onenightontrain

image

Septa sudah menunggu Kala cukup lama, menunggu di ruang Kepala Sekolah yang membuat kepalanya ingin meledak akibat ocehan-ocehan yang ia dapat dari gurunya itu.

“Permisi … ” Suara itu, Septa mengenal siapa pemilik suara itu. Ia langsung menoleh ke arah pintu dan dilihatnya Kala yang berpakaian rapi meski tetap membawa tas selempang yang sudah seperti belahan jiwanya itu. Septa bersyukur Kala tak datang lebih lama lagi.

“Pak, ini kenalin. Bokap saya, Bapak nggak pernah ketemu ‘kan?” Septa memperkenalkan Kala pada guru yang menjabat sebagai Kepala Sekolah di sekolahnya ini. Kala yang mendengar ucapan Septa yang kurang sopan langsung memukulnya pelan.

Bapak Kepala Sekolah meneliti dengan seksama wajah laki-laki yang Septa sebut ayahnya itu. “Pak Kala? Bapak ayah dari Septa?”

Kala kikuk, ia harus menjelaskan apa pada Kepala Sekolah Septa ini terkait hal ini. “Hm … Iya, Pak, saya ayah dari Septa Sagara.”

“Lho, kemarin bukannya baru pengen ngedaftarin anaknya sekolah disini, ya?”

“Iya, Pak, kemarin memang saya mendaftarkan anak kedua saya kesini. Dan, Septa ini anak pertama saya.” Kala berusaha sebisa mungkin untuk memperlihatkan keseriusannya pada Bapak Kepala Sekolah agar tak curiga apa-apa mengenai dirinya yang pura-pura menjadi Ayah dari Septa.

“Iya, Pak. Bapak baru kenal ‘kan? Kenalan dulu aturan mah.”

“Saya udah kenal, jaraknya umurnya cukup dekat, ya, Pak sama Septa.” Kepala Sekolah berbicara seperti tak berbuat dosa. Septa yang mendengar hal itu mencoba menahan amarahnya.

“Mohon maaf, Bapak. Bukan ranah Bapak untuk membicarakan hal itu.” Kala menjawab dengan nadanya yang lembut, tiada kemarahan sama sekali darinya karena ia tahu, pasti akan terjadi kesalahpahaman akan hal ini.

Kepala Sekolah tak peduli, ia hanya bingung saja dengan kekeluargaan Septa yang sedari dulu tidak pernah terlihat jelas. “Langsung saja, ya. Bapak, mohon maaf, kamu sudah mendiskusikan dan semua guru menyetujui bahwa Septa Sagara, diputuskan mendapat skors dari sekolah selama seminggu akibat ulahnya yang tawuran dengan sekolah lain.”

Septa yang mendengar hal itu tak terima, menurutnya tawuran hanyalah hal lumrah yang dilakukan anak sekolahan. “Nggak bisa dong, Pak. Kok begitu? Saya kan tawuran juga buat bela sekolah.”

Kepala Sekolah seperti sudah lelah menghadapi Septa, tanpa aba-aba ia keluar dari ruangannya itu. “Lah? Yang Kepala Sekolah siapa?” Septa dan Kala saling bertatapan.

Selesai pertemuan dengan Kepala Sekolah, Kala dan Septa berjalan melewati lorong demi lorong menuju luar sekolah. Kala menitipkan pesan pada Septa untuk tidak melakukan hal sepeti tawuran lagi. Masalahnya akan fatal jika ia mengulanginya lagi.

“Jangan ulangi lagi, ya.”

Bendungan bulir mata baru saja tumpah; berasal dari wanita yang duduk di atas kursi kayu di bagian paling ujung cafe. Menangisi akan kecerobohan yang ia lakukan tidak lama tadi. Kala—laki-laki yang baru saja datang itu meneguk salivanya kebingungan melihat wanita di depannya menangis. Ia langsung duduk di atas kursi kayu berhadapan dengan wanita itu. “Ada apa, Anne? Kenapa menangis?”

Anne menyadari akan hadirnya Kala tergesa-gesa mengambil tissue yang tergeletak di atas meja dihadapannya untuk menghapus bendungan bulir matanya. Merapikan duduknya, lalu menyambut kehadiran Kala. “Eh, Kala … Gapapa, gapapa…”

“Ceritakan saja, katanya ada yang ini diceritakan. Kamu butuh bantuan apa, Anne?” tanya Kala setelah melihat Anne sudah tak menangis lagi. Dirinya pun masih saja merasa bingung dengan apa yang terjadi, wanita di depannya ini belum juga menceritakan apa yang terjadi serta apa bantuan yang ia inginkan dari Kala.

Anne akhirnya mau berbicara, ia akan menceritakan apa yang ia alami barusan. “Kal, tadi aku ‘kan di Meja Bundar, lagi istirahat. Aku buka handphone aku mau ngecheck foto yang paginya kamu minta aku fotoin kamu sama Killa,” Kala menatap Anne serius, menantikan lanjutan dari cerita wanita di hadapannya itu. “Nah, aku nggak tau kalo ada Khaisar dibelakangku, Kal. Sumpah, deh, aku bener-bener nggak sadar kalo dia ngeliat aku pas lagi ngecheck foto itu.”

Anne sebisa mungkin berbicara sejujurnya, ia tak mau ada kebohongan pada Kala karena Kala sudah mempercayainya lebih dari sepuluh tahun sejak mereka berteman dekat sedari kecil. “Lalu? Memangnya kenapa kalau kamu ngecheck foto itu? Apa ada larangan?”

Anne menyeruput dahulu minuman di depannya sebelum melanjutkan ceritanya. “Bukan itu masalahnya, Kal. Setelah itu Khaisar ngechat aku dan nanya rumah kamu dimana, aku nggak kasih tau karena itu permintaan kamu. Tapi, Kal, Khaisar jni maksa sampai sampai dia ngancam bakal bilang ke Pak Sulthan buat pecat aku.” Anne memegang rambutnya frustasi, memikirkan bagaimana jika benar ia akan dipecat dari pekerjaannya dan ia tak tahu harus mencari kerja dimana lagi.

