teringat keluarganya. Mamah, Papah, dan … Kakak. Terasa sekali suasananya.

“Shakilla, seneng?” Shakilla tak menjawab pertanyaan Jihane, ia hanya menjawab dengan anggukan semangat. Jihane melihat Shakilla yang mulai mau melepaskan genggamannya pada Jihane lalu mengambil kembali tangan Jihane dan meletakkannya di atas telapak tangan Shakilla.

Jihane melihat Shakilla yang seperti menulis huruf demi huruf di telapak tangannya, membuat Jihane sedikit berpikir keras untuk menyusunnya menjadi sebuah kalimat sebab Shakilla menulis tidak dengan pena atau pensil. Hanya bermodal pikiran dan khayalan.

“C, a …, Aduh jangan cepet-cepet, dong.”

Kala yang selesai memesan bubur membawa tiga mangkuk bubur, ia langsung menaruh satu per satu mangkuk ke meja dan duduk di samping Jihane.

“Cantik.”

Hancur, hancur semua ingatan Jihane mengenai rangkaian kata atau kalimat yang dibuat Shakilla sebab ucapan Kala. Betapa kaget dirinya mendengar ucapan Kala itu. “Hah?! ih, apaan, sih, lo. Bikin buysr pikiran gue soal tulisan Shakilla aja.”

Jihane cukup kesal dan salah tingkah, ia malu mendengar ucapan Kala barusan. Kala yang melihat jelas itu tertawa kecil.

“Cantik, itu yang Shakilla tulis di tangan kamu.” Jihane, jangan kepedean. Kala hanya memberitahukan pada Jihane bahwa kata itu yang ditulis Shakilla pada telapak tangannya.

“OH. OH. OHHHH.” Cukup keras Jihane menjawab, itu ia lakukan berusaha menutupi wajahnya yang malu karena terlalu kepedean.

Langsung Jihane mengambil buburnya dan memakannya cepat, ia bahkan tak memperhatikan buburnya dahulu sebab ia tim bubuk tak diaduk. Tapi saat makannya cepat ini buburnya sudah teraduk dan dengan cepat menyisakan setengah bubur.

Sibuk makan Jihane akhirnya tersadar bahwa bubur Kala masih utuh di meja. Jihane langsung menoleh ke arah Kala, dilihatnya Kala sedang menyuapi sedikit demi sedikit bubur pada Shakilla. Jihane memegang tangan Kala, menghentikan aktivitas Kala menyuapi Kala dan menoleh ke arah Jihane. “Biar gue aja, lo makan dulu, ih, masih penuh itu bubur.” Jihane mengambil sendok yang Kala ambil dan mengantikannya menyuapi Shakilla.

Sambil menyuapi Shakilla, Jihane mengutarakan perasaannya. “Harusnya, tuh, yang nyuapin anak kaya gini istri karena istri tugasnya ngerawat anak dan ngurusin rumah. Suami tugasnya kerja.” ucap Jihane sambil menyuapi Shakilla.

“Tidak dong, anak itu kan anak kita. Bukan anak saya atau anak kamu. Jadi itu sudah tanggung jawab bersama bukan individu.” jawab Kala tak setuju dengan pendapat Jihane.

“Bukan begitu … anak … anak kita ya bukan anak kita … Aduh, bagaimana, ya, saya jelaskannya.” Kala kebingungan.

“HAHAHAHA. Lucu lo, ah.”

Kala melihat laki-laki berjas putih khas dokter melewati tempatnya sarapan saat ini. Langsung Kala berdiri dan memanggilnya, “Chandra!”

Chandra–dokter baru saja melewati tukang bubur itu berhenti saat mendengar dirinya dipanggil. Dilihatnya ada Kala, ia langsung membalikkan badannya dan menuju ke tukang bubur tempat Kala berada.

“Sarapan, Chandra.”

“Udah, makasih.” jawab Chandra ketus. Ia langsung bergegas untuk meninggalkan Kala, belum sempat dirinya melangkah sudah dipanggil oleh Kala lagi.

“Chandra, sebentar. Kenalkan dulu, ini teman saya.”