“Aku bener-bener takut banget, Kal. Kamu bisa, ya, bantu aku … Cuma kamu kayanya yang bisa bujuk Khaisar untuk nggak bilang ke Pak Sulthan.” Kala tertawa mendengar ucapan Anne, yang langsung dibalas dengan pukulan kesal dari Anne. “Ih, kamu, kok, malah ketawa, sih, Kal … Aku serius, lho. Nggak ada bercandaan.”

“Anne, itu bukan masalah besar, Khaisar hanya nakut-nakutin kamu agar benar-benar kamu kasih tahu alamat rumah saya.”

“Sekarang, begini saja, deh. Kalau kamu memang takut, saya minta nomor Khaisar. Nanti saya hubungi dia untum berhenti ancam kamu.”

Wajah Anne memerah, ia malu. Masalahnya ternyata tak sebesar dan segenting pikirannya, ia bahkan sudah menangis. Masalah itu hanya akal-akalan Khaisar yang pintar sekali berakting. “Yasudah, kalau sudah selesai saya pulang, ya. Shakilla sudah menunggu sepertinya.”

Kala bangun dari duduknya di atas kursi kayu. Menengok kanan-kiri cafe seperti mencari sesuatu. Anne ikut bangun dan merapikan pakaiannya. Keduanya keluar cafe bersama. “Aku pulang, ya, Kal. Makasih hehe.” Anne berbicara itu pada Kala tanpa memperhatikan jalan. Hingga Kala menghentikan langkahnya karena sedikit lagi ia bergerak, ia akan terjatuh dari tangga cafe yang memang cukup tinggi.

“Hati-hati, Anne. Matanya ke depan.” Kala memberikan tangannya untuk Anne pegang juka benar-benar akan terjatuh. Anne sadar, ia langsung turun dari tangga perlahan.

“Eh, iya, Kal. Aduh … Maaf jadi nggak fokus. Makasih sekali lagi. Aku duluan, ya.” Tubuhnya semakin tak terlihat oleh netra Kala, setelah Anne pergi baru ia pergi dari tempatnya saat ini.

Kala berjalan menuju halte yang tak jauh dari cafe tempat pertemuannya tadi dengan Anne. “Ayo naik!” Suara laki-laki terdengar oleh indra pendengaran Kala. Itu suara Septa, rupanya pemuda itu tak langsung pergi setelah mengantarnya ke cafe sekitar tiga puluh menit yang lalu.

“Kamu tidak pulang?” tanya Kala pada Septa yang berdiri di depannya dengan motor ninjanya.

“Tadi gue abis ketemu temen, terus liat lo. Sekalian aja, udah ayo cepet!” bohong Septa. Gengsinya sudah meluas melebihi luasnya lautan, ia tidak akan mau terlihat sebagai orang yang lebih dominan perhatian.

Kala mulai menduduki jok motor ninja milik Septa yang cukup tinggi itu. Membawanya pergi dari halte dekat cafe menuju rumahnya. Sejujurnya, Septa penasaran dengan tempat tinggal Kala. Barangkali ia bisa menetap sementara disana jika sudah mengetahui dimana lokasinya, mengingat hubungannya dengan Papahnya cukup buruk.

“Septa, terimakasih, ya.”

©️ lyterasee

tw // violence cw // harsh word Mohon bijak dalam membaca dan tidak untuk ditiru!

Butuh waktu tiga puluh menit hingga Kala sampai di daerah sekolahan yang cukup besar dengan naik bus. Setelah sebelumnya ia sudah mendaftarkan Shakilla ke TK Cendrawasih dan SMP 17, kali ini Kala mendaftarkan Shakilla ke SMA Bina Nusa.

Kala berjalan menuju SMA Bina Nusa yang sudah tak jauh lagi jaraknya akan sampai. Ditengah perjalanannya, tiba-tiba banyak sekali pemuda-pemuda yang berlarian kesana-kemari sambil berteriak kencang.

“WOI ANJING! SINI LO!”

Kata-kata kasar Kala dengar ketika melihat pemuda-pemuda itu berteriak. Dilihatnya banyak sekali yang sudah banyak darah di wajah dan bajunya. Tawuran, pasti mereka sedang tawuran antar pelajar. Dilihatnya banyak sekali barang-barang bahaya yang mereka bawa ditujukan untuk lawan.

Zaman sekarang banyak sekali anak muda yang membuang waktunya sia-sia untuk sesuatu yang tidak berguna.

Kala melihat satu pemuda berhenti ditengah-tengah, dilihatnya pemuda itu memegangi kepalanya frustasi dan bingung. Menengok kanan-kirinya tergesa-gesa seperti mengharapkan secercah harapan hidup. Sepertinya ia tertinggal kawanannya, ia berhenti di tempat dimana lebih dominan lawan.

Kala ikut menengok kanan-kirinya, mencari tempat yang aman untuk persembunyiannya jika para pemuda itu menghampirinya dan mengira ia adalah lawannya. Tapi, mata Kala tetap tertuju pada pemuda yang ada di depannya. Sangat pasrah. Tangis Kala lihat dari wajahnya.

Kala melihat lawan pemuda yang ada di depannya itu membawa benda berbahaya, yang sepertinya akan segera dilempar lalu mengenai pemuda di depannya itu.

image

“Awas!” seru Kala sambil menarik lengan pemuda itu cepat. Tepat, benda tajam itu tak mengenai pemuda yang saat ini sedang ia pegang lengannya.

“Tidak apa-apa?” tanya Kala khawatir pada pemuda di depannya ini, dilihatnya wajah pemuda itu berlumuran darah.

Pemuda itu menghembuskan napas lega, nyatanya ia masih diberika hidup. Padahal, ia sudah membayangkan bagaimana ia akan habis diserang lawannya.

Pemuda itu melirik Kala, menghempaskan jemari Kala yang masih memegang lengannya keras lalu berjalan melewati Kala tanpa sepatah katapun.

Kala memaklumi, pemuda itu masih shock dengan apa yang terjadi barusan. “Hati-hati!” Teriak Kala pada pemuda itu yang tubuhnya mulai tak terlihat oleh netra Kala.

Lonceng berbunyi cukup kencang, menandakan bahwa jam istirahat sekolah dimulai. Kala yang sedang berada di ruang Kepala Sekolah, menunggu Kepala Sekolah sedang mencari berkas yang ia minta.

Sambil menunggu, Kala berdiri melihat-lihat sekitaran ruangan itu. Dilihatnya banyak sekali piala-piala serta penghargaan yang sekolah ini dapatkan, ia takkan menyesal mendaftarkan Shakilla ke sekolah ini. Tapi, netranya tertuju pada sebuah foto pemuda yang tadi ia tolong yang sepertinya bersama teman-temannya di foto itu.

“Pak, pemuda ini salah satu siswa di sekolah ini?”

Kepala Sekolah berhasil menemukan berkas yang sedari tadi ia cari, menaruh berkas itu di atas meja. “Iya, dia siswa di sekolah ini. Foto itu saat sedang dilaksanakannya acara kenaikan kelas.”

Kala kembali duduk, membuka berkas yang ia minta tadi dengan baik-baik ia lihat tiap data siswa juga fotonya. Kala melihat foto serta data diri pemuda yang ia tolong tadi, “Septa Sagara … ”

Kala menutup berkas yang sudah cukup ia lihat lalu kembali menaruhnya di atas meja.

“Baik, Pak. Saya yakinkan anak saya bersekolah disini ketika sudah besar nanti. Biaya pendaftarannya sudah saya kirim, ya, Pak.”

“Maaf, Pak Kala, anak anda berumur berapa, ya, sekarang?” tanya Kepala Sekolah bingung dengan ucapan Kala ‘Ketika sudah besar nanti’.

“Oh, umur anak saya saat ini masih tujuh tahun, Pak. Tapi, saya sudah siapkan penuh pendidikan untuk anak saya. Mohon kabari setiap perkembangan sekolahnya, ya, Pak.”

“Baik, Pak. Bisa saya minta ketikkan nomor telepon anda? Kami akan kabari perkembangan sekolah kami secara berkala kepada Bapak.” Kepala Sekolah menyodorkan gadget miliknya kepada Kala. Dibalas Kala mendorong kembali gadget milik Kepala Sekolah itu.

“Harus pakai nomor telepon, ya, Pak? Tidak bisa jika saya datang langsung atau lewat surat saja?” Kala menawarkan cara lain, sebab dirinya tidak lagi memegang gadget.

“Mohon maaf, tidak bisa, Pak. Kami takutkan banyak kesibukan kegiatan apalagi di awal semester seperti ini dan sulit untuk bertemu secara langsung. Nomor telepon kami mintai untuk memudahkan komunikasi juga memberikan informasi terkait perkembangan sekolahnya, Pak.” jelas Kepala Sekolah dibalas anggukan paham oleh Kala.

“Baik, Pak. Kalau begitu, besok saya akan kesini lagi lalu akan saya berikan nomor telepon saya, ya, Pak.” Kala berdiri, menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Kepala Sekolah tanda resminya pertemuan mereka untuk mendaftarkan Shakilla kesini.

Setelah selesai pertemuan, Kala berjalan menuju luar sekolah. Sambil memikirkan bahwa ia harus pakai gadget lagi untuk keperluan sekolah Shakilla. Sampai di luar sekolah, ia teringat dengan pemuda yang ia tolong yang ternyata juga salah satu siswa di sekolah ini.

©️ lyterasee

Image

Kala sedang berada di rumah sakit. Seperti biasa, ia harus melakukan check up mingguan didampingi Chandra sebagai dokternya. Minggu kemarin Kala sempat melewatkan jadwal check upnya, mengakibatkan laki-laki yang berada di depan Kala ini terlihat kesal.

Kala berdiri di belakang Chandra mengikuti setiap arahan yang diberikannya pada Kala. “Tiduran!” suruh Chandra sembari mengambil stetoskop yang mengelilingi lehernya itu.

Kala merasakan jelas keanehan Chandra, ia tak tahu apa yang membuat Chandra terlihat tidak seperti biasanya. Kala memberanikan dirinya untuk bertanya, “Saya ada salah?”

“Lo masih nanya ada salah apa nggak? speechless.” Chandra menepukkan tangannya, bagaimana bisa Kala lupa kesalahannya. Padahal, saat ini ia sedang berada di rumah sakit, seharusnya ia tahu apa salahnya.

“Lo nggak tau salah lo apa?” Chandra menatap Kala sembari menaruh stetoskopnya ke atas nakas.

“Lo ngelewatin check up, SandyaKala Megantara.” Amarah Chandra memuncak, ia bukan tipe pemarah seperti ini, tapi jika itu menyangkut pasiennya ia tak segan memarahi. Demi kesehatan pasien itu sendiri, juga tanggungjawabnya sebagai dokter.

“Minggu lalu?” Kala bertanya serius.

“Chandra, kamu tau saya pelupa. Dan kamu juga jangan sampai ikut lupa, penyebab saya bisa menjadi seperti ini.”

“Kalau saja bukan karena kekhawatiran kamu terhadap saya, saya tidak akan pernah menginjakkan kaki saya ke tempat ini.”

Setelah mendengar ucapan Kala, seketika ruangan sunyi. Chandra baru ingat bahwa pelupa bukan kemauan Kala. Pelupa merupakan efek dari alasan mengapa Kala berada di tempat ini sekarang. Chandra menjadi tak enak hati pada Kala, padahal ia dokternya tapi ia malah lupa terhadap pasien sekaligus temannya itu.

“Gue minta maaf.”

“Saya minta maaf.”

Keduanya disaat bersamaanya sama-sama meminta maaf atas kesalahan yang mereka lakukan. Mendengar itu dari kedua telinga mereka membuat keduanya menatap satu sama lain, menghadirkan gelak tawa. Mengingat betapa seriusnya situasi barusan.

“Lanjutkan, Chandra,” suruh Kala sembari mengambil stetoskop milik Chandra di atas nakas.