Chandra mau tak mau berkenalan dengan wanita yang berada di samping Kala ini. Yang sudah bisa ia pastikan wanita ini wanita yang sering kali Kala bicarakan yang mengakibatkan Chandra marah pada Kala.

Jihane yang berada di sana ikut sama canggungnya dengan Kala dan Chandra.

“Chandra.” Chandra memberikan tangannya untuk berjabat tangan dengan Jihane.

“Eh, Iya, Ji—” Belum sempat Jihane perkenalkan namanya, ia sudah dipotong dengan ucapan laki-laki yang baru saja ia kenal itu.

“Jihane, kan? Oh ya, Jihane Aruna, lupa. Lo sering dibicarain sama dia.” sindir Chandra. Chandra langsung melepaskan jabatan tangannya dengan Jihane.

Berjalan menuju Shakilla, mengajak Shakilla mengobrol. “Shakilla, nanti cek kesehatan bareng Om lagi, yah!”

Kala yang melihat itu ingin sekali memberhentikan Chandra tapi Chandra sudah kembali berbicara dengan Jihane dan tak enak rasanya memotong pembicaraan.

“Oh ya, lo,” Chandra menunjuk Jihane, “Lo mau sehat, kan?” Pertanyaan itu sangat tiba-tiba membuat Jihane juga menjawab dengan seadanya.

“Eh, iya, semua orang juga pasti mau sehat, dong.” Jihane menjawab pertanyaan Chandra.

“See?” Chandra melihat ke arah Kala dan langsung pergi meninggalkan mereka.

“Eh? gue salah apa deh? kok? kok dia pergi gitu aja?

“Duduk,” Kala menyuruh Jihane duduk kembali.

“Kak, serius, sumpah, tadi gue ada salah jawab pertanyaannya?”

“Tidak.”

“Ih, tapi kok dia gitu, sih?”

“Gue ada salah, ya, kan, jawabnya?”

“Tidak.”

“Kalo nggak ada salah nggak mungkin dia pergi aja, Kak,”

“Lagian juga ngapain tiba-tiba nanyain kesehatan.”

“Dia dokter.”

Jihane baru sadar, ia teringat awal percakapannya dengan Kala menggunakan email bernama ‘Dr. Chandra Atharyan’

“Oh … eh … itu dokter yang di email itu, kan?”

“Iya, sudah duduk, Jihane Aruna.”

©️ lyterasee

Image

Kala terbangun dari pingsannya sebab sakit kepalanya kambuh setengah jam yang lalu dan terbaring di sebuah bangsal. Saat sadar Kala melihat sekelilingnya, memperhatikan tempat ia terbaring saat ini. Rumah sakit, tempat itu menjadi tempat yang seolah paling ia takuti.

Kala mendengar rintik hujan turun di luar sana. Mendengar rintik hujan, pikirannya langsung terbawa pada sosok wanita si tak penyuka hujan. Kala ingat betul, sosok wanita yang bernama lengkap Jihane Aruna itu sangat tak menyukai hujan bahkan bisa saja tubuhnya gemetaran ketika mendengar suara hujan.

Menyadari hal itu, Kala langsung mengecek gadgetnya. Gadgetnya tidak ada di sampingnya, ia mencari dimana letak gadget miliknya. Rupanya gadgetnya berada di atas nakas yang jaraknya cukup jauh dari tempatnya terbaring lemah.

Dengan sekuat tenaga Kala bangun dari tidurnya, melepas tali infus yang bak mengikat dirinya. Cukup sakit, tapi ia harus lakukan demi bisa meraih gadgetnya. Setelah terlepas tali infus itu, Kala melangkah sedikit demi sedikit menuju nakas yang berada cukup jauh itu.

Kala mendapatkan gadgetnya, segera ia buka dan mengecek aplikasi pengirim pesan. Kiranya akan ada pesan muncul dari Jihane Aruna. Benar, enam pesan tak terbaca terkirim untuknya. dari jihane cantikkk tertulis jelas di lockscreen gadgetnya. Jihane pasti sedang ketakutan sekarang, pikirnya.

Kala tak melihat keberadaan Chandra sedari tadi di ruangan ini. Dengan cerdasnya, Kala beraksi membuat cara agar Chandra takkan ke ruangannya. Sebab, jika Chandra ke ruangan ini dan melihat tidak ada keberadaan Kala maka Chandra bisa marah besar.

Kala berjalan keluar rumah sakit mengendap-endap, khawatir jika dirinya justru berpapasan dengan chandra. Sampai di luar area rumah sakit, Kala berlari kencang sekuat tenaganya menuju halte tempatnya dengan Jihane berjanji untuk bertemu.

Di halte, ditemani hujan Jihane terlihat sangat ketakutan. Mengharapkan kehadiran Kala secepatnya menemuinya di tempat ini. Jihane tak bisa pergi dari halte, sebab jika ia menerobos hujan justru ketakutannya semakin parah, ia tak bisa mendengar suara hujan lebih jelas, bisa-bisa tubuhnya yang sekarang sedang gemetaran semakin bertambah gemetar. Pun jika ia bisa menaiki bus tapi tak sedikitpun bus terlihat melewati halte sedari tadi ia menunggu Kala datang.

Jihane menundukkan kepalanya, memejamkan matanya berharap hujan segera reda dan berharap Kala segera datang. Jihane ingin sekali menangis tapi tak bisa, ia bukan tipe perasa yang dengan mudahnya mengeluarkan air mata. Hingga laki-laki menarik lengannya saat ia menundukkan kepala lalu menarik tubuhnya ke dalam pelukan laki-laki itu membuat Jihane terkejut.

“Maaf, maaf saya datang terlambat. Maaf, saya buat kamu takut …”lirih laki-laki itu, suara itu jelas Jihane mengenalnya. Kala, dengan nada lirih terus merapalkan kata maaf yang ditujukan padanya.

“Kak … gue takut …” Saat Jihane tahu itu suara Kala ia langsung menjawabnya. Mendengar itu, rasanya sangat menyayat hati Kala. Ia tak bisa melindungi wanita yang berada dalam pelukannya saat ini.

Kala mulai melepaskan pelukannya pada Jihane. Menggantikannya dengan memberikan Jihane sebuah airpod miliknya yang ia ambil dari dalam postman bagnya. “Pakai ini …”

Airpod itu Kala berikan guna menyumbat suara-suara hujan lalu digantikannya dengan suara dari lagu-lagu didalamnya. Ia tahu jelas ketakutakan Jihane.

Kala lalu mengambil payung yang ada didalam postman bagnya lagi, lalu membukakan payung itu dan memberikan bagian payung sepenuhnya untuk Jihane.

“Lo nggak pake payung?” tanya Jihane setelah memasang airpod yang Kala berikan untuknya. Lagu-lagu jadul mulai terdengar didalam telinganya, selera Kala benar-benar kuno. Tapi, lagu yang sedang berputar di dalam telinganya ini sangat menenangkannya.

“Saya suka hujan.” Perbedaan terlihat jelas. Jihane tak menyukai hujan, sedangkan Kala si penyuka hujan. Jihane mendengar itu mengangguk seolah paham, tapi pikirnya itu hanya alasan melihat Kala sudah terlanjut basah kuyup.

Kala dan Jihane, keduanya berlari kecil menerobos derasnya hujan. Dengan Kala yang basah kuyup tanpa payung lalu Jihane yang seluruh badannya terhindar dari hujan. Senyum merekah jelas dari kedua bibir mereka. Jihane tak lagi takut dan khawatir dengan suara hujan sebab suara-suara hujan sudah tersumbat dan digantikan dengan lagu-lagu jadul selera Kala yang ia dengar.

©️ lyterasee

Beberapa waktu yang lalu setelah saling mengirim pesan dengan Jihane, Kala merobek satu kertas kecil berwarna kuning yang terletak di atas mejanya yang terkumpul menjadi satu diantara ribuan tumpukan kertas kecil lainnya. Kala menuliskan sesuatu di atas kertas kecil itu.

Jihane ajak jalan

Begitulah kira-kira isi kertas kecil yang Kala tulis.