Chandra mulai membawa diafragma stetoskop ke bagian kiri atas dada Kala guna mengecek detak jantungnya. “Tadi malem lo ada muntah? Pusing? Atau … kejang?”

“Sakit kepala, seperti biasa.”

“Minggu depan jangan ngelewatin check up lagi ya, Kal. Pemeriksaan minggu depan mungkin bakal lebih dari biasanya.” Kekhawatiran tampak jelas di wajah Chandra. Siapa, sih, teman yang tak khawatir melihat keadaan temannya yang seperti ini. Ditambah, dirinya sendirilah dokternya.

“Nggak janji, ya. Kalau tuhan merestui.” Mendengar itu Chandra langsung menepuk pelan bahu Kala, ia tak suka ucapan seperti itu.

“Selagi gue dokternya, tuhan pasti ngerestuin. Liat aja.” Kepercayaan diri Chandra sudah tertanam sejak ia masih dalam kandungan, tak heran jika ia seperti itu.

Kala tersenyum mendengar itu, sembari melihat-lihat ruangan ia baru ingat radionya sejak tadi belum dinyalakan. “Boleh saya nyalakan radio?”

Kala tak pernah melewatkan rutinitasnya mendengarkan Titipkata Radio, radio yang berisikan pesan-pesan dari banyak orang yang dibacakan penyiar. Hanya itu, hanya itu isi dari Titipkata. Tapi, Kala sangat suka mendengarnya. Mendengarkan setiap pesan dari banyak orang, ada yang menyatakan cinta, ada yang menceritakan hidupnya, ada yang meluapkan kekesalahannya. Semuanya ada diradio itu.

Kala biasa menitipkan pesan yang berisikan curahan hatinya setiap apa yang ia rasakan. Jika ia senang ia akan berpesan, ‘Saya berterimakasih sudah hadirkan hari ini’. Begitulah isinya, atau jika ia bersedih, ia akan berpesan ‘Tolong hapus hari ini bersamaan dengan penyakit saya’. Kala mengirim pesan itu tidak dengan namanya, jika yang lain menggunakan nama mereka, kala menggunakan kode nomor ‘115’. Hanya Chandra dan Anne yang mengetahui itu. Jadi ketika mereka mendengar radio, mereka tahu bahwa pesan itu dari Kala.

Kala juga biasanya menitipkan pesan yang ditujukan entah untuk Chandra atau Anne. Jika untuk Anne ia akan menggunakan kode nomor ‘525’, kalau untuk Chandra ia akan gunakan kode nomor ‘911’, perlu diberitahukan bahwa ‘911’ itu berartikan Chandra sangat dibutuhkan oleh Kala. Hanya saja Kala orang yang gengsinya cukup tinggi ia tak pernah memberitahukan hal itu pada Chandra, tapi Chandra paham justru kelewat senang.

Kala terbangun dari tidurnya dan mulai duduk guna menyetel radio kesayangannya itu yang berada di sampingnya di atas nakas. Mulai terdengar suara penyiar radio sedang membacakan pesan-pesan dari orang-orang. Hingga di satu pesan yang terdengar oleh Kala membuatnya terdiam.

Kali ini gue dapet pesan, nih. Kayanya, sih, dari penggemar si 115 langganan kita, nih. Gue bacain ya.” Kala datar, sedangkan Chandra sudah terlewat kaget mendengar itu.

To 115, gue cuma pengen tanya, kenapa nama pengirimnya 115? Wah … kalo itu, sih, gue nggak tau, yaa. Coba, deh, 115 langganan kita … bisa kali jawab, nih …” Suara penyiar radio terdengar sangat jelas, Kala tak bergeming. Chandra yang mendengar itu langsung menatap Kala khawatir. Kala sangat sensitif jika ditanyakan hal itu, ia takkan pernah menjawabnya. Pernah sekali ia menanyakan hal itu, seketika langsung disembur ucapan pedas dari Kala.

Setelah mendengar itu keduanya diam, Kala berpikir siapa yang mengirim itu. Sudah bisa dipastikan bukan Chandra, karena Chandra juga ikut kaget. Anne? Tapi tak mungkin, Anne bukan orang yang selancang itu.

“Siapa yang kasih tau nomor ini?” Kala menatap Chandra, terlihat jelas amarahnya. Tapi Kala hanya diam, ia tak pernah berniat untuk menyalurkan amarahnya. Bukan tipenya.

“Gue … gue nggak tau. Gue nggak ngasih tau ke siapa-siapa, suer … ” Chandra mengangkat tangannya sembari membentuk jarinya menunjukan angka dua, tanda bahwa ia serius meyakinkan Kala bukan ia orang yang memberitahu soal ini.

Kala beranjak berdiri dari duduknya, berjalan keluar tanpa pamit sedikitpun pada Chandra, padahal, pemeriksaannya belum selesai. Chandra tahu, Kala sedang marah.

“Masalah lagi aja … ” Chandra menghembuskan napas pasrah.

©️ lyterasee

image

Di rumah sakit Premiere, Kala dan laki-laki yang akrab dipanggil Umin bertemu. Pelukan erat Umin berikan pada Kala, segala rindu yang sudah tak tertahan sirna saat ini juga. Kala yang membalas pelukan hangat itu terasa tenang. Sudah lama ia membutuhkan pelukan-pelukan dari orang tersayang. Dilihatnya Umin yang berpakaian office boy rasanya menyayat hati Kala.

Baik Kala ataupun Umin belum mengetahui sepenuhnya apa yang terjadi selama tak ada pertemuan untuk mereka juga teman-teman lainnya. Banyak sekali pertanyaan yang sebenarnya butuh sekali jawaban hari itu, tapi keduanya memilih diam.

“Kala … Sehat?” Pertanyaan seperti itu selalu punya makna mendalam untuk seorang SandyaKala Megantara. Bagaimana hari-hari yang ia lalui terasa berat selama tak bersama teman-temannya yang biasnaya memberikan dukungan penuh untuknya.

“Sehat, Mas … Mas sendiri sehat?”

“Mas selalu sehat, Kal. Ibu … Ibu yang sekarang ini sedang tidak sehat. Kangennya udah nggak terbendung sama kamu.”

Kala memindahkan sapu yang sedang Umin pegang ke tempat lain. Dengan senyuman khasnya Kala berbicara, “Ayo … temui Ibu. Saya sudah rindu.”

Ajakan Kala mendapat antusias penuh dari Umin. Umin langsung membersihkan badannya dan bergegas ke kamar mandi untuk berganti pakaian diikuti dengan Kala yang menunggu di parkiran.

“Ayo, Kal. Naek Joni.” Umin menaiki sepeda ontel kesayangannya yang ia namai Joni setelah selesai dari kamar mandi. Sembari menunjuk ontel kesayangannya itu pada Kala, Kala langsung menuju sepeda ontel itu dan duduk dibagian belakang ontel tua itu.

Ontel tua, Umin, dan juga Kala bergegas menuju rumah Umin. Bertemu dengan Ibu Nursin—ibu Umin—yang sudah lama merindu pada Kala. Kala sudah membayangkan akan semengharukan apa nanti pertemuannya.

“Joni sehat, Mas?” Pertanyaan itu langsung membuat gelak tawa bagi Umin. Mengingat meski ontel itu tetap setia sampai saat ini pada Umin selama dua puluh tahun, tapi ontel tua ini kerap merengek untuk diperbaiki akan kerusakannya.

“Joni ngambek mulu, Kal … Pengen dinaekin Kala.” Umin selalu mengeluarkan senyum lebarnya sembari mengoes ontel tua itu. Dengan semangatnya yang membara ia menuju rumah sangat cepat.

Sampai di pedesaan tempat Umin tinggal, mereka harus turun dari sepeda dan berjalan kaki cukup jauh. Sebelum kembali berjalan, Kala menarik napas, sembari menutup mata ia mengingat-ingat momen-momen menyenangkan yang ia alami di pedesaan ini.

“Ayo jalan, Kal. Masih lumayan jauh, ya. Maklum kita harus jalan kaki karena ini banyak banget tanah merah, licin.” Umin mengajak Kala kembali berjalan sembari mendorong Joni di ontel tua.

“Tanah merah tidak pernah berubah, ya.” Kala berjalan hati-hati melewati banyaknya tanah merah yang bisa membuatnya terjatuh.

“Tau, tuh. Udah jaman modern masih aja bikin susah.”

Meski jalannya sedikit sulit, tapi Kala dan Umin menjalani dengan senang hati. Keduapun sama, sudah tak sabar menemui Ibu Nursin. Aneh, padahal Ibu Nursin itu Ibunya Umin tapi rasa tak sabar Umin sama seperti rasa tak sabarnya Kala.

“Tanah merah tidak pernah berubah … masih saja membawa kenangan indah.” Kata-kata Kala itu berhenti tepat di depan rumah Umin.

Umin dan Kala berjalan pelan memasuki rumah yang sederhana. Masih seperti rumah pada zaman dahulu. Dengan tanah merah, timba air, bale, dan juga burung perkutut yang menemani tiap harinya.

“Assalamu’alaikum, Bu …. Bu … Ibu … Umin bawa Kala, nih, Bu ….” Umin berjalan berdampingan dengan Kala menengok ke kanan dan ke kiri mencari Ibu. Ah, rupanya Ibu sedang ada di dapur memasak.

“Bu ….” Kala yang melihat Ibu langsung memanggil Ibu. Mendekati Ibu yang sedang memasak dengan serius. Ibu tak memperhatikan Kala, membuat Kala menengok pada Umin dan mempertanyakan kebingungannya.

“Ibu udah mulai pikun, Kal …. Coba dipegang Ibunya,” Medengarkan arahan Umin, Kala memegang bahu Ibu lembut.

“Ibu … Ini Kala, Bu ….”

Akhirnya, ibu menengok ke arah Kala, dengan senyuman khas nenek tua yang penuh dengan keriput di wajahnya tetapi tetap cantik.

“Kala … MasyaAllah ini beneran Kala?” Ibu meraba wajah Kala, memastikan kebenaran bahwa yang di depannya saat ini bener seorang SandyaKala.

“Kemana aja, Le …” Ibu menangis, membuat hati Kala rasanya teriris. Mengingat bahwa ia belum pernah melihat Ibu kandungnya menangis. Jangankan menangis, melihat sedetik wajah ibunya saja belum pernah.

“Sehat, Bu?” Kala belum sempat medapat jawaban akan pertanyaannya, ia langsung disuruh makan makanan buatan Ibu Umin. Kala rindu, rindu dengan makanan Ibu Umin yang selalu jadi sarapan paginya dulu.

Umin yang melihat itu di depannya merasa tersentuh, Kala butuh sosok Ibu dihidupnya. Syukur ia masih punya Ibu yang bisa menggantikan sosok Ibu kandung Kala.

Hari itu, hanya ada kegembiraan diantara mereka. Hanya ada nostalgia-nostalgia tentang Kala dan Umin dahulu kala. Dan, hanya ada suka tanpa duka.

©️ lyterasee

Image

Malam itu, Jihane sedang dalam masalah dan memutuskan pergi dari rumah lalu menuju cafe. Jihane pergi dari rumahnya bukan tanpa sebab, ulah ayahnya yang temperamen juga berbahaya menjadi alasan besar mengapa Jihane pergi dari rumah.

Setelah Jihane selesai menghibur diri dari masalahnya, Jihane menuju keluar cafe. Kala menunggu di luar cafe meja bundar milik temannya—Sulthan, ia akan segera pergi dari tempat itu dan menuju rumah Kala. Jihane akan menginap semalam di rumah Kala.

Di dalam sana, Khaisar melihat Kala. Ingin sekali rasanya memanggil tapi ia tahu diri, Kala pasti tak mau bertemu dengannya maka dari itu Kala selama menunggu Jihane berada di luar cafe. “Kal, maaf….”

Kala melirik ke dalam cafe, ia melihat Jihane yang hendak menuju ke arahnya. Cafe segera tutup, di luar mereka menunggu bus datang menjemput mereka.