Kala sering menuliskan sesuatu di atas kertas kecil berwarna kuning itu diberbagai kejadian. Ia akan menulis pada kertas kecil itu sehabis ia melakukan dan atau mendapatkan kejadian baik buruk atau baik, sebagai pengingat untuknya segala yang terjadi dalam hidupnya. Ia juga sering mencurahkan isi hatinya di atas kertas kecil itu. Kuno, padahal zaman sekarang sudah ada tempat tersendiri untuk menuliskan sesuatu.

Setelah menulis terdengar suara klakson yang cukup kencang dari luar rumahnya, Kala berjalan pelan menuju jendala kamarnya untuk melihat siapakah orang yang membunyikan klakson itu. Septa–yang membunyikan klakson–sedang menduduki motornya sambil menunggu Kala terlihat dari balik jendala kamarnya.

Kala bergegas bersiap keluar menggunakan kaos putih polos dibalut kemeja kotak-kotak langganannya juga tak lupa postman bag kulit berwarna cokelat. Kala mengambil satu foto dari atas mejanya itu, ia juga mengambil sticky notes berisikan kertas-kertas kecil berwarna kuning itu berserta gadgetnya. Ia segera memasukan barang-barang itu ke dalam postman bag miliknya.

Foto itu–foto Ibunya–selalu ia bawa kemanapun ia pergi. Mengingatkannya bahwa ia tak pernah sendirian di dunia ini, masih ada Ibunya meski hanya dalam bentuk foto bersamanya. Ibunya meninggal kala melahirkannya ke bumi. Beranjak cukup besar Kala mengetahui kemana Ibunya pergi, setelah ia dulu hanya dibohongi bahwa Ibunya pergi untuk mencari nafkah hingga ia mempertanyakan kemana Ayahnya.

Kala tak pernah mengetahui wajah Ayah dan Ibunya secara langsung, Ibunya hanya dalam bentuk foto sedangkan Ayahnya sama sekali ia tak tahu. Apakah tampan? Apakah wajah sang Ayah sangat mirip dengan wajahnya ini? Ataukah justru wajah Ayahnya mirip dengan Ibunya? Ia sama sekali tak tahu.

Yang Kala tahu, Ibunya sangat memperhatikannya. Ntahlah, Ibunya rupanya sudah menyiapkan surat-surat berisikan siapakah dirinya dan menjelaskan siapa Ayahnya. Dalam surat-surat itu banyak berisikan Ibunya memuji Ayahnya. Ia tak tertipu, setelah dewasa ia mengetahui bahwa Ayahnya tak sebaik dan seterpuji apa yang Ibunya tulis dalam surat.

Kala berjalan menuju pintu rumahnya menghampiri Septa yang sudah menunggu lama di luar. “Pagi, Septa Sagara.” Kala menyapa Septa sembari menepuk bahu Septa pelan.

“Lama banget, sih, lo, kaya cewe aja. Gue udah nunggu lama, nih. Cepet naek!” celetuk Septa kesal sudah menunggu terlalu lama.

“Maaf, tapi tak boleh seperti itu, bawa-bawa perempuan,” Kala menaiki motor milik Septa yang ada di hadapannya itu. “Ayo, jalan.” lanjutnya.

Kala dan Septa sampai di depan halaman Cafe Meja Bundar, Septa langsung memarkirkan motornya. Kala turun dari motor Septa, “Mau ikut masuk ke dalam?” tawar Kala mengajak Septa untuk ikut masuk bertemu dengan teman-temannya yang sudah ada janji untuk bertemu setelah sekian lama.

“Banyak makanan nggak di dalem?” Septa malah menanyakan soal makanan, membuat Kala teringat Jihane yang suka sekali makan dan pikirannya hanya makanan.

“Ada, banyak. Chef di cafe ini sudah terjamin enak makanannya.” Mendengar hal itu Septa ikut masuk ke dalam cafe bersama Kala yang mendampinginya di sampingnya.

Septa celingak-celinguk melihat seisi Cafe. Cocok, cocok untuk ia nongkrong dengan teman-temannya melihat design cafe ini cukup bagus.