Iya, bus. Kala selama ini bepergian menggunakan bus, ia tak pernah menggunakan kendaraan lain selain angkutan umum itu.

Sembari menunggu, Kala melihat raut wajah Jihane yang berubah tak seperti saat di dalam cafe.

“Jihane Aruna, tidak apa-apa?” tanya Kala memastikan apakah keadaannya baik-baik saja atau tidak. Seharusnya memang Kala tidak perlu menanyakan hal itu, tapi ia rasa ia harus menanyakan itu, apalagi setelah tawaran Kala untuk menginap di rumah Kala sementara.

“Jihane Aruna, kalu ragu dan tidak nyaman saya carikan tempat aman lainnya untuk kamu.” Sedari tadi mata Kala tak lengah sedikit pun untuk tak menatap Jihane dalam.

Wanita di depannya ini sangat kuat, dia bahkan tetap bisa memancarkan suasana ceria meski faktanya hatinya sedang tak ceria. Jihane lihai sekali menutupi kesedihannya, tapi Kala rasa tidak dengan sekarang.

Jihane orang yang tak mudah mengeluarkan air mata, ia bukan orang perasa. Tapi ntahlah, dihadapan Kala ia selalu terlihat rapuh, selalu mudah menangis seperti di toilet cafe tadi.

“Menangislah … menangislah jika memang ingin menangis, Jihane Aruna.” Kala berkata sembari menengok kanan-kirinya menunggu bus datang.

“Siapa yang mau nangis,” elak Jihane. Selalu seperti itu, selalu berusaha tak terjadi apa-apa.

Berhenti kegiatannya menunggu bus, Kala yang tadinya di samping Jihane bergerak memajukan langkahnya lalu berpindah menjadi berhadapan dengan wajah Jihane, menutupi badan Jihane.

“Lo ngapain, sih? Ngalingin tau.” tanya Jihane bingung juga terkejut dengan apa yang Kala lakukan.

“Menangislah … tidak ada siapapun disini selain saya dan kamu. Tidak perlu malu.” Kala mulai membentangkan tangannya seolah apa yang dia lakukan bisa menutupu wajah Jihane jika Jihane benar-benar akan menangis.

“Tapi lo ada di depan mata gue, lagian gue nggak gampang nangis orangnya, apa yang mau ditangisin. Lo nggak perlu lakuin ini.” Jihane mencoba menurunkan tangan Kala.

Mendengar apa yang Jihane ucapkan, Kala seketika mengubah posisinya. Tadinya ia berhadap-hadapan dengan Jihane, sekarang berubah menjadi membelakangi Jihane.

“Ayo … jangan ada yang ditahan, saya nggak akan lihat.” Jihane tersentuh, ia sudah berusaha untuk tidak menangis sedari tadi. Tapi, saat berada bersama Kala ia selalu bisa mengeluarkan air matanya dengan mudah.

Bulir-bulir bening mulai turun dari mata Jihane dan membasahi pipinya. Semakin lama isak tangis mulai terdengar.

Kala terkejut, Jihane benar-benar menangis sesuai dengan apa yang ia suruh. Mendengar isak tangis Jihane, ingin rasanya Kala memutarbalikan badannya lalu memastikan keadaan Jihane, tapi niatnya urung saat ingat bahwa Jihane malu jika tangisnya dilihat.

Kala semakin terkejut saat kepala Jihane jatuh di punggung belakangnya dan tangannya memeluk Kala dari belakang sembari menangis kencang. Kala menurunkan tangannya, ia tak lagi membentangkan tangannya melainkan sekujur tubuhnya kaku.

“Capek …” kata itu tak mencerminkan seorang Jihane Aruna yang dikenal ceria dan yang Kala lihat saat lagu Bruno Mars kesukaannya di putar di dalam cafe tadi.

Kala tetap dalam posisinya dipeluk Jihane tanpa bergerak sedikitpun, mungkin saat ini punggungnya sangat dibutuhkan Jihane untuk mencurahkan tangisnya.

Terlihat dari jauh cahaya mobil bus yang sudah ditunggu-tunggu sedari tadi oleh Kala, berjalan menuju Kala dan Jihane lalu berhenti pas di depan mereka. Jihane yang menyadari itu langsung melepas pelukannya pada Kala.

Kala mulai membalikkan badannya menghadap Jihane seraya berkata, “Silahkan naik duluan …” Kala mempersilahkan Jihane untuk naik lebih dulu darinya.

Jihane mulai naik ke dalam bus dan mencari tempat duduk yang sekiranya nyaman, Jihane memilih bangku bagian tengah bus lalu duduk dipaling pojok dekat jendela.

Jihane menengok ke belakang sembari mencari Kala, sebab di bus ini hanya ada mereka berdua apalagi di tengah malam seperti ini Jihane mulai takut.

Kala mulai terlihat naik ke dalam bus, rupanya ia tak langsung menaiki bus karena membantu nenek yang juga ingin naik bus. Kala membantu menaiki nenek ke dalam bus juga membantunya duduk di bagian seberang tempat duduk Jihane.

Jihane ingin menyuruh Kala duduk disampingnya. “Sini, kak, du-” Belum sempat bicaranya selesai, Kala justru melengos jalan menuju bangku bagian paling belakang bus dan duduk disana.

©️ lyterasee

Image

Jihane mengirim pesan email pada laki-laki pemegang buku miliknya itu, mereka merencanakan bertemu di taman rumah sakit.

Berjalan ke taman rumah sakit, Jihane dibantu oleh suster Ranti yang mendorong kursi rodanya. Suster Ranti jugalah yang membantunya untuk bangun dari kursi roda dan berpindah ke kursi taman rumah sakit.

Suster Ranti sudah membantunya sejak hari pertama Jihane masuk ke rumah sakit, Suster Ranti juga yang membantunya dalam segala hal yang ia butuhkan. Padahal, Jihane berkata pada Ibunya—Sonia bahwa ia bisa melakukan semuanya sendiri. Faktanya, Suster Ranti lah yang membantunya.