Kala tiba-tiba menarik tangan Septa dan memegang erat tangannya membawanya kedekatnya membuat Septa terkejut serta bingung. Ia langsung mencoba melepaskan pegangan itu tapi tak bisa karena Kala cukup kuat. Di depannya ini terlihat laki-laki dengan wajah datar menyambut mereka. “Duduk.”

Kala melihat wajah Khaisar, sangat tak berekspresi apa-apa. Ia merasa bersalah, tapi masalah itu ia kesampingkan. “Biarkan saya pesan makanan untuknya terlebih dahulu.” Pesanan makanan itu ditujukan untuk Septa. Septa yang mendengarnya hanya membalas anggukan kikuk, ia sangat bingung dengan situasi apa ini.

Kala dan Septa menuju recepsionist untuk memesan makanan dan minuman, di sana ia melihat Anne. “Kala? Kamu beneran pengen ketemu Khaisar?” tanya Anne terkejut dan takut dengan kehadiran Kala ke cafe ini.

“Anne, tenang, ya. Saya akan bicarakan baik-baik.” Kala mencoba menenangkan Anne yang terlihat begitu panik.

Kala memesan beberapa makanan dan minuman untuk membuat suasana lebih baik lagi. Anne juga sudah cukup tenang dan tidak panik dengan kehadirannya.

Saat sedang memesan, bahu Kala terasa seperti ada yang menepuknya, Kala langsung menengok ke belakang melihat siapa orang itu. “Woi, bro, kemane aja lu,” Sapaan itu dari Talay, salah satu teman Kala yang hobinya hanya pakai baju ketekan.

“Talay, apa kabar?”

“Wes, bro, gua selalu baik. Lo yang gimana kabarnya?”

“Baik …” Kala melihat Talay yang menengok ke arah kitchen cafe.

“WOI, PADUKA KITA DATENG, NIH!” teriak Talay riang.

Orang-orang yang ada di kitchen langsung menghampiri Talay dan Kala. Ada Bhakti, Sena, Sulthan dan Lumintang. Mereka berlima terlihat sumringah melihat Kala, mereka langsung memberikan Kala pelukan hangat.

“Kal … Duduk, yuk” ajak Lumintang setelah memeluk Kala. Kala membawa Septa bersama teman-temannya untuk duduk di kursi. Meja tempat Kala dan teman-temannya ini sama sekali tak berbentuk bundar seperti nama kelompok mereka. Mejanya justru berbentuk segilima, cukup aneh.

image

Setelah berkumpul semua, Lumintang sebagai pemegang umur paling tua memulai ritual perundingan seperti yang biasa mereka lakukan jika membicarakan hal penting. “Oke, semuanya, sebelum perundingan ini dimulai alangkah baiknya berdoa menurut kepercayaan masing-masing. Berdoa, mulai.” Septa yang melihat itu berpikir hal itu cukup aneh. Pertemanan Kala juga aneh, tidak jelas. Itu pikirnya.

Selesai berdoa, Khaisar langsung memulai pembicaraan. “Langsung aja, deh, ya. Kal, lo tuh harusnya mikir, nggak cuma lo yang sakit akan kejadian dulu. Gue juga, Kal!” Khaisar memulai pembicaraan dengan topik yang cukup berat.

“Lo pernah mikir nggak? Gue udah coba buat lakuin sesuatu biar hubungan kita jadi lebih baik dari sebelumnya tapi lo selalu gitu. Menghindar, terus ngirim surat kalo gue lakuin itu lo nggak bakal mau temanan sama gue lagi. Kal, dari dulu, dari dulu lo kaya udah nggak anggap gue temen lo.”

“Semenjak kejadian tiga tahun lalu lo udah nggak anggap gue siapa-siapa, Kal. Lo pergi, lo pergi jauh banget dan kita lost contact. Temen-temen juga nggak ada yang tau lo gimana, lo dimana. Terakhir kali kita tau lo lagi kejuaraan di Kanada.” Khaisar mengutarakan semua rasa yang ia pendam selama tiga tahun setelah retaknya hubungan persahabatannya dengan Kala.

“Gue tau gue salah, Kal. Gue minta maaf. Gue pengen menebus semua dosa-dosa gue dan minta lo buat bantu gue tapi lo malah ngilang, Kal. Jujur, lebih baik lo pukulin gue abis-abisan setelah kejadian itu dari pada lo diemin gue tiga tahun, Kal. TIGA TAHUN. Sakit banget sumpah.” Khaisar mulai mengeluarkan air matanya, sebenarnya untuk membuka luka lama ia pun sama seperti Kala, Tidak mampu. Itu mengapa Kala selalu berusaha untuk menghindari percakapan dengan Khaisar. Tiap kali bertemu, obrolannya akan beda tidak seperti dulu, Tidak ada canda tawa.

“Khaisar …” Tatap Kala dalam pada Khaisar. Teman-teman lainnya hanya melihat dan mendengar tanpa mengetahui apa masalahnya kecuali Umin. Ingin sekali rasanya Talay bertanya ada apa sebenarnya karena mulutnya rasanya sudah gatal, tapi ia urungkan niatnya melihat betapa seriusnya obrolan saat ini.

Laki-laki berpakaian dokter memasuki cafe, menyita perhatian orang-orang di cafe termasuk pasukan meja bundar. Kala yang melihat kehadiran Chandra langsung berdiri dan meninggalkan percakapannya dengan Khaisar yang belum selesai. “Chandra, silakan kesini!” ajak Kala pada Chandra dari kejauhan.

Chandra langsung memberikan tundukan hormat pada teman-teman Kala. Ia sudah tahu siapa orang-orang yang berkumpul ini karena Kala sudah menceritakannya, tapi ia terfokus pada satu anak muda yang berada tepat di samping Kala. “Ini siapa, Kal? Temen lo juga?” Chandra langsung menanyakan akan hal pemuda itu tanpa melihat situasi tegang saat ini.

“Anak saya.”

“HAH?” Semua terkejut begitupun dengan Khaisar yang tadi tampak emosional. Septa yang mendengar itu pasrah.

“Eh, maap, Kal, seriusan lu?” Talay yang sedari tadi memendam mulutnya untuk tidak berbicara akhirnya keluar juga.

“Iya, ini anak saya.” Kala menjawab tanpa rasa malu ataupun rasa lainnya. Ia dengan pede menjawab seperti itu.

“Udah gede, ya, bund,” suara Bhakti meski kecil tetap terdengar oleh Kala, menghadirkan senyum yang terukir jelas dari bibir Kala. Sudah lama teman-teman tak melihat senyum itu, tapi hari ini, berkat Bhakti senyum itu akhirnya terpancar kembali.

“Alhamdulillah …” Semuanya mengucap syukur setelah melihat senyuman Kala.

“Freak abis nih orang-orang, abis momen serius tiba-tiba ngelucu.” Septa sudah tak habis pikir melihat kelakuan pasukan meja bundar yang beragam ini.

Semua yang mendengar ucapan Septa langsung memberikan tatapan sinis pada Septa, kecuali Kala yang justru terlihat gemas dengan kelakuan Septa. “Apa? Ngapain ngeliatin gue kaya gitu? Yang lain sinis, lo doang beda. Ada yang lucu?” Septa melihat Kala yang tersenyum langsung menanyakannya pada Kala.

Lumintang yang melihat semua kejadian di meja ini langsung mencoba mencairkan suasana, “Ayo, ayo, makan aja udah, gausah ada drama-drama,”

“Eh, iya, itu lo siapa namanya? duduk, diri aja.” Lumintang menyuruh Chandra duduk, sebab sedari tadi Chandra menyaksikan dengan posisi berdiri.

“Makan, tadi kamu tanyakan makanan disini.” Kala melihat Septa, menyuruhnya untuk segera makan untuk mengisi perutnya. Kala sangat senang melihat momen ini, teman lamanya bahkan akur dengan teman barunya.

Kala yang melihat Septa makan mengeluarkan gadgetnya lalu memfoto Septa yang sedang makan tanpa Septa sadari.

©️ lyterasee