Setelah duduk dengan nyaman di kursi taman, Jihane segera merapihkan pakaian yang ia pakai, mencium wangi pakaiannya lalu menyemprotkan parfume kesukaannya itu, hingga menguncir rapi rambutnya. Persis seperti remaja yang sedang kasmaran.

Terhitung sudah tiga puluh menit yang lalu ketika Jihane mengirimkan laki-laki itu email, tapi sampai sekarang laki-laki itu tak kunjung datang.

Jam sebelas siang berubah menjadi jam dua belas siang, laki-laki itu pun masih belum datang. Jihane sudah menunggunya dari jam sepuluh pagi tadi hingga jam makan siangnya pun laki-laki itu belum datang juga. Jihane sampai tidak mau makan sebelum bertemu laki-laki itu. Setidaknya ia harus tau kenapa laki-laki itu telat datang bahkan berjam-jam.

Jam lima sore, laki-laki itu pun belum terlihat batang hidungnya, “Kemana, sih, tuh cowo.”

Jihane menengok kesana- kemari mencari keberadaan laki-laki itu dan memastikan apakah laki-laki itu sudah datang atau belum.

Laki-laki itu, dilihatnya laki-laki berbaju kotak-kotak biru dengan tas selempang disampingnya sedang berlari menuju tempat Jihane duduk. “Jihane Aruna, maaf saya telat,” katanya dengan deru nafas yang cepat.

“Lo habis dari mana? Lama banget? Berjam-jam lo gue tungguin,” tanya Jihane dengan sedikit amarah.

“Tadi saat di bus macet sekali, saya turun dan jalan sampai rumah sakit ini.” , “Maaf,” katanya merasa bersalah.

Laki-laki itu langsung mengeluarkan buku dari tas yang selalu ia bawa itu lalu memberikannya pada Jihane. Jihane tak mengambil buku itu, Jihane justru menarik tangan laki-laki itu dan menyuruhnya untuk duduk disampingnya, “Duduk, capek banget lo.”

Laki-laki itu terkejut dengan tarikan tangan Jihane, ia langsung bergegas untuk duduk dan menghindari pegangan tangan Jihane. “Ini bukunya, silahkan dicheck dulu, khawatir saya salah lagi.”

“Lo nggak baca email dari gue sebelum berangkat?” tanya Jihane sembari mengecek isi buku yang digenggamnya.

“Saya sudah bilang, email itu bukan punya saya. Nggak mungkin saya bawa handphone kerabat saya itu hanya untuk mengecek email darimu, Jihane Aruna,”

“Juga, saya sebenarnya tidak punya gadget, sudah terlampau tiga tahun saya tidak memegang handphone.”

Jihane yang mendengar itu pun cukup terkejut, bagaimana bisa manusia hidup tanpa gadget selama tiga tahun?

“Pantes ya waktu gue email lo yang bales beda. Beda typingnya maksudnya,”

Setelah pembicaraan itu, tidak ada suara yang keluar baik dari Jihane maupun laki-laki itu. Canggung tiba-tiba menghampiri mereka berdua.

“Oh ya, gue pengen nanya ini dari kemarin tapi lupa terus, nama lo siapa?” Gengsi rasanya saat Jihane harus memulai obrolan lebih dahulu untuk mencairkan suasana.

“SandyaKala, panggil Kala saja cukup.” Laki-laki itu berpikir cukup lama hingga akhirnya menjawab pertanyaan Jihane.

“Jihane Aruna … ” Ah, akhirnya laki-laki itu mau bersuara.

“Maaf jika saya lancang, saat pertemuan pertama kita, kamu bilang bahwa kamu masih muda dan tidak mau dipanggil dengan sebutan ‘Mbak’,”

“Iya, kenapa emangnya? Lo nggak setuju?”

“Bukan, bukan begitu. Maaf, tapi saat saya menemukan buku kamu, saya terpaksa harus buka halaman pertama. Dan disana tertera dengan jelas namamu, emailmu, juga tanggal lahirmu. Disitu tertulis ‘01 Januari 1993’, sedangkan saya lahir ‘11 November 1992’. Saya lebih tua dari kamu.”

“Trus? Lo mau dipanggil apa emangnya? Om? Kak? Mas? Atau Bro? Bro kayanya lebih bagus, ya?” ledek Jihane.

“Terserah kamu, tapi setidaknya ada sebutan untuk saya sebagai orang yang lebih tua dari kamu dan juga menghormati.”

“Oke, Bro Kala.”

Langit mulai gelap, matahari mulai turun, pertanda bahwa malam akan segera datang. “Udah malem, pulang, gih,” kata Jihane menyuruh Kala pulang.

“Ah iya, yasudah saya antar sampai ruang rawat kamu, boleh?” Jihane terkejut mendengar tawaran dari Kala. Ia tanpa berpikir panjang langsung menyetujui tawaran itu.

“Boleh!”

“Tidak usah pakai kursi roda, ya? Sekalian belajar jalan pelan-pelan?”

Jihane mengangguk. “Pegang tangan saya saja. Pelan-pelan, tenang, saya nggak akan ajak kamu lari.”

Kala dan Jihane sampai di depan ruang rawat Jihane, disitu mereka bertemu dengan Suster Ranti.

Kala menunduk, tanda menghormati. Suster Ranti langsung mengambil Jihane dan mengantarnya ke kasurnya.

“Jihane Aruna, saya pamit, ya?”

Jihane yang baru saja tiduran langsung cepat bangun, “Tunggu!!!”

Kala menengok ke arah Jihane dengan bingung lalu masuk ke ruang rawat Jihane dan menghampiri Jihane. Sebelumnya ia sudah berbalik untuk keluar dari pintu.

“Ini, ambil, itu udah gue setting semuanya. Dari kartunya, no telpnya, wa nya sampe nomor wa gue.”

“Ambilll, jangan ditolak. Nggak ada penolakan. Untuk sementara aja, kalo lo udah beli lo balikin gapapa.” kata Jihane panjang lebar sembari memutar badan Kala untuk segera pergi. Jihane takut sekali kalau ditolak maka dari itu ia menyuruh Kala untuk segera pergi.

“Dah, pergi, hush, hush” Suaranya seperti mengusir kucing.

Jihane tersenyum lega saat Kala sudah pergi. Ia melihat jelas raut wajah bingung Kala. Lucu. Hihi.

©️ lyterasee

Image

Jihane menunggu di ruang rawatnya dengan perasaan khawatir serta takut. Takut jika Luna dan kekasihnya—Khaisar bertemu dengan laki-laki yang ingin ia temui hari ini dalam waktu bersamaan.

Jika mereka bertemu disaat yang bersamaan, sudah bisa dipastikan bahwa Luna akan mengisenginya dengan kata-kata seperti “cie-cie” atau bahkan mewawancarainya “Lo beneran deket sama cowo, Ji?” Dan sebagainya.

Tiga puluh menit Jihane menunggu, terdengar suara bell berbunyi pertanda ada orang lain di depan ruang rawatnya. Jihane segera bangun dari tidurnya, “Aw… sakit…” Ah, Jihane lupa bahwa kakinya saat ini cedera akibat kecelakaan malam itu.

“Tidak perlu bangun, Mbak. Saya hanya ingin mengembalikan buku milik Mbak.” Terdengar suara laki-laki dari balik pintu kamarnya itu. Jihane yakini pasti laki-laki itu.

“Masuk aja.”

“Permisi, maaf, Mbak. Ini bukunya,” Laki-laki itu memberikan tote bag berisikan buku milik Jihane, “Maaf, bukunya sedikit kotor. Saya sudah coba bersihkan tapi kotorannya tidak bisa hilang.”

Pasti kotorannya tidak bisa hilang, karena kotoran itu adalah darah Jihane yang bercucuran ketika kecelakaan.

Jihane menatap serius laki-laki di hadapannya itu. Pikirannya kabur, ia tak lagi memikirkan akan hal buku itu melainkan ingin menyakini siapa sebenarnya laki-laki di hadapannya ini.

Benar dokter atau bukan?

“Lo dokter?” tanya Jihane tiba-tiba.

Laki-laki di hadapannya itu terkejut, Jihane bertanya setelah dengan gerakan cepat mengambil tote bag berisikan buku miliknya itu tanpa memeriksa dalamnya.

“Oh… karena nama pengirim email saya yang saya kirim ‘kan ya? Saya bukan dokter, saya hanya pinjam handphone kerabat saya yang kebetulan dokter.”

“Oh, kirain.”

“Ya sudah, Mbak. Sepertinya sudah selesai, ya, masalah buku, Mbak. Saya pamit, ya, Mbak.” Laki-laki itu mulai membalikan badannya dan melangkah hendak berjalan keluar.

“Tunggu—” Langkah laki-laki itu berhenti saat Jihane sepertinya memanggilnya untuk tinggal.

“Gue cuma mau kasih tau aja, jangan panggil gue “Aruna”. Emang, sih, nama gue “Aruna”, tapi nama panjang gue “Jihane Aruna”. Orang orang biasanya panggil Jihane, bukan Aruna.” Jihane memberitahukan masalahnya saat laki-laki itu, yang belum ia tahu namanya memanggilnya dengan panggilan “Aruna”.

“Jihane, pake “E” atau nggak?”

“Hah? Oh iya, pake, pake “E”,” Jihane terkejut saat laki-laki itu menanyakan hal itu. Sebab, jarang orang yang memperhatikan hal sepele seperti itu. Tapi Jihane adalah orang yang sensitif akan hal itu. Baru saja ia ingin bilang soal itu, tapi ternyata sudah didahului.

“Oh iya, satu lagi, jangan pake “Mbak”. Gue masuk muda.”

“Oke, Jihane Aruna. Lekas sembuh, ya.”

Jihane tak bisa berkata-kata lagi, laki-laki itu memanggilnya sekaligus nama panjangnya.

©️ lyterasee

Image

Malam itu, Jihane yang sedang dalam perasaan kalut dan emosi, berpikir untuk bunuh diri. Di jembatan tempat pemberhentiannya setelah luntang-lantang berjalan tanpa arah, ia berdiri dan menaiki sandaran jembatan. Niatnya sudah bulat bahwa ia akan bunuh diri.

“Selamat malam. Iya, Pak, saya ingin melaporkan bahwa terdapat wanita muda yang berniat untuk bunuh diri. Tolong segera bawa ambulans kesini, ya, Pak. Baik, terima—” Suara laki-laki terdengar ditelinga Jihane sedang menelepon ambulans, ia tahu bahwa arah pembicaraannya adalah dirinya. Langsung saja ia turun dari atas sandaran jembatan dan menarik telepon genggam yang laki-laki itu pegang.

“Lo ngapain telepon ambulans?! Lo pikir gue udah mati ditelepon ambulans? Oh, atau lo nyumpahin gue mati?!” Jihane langsung berbicara tanpa henti, emosinya semakin meninggi saat tahu laki-laki yang ada di depannya tidak berbicara apa-apa.

“Lo bisu? Ngomong dong! Tadi aja berani telepon gitu.”

“Saya hanya mengantisipasi.” Akhirnya, laki-laki itu mulai bersuara meski singkat.

“Antisipasi? Lo bilang antisipasi?!”

Laki-laki yang ada di depan Jihane tiba-tiba saja membalikan badan dan mulai pergi menjauh darinya.

“NGGAK JELAS LO!” teriak Jihane keras.

“Eh, eh, jangan-jangan dia penjahat?” curiga Jihane.

Malam itu, Jihane yang masih melihat tubuh laki-laki yang semakin menjauh itu dengan bingung serta takut. Ia takut jika laki-laki itu benar penjahat. Pergi, lalu tiba-tiba datang dan membunuhnya. Niat bunuh dirinya kacau karena itu sudah didahului terbunuh.

“Hati-hati, sudah malam.” Suara iru terdengar seperti teriakan. Jihane yakini bahwa itu adalah suara laki-laki yang baru saja berbicara dengannya.

Selepas dari itu, petasan-petasan menyambut tahun baru mulai berisik. Jihane melihat keatas langit, sangat cantik.

“Tahun baru, nasib baru.”

©️ lyterasee